<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631</id><updated>2012-02-16T21:49:15.764+07:00</updated><category term='Bayi Itu'/><category term='Sejarah'/><category term='Feature'/><category term='Jurnalistik'/><category term='Tempat Kenangan'/><category term='Banjarmasin'/><category term='Renungan'/><category term='Ucapan'/><category term='Opini Konsep'/><category term='Keislaman'/><category term='Mahasiswa'/><category term='Pendidikan'/><category term='Resensi'/><category term='Ramadhan 1432'/><category term='Jepretan'/><category term='Jalan-jalan'/><category term='Sosial Politik'/><title type='text'>JELAJAH SEMESTA</title><subtitle type='html'>:: sarana mengikat ilmu, mencatat perjalanan dan pikiran kehidupan ::</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Amin Sudarsono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16386640036277393442</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>135</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-4832189567361787401</id><published>2011-09-19T22:47:00.002+07:00</published><updated>2011-09-19T22:52:47.759+07:00</updated><title type='text'>Ngeblog yang Sederhana</title><content type='html'>Saya masih belajar menulis. Pernah menjadi wartawan bukan jaminan lancar menuangkan kata-kata. Dulu dituntut 3 berita minimal dalam satu hari biar masuk kredit point. Kadang agak nakal juga, sehari nulis 6 berita tapi dimasukkan ke sistem folder jaringan internal kantor yang akan dibuka redaktur esok harinya. Jadi bisa libur santai-santai selama satu hari, hehe. Maaf Pak Yusran, atas kelakuan anak buahmu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup sering mendapat nilai Bahasa Indonesia di raport ketika sekolah di SMP dan SMA. Itu juga bukan jaminan menulis sederhana. Malah, kadang saya terjebak bahasa baku, sesuai EYD, kalimat efektif, deelel.. Saya belum menemukan bagi diri saya sendiri, otak saya sendiri, dan jari saya sendiri, bagaimana menulis yang lancar, sederhana, langsung dari batin. Jika teman-teman bisa membantu dengan saran2 saya sangat senang sekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-4832189567361787401?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/4832189567361787401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2011/09/ngeblog-yang-sederhana.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4832189567361787401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4832189567361787401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2011/09/ngeblog-yang-sederhana.html' title='Ngeblog yang Sederhana'/><author><name>Amin Sudarsono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16386640036277393442</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-679748449971615883</id><published>2011-08-02T05:40:00.005+07:00</published><updated>2011-09-15T11:16:54.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan 1432'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Apa Makna "Allahu Akbar"?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/--XzB-md18MA/TjczV27ohbI/AAAAAAAAAI0/pqJY9hDaMwY/s1600/allahu_akbar_t_shirt-p235035843064588490t5tr_400.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 170px; height: 170px;" src="http://1.bp.blogspot.com/--XzB-md18MA/TjczV27ohbI/AAAAAAAAAI0/pqJY9hDaMwY/s320/allahu_akbar_t_shirt-p235035843064588490t5tr_400.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5636029909293368754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pemuda berbalut sorban kotak-kota hitam putih, biasa disebut kafiyeh. Tangan kanan memegang mushaf al-Quran kecil berwarna coklat, terbitan Beirut tampaknya. Mushaf itu diangkat tinggi. Kafiyeh menutupi separo wajahnya, hanya mata yang terlihat. Kedua tangannya diangkat tinggi, mulutnya lantang meneriakkan, "Allahu Akbar!" Pemuda itu, bersama puluhan kawannya menghadang tank Israel yang akan masuk ke Jalur Gaza. Ya, mereka adalah pemuda Hamas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Demonstran mahasiswa di Jakarta. Kerumunan ratusan orang memakai jas almamater kampus tercinta. Berdiri mengelilingi Bundaran HI, membawa bendera organisasi mahasiswa, bak panji perang mereka mengangkat tinggi-tinggi bendera itu. Spanduk dan round text dipegangi para demonstran wanita. Isinya tuntutan agar pemerintah menuunkan harga BBM dan harga pokok sembako. "Kita menuntut jika BBM tak kunjung turun harga, kita turunkan preside. Allahu Akbar!" teriak koordinator aksi. Kumpulan demonstran tak kalah semangat, mereka kepalkan tangan kanan berteriak lantang, "Allahu Akbar!"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Imam Samudra, Amrozi dan terakhir M. Syarif, adalah daftar nama mereka yang melakukan peledakan di tempat umum. Membunuh banyak manusia. Mereka melakukan aksi kesyahidan--dalam bahasa mereka. Memberontak terhadap sistem kafir yang membuat manusia lalai akan misi akhirat. Kesyirikan ini harus diakhiri. Lalu bom dibuat, baik yang eksplosif maupun minimalis--hanya berisi paku, jarum dan serpihan kaca seperti M Syarif. Mereka ledakkan di mall, di hotel dan di masjid polisi. Menjelang bom meledak, "Allahu Akbar!" teriak mereka. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jenazah KH Zainudin MZ, dai sejuta umat sudah selesai dikafani dan dishalatkan di dalam masjid yang telah dibangun beliau sendiri di daerah Kebayoran. Orang yang takziyah, ribuan jumlahnya, berkumpul menanti diangkatnya jenazah mulia itu menuju liang lahat peristirahatan terakhir. Begitu keranda berlapis kain hijua bertulis syahadat itu diangkat para murid kyai dari dalam masjid menuju liang yang sudah digali sebelumnya, para jamaah mulai histeris. "Allahu Akbar, Laa ilaha illaLlah! Allahu Akbar!" berseru mereka berbarengan. Teriakan yang menyiratkan kesenduan, kehilangan dan penghiburan sekaligus.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaum muslimin, wajib shalat lima kali sehari. Tujuh belas rakaat total wajibnya. Mulai Shubuh hingga Isya. Tujuh belas kali dalam sehari membaca al-Fatihah--yang wajib. Berapa kali melafalkan "Allahu Akbar" dalam seluruh shalat yang wajib itu? Saya belum sempat menghitungnya. Saat memulai, kalimat "Allahu Akbar" meluncur dari mulut kita sebagai takbiratul ihram. Takbir yang detik itu jug, mengharamkan kita melakukan aktivitas lain kecuali shalat sesuai syariat yang ditauladankan Rasul. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Takbiratul ihram, melafalkan Allahu Akbar, membesarkan asma, zat, sifat Allah secara total, menyeluruh, komprehensif, paripurna, syamil, mutakamil. Manusia hanya hamba, kecil tak bermakna, tak mampu apa-apa tanpa kehendak Allah. Dalam takbir yang menjadi starting point dalam sholat itu, terkandung makna mendasar hidup. Kita mencapai kekhusuan ketika takbir pertama benar-benar bermakna. Takbir pertama menjadi batas atas aktivitas, pikiran dan gerak-gerik kita setelahnya, setidaknya sampai salam terakhir dilafalkan sebagai penanda selesainya aktivitas shalat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu, kembali ke judul, apa makna Allahu Akbar sebenarnya? Teroris meneriakkan kalimat itu, pejuang Palestina menyerukannya, demonstran berteriak, pengiring jenazah bersedu-sedu menyebut asma Allah, kita pun setiap shalat mengawali dengan takbir. Ternyata dimensi kalimat itu sangat luas. Ada yang memaknai sebagai penyemangat, penggembira, hiburan, sekaligus ada yang menjadi arogan saat meneriakkannya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya jadi ingat, banyak "preman berjubah" berteriak sambil mencekik leher orang atau menghancurkan properti umum tanpa perintah hukum yang jelas. Pembantai Ahmadiyah Cikeusik juga meneriakkan "Allahu Akbar" dengan mengacungkan golok, mata nyalang merah dan baju serba hitam. Bergidik ngeri melihat takbir yang diawali dengan amarah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bergetar hati melihat ratusan pengantar jenazah meneriakkan kalimat Allahu Akbar. Bergelora batin, melihat pejuang Palestina meneriakkan Allahu Akbar yang merindukan kebebasan. Kita juga menjadi khusuk karena Allahu Akbar adalah pintu menuju kesempurnaan penghambaan melalui shalat. Takbir ternyata obat, candu, sekaligus peneguh kepercayaan diri. Ya Allah, semoga aku tepat memakai kalimat ini dalam semua momentum yang Engkau berikan. Allahu Akbar!&lt;b&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-679748449971615883?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/679748449971615883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2011/08/apa-makna-allahu-akbar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/679748449971615883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/679748449971615883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2011/08/apa-makna-allahu-akbar.html' title='Apa Makna &quot;Allahu Akbar&quot;?'/><author><name>Amin Sudarsono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16386640036277393442</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/--XzB-md18MA/TjczV27ohbI/AAAAAAAAAI0/pqJY9hDaMwY/s72-c/allahu_akbar_t_shirt-p235035843064588490t5tr_400.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-6212734052041663770</id><published>2011-08-01T12:42:00.002+07:00</published><updated>2011-08-01T13:21:23.328+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan 1432'/><title type='text'>1 Ramadhan 1432, MASK</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mZ-pb3JfqFQ/TjY8_sGoeNI/AAAAAAAAAIY/eNilljrlsVM/s1600/3.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-mZ-pb3JfqFQ/TjY8_sGoeNI/AAAAAAAAAIY/eNilljrlsVM/s320/3.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635759048569157842" /&gt;&lt;/a&gt;31 Juli 2011, petang menjelang, hati rasanya berdebar. Susah mendefinisikan, rasanya gembira dan bahagia sekali, bulan puasa sudah datang. Atmosfer Ramadhan itu selalu indah, manusia berjejalan di jalan menuju masjid dan mushala. Pakaian dominan putih, muncul semerbak bau misik dan kesturi--minyak wangi yang dijual botolan kecil di serambi masjid besar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kemarin, seharian tidak kemana-mana. Hanya di rumah saja, sore mengantar istri ke Carefour Permata Hijau untuk beli susu yang persediaan sudah habis. Susu, katanya harus untuk ibu hamil. Usai magrib, leyeh-leyeh menonton TV, menunggu Suryadharma Ali (SDA) mengumumkan kapan taraweh pertama bisa dilakukan. Sidang itsbat sedang digelar di Kantor Kementerian Agama RI. Di TV terlihat para duta besar, perwakilan ormas Islam dan SDA duduk di depan memimpin sidang. Pukul 19.00 kurang lebih, pengumuman keluar, besok pagi sudah bisa puasa. Artinya, 1 Ramadhan 1432 H jatuh tepat saat matahari tenggelam di ufuk barat tadi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bergegas istriku mengambil rukuh dan sajadah. "Ayo mas, kita awali Ramadhan di Sunda Kelapa," katanya. Baiklah, sebagai tukang ojek yang baik, aku juga menyiapkan diri. Kopiah, sajadah masuk ke tas. Motor di stater, keluar kami dari kontrakan kecil di Sukabumi Utara, Kebon Jeruk itu. Sepanjang jalan ramai orang keluar rumah. Para ibu dan anak gadisnya memakai rukuh, meski pakaian bawahnya hanya selutut, para bapak dan anak lelakinya memakai sarung kedodoran dan kopiah yang miring. Meski begitu, semangat tampak di wajah mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Melewati Rawa Belong, jalanan tak seramai biasanya. Masuk Palmerah lancar sekali. Lewat jalur Pejompongan, Pemakaman Karet Bivak juga tidak ada antrean jalan. Tidak macet seperti biasanya. Padahal aku khawatir, banyak orang yang ziarah di Karet Bivak, mengingat ini hari Minggu terakhir sebelum masuk puasa. Ternyata tinggal beberapa mobil yang parkir di pinggiran jalan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menyusuri Setiabudi sampai di perbatasan rel, menyeberang sampailah kami di Masjid Agung Sunda Kelapa. Dan, luar biasa, parkir mobil sudah mengular 30 meteran sebelum masuk pagar masjid. Motor diparkir di pinggir jalan berjajar panjang. Para gadis bercelana jins ketat dan kaos warna pink mencolok dengan rambut tergerai bebas ditutupi selembar kain pink juga warnanya, yang dianggap sebagai kerudung. Sepatu berhak membuat bunyi ketika mereka berjalan. Mereka turun dari mobil, menuntun para ibu yang sudah sepuh dengan pakaian panjang dan kerudung lengkap. Semuanya mengapit sajadah dan rukuh di ketiak mereka. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Masjid Sunda Kelapa penuh sesak. Anak kecil bebas bekejaran di bawah pohon besar yang tumbuh di depan masjid, berguling-guling di hamparan rumput yang membuat baju koko mereka kotor. Tapi para ibu tak kuasa melarang, karena ibu-ibu juga harus berdesakan mencari shaf sholat yang paling nyaman. Mereka sibuk dengan sajadah yang harus digelar dimana.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku terlambat, sudah masuk ke rakaat ketiga Isya saat masuk halaman terbuka Masjid Sunda Kelapa. Jaket kulit tak sempat kulepas, untung tadi di rumah sudah ambil wudhu. Segera kudirikan sholat. Di barisan terdepan dari lapangan terbuka di sisi timur masjid. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebelum taraweh didirikan, Ketua Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa, Aksa Mahmud naik ke mimbar memberi beberapa pengumuman. Pertama, yang akan menjadi imam pada malam ini adalah Syaikh Muhammad al-Jabiri, imam dari Madinah. Kedua, taraweh di Sunda Kelapa akan dilaksanakan 20 (duapuluh) rakaat, disambung tiga rakaat witir. "Baru mulai tahun ini, Sunda Kelapa sholat taraweh 20 rakaat," ujar Aksa Mahmud. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ternyata, usai rakaat kedelapan, jamaah taraweh separonya berhamburan keluar. Ruang utama yang penuh, berkurang menjadi separo, yang di belakang melesak ke dalam, akhirnya semua yang di luar bisa ditampung di dalam masjid. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Usai sholat pukul 21.30. Berhamburan keluar, sebagian jamaah meminta foto bersama imam sholat yang asli Madinah itu, tinggi hidung manjung, kulit wajah cokelat, tubuh dibalut jubah putih di kepala tersampir kain sorban putih menutupi sisi pipinya. Wibawa sekali imam ini, suaranya lembut dan mengalun pula. Setiap rakaat, imam membaca setengah halaman al-Quran. Rakaat pertama dimulai dengan al-Baqarah ayat 1.  Artinya, setiap hari akan selesai 10 halaman kurang lebih. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Begitulah malam pertama Ramadhan, kami taraweh di Sunda Kelapa. Hari pertama puasa, usai sahur dan sholat Subuh, kebiasaan buruk dimulai lagi: tidur pagi! Susah juga mengendalikannya ya, hehe. Akhirnya berangkat ke kantor agak siang. Sudah siap mau naik motor, eh ternyata ban belakang bocor (lagi). Padahal tadi malam sudah ditambal. Ya sudahlah, naik busway. Aku dan istri berpisah di Pasar Palmerah seperti biasa. Istriku menuju DPR, aku melaju terus menuju halte busway Slipi. Jalanan tak terlalu ramai, sama sekali aku tidak melihat orang memegang batang rokok sehari ini, warung-warung juga tutup. Bagus lah kalau begitu.&lt;b&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-6212734052041663770?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/6212734052041663770/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2011/08/1-ramadhan-1432-mask.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6212734052041663770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6212734052041663770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2011/08/1-ramadhan-1432-mask.html' title='1 Ramadhan 1432, MASK'/><author><name>Amin Sudarsono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16386640036277393442</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mZ-pb3JfqFQ/TjY8_sGoeNI/AAAAAAAAAIY/eNilljrlsVM/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-4385862518166968223</id><published>2011-01-09T23:38:00.001+07:00</published><updated>2011-01-09T23:51:46.830+07:00</updated><title type='text'>Pulau Pramuka (2): Belajar Transplantasi Karang bersama KAMMI</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Awal tahun 2011 ini saya mendapat pengalaman yang berharga, tentang bagaimana menghargai lingkungan, agar kerusakan di muka bumi tidak bertambah parah. Sabtu, 1 Januari 2011, pukul 06.00 saya pergi ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Bersama saya Rijalul Imam (Ketua PP KAMMI) dan Samsul Bahri (Ketua PD KAMMI Solo). Selain rapat Tim Konstitusi dan Sistem Organisasi (TKSO) KAMMI, kami juga akan ikut &lt;i&gt;mukhoyyam &lt;/i&gt;KAMMI Jakarta yang salah satu agendanya adalah transplantasi karang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Sabtu, 1 Januari 2011. Setelah 4,5 jam berlayar, kami sampai di Pulau Pramuka. Perjalanan normalnya adalah 2,5 jam, namun karena angin kencang dan ombak besar, kapal yang kami tumpangi berlayar lambat. Selain itu, kami harus mampir dulu ke Pulau Tidung mengantarkan sebagian besar penumpang. Begitu keluar dari jakarta, yang tampak adalah sampah mengapung di Teluk jakarta. Sampah plastik, bungkus makanan kecil, barang-barang tak terurai yang merusak&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ekosistem. Menyedihkan ya, saya jadi terfikir bagaimana agar masyarakat bisa mengolah sampah tak terurai ini dengan cepat. Misalnya membakarnya. Tapi, mau membakar sampah di mana, kalau kontrakan di Jakarta saja di gang kecil. Istilahnya, tidur &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;mancal&lt;/i&gt; (menendang) kompor. Ruang tidur jadi satu dengan dapur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Tapi, setelah agak jauh, Teluk Jakarta menjadi tampak indah. Air laut mulai hijau, di kejauhan menjadi biru. Meski tidak sebening air laut di Labuha, Halmahera Selatan, tempat saya tinggal 2006 dulu. Atau seperti laut di Kotabaru, Kalimantan Selatan, saat 2008 saya ke sana. Masih jauh. Teluk Jakarta memang kotor, ekosistemnya banyak yang rusak karena sampah. Air kotor, membunuh biota laut. Belum lagi karang yang dipanen muda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Sore hari di Pulau Pramuka. Matahari masih panas juga meski sudah 15.30. Pantas memang, udara di tengah pulau kecil ini panas. Udara rasanya pekat oleh garam. Baru selesai mandi, badan rasanya sudah lengket-lengket. “Yakin saja, seputih apapun kulit orang, suruh tinggal beberapa hari di pulau ini, pasti jadi gelap mengkilap,” kata Noval Abuzarr, Ketua KAMMI Jakarta yang rumahnya di samping Kantor Bupati Kepulauan Seribu itu. Sudah 24 tahun dia tinggal di Pulau Pramuka itu. Ya iyalah, umurnya juga memang baru 24 tahun. Dan Noval—panggilannya jika di pulau—kulitnya juga hitam manis. Hehe.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Sesudah mendirikan sholat, saya menelusuri jalan di depan masjid, menuju lapangan di depan kantor bupati. Kapal-kapal diparkir di dermaga yang bersambung dengan lapangan itu. Saya duduk di beton semen yang tampaknya biasa dipakai untuk menikmati matahari tenggelam sore hari. Meletakkan pantat di sana, mata menatap jauh, laut agak gelap, angin kencang. Ombaknya agak tinggi, saya tahu sebab baru saja merasakan goncangannya. Menikmati angin yang mengelus pipi, rambut teracak lagi. Nusantara kita: luas, kaya, penuh warna pelangi nan indah. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Fabiayyi alaai rabbikuma tukadzdzibaan&lt;/i&gt; (maka nikmat Tuhan manakah yang hendak kau dustakan)?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Faisal Fadly, seorang aktivis KAMMI Jakarta, datang mendekat dengan kamera SLR-nya yang ciamik itu. Saya berpose, minta difoto. Jadilah foto profil untuk Facebook saya itu, hasil jepretan Faisal yang datang ke pulau itu bersama adik perempuannya. Di seberang dermaga, di lapangan yang tampaknya biasa dipakai upacara bendera tiap Senin oleh para PNS di Kantor Bupati, sekitar 100 orang kader KAMMI Jakarta berdiri. Mereka meneriakkan yel-yel, bernyanyi lagu-lagu heroik. Lagu mars KAMMI, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Darah Juang&lt;/i&gt;, dinyanyikan dengan keras, meski yang hapal sedikit. Hehe, lagu mars itu memang agaknya harus segera diganti. Susah sekali menghafalkan delapan bait diulang dua kali. Susah sekali mengurutkan dari panah terbujur, pedang terhunus, tombak berjajar, butir peluru, mata pena, dan pisau belati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Acara inti &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;mukhayyam&lt;/i&gt; KAMMI Jakarta itu, ada dua: pertama transplantasi karang dan pelatihan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;disaster management &lt;/i&gt;sebagai bentuk Launching KAMMI Reaksi Cepat (KRC) KAMMi Jakarta. Untuk yang terakhir, ada trainer dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) yaitu pak Iman. Sementara transplantasi karang langsung dipegang Abuzarr, yang asli penduduk Pulau Pramuka, bersama Pak Rasyid yang menjadi pengurus di Pondok Karang. Lokasinya dekat Kantor Bupati, berjalan ke menjauhi dermaga kira-kira 100 meter. Pondok Karang itu dikembangkan oleh Pak Mahmudin. Awalnya Mahmudin hanya pencari karang hias untuk dijual. Setelah tahu cara budidaya lewat transplantasi dari Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, mata Mahmudin mulai terbuka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family:Georgia;mso-ansi-language: IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family:Georgia;mso-ansi-language: IN"&gt;Sejak mendapat pelatihan, dia mulai membudidayakan terumbu karang karena prihatin pada rusaknya koral alam di sekitar perairan Pulau Pramuka. Mahmudin mulai mengumpulkan karang rusak setiap minggu. Lalu, ia mencoba menempelkan bagian yang masih hidup di atas media semen. Ternyata, setelah satu minggu, karang itu bisa hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Mahmudin terus menyetek beragam spesies terumbu karang dan menjualnya dalam partai kecil pada pembeli yang kebetulan berkunjung ke Pulau Pramuka. Akhirnya, pada tahun 2000, Mahmudin mendapat bantuan dari Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu dengan melegalkan bisnis budidaya terumbu karang ini. Sejak 2004, bisnis terumbu karang itusudah legal. Sehingga mulai 2006, produknya bisa dijual ke pasar ekspor. Bahkan saat ini, ekspor karang hias itu sudah merambah ke 26 negara. Ternyata untungnya besar juga ya. Selain bisnis, juga demi melestarikan lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Kembali ke Pak Rasyid. Sebetulnya belum terlalu tua juga sih, malah secara usia lebih tua saya. Baiklah, Bang Rasyid saja. Dia berdiri di depan barisan sekitar 100 aktivis KAMMI Jakarta. menerangkan tentang transplantasi yang akan dilakukan. “Transplantasi adalah kegiatan yang bertujuan untuk memicu pertumbuhan. Pertumbuhan karang yang biasanya setahun 1 centimeter, kalau ditransplantasi hasilnya setahun bisa tumbuh antara 3 sampai 4 centimeter. Perlu diketahui ya, karang ini adalah hewan, yang bersimbiosis dengan alga yang disebut Josantelae. Itulah sebabnya warnanya berbeda-besa, sesuai alga itu,” terang bang Rasyid.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Banyak peserta—termasuk saya juga sih—yang tidak tahu kalau karang itu ternyata hewan. Saya kira selama ini tumbuhan laut. Bang Rasyid memegang sebuah karang di tangannya, warnanya masih hijau kehitaman, berarti masih hidup. “Jangan sampai karang hidup berada di luar air lebih dari 15 menit. Nanti bisa mati. Harus sering dicelupin, kita juga nanti harus cepat melakukan transplantasi. Cirinya kalau warnanya putih cerah itu sudah mati, termasuk yang diinjak teman-teman itu juga karang mati. Pembentuk pulau ini sebetulnya adalah karang mati,” terangnya pajang lebar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;gugling&lt;/i&gt; yang saya lakukan, disebutkan bahwa terumbu karang di perairan Indonesia dalam kondisi rusak parah. Bila mengacu pada penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P3O-LIPI), terumbu karang yang hancur lebur mencapai hampir 50 persen, sedangkan yang masih sangat baik tinggal 6,2 persen. Kerusakan itu terutama disebabkan praktik pengeboman ikan dan pengambilan karang untuk bahan bangunan dan reklamasi pantai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Kondisi rusaknya terumbu karang itu akan terasa makin memprihatinkan bila mendengar keterangan dari pakar terumbu karang, yang mengatakan bahwa pemulihan terumbu karang memakan waktu cukup lama, berpuluh hingga beratus tahun. Itu pun bila kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Padahal, fungsi terumbu karang amat besar bagi kelangsungan hidup ikan dan beragam biota laut lainnya, mulai dari tempat mencari makan hingga berkembang biak. Oleh karena itu, rusaknya terumbu karang berarti juga menurunnya populasi ikan. Itu berarti pula berkurangnya pasokan ikan sebagai bahan pangan manusia. Manfaat lain dari terumbu karang adalah sebagai pelindung pantai dari abrasi. Fungsinya untuk peredam gelombang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Muncul pertanyaan dari peserta yang unik-unik. “Karang itu ‘kan hewan, lalu makannya apa?” Dengan tersenyum, Bang Rasyid menjawab, “Karang makannya plankton. Itu sebabnya, kenapa dilakukan transplantasi dandiletakkan di lokasi yang lebih cepat. Misalnya, di habitat asli tumbuh di arus 3 meter/detik, setelah transplantasi lalu ditaruh di arus yang lebih kencang, dia akan mendapat makanan yang lebih banyak dan lebih cepat tumbuh.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;“Trus, bagaimana cara berkembang biaknya?” pertanyaan berlanjut. Karang berkembangbiaknya secara seksual dan aseksual. Yang seksual dilakukan pada malam bulan purnama. Ketika purnama, sel-sel ovum keluar, bentuknya seperti benang. Peserta mesam-mesem, tertawa. “Wah ada jadwalnya juga ya..”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Sementara kalau kembangbiak secara aseksual, salah satunya melalui transplantasi. Bisa juga karena patah jatuh, kena ombak lalu tumbuh jadi anakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Tercatat, sedikitnya 50 persen dari 4.750 hektar terumbu karang yang ada, kini kondisinya sangat memprihatinkan. Saat ini luas terumbu karang yang masih tersisa dan bisa dimanfaatkan untuk obyek wisata dan penelitian ilmiah, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;tinggal 2.375 hektar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Pusat keanekaragaman hayati laut dunia, terutama terumbu karang terletak di kawasan segitiga karang. Kawasan ini meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon. Jika ditarik garis batas yang melingkupi wilayah terumbu karang di ke-6 negara tersebut maka akan menyerupai segitiga. Itu sebabnya wilayah tersebut disebut sebagai segitiga karang dunia &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;(coral triangle)&lt;/i&gt;. Total luas terumbu karang di &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;coral triangle&lt;/i&gt; sekitar 75.000 Km2. Indonesia sendiri memiliki luas total terumbu karang sekitar 51.000 Km2 yang menyumbang 18% luas total terumbu karang dunia dan 65% luas total di &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;coral triangle&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Singkat cerita, setelah penjelasan dan tanya jawab, Bang Rasyid memperagakan cara transplantasi karang. Model yang dipakai yaitu &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;rockpile&lt;/i&gt;, batu karang yang sudah mati dilekati dengan karang yang masih hidup menggunakan semen. Karang hidup sepanjang 5 centimeter dijepitkan di selakarang mati dengan semen. “Tolong agak cepat, jangan lebih dari 15 menit ya, keburu mati,” ujar Abuzarr yang sudah sering melakukan praktek transplantasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Tiga pakaian untuk snorkeling sudah disewa. Rijal, Andriyana (Ketua KAMMI Wilayah Jabar) dan Samsul (Ketua KAMMI Solo) sudah mengenakan peralatan berwarna oranye terang itu. Di mulut mereka menempel alat bernafas dengan panjang setengah meter. Kaki mereka menempel sirip untuk berenang. Siap masuk ke dalam air.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Bergegas batu karang mati yang sudah ditempeli potongan karang hidup dibawa peserta menuju perairan yang agak dalam. Mereka yang sudah memakai peralatan menyelam, terjun ke dalam air, dan meletakkan transplant itu ke kedalaman 3 meter. Akhirnya semua karang sudah diletakkan di arus yang agak kencang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Sebenarnya, transplantasi hanya sebentar. Yang lama, ya renang dan main di air itu. Beberapa peserta menangkap bintang laut, teripang dan bulu babi. Binatang terakhir ini yang sering mengenai kaki penyelam jika tak hati-hati melangkah. Ternyata keindahan alam laut Pulau Pramuka luar biasa indah. Berbagai binatang laut bisa kita lihat secara langsung. Subhanallah...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Setelah puas bermain dan menyelam, semuanya menuju pantai. Matahari juga sudah mulai tenggelam. Senja warna lembayung memenuhi cakrawala barat. Kami memilih tetap di pinggir pantai, memesan es teh dan mie rebus. Saya malas makan mie, hanya menghabiskan empat buah pisang rebus yang dijual gadis remaja di tepian dermaga itu. Sambil merenung tentang alam, tentang karang dan pulau yang karam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Lebih dari 70 persen terumbu karang di Kepulauan Seribu, telah mengalami kerusakan akibat limbah karbol. Pemerintah sendiri &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;mengaku tidak mampu mengatasi pencemaran lingkungan yang mengakibatkan rusaknya terumbu karang. Ternyata pencemaran karbol di sekitar kepulauan itu mencapai 29 ton. Diduga, karbol tersebut berceceran saat kapal membuang &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;ballas&lt;/i&gt; atau akibat kebocoran pipa. Dalam setahun pencemaran itu bisa terjadi tiga kali. Selain dari kapal, pencemaran juga terjadi akibat limbah yang mengalir ke laut dari daerah hulu. Akibatnya, terumbu karang rusak berat dan saat ini populasinya tinggal 30 persen saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Saya jadi teringat sebuah hadits nabi, “Jika kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendakalah ia bergegas menanamnya. Tanamlah bibit pohon yang ada di tanganmu sekarang juga, meski besok kiamat. Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Ya, KAMMI tetap mencoba menanam karang, melakukan transplantasi agar cepat tumbuh lagi, agar ekosistem kembali normal, agar bumi tetap terjaga. Semoga kita dijauhkan dari sifat zalim, yaitu &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;mafsadat fi al-ardl&lt;/i&gt; (berbuat kerusakan di muka bumi.&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-4385862518166968223?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/4385862518166968223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2011/01/pulau-pramuka-2-belajar-transplantasi.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4385862518166968223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4385862518166968223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2011/01/pulau-pramuka-2-belajar-transplantasi.html' title='Pulau Pramuka (2): Belajar Transplantasi Karang bersama KAMMI'/><author><name>Amin Sudarsono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16386640036277393442</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-4750663923970281983</id><published>2011-01-09T16:44:00.001+07:00</published><updated>2011-01-09T16:54:15.798+07:00</updated><title type='text'>Pulau Seribu (1): Digoncang Ombak di Teluk Jakarta</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family:Georgia;mso-ansi-language: IN"&gt;Pagi yang dingin di udara Jakarta, kami diantar Tatang Yusuf, marketing Muda Cendekia, menuju dermaga Muara Angke. Jakarta sepi sekali pagi itu, tampaknya semua orang sudah lelah berpesta malam harinya. Pesta tahun baru yang menyisakan sampah di jalan protokol dan gang-gang sempit perumahan Jakarta. Pesta yang kadang hilang makna selain hura-hura. Gembira dan bahagia tapi hidup statis dan nggak berubah. Semoga Anda, memiliki tahun baru dengan optimisme dan perubahan hidup yang lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Mobil melaju kencang, sama sekali tak ada kemacetan--langka sekali keadaan ini. Jalan tol juga lapang. Di atas fly over, semburat matahari pagi indah sekali. Warna emas memancar dari ufuk timur, muncul dari balik beton-beton gedung dan bangunan, bagai raksasa tidur berdiri. Terdiam di atas jasad kota tua yang dibangun Fatahillah ini. Pikiran saya melayang, memikirkan kota yang makin sumpek, sesak, panas dan penuh polusi. Kota ini butuh pengaturan, agar semua orang bisa hidup layak, tinggal layak dan makan layak. Beginilah ibukota, yang kejam bagi mereka yang tak mampu melawan dengan kreativitas. Jakarta menawarkan peluang besar untuk menjadi orang, tapi akan membantai siap saja yang tak mampu berkompetisi dan hanya apatis menatap hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Hanya 45 menit, mobil memasuki pemukiman nelayan Muara Angke. Begitu kaca mobil dibuka, menyeruak bau amis ikan, mendesak-desak masuk ke indera penciuman. Otomatis, kami yang belum terbiasa ini, langsung menaikkan kerah jaket, menempelkannya ke lubang hidung. Kami turun di depan kantor pemadam kebakaran, Tatang berputar balik kembali ke Muda Cendekia. Tinggal saya, Rijal dan Samsul, kami berjalan menerobos TPI (tempat pelelangan ikan) dan Pasar Ikan Muara Angke. Di tepi jalan, ikan segar baru ditumpahkan dari drum-drum yang tampaknya berasal dari kapal penangkap ikan. Kerang, kepiting dan udang berserak. Ada juga cumi segar yang masih bergerak-gerak, tinggal menuju ajal di penggorengan di dapur ibu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Di sebuah pelataran aspal yang menjorok ke pantai, tampak dua orang lelaki sibuk mendorong gerobak berisi galon-galon air. Mereka menjajakan air bersih kepada para pedagang di sana. Tahu sendiri, biasanya di kawasan pantai, air bersih susah diakses. Gerobak-gerobak itu lalu diletakkan begitu saja di pinggir jalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Dari &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;gugling&lt;/i&gt; yang saya lakukan, ternyata Pemukiman Nelayan Muara Angke ini didirikan pada tahun 1977 pada zaman Presiden Soeharto. Wilayah seluas 2.500 hektare itu menjadi salah satu destinasi kuliner serba ikan bagi warga ibukota. Kawasan ini—secara administratif merupakan wilayah Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Selidik demi selidik—menurut data, Muara Angke mempunyai sejarah kelam. Terbentang ke belakang sekitar lima abad silam. Tepatnya, pada zaman VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Pada tahun 1700-an, pedagangan Belanda menuai kegemilangan. Tapi, pesaing baru muncul, yakni pedagang Tionghoa yang sudah lama berdagang sebelum Belanda datang di bumi Nusantara. Pemerintah Belanda memberlakukan regulasi yang intinya menghambat laju perdagangan Tionghoa. Tapi, tidak mempan. Situasi ini membuat Gubernur Jenderal Valckenier menghalalkan segala cara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Tragedi itu terjadi pada 9-10 Oktober 1740. Gubernur Jenderal memerintahkan pasukannya mengepung dan membumihanguskan perkampungan Tionghoa lokal. Tragedi ini memakan korban sekitar 10 ribu jiwa. Mayat-mayat mereka bergelimangan di berbagai jalan dan kali. Mayat-mayat itu dibuang ke Kali Besar. Kali Besar ini menghayutkan mayat-mayat itu ke kali-kali cabangnya. Salah satunya Kali Angke. Ilustrasi dan sepotong ceritanya bisa dilihat di Museum Fatahillah, Jakarta Kota. Nah, tempat terdamparnya mayat-mayat korban tentara kompeni itu di sebut sebagai Muara Angke—dari kata &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;bangke&lt;/i&gt; atau bangkai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Mataku menerawang, membayangkan tragedi di jejak jalan yang sekarang saya lewati. Jalan menuju dermaga benar-benar becek. Air masih menggenang, warnanya hitam mirip jelaga. Mungkin bercampur lumpur-lumpur yang terangkut drum. Hampir semua orang yang bekerja di tempat itu memakai sepatu bot. Saya dan Rijal memakai sendal, Samsul menyesal memakai sepatu mengkilap. Hampir tak ada tempat berpijak untuk menghindar dari air comberan akibat got tersumbat yang menutupi jalan itu. Tak selamatlah sepatu bagus itu. “Foke pasti nggak pernah ke tempat ini! Kok ya dibiarin ya, kan ini aset!” Samsul menumpahkan kekesalan ke gubernur DKI. Hehe.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Di depan gang arah dermaga, muncul Faisal Fadly, pengurus PD KAMMI Jakarta. Dia menjemput kami, mengantarkan ke KM Karisma yang masih bersandar. Ada beberapa kapal lain yang bersandar, tapi kami sudah dipesan Abuzarr, Ketua PD KAMMI Jakarta untuk naik KM Karisma. Menyesal saya sesudahnya, kenapa tidak naik kapal yang lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Di dek atas kapal ternyata sudah ramai. Penuh sesak, demikian juga kapal-kapal di sebelah. Lebih banyak muda-mudi, pasangan maupun rombongan. Pakaian mereka modis, beberapa membawa koper besar. Agaknya mereka akan berlibur sampai Senin, dua hari di pulau untuk berwisata. Di KM Karisma itu, kami bertemu sekitar 10 orang kader KAMMI yang ke Pulau Pramuka juga. Mereka berasal dari LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), sebuah kampus yang disokong penuh donatur Saudi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Kami lalu berkenalan, ngobrol akrab dan hangat. Bercanda-canda gembira. Tapi, yang namanya anak LIPIA, pinter bahasa Arab dan hafalan ayat Quran-nya banyak, bercanda juga tak berlebihan. Kutipan-kutipan sering muncul, karena saya tahu betul, anak LIPIA adalah penghafal hebat. Tapi, candaan itu akan sirna setelah satu jam kapal berlayar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Singkat kata, menunggu 1,5 jam kami di atas kapal, lalu motor kapal mulai dinyalakan. Tali yang bertambat di kapal sebelah, mulai dilepaskan. Kapal bergerak pelan, perlahan mulai laju. Di sebelah kanan, di tepian pantai berdiri raksasa apartemen, yang sering kita tonton ilkannya di &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;MetroTV&lt;/i&gt;, yaitu Pantai Indah Kapuk. Yah, tempat berdiamnya orang berduit. Mungkin yang tinggal di sana berfikir, agar saat mau tidur bisa melihat laut dan bangun tiidur menghirup udara pantai. Tapi, apa ya nggak bosan begitu terus tiap hari?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Ada tanggul yang dibuat di pantai Muara Angke itu. Seorang lelaki menjala ikan, melemparkan jala ke laut, menarik pelan-pelan berharap atas rejeki hasil laut yang dikaruniakan Allah. Di sisi kiri kapal, saya melihat beberapa lelaki berdiri di atas tanggul yang terdiri dari tumpukan pasir diwadahi dalam zak. Mereka berdiri memegangi pancing, udara pagi di hari libur, di awal tahun pula, membuang waktu berharap membawa pulang beberapa ekor ikan untuk anak tercinta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Sepanjang perjalanan selama satu jam kami berbincang-bincang. Lalu mulai terdiam menatap ke kejauhan. Riak yang tak banyak, angin semilir, bendera merah putih yang sudah roek pinggirnya, ditalikan di atas dek. Berkibar kencang mengikuti arah angin. Kami melewati beberapa pulau yang sayangnya saya nggak tahu namanya. Hanya satu pulau tampak unik, ada bangunan mirip benteng di atasnya. Tapi pulau itu kecil, apakah itu Onrust? Mungkin saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Setelah 2 jam berlayar, ternyata cuaca berubah. Angin menjadi kencang, ombak tiba-tiba mengganas. Kapal oleng depan belakang dan kanan kiri. Awak kapal berteriak, “Turun...turun, sebagian turun ke bawah!” Memang saat itu, dek atas penuh sesak, sementara di bawah, belakang kemudi nahkoda kapal, masih agak kosong. Hanya ibu-ibu dan keluarga yang di sana. Segera saya turun ke bawah, masuk ke dalam. Beberapa orang juga turun. Saya berbegas mencari tempat, duduk tenang bersila. Baru lima belas menit, perut saya mual, mata kunag-kunag. Ternyata orang-orang di sekitar saya banyak yang memegang plastik menutupi mulut mereka. Banyak yang mabuk laut. Bau muntahan itu yang membuat rangsangan memicu orang lain muntah juga, ditambah suara hoek..hoek.. yang keluar dari mulut "korban."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Saya bertahan, memejamkan mata, menyeimbangkan pikiran meski kapal terus oleng dengan keras. Sebelah kiri saya, lelaki dengan dandanan modil dan jaket putih yang bagus, wajahnya pelan-pelan memutih laksana warna jaketnya. Pucat pasi. Dia memegang tangan perempuan yang mungkin pacarnya. Saya merogoh tas ransel, beruntung, di kantung luar ada botol kecil minyak kayu putih. Segera kuambil, mengoleskan ke leher dan hidung, lalu menawarkan ke lelaki itu. Dia mengambil dari tangan saya, belum sempat mengoleskan, dia tiba-tiba beranjak berdiri, lalu setengah tergesa ke pintu kapal. Muntahan keluar mulutnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Saya melihat ke Rijal, dia juga pejamkan mata. Duduk bersila dan menyedekapkan tangan. Mulutnya bergumam, mungkin berzikir atau membaca ayat-ayat. Saya coba buka mata lagi, makin pening, saya putar kepala ke belakang, semua orang tergeletak saling tindih. Lama-lama saya nggak kuat juga, tergeletak menindih tas-tas milik orang. Hampir semua mabuk laut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Saya sudah pernah naik kapal beberapa kali, dulu tahun 2006 saat tinggal di Labuha, Halmahera Selatan, selalu naik kapal untuk ke Ternate, saya nggak mabuk laut. Mungkin karena bodi kapal yang besar, sehingga turbulensi akibat ombak tak terlalu besar. Sering juga naik &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;katinting&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;jukung&lt;/i&gt; saat tinggal di Banjarmasin 2008 dulu. Tapi tidak sedahsyat ini rasanya. Saya hanya berdoa semoga kapal tidak hancur dihantam ombak, meski bunyi krieet..krieet muncul dari kayu yang membentuk kapal ini. Kejadian inilah yang membuat saya menyesal naik kapal kecil. Apalagi karena liburan, sehingga penuh sesak orang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Kapal oleng selama 1,5 jam. Selama itu pula, saya hanya menutup mata dan tergeletak meringkuk. Tiba-tiba kapal sudah berhenti. Ternyata kapal merapat ke dermaga Pulau Tidung. Saya pikir sudah sampai, saat awak kapal membangunkan saya untuk menarik ongkos, ditanya turun di mana? Pulau Pramuka jawab saya. “Ongkosnya Rp 30 ribu. Tetap di kapal ya mas, satu pulau lagi,” kata awak kapal itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Saya keluar kapal, naik ke dek lagi. Rijal dan Samsul sudah di atas. Saya lihat anak-anak LIPIA tergeletak, wajah mereka pucat, sebagian berebah. Canda tawa di saat kapal akan berangkat tadi, agaknya sirna seiring goncangan kapal. “Mereka tadi terus menerus murajaah, merapalkan ayat-ayat Quran dari bibir. Aku juga cuma bisa berdoa dalam batin. Alhamdulillah sekarang selamat,” ujar Samsul. “Tapi kan kita masih satu pulau lagi,” sergahku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Perjalanan berikutnya, sekitar satu jam, dari Pulau Tidung ke Pulau Pramuka ternyata sudah tidak ganas. Ombak agak stabil. Pelan-pelan candaan muncul, kita bercerita lagi. Teman-teman LIPIA juga sudah duduk dan bisa tertawa mengisi waktu perjalanan. Alhamdulillah, masih diberi keselamatan setelah total 4,5 jam kami berlayar dengan kapal motor tradisional. Dari Muara Angke pukul 08.30, sampai di Pulau Pramuka pukul 13.00 WIB.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Pulau Pramuka sudah kelihatan dermaganya. Di atas bangunan dermaga, ada plang nama dengan tulisan Pramuka Cyber Island. Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau yang berada pada gugusan Kepulauan Seribu. Pulau ini merupakan pusat administrasi dan pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Pulau Pramuka termasuk ke dalam Kelurahan Pulau Panggang. Dinamakan Pulau Pramuka, karena dulu pulau ini kotor dan tak terurus. Kemudian beberapa rombongan Pramuka datang ke pulau dan membersihkan pulau ini. Untuk menghormati jasa para Pramuka inilah pulau ini dinamakan Pulau Pramuka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Masjid kabupaten dengan kubah warna kuning terang menyambut kedatangan kami. Berjejer di tepian dermaga, ada kantor kabupaten, rumah sakit daerah, dan bebarapa perwakilan dinas. “Jadi PNS di sini itu enak, kantornya dua. Selain di pulau, ada yang di Kuningan dan Sunter. Mereka kalau masuk bergilir, dua hari di sini, sisanya di Jakarta,” cerita Abuzarr. Ketua KAMMI Jakarta ini rumahnya tepat di samping "alun-alun" Pulau Pramuka, di samping Kantor Bupati Kepulauan Seribu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Setelah sampai pulau, saya baru sadar betapa laparnya perut ini. Ternyata saya nggak muntah, karena memang nggak ada yang bisa dimuntahkan. Sejak malam belum makan. Jadi, bergegas kami ke warung makan. Menunya, asam cumi. Rasanya, yummy... Mungkin karena lapan dan perut dikocok-kocok di atas laut sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; "&gt;Setelah makan, lalu mandi, saya ke masjid kabupaten. Ada bedug bolong di sana. Sholat jama' qashar Dzuhur dan Ashar sekaligus. Lalu rebahan, rasanya nikmat luar biasa. Perlu diketahui, listrik di Pulau Pramuka hanya menyala pukul 17.00 sampai 07.00. Jadi pagi sampai sore tak ada listrik di rumah-rumah. Maka, di masjidlah saya bisa menikmati kipas angin yang menyejukkan di hawa panas berbau garam itu.&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-4750663923970281983?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/4750663923970281983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2011/01/pulau-seribu-1-digoncang-ombak-di-teluk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4750663923970281983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4750663923970281983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2011/01/pulau-seribu-1-digoncang-ombak-di-teluk.html' title='Pulau Seribu (1): Digoncang Ombak di Teluk Jakarta'/><author><name>Amin Sudarsono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16386640036277393442</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-2769207050013958523</id><published>2010-12-31T03:16:00.012+07:00</published><updated>2011-01-09T16:44:02.334+07:00</updated><title type='text'>Batam (3): Diskusi Jurnalis Menatap Masa Depan Kepulauan Riau</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzsLpr5PtI/AAAAAAAAAHU/ny416UfK5XI/s1600/DSCF1019.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 368px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzsLpr5PtI/AAAAAAAAAHU/ny416UfK5XI/s320/DSCF1019.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556575725181026002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Agenda utama ke Pulau Batam kemarin adalah Daurah Marhalah II KAMMI Kepulauan Riau di Kota Batam. Acaranya berlangsung sejak 23-26 Desember 2010. Aku mendapat jatah untuk menemani diskusi para jurnalis pada Studium Generale DM II yang digelar pada Kamis, 23 Desember 2010 pagi. &lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Bersama istriku, Alwin Khafidhoh, kami berangkat menaiki Lion Air, jam penerbangan pukul 16.20 WIB. Istriku berangkat dari Bandung dan aku dari kantor PATTIRO di Tebet, karena masih menyelesaikan beberapa pekerjaan. Pukul 15.00 kami sudah bertemu di bandara. Setelah check-in, lalu makan siang (menjelang sore) di restoran dalam bandara. Ternyata, pesawat &lt;i style=""&gt;delay&lt;/i&gt; 45 menit. Ya, kami harus menunggu. Tapi tidak terlalu &lt;i style=""&gt;boring&lt;/i&gt;, karena istriku bertemu koleganya dari Bengkulu. Mereka bertemu di acara workshop IBP (International Budget Project)-nya Debbie Budlender di Bandung dulu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Pukul 17.10 kami naik, sepuluh menit kemudian terbang. Ternyata, teman sebelahku adalah seorang pelaut. Namanya Anto, dia mengaku asli Gemolong Sragen. Kamipun asyik bercerita dalam bahasa Jawa. Anto sudah 10 tahun di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;laut. Dia sekarang bekerja di kapal yang mengangkut pasir dari Malaka ke Singapura. Hanya 4 bulan sekali bisa menginjakkan kaki di daratan. Dia mengaku takut pesawat, “Rasanya perut mual, kepala pening. Mending kalau ada waktu cukup, saya naik kapal, Mas. Sudah biasa,” ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Sesampai Bandara Hang Nadim pukul 19.00 WIB. HP-ku berdering, ternyata akh Armat Juang, Ketua KAMMI Komisariat Batam datang menjemput. Kamipun meluncur ke lokasi acara Daurah Marhalah di Kantor Pemuda dan Olahraga Kota Batam. Antoikut menumpang sampai Simpang Panbill. Dia turun dan menolak kuajak menginap di lokasi. “Jam 04.00 nanti sudah lepas jangkar, Mas. Kapan-kapan kita bertemu di Jakarta,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Sebelum ke lokasi, akh Juang mengajak kami makan malam di sebuah tempat yang dari sana bisa melihat keindahan malam Batam. Cahaya berpendar dari bangunan dan gedung-gedung. Batam memang kota yang ditata, dibentuk dan dikonsep. “Wah, ilmuku berguna banget di sini,” ujar istriku. Dia alumni Planologi ITB, naluri tata kotanya masih melekat meski pekerjaanya lebih banyak advokasi dan riset di bidang pendidikan dan kesehatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Tempat makan kami juga unik, di sana ada bus besar yang bangkunya sudah diganti dengan meja dan kursi makan yang artistik. Ya, jadilah restoran bus. Kami tidak makan di sana, tapi di sebelahnya. “Apa menu khas Batam?” tanyaku kepada akh Juang. Dia menjawab, hampir tak ada, tapi bolehlah rasakah jus buah naga. Segera kupesan minuman itu, ternyata warnanya merah menyala. Agaknya varietas yang lain, kalau yang sering kujumpai selama ini, buah naga warnanya putih cerah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Setelah makan, kami bergerak ke lokasi. Di sana bertemu akh Raja Dachroni, yang suka menggelari dirinya Raja Muda Berjaya. Masih keturunan raja-raja Kesultanan Lingga Riau agaknya. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt; Aku berjumpa dengan Ketua Kaderisasi KAMMI Kepri itu terakhir pada Oktober 2010 pada Pra Muktamar KAMMI di Solo. Kami berbincang dan mendiskusikan persiapan acara untuk besok pagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Malam pertama di Batam, kami menginap di rumah Mas Agus, sahabat lama saat kos di Jogja dulu. Rumah Mas Agus ada di Perumahan Nusa Indah Tanjung Piayu. Untuk kesana, aku dan istriku diantar akh Dachroni dan akh Juang. Sudah pukul 23.00 WIB, Mas Agus sudah tidur agaknya. Tak ada sahutan saat nomor HP-nya kupanggil. Untunglah dia terbangun, lalu menjelaskan rute yang harus kami tempuh. Hanya sekitar 30 menit sudah sampai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Pagi harinya, kami dijemput Pak Edison, driver yang biasa mengantarkan Bu Herlini Amran—anggota DPR RI Dapil Kepri—jika kunjungan daerah. Kami berbincang akrab, Pak Edison ternyata asli dari Padang. Sudah lama juga di Batam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Sampai lokasi, aku tempatkan koper pakaian di kamar panitia. Ternyata sudah hadir satu pembicara di sana, yaitu Rumbadi Dalle, wartawan senior &lt;i style=""&gt;Tempo&lt;/i&gt;. Dia asyik berbincang dengan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kepri, Azman Taufik. Aku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memilih menunggu di dalam, tak lama kemudian datang para undangan. Aku tidak kenal, hanya tampak hadir Ketua PW Muhammadiyah Kepri Dr Chablullah Wibisono dan perwakilan DPRD Kota Batam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Studium Generale DM 2 KAMMI Daerah Kepri ini bertema &lt;i style=""&gt;Konsep Pembangunan Kepri dan Masa Depannya di Mata Jurnalis. &lt;/i&gt;Mereka yang diundang menjadi pembicara adalah Kepala BAPPEDA Kepri—ternyata berhalangan dan digantikan stafnya Pak Sardison, General Manager/Pemimpin Redaksi &lt;i style=""&gt;Batam Pos&lt;/i&gt; Hasan Aspahani, jurnalis &lt;i style=""&gt;Tempo&lt;/i&gt; Rumbadi Dalle dan aku sebagai pembanding saja. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzqrd6sT_I/AAAAAAAAAGc/1bhmsXUyAFM/s1600/DSCF0148.JPG"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzqrd6sT_I/AAAAAAAAAGc/1bhmsXUyAFM/s320/DSCF0148.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556574072754425842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Setelah dibuka secara resmi oleh Azman Taufik—menggantikan Gubernur yang berhalangan datang—diskusi digelar. Sebelumnya diskusi, ada penyerahan cinderamata, buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ijtihad Membangun Basis Gerakan&lt;/span&gt;, aku serahkan kepada Kadinkop UKM itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Pak Sardison, staf BAPPEDA Kepri mendapat kesempatan bicara pertama, dia menyampaikan data-data Kepri. Terdapat tujuh isu dan permasalahan utama, yaitu (1) Pengamanan dan pemanfaatan Pulau Terluar (PPT), (2) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pembangunan Pusat Pemerintahan Provinsi dan Kabupaten/Kota, (3) Realisasi FTZ (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;free trade zone&lt;/span&gt;/zona perdagangan bebas), (4) Mobilitas penduduk dan Kemiskinan, (5) Pendanaan pembangunan, (6) Pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan, dan (7) Pengelolaan hasil sumber daya alam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;“Luas daratan kita hanya 4 persen. Tentu kekayaan suberdaya laut sangatbesar. Karena itu, kitakonsentrasi pada pengelolaan hasil laut ini,” terangnya. Selain itu, Kepulauan Riau berbatasan dengan empat negara yaitu Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Thailand. Ini artinya 45 % dari batas negara Indonesia yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berbatasan dengan 9 negara. Kondisi ini membuat pemerintah Kepri berada dalam posisi persaingan langsung, untuk itu perlunya pemberlakuan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; free trade zone &lt;/span&gt;itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzrtzcS5nI/AAAAAAAAAHM/4Ysc5T5NnmI/s1600/DSCF1004.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzrtzcS5nI/AAAAAAAAAHM/4Ysc5T5NnmI/s320/DSCF1004.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556575212403877490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Untuk mendatangkan investor dari luar negeri, pemerintah mensiasatinya dengan menciptakan iklim investasi yang lebih menarik yaitu dengan membentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau yang sering disebut &lt;i style=""&gt;Special Economic Zone&lt;/i&gt; (SEZ) di beberapa kawasan di Indonesia. Sebagai &lt;i style=""&gt;pilot project&lt;/i&gt; SEZ ditunjuk Pulau Batam, Bintan dan Karimun (BBK) karena telah berpengalaman melaksanakan pelayanan investasi di daerah berikat &lt;i style=""&gt;(bonded area).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;“Untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mewujudkan SEZ tersebut, Pemerintah RI bekerjasama dengan Pemerintah Singapura yang ditandai dengan penandatanganan &lt;i style=""&gt;framework agreement&lt;/i&gt; pada tanggal 25 Juni 2006 di Batam. Ini modal besar kita untuk maju,” jelas Sardison.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Rumbadi Dalle mendapat kesempatan kedua. &lt;i style=""&gt;Law enforcement&lt;/i&gt;, perubahan &lt;i style=""&gt;mind set&lt;/i&gt; dan penghapusan ego sektoral adalah merupakan tiga hal yang harus menjadi perhatian pemerintah Kepri di masa depan, agar Kepri dengan segala potensinya yang sangat kaya dapat dinikmati oleh masyarakatnya sendiri dan bukan oleh bangsa asing, ujar Bang Rumbadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Wartawan senior &lt;i style=""&gt;Tempo&lt;/i&gt; itu juga memandang perlunya segera masyarakat, terutama pemerintah melakukan perubahan pola pikir atau &lt;i style=""&gt;mind set&lt;/i&gt;. “Kenyataannya 96 persen wilayah Kepri merupakan kawasan perairan. Seharusnya pemerintah membangun pabrik pengolahan ikan yang besar dan modern, sehingga potensi laut kita tidak dijual keluar dan juga dicuri oleh nelayan-nelayan asing,” ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Bang Rumbadi juga menyesalkan terjadinya ego sektoral dari 12 instansi resmi yang terlibat dalam pengawasan dan pengelolaan kelautan di wilayah perairan Kepri. “Ini menjadi kendala sendiri, ego sektoral dari instansi-instansi kita sendiri,” jelas Rumbadi yang juga Ketua PWI Reformasi Kota Batam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzrFmr_UMI/AAAAAAAAAG0/MuuASTLrsp8/s1600/DSCF1020.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzrFmr_UMI/AAAAAAAAAG0/MuuASTLrsp8/s320/DSCF1020.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556574521785274562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Pembicara ketiga, Pimred &lt;i style=""&gt;Batam Pos&lt;/i&gt; Hasan Aspahani justru sama sekali tidak menyinggung konsep pembangunan daerah. Aku ingat betul dengan gayanya. Mengambil mikropon, lalu berdiri—tidak seperti dua pembicara sebelumnya yang duduk manis di belakang meja. Bang Hasan membuka wicaranya dengan kisah kesuksesan Bill Gates, di usia muda penuh optimisme dan taktik jitu mengembangkan bisnis Microsoft. Bang Hasan lalu bercerita tentang membangun semangat wirausaha para pemuda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family:Georgia;font-size:100%;"&gt;“Ciputra, Anda tahu, adalah pebisnis sukses. Suatu hari setelah bertahun-tahun dia bersih-bersih rumah. Dan mendapati ijazah sarjananya tergeletak kotor di sela lemari. Lihatlah, dia sama sekali tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pedulikan ijazah, justru tanpa itu dia menjadi sukses. Berani nggak, Anda menyobek ijazah sekarang dan mulai berbisnis meski kecil-kecilan?” tantang sastrawan Kepri itu.&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Singkat kata, pemateri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ketiga justru menyulut semangat bisnis mereka yang hadir. Dia bercerita tentang bisnis itu tidak harus besar. Semuanya bisa menjadi peluang. “Jika Anda melihat permasalahan, berartiada satu peluang bisnis yang bisa Anda jalankan. Menurut sebuah penelitian, rata-rata para pebisnis menjadi sukses setelah 17 kali berganti bisnis. Saya sudah 4 kali,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Demikianlah, akhirnya aku menjadi yang terakhir. “Saya terperangah dengan orasi Saudagar Banjar yang ada di samping saya ini,” ucapku membuka kata. Hasan Aspahani adalah suku Banjar yang lahir di Balikpapan dan kuliah di IPB. Tapi dia juga sudah lama tinggal di Batam dan sekarang menakodai koran terbesar di Batam itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Karena tidak tahu banyak tentang Kepri, aku hanya membuat catatan kecil saja. Yaitu tentang proses swastanisasi di Batam. Sekarang PLN dan PDAM sudah dikelola swasta. Sektor pelabuhan juga demikian. “Bagaimana prospeknya, mengapa justru saya mendengar bahwa pelayanan masih sama saja dikelola negara?” tanyaku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Aku tak banyak bicara, lalu kututup wicaraku yang hanya 15 menit dengan tafsir atas paradigma sosial independen KAMMI, bahwa KAMMI merupakan gerakan &lt;i style=""&gt;civil society&lt;/i&gt; yang harus melakukan kontrol, baik terhadap negara maupun sektor bisnis privat. Berikutnya adalah tanya jawab, cukup banyak penanya yang aktif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Diskusi berakhir setelah azan Dhuhur berkumandang. Ratusan peserta diskusi—yang mayoritas mahasiswa—bergiliran foto bersama pembicara. Maklum, Hasan Aspahani adalah “yang empunya koran” dan punya rubeik tetap Kamisan yang terbit tiap Kamis. Sastrawan Kepri ini jadi rebutan foto, selain Bang Rumbadi yang jurnalis &lt;i style=""&gt;Tempo&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzrogAxFdI/AAAAAAAAAHE/XGZoW5lg9HE/s1600/DSCF1032.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzrogAxFdI/AAAAAAAAAHE/XGZoW5lg9HE/s320/DSCF1032.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556575121288795602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Sebelum diskusi berlangsung, aku sempat berbincang hangat dengan bang Rumbadi. Kusampaikan salam dari Akbar Tri Kurniawan—wartawan Tempo yang juga alumni KAMMI. Bang Rumbadi tampak sumringah mendengar itu. “Siapa lagi orang Tempo yang kau kenal?” tanyanya. Kujawab, aku ke kantor majalah &lt;i style=""&gt;Tempo&lt;/i&gt; dan bertemu dengan Sunu Dyantoro. Dia makin gembira. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Menurut cerita yang kudengar dari Akbar, Rumbadi adalah “pejuang ilegal logging” di Kepri. Dan benar, bang Rumbadi bercerita, dia sebelas hari penuh investigasi tentang pembalakan liar itu. “Setelah dimuat, aku sembunyi. Banyak orang datang. Malah sebelum berita itu naik, banyak juga yang datang menawari uang. Wah, mati-matian kutolak. Hidup ini kan bukan hanya cari uang, kita wartawan harus pikirkan rakyat,” katanya semangat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Begitulah, diskusi berakhir dan aku lalu memilih berebah di kamar yang disediakan panitia. Letaknya di lantai 3 Kantor Pora itu.[]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-2769207050013958523?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/2769207050013958523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/12/kenangan-batam-3-diskusi-jurnalis.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2769207050013958523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2769207050013958523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/12/kenangan-batam-3-diskusi-jurnalis.html' title='Batam (3): Diskusi Jurnalis Menatap Masa Depan Kepulauan Riau'/><author><name>Amin Sudarsono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16386640036277393442</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzsLpr5PtI/AAAAAAAAAHU/ny416UfK5XI/s72-c/DSCF1019.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-7040929783480252744</id><published>2010-12-31T01:17:00.021+07:00</published><updated>2011-01-09T16:44:31.083+07:00</updated><title type='text'>Batam (2): Menguak Luka Lama Perang Vietnam</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzRBn0IwtI/AAAAAAAAAEc/lAGn4UN5Peg/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B310.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 256px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzRBn0IwtI/AAAAAAAAAEc/lAGn4UN5Peg/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B310.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556545866066084562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Pernah mendengar kisah Manusia Perahu? Mereka yang menyeberangi Laut China Selatan untuk menghindari kekejaman akibat perang saudara di Vietnam pada tahun 1979. Ternyata, Indonesia menjadi penyelamat ratusan ribu manusia perahu. Berikut perjalananku bersma istriku ke sana.&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Masuk ke kompleks memorial manusia perahu Vietnam, kita disambut pos penjagaan berpalang. Ada petugas berseragam yang menunggu di sana. Tiketnya Rp 5.000 saja, tanpa diberi karcis. Aku nggak tahu bagaimana nasib uang ongkos masuk itu. Karena tak ada lembaran tiket yang &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;membuktikan itu untuk retribusi pariwisata. Bisa saja masuk kekantong pribadi penjaga palang, atau ada mekanisme yang aku nggak paham.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Motor yang kutumpangi bersama istri tercita melaju pelan. Setelah menempuh perjalanan 60 kilometer—dari Tanjung Piayu hingga Galang Baru—yang panas terik dan pandangan silau karena pantulan batu, kami merasakan sejuk udara di lingkung pohon dan hutan yang mengepung &lt;i style=""&gt;memorial place&lt;/i&gt; ini. Angin yang menerpa wajah tadinya panas, kini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berubah adem. Jalan sedikit berkelok, tapi semua sudah beraspal halus. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzS-99Z1LI/AAAAAAAAAFs/5pC9PIT81wE/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B243.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzS-99Z1LI/AAAAAAAAAFs/5pC9PIT81wE/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B243.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556548019494180018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Sampailah kami di depan Vihara Quan Am Tu. Vihara ini—atau beberapa orang menyebut Pagoda—memang terlalu mencolok untuk dilewatkan, karena bangunannya yang &lt;i style=""&gt;full colour &lt;/i&gt;alias warna-warni, sudah nampak dari jalan tanpa harus berbelok. Saat memasuki halaman vihara, b&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;au hio yang dibakar menyergap hidung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Seorang lelaki bermata sipit berdiri tegak menghadap patung Dewi Guang Shi Pu Sha atau yang biasa kita kenal sebagai Dewi Kwan Im. Tiba-tiba ingatanku melayang ke sosok Bibi Lung dalam serial &lt;i style=""&gt;Legend of White Snake&lt;/i&gt; (Legenda Ular Putih) yang dibintangi Andy Lau dan diputar di &lt;i style=""&gt;Indosiar&lt;/i&gt; dulu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Lelaki itu menyalakan batang hio berwarna merah, asapnya berbau harum, namun cepat terlibas angin karena di luar ruangan. Menyusul, seorang perempuan berbaju merah, sipit juga matanya, berkulit putih, membungkuk sebentar lalu meletakkan dua tangkupan tangan di depan dada. Terpejam matanya, memohon sesuatu kepada dewanya. Selesai itu, dia melempar uang ke bawah patung Dewi Kwan Im. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Di dalam vihara, beberapa orang tengah bersembahyang, sementara seorang bhiksu Buddha tengah melayani konsultasi keagamaan dari sejumlah pengunjung. Sementara beberapa pengunjung seperti kami, sibuk mencatat dan mengambil foto-foto, tetapi tetap menghormati mereka yang tengah bersembahyang dengan memandang mereka tanpa bicara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzRMoGBSUI/AAAAAAAAAEk/XciFnJEAQOU/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B221.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzRMoGBSUI/AAAAAAAAAEk/XciFnJEAQOU/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B221.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556546055119653186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Yang mencolok dari bangunan itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah tiga patung berukuran besar warna-warni yang di depannya dijagai naga raksasa. Salah satu patung berukuran raksasa itu adalah Dewi Guang Shi Pu Sha. Biasanya para pelancong menyempatkan diri berfoto-foto di depannya. Ada dua plakat yang diletakkan di kaki Sang Dewi, ditulis dengan huruf merah. Salah satunya berbunyi:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;“Dewi Guang Shi Pu Sha bisa memberikan kita hoki, jodoh, dan keharmonisan dalam rumah tangga dengan ca&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;ra: berdoa. Semoga Dewi Guang Shi Pu Sha mengabulkan apa yang kita inginkan setelah selesai berdoa, melemparkan koin ke arah Guang Shi Pu Sha”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Orang lain ikut melemparkan koin, tetapi aku tidak. Kami takut durhaka karena “menyalahi” keyakinan dan agama yang kami anut. Tujuan kami adalah merekamjejak perjalanan manusia perahu. Tapi, ada alasan juga kenapa aku tidak lempar koin kesana: takut dapat jodoh lagi!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Di samping plakat pertama, ada plakat kedua yang rupanya ditujukan kepada anak-anak. Tetapi di akhir pengumuman itu tetap sama, yakni diminta melempar koin ke arah Sang Dewi. “Bagi anak-anak yang ingin pintar sekolah, cita-cita cepat tercapai berdoalah kepada Dewi Guang Shi Pu Sha supaya membantu kita mencapai apa yang diinginkan (yang halal)”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Vihara Quan Am Tu diresmikan pada 10 Desember 1979, yang berarti sudah hampir 30 tahun ia berdiri di Pulau Galang. Dari keadaannya yang bersih, tampaklah kalau tempat ibadat itu terawat dengan apik. Memori tentang pendirian vihara yang tergambar dari rangkaian foto-foto berwarna yang sudah pudar, tetap dapat terpelihara.&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Agak di bawah vihara, tepatnya di halaman parkir, terdapat tiga ruangan bersekat tanpa pintu yang penuh dengan ornamen lukisan. Meski tidak berpintu, orang tidak boleh masuk karena dipasangi rantai. Ruangan terbuka tanpa pintu yang terkesan seperti los di pasar itu digunakan untuk ritual pada hari-hari tertentu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;" lang="IN"&gt;Jejak Pilu Manusia Perahu&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Pagoda Quan Am Tu adalah benteng spiritual. Dalam renunganku, para pengungsi itu meski tidak berada di tanah kelahiran, berada di pelarian, ada dalam tekanan, takut serangan perang dan hidup seadanya, mereka tetap bertahan dalam keagamaan. Agama menjadi obat bagi mereka yang sedih dan duka. Quan Am Tu salah satunya. Di dalam kompleks memorial itu, juga terdapat satu Gereja Katholik tua dan satu Gereja Protestan. Sayang, gereja Protestan ini tidak bisa dimasuki karena jalan menuju ke sana sudah tertutup semak tebal dan bangunannya rusak. Berbeda dengan vihara dan gereja Katholik yang masih terawat dan tampaknya sering dipakai untuk beribadah. Sayang juga, tak ada masjid di kompleks itu, tapi di luar kompleks, ke arah Pelabuhan Karyapura, masjid berkubah biru tampak berdiri megah&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Inti pokok renunganku adalah, betapa mereka butuh keteguhan batin. Ratusan ribu orang yang terbuang dari negaranya menghindari petaka perang itu, harus bukan hanya butuh perlindungan fisik—ruang tidur, ruang makan, ruang bergerak—tapi juga butuh perlindungan spiritual. Dan, agama adalah payung pelindung paling nyaman. Mereka bisa bertahan di lingkungan vihara dan gereja itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Setelah banyak mengambil foto, istriku mengajak segera jalan. Karena agaknya awan sudah mulai tebal. Khawatir kehujanan di jalan ketika pulang nanti. Motor kustater, keluar dari kompleks vihara dan berbelok ke arah kiri, menuju lokasi perawatan para pengungsi. Dua bangunan permanen yang pernah difungsikan sebagai puskesmas masih berdiri kokoh. Begitu juga dengan bekas rumah sakit yang mampu menampung lebih dari 100 orang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Setelah melewati rumah sakit, kami bertemu papan petunjuk bertuliskan Humanity Statue. D&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzRcFpiZpI/AAAAAAAAAEs/PdpGlp9RNds/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B265.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzRcFpiZpI/AAAAAAAAAEs/PdpGlp9RNds/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B265.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556546320751290002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;i &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;sana berdiri monumen yang di atasnya ada petung perempuan dalam terkulai. Monumen itu sudah agak berlumut, tampak tua dimakan usia. Awalnya kami bertanya-tanya, monumen apakah ini? Ternyata, itu adalah peringatan atas tragedi kemanusiaanyang pernah terjadi di kamp pengungsi. Patung Kemanusiaan ini menggambarkan sosok wanita yang bernama Tinhn Han Loai yang bunuh diri karena malu &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;setelah diperkosa oleh sesama pengungsi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Aku tertegun lama di depan patung monumen itu. Tinhn Han Loai bunuh diri di dekat patung yang sekarang berdiri sebagai peringatan bahwa perkosaan adalah kejahatan kemanusiaan. Bukti atas tekanan mental yang merenggut nyawa. Pesannya jelas: martabat perempuan harus dijaga. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Di dekat Patung Taman Humanity, terdapat areal pemakaman bernama Ngha Trang yang menjadi tempat peristirahatan sekitar 503 pengungsi Vietnam yang meninggal di Galang karena penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Karena pemakaman itu, para kerabat yang kini telah kembali ke Vietnam maupun bermukim di negara lain yang memberikan suaka, masih kerap datang ke Galang untuk berziarah ke pemakaman itu. Kemarin, ada empat orang berbahasa Khmer yang dipandu seorang petugas yang tampak fasih berbicara bahasa orang Vietnam itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Batu nisan itu menjadi saksi kebesaran hati Indonesia dalam menerima pengungsi dari Vietnam. Menampung dan memberi mereka tempat untuk hidup selama puluhan tahun. Kemuliaan anak bangsa ini harus jadi pelajaran penting, bahwa persaudaraan lintas negara jauh lebih penting dari sekedar saling gertak dengan negara serumpun. Maksudku, Malaysia itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzRsG6oEeI/AAAAAAAAAE0/FRA3TiEoFo8/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B287.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 480px; height: 359px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzRsG6oEeI/AAAAAAAAAE0/FRA3TiEoFo8/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B287.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556546595969307106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Dari sana, kami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menuju ke Monumen Perahu yang terdiri atas tiga perahu yang digunakan para pengungsi ketika meninggalkan Vietnam.. Tampak di sana, bekas perahu yang ditumpangi para pengungsi. Bayanganku melayang ke masa itu. Sungguh sangat memilukan menginat kisah para pengungsi Vietnam ini. Bermula dari perang saudara antara Vietnam Selatan dengan Vietnam Utara (Vietkong). April 1975 Vietnam Utara memenangkan perang saudara ini dan menimbulkan &lt;i style=""&gt;chaos&lt;/i&gt; yg luar biasa. Para penduduk Vietnam Selatan banyak yang mengungsi dengan perahu seadanya, bahkan ada yang bocor. Mereka mengarungi lautan tanpa arah yang tentu sampai akhirnya mereka terdampar di Kepulauan Riau. Tercatat mereka mendarat di Tanjung Uban, Kepulauan Natuna, Pulang Galang, dan pulau-pulau kecil lain yang tidak berpenghuni.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Kurang lebih 250ribu pengungsi Vietnam mendarat ke kepulauan di Indonesia dalam beberapa gelombang. Mereka berjuang hidup mengendarai perahu yang berisikan 40-100 orang tiap perahu. Dan ini menjadi perhatian Indonesia dan dunia internasional. Akhirnya UNHCR &lt;i style=""&gt;(United Nation High Commission for Refugees) &lt;/i&gt;dengan disetujui oleh pemerintah Indonesia mendirikan pusat penampungan sementara pengungsian di Pulang Galang. Di sana dibangun berbagai fasilitas seperti rumah sakit, rumah-rumah penampungan pengungsi, rumah-rumah pekerja UNHCR, vihara, gereja, depo bahan bakar, jalan-jalan penghubung dan pelabuhan kecil untuk pasokan kebutuhan hidup. Pelabuhan ini disebut sebagai Pelabuhan Karyapura.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzTNF3f0-I/AAAAAAAAAF0/ahLj1lt2ItI/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B360.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 225px; height: 168px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzTNF3f0-I/AAAAAAAAAF0/ahLj1lt2ItI/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B360.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556548262135059426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Selama tahun 1979 sampai dengan 1996, Pulau Galang menjadi perkampungan Vietnam. Telah beratus-ratus orang Vietnam yg meninggal di sini, selain karena sakit juga karena memang sudah tua. Selama 18 tahun ini pula mereka telah beregenerasi. Pada tahun 1996, perahu-perahu yang mereka tumpangi dengan sengaja ditenggelamkan oleh para pengungsi sebagai bentuk protes atas kebijakan UNHCR dan Pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar 5.000 pengungsi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Lima ribu pengungsi ini dipulangkan karena mereka tidak lolos tes untuk mendapatkan kewarganegaraan baru. Mereka tidak hanya menenggelamkan perahu sebagai be&lt;/span&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzTTMWw7uI/AAAAAAAAAF8/Rl8munLmWnw/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B363.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 227px; height: 170px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzTTMWw7uI/AAAAAAAAAF8/Rl8munLmWnw/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B363.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556548366956031714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;ntuk protesnya, namun juga dengan membakarnya. Sepeninggal para pengungsi ini, oleh Pemerintah Otorita Batam, perahu ini diangkat ke daratan, diperbaiki, dan dipamerkan ke publik sebagai benda bernilai sejarah, yang mengingatkan pengunjung akan penderitaan para pengungsi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzSabrQ_6I/AAAAAAAAAFk/EOoLFyY_9PE/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B342.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 203px; height: 152px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzSabrQ_6I/AAAAAAAAAFk/EOoLFyY_9PE/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B342.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556547391816007586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Kami sempat parkir motor agak lama untuk melihat-lihat barang yang ditinggalkan para pengungsi. Perabotan mereka sekarang disimpan di museum yang sekaligus adalah markas Brimob. Tampak foto-foto keluarga, barang rumahtangga, buku klasik, kitab suci, dan karya kreatif para pengungsi. Database penghuni kamp juga masih disimpan rapi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzSFUqckpI/AAAAAAAAAFE/pZrG0W7GAcs/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B311.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 262px; height: 196px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzSFUqckpI/AAAAAAAAAFE/pZrG0W7GAcs/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B311.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556547029156270738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzSUiGz7-I/AAAAAAAAAFc/uUPLHazKmY4/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B335.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzSUiGz7-I/AAAAAAAAAFc/uUPLHazKmY4/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B335.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556547290462941154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzSPE0IlHI/AAAAAAAAAFU/Dzn2k8_IHP0/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B327.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzSPE0IlHI/AAAAAAAAAFU/Dzn2k8_IHP0/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B327.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556547196700628082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzSKcaTxbI/AAAAAAAAAFM/45MVLsydyig/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B317.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzSKcaTxbI/AAAAAAAAAFM/45MVLsydyig/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B317.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556547117135414706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Di kawasan ini juga terdapat bekas ruang tahanan. Tempat ini pernah dijadikan tempat penahanan para pengungsi yang melakukan tindakan kriminal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzR7O_0lVI/AAAAAAAAAE8/2CC1mxtwrOA/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B297.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 167px; height: 223px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzR7O_0lVI/AAAAAAAAAE8/2CC1mxtwrOA/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B297.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556546855836620114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Di sana juga terdapat bekas rumah sakit dan sekolah bahasa. Sekolah bahasa ini dulunya digunakan Badan Penanganan Pengungsi (PBB), UNHCR, untuk meningkatkan keterampilan bahasa para pengungsi. Sebelum mendapat suaka di negara ke tiga, para pengungsi diwajibkan memiliki keterampilan khusus dan menguasai bahasa. Diantaranya bahasa Inggris dan Prancis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Setelah dari museum, kami berjalan menuju Gereja Katholik. Yang terlihat dari jauh mengenai kekhasan sebuah gereja tentu saja tanda salib di pucuk teratas atapnya. Tetapi yang mencolok dari Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem ini adalah patung putih Maria di bagian muka bangunan di bawah tanda salib. Maria yang sedang merentangkan tangan agak ke bawah, berdiri di atas bola dunia dengan jubah putihnya yang merentang seperti sayap.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Di sana terdapat titian kecil melengkung terbuat dari besi yang kokoh untuk sampai di depan gereja. Dasar titian &lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzTYRtQ_KI/AAAAAAAAAGE/ywAWpP6XEHE/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B376.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 220px; height: 294px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzTYRtQ_KI/AAAAAAAAAGE/ywAWpP6XEHE/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B376.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556548454291930274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;terbuat dari kayu yang kuat. Tapi, sudah dibuat jembatan baru dari semen, jadi kami bisa melewatinya dengan motor, langsung di depan gereja tanpa lewat titian kayu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Aku melihat sekeliling, dan tertarik pada sosok patung di sayap kanan gereja itu, agak jauh dan menepi. Itu sebuah patung Maria berjubah paduan biru dan putih, tetapi dengan pose menelungkupkan dan mempertemukan kedua telapak tangan di dadanya, berdiri di atas bola dunia. Bola dunia itu berada di atas patung perahu bernomor lambung VN.02.1985. Sedangkan di atas kepala patung itu terdapat lingkaran putih terbuat dari lampu neon, yang kalau malam hari lampu neon berbentuk lingkaran itu menyala, sebagai penanda “malaikat” atau orang suci lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Di kiri-kanan patung Maria terdapat dua singa putih yang sedang “ngaso”, seakan-akan mengapit pria yang sedang melintas itu. Di atas kedua punggung singa terdapat inskripsi &lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzTkj1ZQyI/AAAAAAAAAGU/C2k9dKFfK88/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B387.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 224px; height: 291px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzTkj1ZQyI/AAAAAAAAAGU/C2k9dKFfK88/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B387.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556548665316295458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;besar yang ditulis dalam bahasa Vietnam dan Inggris. Salah satu inskripsi yang berjudul “Ta On Duc Me” itu berbunyi begini: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“O Mary, we are all deeply grateful for your protecting presence on our way to freedom. We always entrust our lives to you. Your care for us will be highly &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;appreciated in our heart forever”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Itu bukan salah satu doa para santo atau orang suci lainnya, melainkan salah satu harapan dan doa para pengungsi Vietnam penganut Katholik yang masih melihat secercah harapan di ujung lorong yang gelap. Sebuah harapan yang tidak saja menunjukkan bahwa mereka tidak fatalis, tetapi lebih menunjukkan sikap keberagamaan mereka, sikap religiositas mereka, meski penderitaan tengah menekan mereka tanpa ampun di Pulau &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Galang ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Agaknya tak ada yang bisa disaksikan lagi. Motor kugas agak cepat, khawatir keduluan hujan. Pukul 15.00 kami meninggalkan kamp pengungsi Vietnam itu.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzTff_CATI/AAAAAAAAAGM/qWAQ_BNgoVA/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B380.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 215px; height: 287px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzTff_CATI/AAAAAAAAAGM/qWAQ_BNgoVA/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B380.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556548578383626546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt; Aku terdiam di &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;jalan, menelusuri jalan yang lurus dan lengang. Berharap tidak terjadi tragedi kemanusiaan lagi di bumi ini.&lt;b style=""&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-7040929783480252744?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/7040929783480252744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/12/kenangan-batam-2-menguak-luka-lama.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/7040929783480252744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/7040929783480252744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/12/kenangan-batam-2-menguak-luka-lama.html' title='Batam (2): Menguak Luka Lama Perang Vietnam'/><author><name>Amin Sudarsono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16386640036277393442</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzRBn0IwtI/AAAAAAAAAEc/lAGn4UN5Peg/s72-c/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B310.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-4538090211675758006</id><published>2010-12-30T19:38:00.011+07:00</published><updated>2011-01-09T16:44:54.737+07:00</updated><title type='text'>Batam (1): Jembatan Barelang, Tengku Fisabilillah hingga Raja Kecil</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzEUfgy-2I/AAAAAAAAADs/9l2PeJTiO74/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B112.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 218px; height: 163px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzEUfgy-2I/AAAAAAAAADs/9l2PeJTiO74/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B112.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556531896603835234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Pukul 11.00 WIB, siang sangat terik&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt; di Kota Batam. Kota ini ternyata jauh lebih panas dari Jakarta. Kupikir karena tempatnya di dekat dengan khatulistiwa. Jaket yang sudah kusiapkan—dan akhirnya memenuhi tas punggungku—jarang sekali kupakai. Kaos tanpa kerah rasanya lebih nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanahnya keras, lebih banyak batu-batuan. Benar kata teman, Batam itu gunungnya dipotong, d&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;anaunya diurug. Kulihat masih banyak gunung setengah tegak yang menyisakan pandangan lapisan batu yang merah, hit&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;am dan kuning cerah. Mungkin mahasiswa Geologi akan berjingkrak se&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;nang melihat batu-batuan itu, tak perlu ekskavasi, tinggal diteliti.&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Ahad (26/12) siang, setelah pulang dari &lt;u&gt;Singapura&lt;/u&gt; sore hari sebelumnya dan mengisi training dua sesi di &lt;u&gt;Daurah Marhalah II&lt;/u&gt; KAMMI Kepulauan Riau di Kantor Pemuda dan Olahraga Kota &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Batam, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;aku dan Alwin, istriku, bertekad menghabiskan waktu satu hari untuk menelusuri jembatan Barelang, dan berziarah ke lokasi bekas manusia perahu Vietnam di Pulau Galang. Kami menaruh koper Polo berisi pakaian, beberapa cinderamata oleh-oleh untuk kawan dan keluarga dari Singapura dan laptop di rumah Mas Agus, di Perumahan Nusa Indah, Tanjung Piayu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Mas Agus adalah kawan satu kamar kos dulu tahun 2002 di Jogja. Saat itu, dia sedang tugas akhir di Elektro UGM dan aku masih mahasiswa semester 4 di IAIN Sunan Kalijaga. Kos kami di Karangmalang E22, rumah Pak Rudjito. Sampai saat ini, anak-anak E22 masih terhubung &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;melalui grup di Facebook. Kos itu memang solidaritasnya tinggi. Selama menginap di rumah Mas Agus, kami mengurai lembar-lembar album kekonyolan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;saat masih kos di Jogja. Balada anak kos: makan tak tentu, kadang sehari sekali, antara burjo dan angkringan; kos harus ditagih dan dikejar pak kos; ketika penagih iuran listrik datang semua ngumpet, bahkan ada yang tutup pintu kamar dan meneriakkan takbir, pura-pura sedang sholat. Begitu penagih lena, segera lari &lt;i style=""&gt;ngacir&lt;/i&gt;. Hehehe. Kayaknya balada kos ini harus jadi satu tulisan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Mas Agus sudah 6 tahun tinggal di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sana. Dia bekerja di McDermott Interna&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;tional Inc, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;perusahaan yang berfokus pada rekayasa, pengadaan, konstruksi dan instalasi pengelolaan miny&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;ak lepas pantai dan proyek-proyek gas di seluruh dunia. McDermott terletak di Batu Ampar, jadi setiap hari Mas Agus harus berangkat pukul 06.15 agar sampai kantor pukul 07.00. Sebelumnya dia bekerja di TNC dan PT Drydock Naninda Tanjung Uncang. Ingat kerusuhan antara pekerja Indonesia dengan India di Batam pada April 2010? Di Drydock-lah tempatnya. “Untung aku sudah keluar dari sana, sebelum kerusuhan itu terjadi,” ujar Mas Agus. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Kembali ke cerita rencana ziarah kami. Ahad yang terik itu, kami pinjam motor Mas Agus. Motor Honda S&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;upra FitX dengan plat nomer BP 2941 DR itu akan mengantar kami membelah pulau dan menelusuri jalan halus mulus yang membelah pulau industri hasil otak cerdas Habibie ini. Kami berjalan pelan dari daerah Tanjung Piayu, sampai di Simpang Panbill membelok ke arah kiri. Sebelum berangkat agak khawatir juga tentang jalan, apalagi daerah itu belum sempat kuambah hari sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Ak&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;u dan Alwin hanya membawa selembar peta yang sempat kami beli di Toko Buku Kharisma di Na&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;goya Hills—kawasan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt; perbelanjaan terbesar di Batam. Di peta itu, jalur jalan diwarnai tebal, menurutku asal kita mau baca peta dan memperhatikan jalan, tida&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;k akan tersesat di Batam. Paling-p&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;aling kalau &lt;i style=""&gt;kesasar&lt;/i&gt; juga akan ketemu pantai. &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzFIWxHKzI/AAAAAAAAAD0/kznc6Gz8jh0/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B038.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 172px; height: 228px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzFIWxHKzI/AAAAAAAAAD0/kznc6Gz8jh0/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B038.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556532787609545522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Sampai Simpang Panbill belok kiri, jalan terus sampai bertemu pertigaan besar, yaitu Simpang Tembesi. Dari sana ambil jalan ke kiri, ke arah Jembatan Barelang. Sepanjang jalan terlihat ratusan rumah baru dibangun. Tampaknya bisnis properti berkembang pesat di sini. “Rumah Murah, 3 Juta Pegang Kunci!” begitu bunyi spanduk di depan komp&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;leks yang dibangun di atas “p&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;otongan bukit” itu. Berjajar rapi, seragam dengan cat kuning cerah, sekira 50 meter dari tepi jalan besar. Pantas saja, Sukaryo—kawan lama dulu di Jogja sukses bisnis properti di Batam. Bahkan sekarang dia menja&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;di salah satu anggota DPRD Kota Batam dari PKS. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Jalanan benar-benar halus dan sepi. Angin bertiup kencang siang itu, agaknya angin Desember dimana-mana memang begini wataknya. Kemarin ketika di &lt;u&gt;Kawah Ratu Tangkuban Parahu&lt;/u&gt; juga sama, anginnya kencang merusak sisiran rambut yang sudah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ditata rapi. Ak&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;u didepan memboncengkan Alwin. Angin menerpa wajah yang terbuka meski kepala tertutup helm. Rasanya seperti diayun, motor bergerak lurus ke depan, jalan sedikit &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;naik naik turun. Akhirnya, kantung mulai menyerang. Bahaya! Ngantuk kok di atas motor. Alwin memijit pundakku untuk mengurangi kantuk. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzFnIURFgI/AAAAAAAAAD8/zsyuWe8OCF8/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B156.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzFnIURFgI/AAAAAAAAAD8/zsyuWe8OCF8/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B156.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556533316306408962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Mau menepi &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;untuk rehat, tak ada tempat. Aku bingun&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;g juga semisal hujan turun, pasti tubuh &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;basah kuyup, sebab takada bangunan satu pun di tepi jalan yang kami lalui. Ada mema&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;ng tapi, jaraknya jauh, itupun saat sudah memasuki Pulau Rempang. Setelah jembatan ketiga. Agaknya gerakan keagamaan cukup marak di sini. Kulihat ada tiga gereja berbeda aliran berdiri berdekatan, masih di pinggiran Pulau Batam. Di jalan kami bertemu dengan rombongan warga yang tampaknya pulang dari perayaan Natal. Anak-anak memakai topi Santa Claus berlari gembira saat Alwin memotret mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Di kiri kanan jalan tampak perbukitan dengan pepohonan yang tak lagi lengkap. Sebagian besar pohon-pohon itu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt; terlihat telah ditebangi. Ada pula yang meranggas habis dibakar. Pohon-pohon ditebangi dan dibakar karena sebagian areal di perbukitan akan digunakan sebagai pemukiman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Akh&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;irnya kami lihat batang dan kabel yang menegakkan jembatan pertama Barelang. Sampailah kami di Jembatan Tengku Fisabilillah yang menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton. Jembatan ini paling besar dan indah dan menjadi ikon kota. Banyak yang bilang, tidak s&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;ah ke Batam bila tidak ke Jembatan Ba&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;relang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzDwbKkPQI/AAAAAAAAADk/R1n85SFj8sE/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B082.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 260px; height: 195px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzDwbKkPQI/AAAAAAAAADk/R1n85SFj8sE/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B082.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556531276961561858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Ramai orang di atas jembatan. Motor dan mobil diparkir &lt;i style=""&gt;mepet&lt;/i&gt; pinggir jalan. Penjual makanan ada di sepanjang jembatan sepanjang 644 meter itu. Ada penjual rujak, es kelapa muda, siomay, sate padang. Dan yang paling kusuka adalah penjual udang goreng tusuk. Harganya Rp 10 ribu &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;untuk 3 tusuk. Satu tu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;suk berisi 5 udang. Makan udang goreng sambil melihat selat yang biru airnya, wajah dan tubuh diterpa angin segar, nikmatnya luar biasa. Apalagi ditemani istri tercinta. &lt;i style=""&gt;Fabiayyi aalaai rabbikuma tukadzdzibaan&lt;/i&gt;, (Maka, nikmat apalagi yang h&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;endak kau dustakan)?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Jembatan Barelang merupakan rangkaian enam jembatan yang menghubungkan tiga pulau yaitu Batam, Rempang dan Galang. Seluruh jembatan selesai dibangun pada 1992. Jika digabungkan, total panjang keenam jembatan itu mencapai 2 km. Waktu tempuh dari jembatan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt; satu hingga keenam, tanpa berhenti dan jeda rehat, sekitar 20 menit. Tapi, menurut pengalaman kami kemarin, sekitar 1 jam jalan motor dengan santai. Keenam jembatan itu memiliki nama yan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;g diambil dari nama raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Melayu-Riau pada abad&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt; 15 sampai 18.&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzGHpzGThI/AAAAAAAAAEE/0Uh6aKsgJy4/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B060.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 206px; height: 259px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzGHpzGThI/AAAAAAAAAEE/0Uh6aKsgJy4/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B060.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556533875049909778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family:Georgia;font-size:100%;"&gt;Jembatan pertama yang menghubungkan Pulau Batam-Pulau Tonton dinamai Teng&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family:Georgia;font-size:100%;"&gt;ku &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family:Georgia;font-size:100%;"&gt;Fisabilillah. Panjangnya mencapai 642 meter, lebarnya sekitar 350 m dengan ketinggian 38 m. Dijembatan ini kami berhenti sekitar 45 menit, menyantap udang dan minum air es kelapa muda. Tak lupa, mengambil foto untuk kenang-kenangan.&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Narasinga menjadi nama jembatan kedua yang menghubungkan Pulau Tonton dan Pulau Nipah. Jembatan ini relatif lurus tanpa lengkungan dengan panjang 420 m, lebar160 m, dan tinggi 15 m. Jembatan ketiga adalah Jembatan Ali Haji yang memiliki panjang 270 m, lebar 45 m dan tinggi 15 m akan menghubungkan Pulau Nipah-Pulau Setokok. Tonton, Nipah dan Setokok masih dalam gug&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;usan Kepulauan Batam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Berikutnya, je&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;mbatan Sultan Zainal Abidin sepanjang 365 m, lebar 145 m, dan tinggi 16,5 m, yang menghubungkan Pulau Setokok – Pulau Rempang. Sedang Jembatan Tuanku Tambusai yang menghubungkan Pulau Rempang-Pulau Galang memiliki panjang 385 m, lebar 245 m2, dan tinggi 31 m2. Jembatan keenam dinamai Raja Kecil yang memiliki panjang panjang 180 m, lebar 45 m, dan tinggi 9,5 m yang menghubungkan Pulau Galang dan Pulau Galang Baru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzGdRyR2JI/AAAAAAAAAEM/iztBFDfTvD8/s1600/barelang.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 288px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzGdRyR2JI/AAAAAAAAAEM/iztBFDfTvD8/s320/barelang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556534246561142930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Bagi warga &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Batam, jembatan pertama dan terakhir adalah yang paling populer. Jembatan pertama dikenal karena &lt;i style=""&gt;cable stay&lt;/i&gt; pengikat jembatan yang terlihat unik dan artistik. Mengingatkan pada jembatan Golden Gate di San Fransisco, AS. Bahkan, jembatan ini diabadikan sebagai logo Pemerintah Kota (Pemkot) Batam. Di ujung jembatan di Tonton, tepatnya di bagian kanan jalan terdapat puluhan kios PKL yang menjajakan ragam makanan laut seperti udang goreng, k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;epiting, dan lainnya. Tak mengherankan, jembatan ini menjadi tujuan utama warga Batam terutama remaja untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Kemacetan arus lalu lintas di dua arah pun menjadi pemandangan jamak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Lain halnya dengan jembatan keenam. Jembatan terakhir ini dikenal karena nilai sejarahnya. Pulau yang dihubungkan oleh jembatan keenam ini akan mengingatkan pada kejadian 30 tahun silam. Saat itu, Pulau Galang menjadi tempat penampungan 250 ribu “manusia perahu” dari Vietnam. Mereka terdampar di pulau itu setelah berhari-hari terombang-ambing di lautan dalam perahu kayu. Manusia perahu yang tak lain pengungsi dari Vietnam ini menghuni Pulau Galang sejak 1975 hingga 1996.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzG12jAcbI/AAAAAAAAAEU/VltCL7KWq8U/s1600/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B189.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzG12jAcbI/AAAAAAAAAEU/VltCL7KWq8U/s320/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B189.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556534668746060210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Setelah ditinggalkan, lokasi ini dijadikan tempat wisata oleh Otorita Batam. Di akhir pekan, warga Batam dan wisatawan lokal kerap mengunjungi pulau itu untuk menyaksikan sisa-sisa peninggalan pengungsi Vietnam, seperti perahu kayu, beberapa benda, bangunan, dan makam “manusia perahu” yang menjadi penanda dominan di pulau itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;" lang="IN"&gt;Kami sedang menuju ke lokasi memorial itu, setelah menikmati rangkaian enam jembatan Barelang. Kami akan napak tilas atas luka kemanusiaan karena perang saudara. Perang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang di belakangnya dimenangi oleh Amerika dan Uni Sovyet. Perang Vietnam yang mengharuskan Amerika memunculkan tokoh Rambo karena Amerika kalah di medan sebenarnya. Rambo, pahlawan palsu sebagai pil pahit, obat kekecewaan Amerika yang kalah. Sekaligus, kami mengenang para korban yang jatuh, nyawa melayang dan ribuan mengungsi.[]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-4538090211675758006?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/4538090211675758006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/12/kenangan-batam-1-jembatan-barelang.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4538090211675758006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4538090211675758006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/12/kenangan-batam-1-jembatan-barelang.html' title='Batam (1): Jembatan Barelang, Tengku Fisabilillah hingga Raja Kecil'/><author><name>Amin Sudarsono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16386640036277393442</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_t_kVyshFZA8/TRzEUfgy-2I/AAAAAAAAADs/9l2PeJTiO74/s72-c/BATAM%2BREMPANG%2BGALANG%2B112.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-7583450808378692181</id><published>2010-08-31T21:36:00.006+07:00</published><updated>2010-09-01T15:50:48.873+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahasiswa'/><title type='text'>Bedah Buku Ijtihad di Markas WAMY Jagakarsa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/TH0VfHiyBHI/AAAAAAAAAiY/kKu32q8FBNc/s1600/37390_130684230302507_100000827916533_137839_940879_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 236px; height: 201px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/TH0VfHiyBHI/AAAAAAAAAiY/kKu32q8FBNc/s320/37390_130684230302507_100000827916533_137839_940879_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511585143316415602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;Selasa (31/8) sore, buku saya yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ijtihad Membangun Basis Gerakan&lt;/span&gt;,  dibedah di markas World Assembly Moslem Youth, di daerah Jagakarsa.  Salah satu pembedah adalah Kang Tatang Muttaqin Mansyur. Dia mantan  Koordinator Presidium Senat Mahasiswa Universitas Padjadjaran (SM UNPAD)  1995-1996. Sekarang, Kang Tatang bekerja sebagai Kepala Subdit  Pendidikan Tinggi di Kementerian Perencanaan Pembangunan  Nasional/BAPPENAS.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:85%;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;Hadir di bedah buku tadi, elemen ormas kepemudaan  dari berbagai gerakan. Lebih lengkapnya, tulisan Kang Tatang, saya  posting di sini. Banyak kritik buat buku saya, sangat membangun. Silakan  menikmati... &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENILIK “IJTIHAD MEMBANGUN BASIS GERAKAN” &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Tatang Muttaqin Mansyur &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih dahulu, perkenankan saya menyampaikan selamat untuk Mas Amin Sudarsono, penulis “Ijtihad Membangun Basis Gerakan” yang juga pegiat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Semoga tradisi berpikir, beraksi dan menulis semakin marak dilakukan para pegiat gerakan mahasiswa sehingga berbagai pemikiran yang terus berkembang dan berdialektika dengan realitas mampu disistematisasikan agar mudah dikenali dinamika dan kedalamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dua teman dari penerbit Muda Cendekia mengantar buku ini ke rumah, kesan pertama yang saya dapatkan dari sampul buku adalah “kepalan tangan demonstran” dengan pekikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allohu Akbar&lt;/span&gt; yang ditimpali dengan iringan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sholawat &lt;/span&gt;Badar, yang mengingatkan saya pada periode 1990-an di Pemuda Mahasiswa Islam Bandung (PMIB) di bawah komando Alm. Indra H. Kangiden (semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisiNya), di mana demonstrasi SDSB mengalami eskalasi yang cukup massif hampir sama dengan demonstrasi terkait isu jilbab. Di belakang “kepalan tangan” nampak mirip simbol Demilitarization Zone (DMZ) di Korea yang menandakan adanya kondisi krisis yang membutuhkan sikap kritis. Itulah barangkali potret calon cendekiawan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai cendekiawan muda mahasiswa punya tanggung jawab yang harus senantiasa dilaksanakan. Menurut Julian Benda, dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La trahison des Clercs&lt;/span&gt; (1972), tanggung jawab kecendekiaan didasarkan pada tiga tolok ukur, yaitu: keadilan, kebenaran, dan rasio. Merujuk pada tiga tolok ukur tersebut, nampak jelas bahwa mahasiswa dituntut untuk senantiasa mengupayakan tegaknya kebenaran dan keadilan yang dilandaskan pada rasionalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah tanggung jawab mendasar mahasiswa yang kemudian direfleksikan dengan berbagai aktivitas kemahasiswaan, gerakan mahasiswa (GM). Itu jika ditilik dari tanggung jawab sosial yang ideal, sebab dalam kenyataannya mayoritas mahasiswa lebih menikmati statusnya sebagai mahasiswa untuk mengoptimalkan kebutuhan personal saja, atau bahkan menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;just for having &lt;/span&gt;fun sehingga dikenal jargon “buku, pesta, dan cinta” atau bahkan “hura-hura, hore-hore dan huru-hara”. Dan pegiat KAMMI barangkali berikhtiar untuk menjadikan suasana kampus bernuansa “Ngaji, Diskusi dan Silaturahmi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. MEMOTRET IDE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan sekapur sirih mengutip syair “Lir-Ilir” Sunan Kalijaga, penulis berharap aktivisme mahasiswa yang direpresentasi kelompok “Hijau” KAMMI mampu menjadi Sang Penggembala &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Bocah Angon)&lt;/span&gt; yang memberi petunjuk, mengarahkan dan kadang harus mengingatkan umatnya agar tidak melenceng dari Rukun Islam. (hal xii).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diakui penulis, buku ini merupakan “fragmen” yang semula berdiri sendiri namun setelah dikonsolidasikan mampu menjadi satu pikiran. Diawali dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab I&lt;/span&gt;.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Refleksi Kelahiran&lt;/span&gt; yang bercerita tentang kelahiran Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) 29 Maret 1998 yang merupakan hasil Forum Silaturahmi Lembaga Dawah Kampus (FS-LDK) X di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Deklarasi Malang. (hal. 11). Dilanjutkan dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab II. Software Gerakan&lt;/span&gt; yang memperbincangkan ideologi dan gerakan KAMMI.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Software &lt;/span&gt;menjadi tak lengkap tanpa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hardware &lt;/span&gt;sehingga dilengkapi dalam &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab III. Hardware Gerakan &lt;/span&gt;yang mendiskusikan Pemerintahan Mahasiswa dan detail implementasinya. Selanjutnya, penulis menutupnya dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab IV. Ceruk Penutup&lt;/span&gt; yang mengelaborasi pentingnya “penyadaran” melalui &lt;span style="font-style: italic;"&gt;constientizacao &lt;/span&gt;barangkali sejenis constientisasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(consciousness raising) &lt;/span&gt;dari pemikir besar Brazil, Paulo Freire (1921-1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat daftar isi, nampak sekali bahwa buku ini merupakan sejenis Manifesto KAMMI dalam perspektif penulis sehingga menjadi sangat wajib dibaca oleh kader-kader KAMMI di mana pun berada dan layak disimak oleh pegiat aktivis mahasiswa lainnya sebagai perbandingan, serta bacaan khalayak sebagai pembelajaran untuk memahami dinamika kaum muda. Nampaknya penilaian saya ini sejalan dengan komentar Rijalul Imam, Ketua Umum PP KAMMI yang menyatakan “Saya menyebut buku ini sebagai Risalah Pergerakan KAMMI”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyimak struktur, sistematika dan denyut semangat buku ini mengingatkan saya ketika menyimak hadiah buku dari teman yang juga Ketua Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Barat, M. Riyan yang bertajuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Political Quotient, Meneladani Kecerdasan Politik ala Nabi&lt;/span&gt; yang diterbitkan Salam Madani 2008. Sebagai sesama gerakan muda Islam generasi baru, alur bernarasinya hampir mirip. Diawali dengan konsepsi idelogis yang selanjutnya dioperasionalisasikan sehingga menjadi praksis, di mana ide bertemali dengan tindakan untuk selanjutnya didetailkan menjadi berbagai model gerakan dan teknisnya. Itulah barangkali pengejawantahan dari strategi, taktis dan teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca sekilas (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;skimming&lt;/span&gt;), saya mendapat kesan keluasan cara pandang penulis terkait ideologi gerakan dan mencoba menunjukkan posisi gerakan kaum muda Islam, dalam hal ini KAMMI. Kekayaan perspektif dan sekaligus sikap moderatnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(al-wasith)&lt;/span&gt; tersebut tak lepas dari latar belakang penulis yang sempat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyantri &lt;/span&gt;di Pesantren Salafiyah Al-Munawir Semarang yang bertradisi NU yang dikombinasikan dengan pendalamannya sebagai pembelajar di Jurusan Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III. MENILIK “IJTIHAD MEMBANGUN BASIS GERAKAN”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai “ideolog” KAMMI, dengan nada retoris yang memikat penulis menunjukkan signifikansi KAMMI. Bagaimana mungkin, KAMMI mampu mengumpulkan massa sebanyak 20 ribu orang, pada saat usianya baru satu bulan? (hal. 12). Pertanyaan yang sudah dijawab penulis, bahwa sekalipun KAMMI berdiri menjelang Orde Baru tumbang namun “pembenihannya” sudah dilakukan sejak tahun 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis melihat sosok Orde Baru sebagai “developmentalisme tanpa nurani” (hal. 13). Suatu penilaian yang menarik sekaligus hati-hati karena memberi impresi ada “developmentalisme dengan nurani” yang ditolelir sehingga nampak cara pandang penulis tak hitam putih, bahkan cenderung eklektis. Suatu fenomena baru bagi saya karena selama bersentuhan dengan kader-kader KAMMI umumnya lebih firm sebagai wujud &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sami’na wa’atona&lt;/span&gt; sekaligus keyakinan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;syumuliyatul &lt;/span&gt;Islam sehingga cenderung merasa tak perlu rujukan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana laiknya, semangat aktivis mahasiswa, penulis menekankan perlunya mahasiswa berkontribusi dalam politik di mana gerakan mahasiswa harus mendorong proses politik menuju politik yang memiliki moral (hal. 13) sehingga sangat kritis terhadap SK Mendiknas Daoed Yoesoef No. 0156/U/1978 tentang NKK dan SK No. 0230/U/J/1980 BKK suatu institusi “monster” bagi aktivis mahasiswa pasca Malari. Tujuan “ideal” NKK/BKK mengarahkan mahasiswa di wilayah minat dan bakat, kerohanian dan penalaran yang memberi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blessing&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;indisguise &lt;/span&gt;tumbuh suburnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;halaqoh &lt;/span&gt;dan kelompok studi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif teknokratis, NKK/BKK ini didasarkan kekhawatiran model mahasiswa di Amerika Latin yang juga tidak kondusif bagi tujuan akhir pendidikan sehingga mudah terjadi politicking. Terlepas dari itu, NKK/BKK berakhir dengan hadirnya Fuad Hassan yang mengeluarkan SK No. 0457/01990 tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di PT melalui SMPT. Salah satu SMPT yang sering jadi rujukan adalah UGM dengan adanya ketokohan Anis R. Baswedan. Salah satu “konseptor” SMPT adalah mantan Ketua SM UNPAD yang sempat di BIN dan menjadi staf khusus Dirjen Dikti serta saat ini menjadi salah satu tokoh penting di PKS, Suripto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis mengungkapkan maraknya Gerakan Tarbiyah (LDK) justru di kampus-kampus sekular semisal ITB, UI, UGM, UNPAD, IPB, UNAIR, dan lain-lain bukan di PTAIN (UIN, IAIN dan STAIN). (hal 25). Hemat saya maraknya Gerakan Tarbiyah, di samping “blessing indisguise” represivitas Orde Baru juga hadirnya kerja sama mahasiswa dan dosen agama Islam melalui instrumen Mentoring yang sangat efektif untuk menggalang kader-kader baru secara langsung, terbuka dan “legal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perjalanan dan dialektika dengan realitas obyektif dalam gerakan, sekalipun KAMMI merupakan gerakan kaum muda yang biasanya dikenal radikal namun persentuhannya dengan realitas menjadikannya lebih moderat dan realistik. Misalnya visi KAMMI direvisi di Muktamar Makassar 2008 dari “Masyarakat Islami” menjadi “Bangsa dan Negara Indonesia yang Islami”. (hal. 30). Secara pelan tapi pasti, KAMMI menyadari akan adanya realitas Keindonesiaan, di samping kombinasi Kemahasiswaan dan Keislaman. Perubahan ini mendapat justifikasi dengan adanya kesimbangan antara doktrin dan realitas praktis sehingga dimensi ideologinya merupakan “persenyawaan” antara idealisme, realitas dan fleksibilitas” (hal. 37) sehingga muncul tawaran Kiri Islam yang dipopulerkan Hassan Hanafi dan Kapitalisme Religius yang tak jauh berbeda dengan “Compassionate Capitalism” model DeVos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang yang menarik dari penulis terkait sikap personal kader KAMMI. “Perubahan pertama paradigma, cara berpikir. Menjadi negarawan jelas tidak berpikir sempit. Membuka diri terhadap perbedaan, membuat permakluman diiringi usaha perbaikan” (hal. 82). Di samping itu penulis menekankan perlunya profesionalitas dengan (1) perancangan produk; (2) transfer teknologi; dan (3) pematangan nilai (pendidikan) yang kesemuanya ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat. (Hal 84).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait isu perempuan, sekalipun penulis berupaya menguraikan posisi yang tepat namun tetap saja masih “membingungkan” sehingga solusi praktisnya bersifat normatif dan umum. Terkait hal ini, untuk “menenangkan” penulis menyitir, ucapan Aisyah RA, “Tidak ada celanya aku tinggal di rumah, tetapi yang aku lakukan ini untuk kebaikan manusia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tak mantap jika penulis tak mengurai detail gerakan mahasiswa dalam konteks nyata di kampus sehingga Bab III berupaya mengurainya melalui tawaran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;student government &lt;/span&gt;sekaligus respon pada PP No. 61/1999 tentang Otonomi Kampus. Sekalipun bersemangat dengan Kepemerintahan Mahasiswa, penulis tetap mengedepankan aspek normatif sebagai prinsip dasarnya, yaitu: moralitas, intelektualitas, politis, independent dan sejajar. (hal.110). Sekalipun politik penting namun penulis tetap hati-hati dalam mencari benang merah politik sehingga sekalipun KAMMI sangat sulit dipisahkan dengan PKS, penulis berkeinginan adanya “independensi” sehingga menguraikan argument “Hendaknya, pada masa kini, citra KAMMI tidak selalu identik dengan PKS. Ini penting sebagai catatan gerakan mahasiswa tarbiyah”. (hal. 112).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tulisannya, penulis memimpikan persaudaraan lintasgerakan, baik lokal semisal NU, Muhammadiyah dan Persis dan juga gerakan Islam berbasis Timur Tengah semisal Hizbut Tahrir, Jamaat al-Islami, dan Ikhwanul Muslimin. (hal 192).  Penulis mengingatkan bahwa “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta’ashub&lt;/span&gt; gerakan seringkali berujung pada pertikaian yang mubazir. Pertikaian itu muncul –ketika benar-benar ditelusuri- ternyata hanyalah pada persoalan baju dan kulit belaka”. (hal. 194). Suatu pandangan khas anak muda yang simpatik dan layak untuk digetoktularkan. Semua gerakan mahasiswa muncul dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;credo &lt;/span&gt;untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan rasionalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun fakta di lapangan menunjukkan adanya kompetisi yang komplikatif dan cenderung tidak sehat di antara gerakan mahasiswa yang ada. Alih-alih bersinergi melawan ketidakadilan, korupsi dan kejahatan kemanusiaan yang sering dilakukan oleh para penguasa, aktivis gerakan mahasiswa sibuk membuat strategi berkompetisi di antara mereka sendiri sehingga arah gerakan mahasiswa menjadi involutif dan kontradiktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu dibutuhkan terobosan baru dalam menjalin komunikasi yang lebih baik di antara gerakan mahasiswa yang ada sehingga bisa saling mengerti dan memahami. Silaturahmi dan  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sharing &lt;/span&gt;di antara elemen gerakan mahasiswa dapat mengurangi ketegangan dan kecurigaan yang tidak perlu sehingga energi yang berserak dapat terkumpul menjadi kekuatan yang luar biasa. Stigmatisasi dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;predjudice &lt;/span&gt;di antara aktivis harus disudahi dengan saling bersapa dan berbagi, seperti pesan Robin Hood dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Merry Adventures of Robin Hood&lt;/span&gt;: “ceritakanlah masalahmu dan bicaralah dengan terbuka, mengalirkan kata-kata senantiasa meringankan hati yang luka; seperti mengeluarkan debu yang menyumbat penggilingan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;IV. KHATIMAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, buku yang dipersembahkan Mas Amin Sudarsono merupakan bunga rampai pemikiran penulis sebagai ideolog, pemikir dan juga aktivis sehingga mampu merekam berbagai fakta sosial gerakan mahasiswa terbesar kontemporer, KAMMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun berasal dari bahan yang terserak namun sistematika penulisan buku ini cukup mengalir dan koheren sehingga mudah ditemukenali konstruk dan pikiran besar, serta benang merah pemikiran penulis. Secara teknis, diperlukan selektivitas dalam penelusuran rujukan sehingga akan makin memperelok buku ini. Semisal perujukan pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wikipedia &lt;/span&gt;di halaman 18 tak lazim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ijinkan saya menyampaikan selamat dan terus bergiat dalam aktivisme dan perekamannya dalam bentuk tulisan. Sahabat Ali RA bertutur, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Hal ini sejalan dengan pepatah Latin, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Verba volant, scripta manent&lt;/span&gt; di mana yang terucap akan hilang dan yang tertulis akan abadi.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-7583450808378692181?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/7583450808378692181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/08/selasa-318-sore-buku-saya-yang-berjudul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/7583450808378692181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/7583450808378692181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/08/selasa-318-sore-buku-saya-yang-berjudul.html' title='Bedah Buku Ijtihad di Markas WAMY Jagakarsa'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/TH0VfHiyBHI/AAAAAAAAAiY/kKu32q8FBNc/s72-c/37390_130684230302507_100000827916533_137839_940879_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-8527806967812098433</id><published>2010-08-31T13:10:00.004+07:00</published><updated>2010-08-31T13:33:34.250+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tempat Kenangan'/><title type='text'>Labuha, Gunung Sibela</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/THyh3_rn9VI/AAAAAAAAAiI/fZUy_x_D7AE/s1600/IMG_0469.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/THyh3_rn9VI/AAAAAAAAAiI/fZUy_x_D7AE/s320/IMG_0469.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511458027353929042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Awan tipis mengitari badannya yang hitam kehijauan. Mirip saputan cat warna putih. Pagi atau siang, saputan kabut itu melekat tetap. Kecuali jika hujan yang sering kali menderu, hilang sudah awan itu. Paling indah di kala pagi, saat matahari baru muncul sepenggalah. Emas warnanya, menyemburat, menerangi Gunung Sibela yang menjadi tonggak Pulau Bacan, Halmahera Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 Juli 2006, masih ingat aku bangun pagi. Menunggu matahari naik pelan-pelan, lalu muncullah keajaiban. Warna emas indah luar biasa. Bak cahaya merkuri menyemburat di balik tirai. Menyorot pemain teater yang berlenggok di atas panggung. Cahaya yang syahdu, mata tak berkedip memandangnya, meski bersitatap dengan cahaya amat terang. Tak lekang wajahku menghadap sinar pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/THyhjS61TuI/AAAAAAAAAiA/crgWLBsEIww/s1600/Subuh+27+Juli+2006.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/THyhjS61TuI/AAAAAAAAAiA/crgWLBsEIww/s320/Subuh+27+Juli+2006.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511457671740739298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lalu, lemparkan mata ke arah kanan, Gunung Sibela tegak berdiri. Di sana masih rimbun hijau pohon. Yang kutahu hanya lereng-lerengnya saja, banyak tanaman kakao dan vanilla di sana. Warga Bacan menjemur kakao--bahan coklat yang lezat itu--di pinggir jalan. Persis seperti tetanggaku di desa asalku di Purwodadi menjemur tembakau hingga kering menghitam. Sibela indah menawan. Tak tahu aku, apakah raksasa Bacan itu masih hidup atau tidak.  Aku dengar Gunung Gamalama tonggak Ternate masih hidup. Entah benar atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Labuha--yang sempat kutinggali selama lima bulan pada 2006--ada di lereng Gunung Sibela. Gunung itu ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 326/Kpts-II/1987 tanggal 14 Oktober 1987 dengan luas 23.024 Ha. Gunung Sibela merupakan salah satu gunung yang tertinggi di Maluku Utara dengan ketinggian 2.118 meter di atas permukaan laut. Cagar Alam Gunung Sibela terletak di Pulau Bacan Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, memiliki banyak sumber/mata air yang tetap mengalir ke beberapa sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk tinggal di pesisir. Jarang sekali mereka masuk ke dalam hutan, merambahi tubuh Sibela. Kecuali hanya untuk berburu babi atau burung paruh bengkok. Penduduk Bacan, lebih suka memancing, atau menjala ikan. Besar sekali jala mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibela. Keindahan tiada tara. Semoga lestari terjaga.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-8527806967812098433?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/8527806967812098433/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/08/labuha-gunung-sibela.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/8527806967812098433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/8527806967812098433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/08/labuha-gunung-sibela.html' title='Labuha, Gunung Sibela'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/THyh3_rn9VI/AAAAAAAAAiI/fZUy_x_D7AE/s72-c/IMG_0469.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-3329055984291525837</id><published>2010-08-31T11:48:00.003+07:00</published><updated>2010-08-31T12:12:24.273+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tempat Kenangan'/><title type='text'>Labuha, Mengingat Samargalila</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/THyOR8lh28I/AAAAAAAAAhw/ZRIQuMCSQ-M/s1600/IMG_0798.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/THyOR8lh28I/AAAAAAAAAhw/ZRIQuMCSQ-M/s320/IMG_0798.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511436482967100354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Samargalila. Aku tidak paham artinya, hanya terdengar indah di telinga. Samargalila, nama sebuah tempat di Labuha, ibukota Kabupaten Halmahera Selatan. Di suatu siang gerimis, aku berada di sudut ruangan di Lapangan Samargalila, yang ada di tengah Labuha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006 saat itu, sekira bulan Juni. Duduk di temani kompuputer jinjing dan segepok lembar administrasi. Ingat benar saat itu, aku menjadi administrator JSK (Jaminan Sosial Kesehatan) yang digulirkan Bupati Kasuba. Tugasku, mencatat warga, memotret wajah mereka lalu berjanji mencetak kartu JSK untuk bisa berobat gratis di Puskesmas se penjuru Bacan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samargalila. Siang panas, tapi tetap gerimis. Juni 2006, di lapangan itu digelar semacam pameran dinas-dinas. Namanya Halsel Expo 2006. Semua dinas mendirikan stand yang bisa dikunjungi warga dengan bebas. Ada Dinas Kesehatan misalnya, bikin peta penyakit kusta di Halmahera Selatan. Kusta memang endemik di kabupaten pemekaran itu. Dinas yang lain juga membuat pameran atau launching program. Warga antusias datang ke sana, untuk jajan, jalan-jalan atau sekedar ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/THyOwqbOgcI/AAAAAAAAAh4/ceI3LE3tcZ0/s1600/IMG_0797.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/THyOwqbOgcI/AAAAAAAAAh4/ceI3LE3tcZ0/s320/IMG_0797.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511437010667995586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di lapangan itu pula, pertama kali aku berolahraga. Tanggal 27 Mei 2006, tepat saat gempa melanda Jogja, aku terbang ke Ternate. Setelah satu malam menempuh perjalanan kapal dari Ternate ke Bacan, pagi harinya saat jalan-jalan. Lapangan Samargalila adalah yang pertama kukunjungi. Di sana aku kenalan dengan Alun--nama aslinya Khairun Musyari--juga bertemu dua kawan yang sudah satu bulan lebih dulu berangkat: Ronny Hardjito dan SuryantaBakti. Pagi itu, Ronny asyik melatih anak-anak untuk karate. Ronny--yang kini tinggal di Batam--menjuluki dirinya sendiri karateka puitis. Dimana pun dia tinggal, selalu punya murid. Dia dipanggil sensei..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lapangan Samargalila itu juga, aku bertemu Rusmina Harisi--seorang laboran yang bertugas di laburatorium RSUD Labuha. Dia gadis dengan jilbab (sangat) lebar. Awalnya kami tidak bicara, tapi karena berada dalam satu stand--dia menjaga stand RSUD dan aku stand JSK, maka ngobrollah kami. Dia pernah mengikuti pengajian Wahdah Islamiyah--sebuah organisasi di Makassar yang cukup ketat dalam pengamalan Islam. Dia juga sempat masuk ke organisasi HMI. Saat itu, Mina--panggilan akrabnya--sudah menjadi PNS di RSUD. Untuk beberapa bulan berikutna, aku akan sering bertemu dia, karena aku mendapat job mengerjakan kartu identitas seluruh karyawan RSUD Labuha yang banyaknya ada 80 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samargalila kala 2006 hanya lapangan biasa, nggak tahu sekarang. Dulu senang sekali bisa lari pagi menghirup udara bebas di lapangan itu. Dari kontrakan kami di Jalan Molon Junga Pasar Lama, berlari melewati kantor bupati yang merupakan sewaan dari keluarga Kerajaan Bacan, lalu berbelok kiri sampai di Samargalila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, rinduku dengan Samargalila. Kapan bisa menginjak rumputmu lagi?&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-3329055984291525837?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/3329055984291525837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/08/labuha-mengingat-samargalila.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3329055984291525837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3329055984291525837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/08/labuha-mengingat-samargalila.html' title='Labuha, Mengingat Samargalila'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/THyOR8lh28I/AAAAAAAAAhw/ZRIQuMCSQ-M/s72-c/IMG_0798.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-765621049287561319</id><published>2010-07-21T08:12:00.003+07:00</published><updated>2010-09-01T15:52:05.083+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Rindu Ngeblog Lagi</title><content type='html'>Hahaha, malu sendiri lihat blog ini. Sudah 10 bulan tidak menulisinya. Terlalu asyik dengan Facebook, lupa menulis di blog yang sudah saya buat sejak 2007 ini. Facebook memang lebih spontan, apa yang terlintas di pikiran bisa langsung di ketik, dan dipublish. Lalu dilihat orang dan berdatanganlah komentar. Berbalas komentar, saling mengejek dan menyanjung. Sementara blog ini, belum tentu orang membacanya. Artinya, komentar balik juga belum tentu dalam satu hari muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, baru saya pikirkan pagi ini. Justru di blog inilah pemikiran yang agak mendalam bisa dituangkan. Menulis di sini tidak grusa-grusu. Menulis di blog membutuhkan lebih banyak huruf dan kata-kata. Meski di Facebook ada laman note, tetap saja menurut saya asyik menulis di blog. Facebook itu cepat dilihat orang, namun cepat juga dilupakan. Mereka akan membaca status yang lain, membalas komentar yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, blog mungkin juga mengalami hal yang sama. Jadi, lupa dan tidak lupa, tergantung kita menjaganya. Iya nggak?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-765621049287561319?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/765621049287561319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/07/rindu-ngeblog-lagi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/765621049287561319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/765621049287561319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2010/07/rindu-ngeblog-lagi.html' title='Rindu Ngeblog Lagi'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-2630199399270980424</id><published>2009-10-01T05:49:00.004+07:00</published><updated>2009-10-01T11:48:54.271+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Belajar Sukses Advokasi: Air Bersih untuk Warga Jingkol</title><content type='html'>Tulisan ini memuat cerita tentang pengalaman lapangan advokasi anggaran di Dusun Jingkol yang termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Kendal. Sebuah kisah tentang keberhasilan akses anggaran daerah oleh organisasi masyarakat sipil yang digawangi oleh PATTIRO (Pusat Telaah dan Informasi Regional) Kendal dan jaringan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geografis, dusun ini termasuk di Desa Kedungboto Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah. Arah baratdaya dari Kota Semarang, ibukota provinsi Jawa Tengah. Letaknya di balik perbukitan, biasa disebut oleh warga setempat dengan nama Perbukitan Wuluhgambir, termasuk dataran tinggi di lereng Gunung Ungaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Dusun Jingkol benar-benar terpencil. Untuk bisa mencapai daerah itu, harus melewati jalanan terjal bebatuan tanpa aspal yang naik turun dan menyeberangi sungai. Dusun tersebut ditempati 146 kepala keluarga dengan keseluruhan penduduknya berjumlah 499 jiwa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1999, Mistari didaulat menjadi kepala Dusun Jingkol oleh warganya. Proses pengangkatan Mistari juga bisa menjadi cerita tersendiri tentang bangunan demokrasi yang mengakar di masyarakat dusun terpencil itu. Mistari sama sekali tidak mencalonkan diri, tetapi dia diangkat secara aklamasi oleh penduduk dan digaji sedikit oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal menjabat sebagai kadus, Mistari memiliki tiga obsesi, yaitu pemenuhan kebutuhan air bersih, pembuatan jembatan yang menghubungkan dusunnya dengan desa lain, dan perbaikan kondisi jalan. Air bersih adalah kebutuhan dasar setiap manusia, ketiadaannya akan membuat kebutuhan yang lain juga tidak terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tahun 2009, kondisi Dusun Jingkol sangat memprihatinkan. Para penduduk harus mengambil air dengan jarak tiga kilometer berjalan kaki dengan wadah jerigen dan ember. Itu pun tidak bisa digunakan untuk seluruh kebutuhan. “Hanya cukup untuk masak saja, untuk mandi sehari sekali sudah cukup,” ujar Welas, salah satu warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem berikutnya adalah jembatan penghubung. Dua dusun tersebut, yaitu Semanding dan Jingkol berada terpisah dengan pusat desa. Keberadaan jembatan sangat penting untuk bisa mengakses fasilitas kesehatan dan pendidikan bagi warga. Selama ini, jembatan terbuat dari kayiu dan tali. Sudah banyak yang keropos dan lapuk. Ketika dilewati, jembatan kayu itu akan bergoyang keras karena hentakan kaki. Saat dilewati sepeda motor, lebih mengerikan, karena kekuatan jembatan terombang-ambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu sudah ada korban jatuh saat saya boncengkan dan melintas di jembatan itu. Padahal ibu yang saya boncengkan itu hendak berobat ke Poliklinik Desa. Ini orang sakit, malah semakin sakit,” kata Mistari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infrastruktur jalan di dusun itu juga sangat jelek. Terdiri dari bebatuan keras ditambah medannya yang naik turun. Penduduk biasa berjalan kaki untuk menuju fasilitas pendidikan dan kesehatan. Tiap ada yang sakit harus diangkat oleh empat sampai lima lelaki dewasa dengan berjalan kaki. “Karena jalan tak memungkinkan dilalui motor, pasien yang akan berobat biasa kami tandu,” kata Mistari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air bersih yang tak ada, jembatan yang tidak kokoh dan jalan yang rusak berefek panjang. Penduduk tidak bisa mengakses fasilitas pendidikan, kesehatan dan transaksi ekonomi mereka juga terhambat. Hampir seluruh penduduk laki-laki bekerja di hutan dengan menyadap (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;nderes&lt;/span&gt;, bhs Jawa) pohon aren, yang akan diolah menjadi gula merah. Sementara kaum perempuan dan para ibu bekerja di rumah. Para ibu ini yang harus mengambil air dengan jarak yang jauh, ditambah pekerjaan domestik yang menyita waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapatan yang minim ini menyebabkan dari 499 warganya, tidak lebih dari 12 orang yang lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP). SMP adalah tingkat pendidikan tertinggi di dusun itu. Motivasi belajar yang rendah salah satunya juga disebabkan oleh sulitnya akses untuk menjangkau layanan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak paling dekat Sekolah Dasar (SD) sejauh 1,5 kilometer yang ada di dusun tetangga, sedangkan untuk SMP sejauh tujuh kilometer yaitu di Desa Cening Kecamatan Singorojo atau 11 kilometer ke SMP Negeri 2 Limbangan. Semua itu harus dijangkau para siswa dengan berjalan kaki. “Mereka harus berangkat pukul 04.30 WIB agar tidak terlambat masuk sekolah pada pukul 07.00. Kalau terlambat, ya pulang lagi,” ujar Hery, seorang warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga harus membayar mahal untuk mendapatkan layanan kesehatan, karena untuk menjangkau layanan tersebut mereka harus berjalan kaki sejauh dua kilometer dengan infrastruktur jalan yang sangat sulit dan menyeberangi Sungai Kaliputih selebar 10 meter. Setelah melewati sungai baru mereka dapat menjangkau transportasi jasa angkutan dengan jarak tiga kilometer menuju Poliklinik Desa, tempat bidan desa bertugas. Sedangkan untuk mencapai Puskesmas Kecamatan mereka harus menempuh jarak sejauh 12 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidan desa melakukan kunjungan ke dusun tersebut hanya satu kali dalam satu bulan. Kepala Dusun Jingkol, Mistari mengungkapkan, dalam kurun waktu enam tahun terakhir ini hampir setiap tahunnya terjadi kematian ibu melahirkan atau bayi yang baru dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Geliat Advokasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melihat banyaknya problem mendasar itu, akhirnya membuat masyarakat sipil bergerak, adalah PATTIRO (Pusat Telaah dan Informasi Regional) Kendal yang memulainya. Sejak 2005, PATTIRO Kendal sudah melakukan pendampingan warga Dusun Jingkol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widi Heriyanto, pendiri PATTIRO Kendal mengungkapkan, pilihan Dusun Jingkol karena lokasinya yang paling terpencil di kabupaten Kendal dan ketiadaan akses fasilitas yang memadai. “Awalnya, kami ingin mencarikan sumber air bersih yang bisa diakses. Dari situ lalu advokasi melibatkan jaringan perempuan dan seluruh warga bergerak sendiri,” ujar Widi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PATTIRO Kendal berbentuk persyarikatan, berdiri pada 3 Juni 2002 di Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah, dan tergabung dalam jaringan PATTIRO Raya. Organisasi ini berkomitmen untuk memperjuangkan terwujudnya masyarakat kritis, bertanggung jawab, dewasa, solutif, dan produktif yang bersama-sama membangun tatanan yang adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi ini mengemban misi untuk meningkatkan kapasitas dan penyadaran hak dan kewajiban bernegara bersama masyarakat madani sekaligus berkolaborasi dengan mereka dalam menjalankan misinya. Saat ini, PATTIRO Kendal sedang menjalankan program di tiga isu: konservasi alam, gender budget dan keterbukaan informasi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya hanya warga Dusun Jingkol bersama PATTIRO Kendal yang melakukan kajian dan usaha advokasi. Tetapi kemudian bertambah dengan munculnya jaringan masyarakat sipil yang bernama Jaringan Perempuan PAKAR (Pusat Advokasi dan Kajian Anggaran untuk Rakyat), biasa disingkat PAKAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi jaringan kerja yang dibentuk pada 13 September 2008 ini diarahkan untuk mendorong Pemerintah Kabupaten Kendal dalam merencanakan dan menyelenggarakan anggaran lebih responsif gender, artinya kebijakan yang diambil lebih peka terhadap kebutuhan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan yang beranggotakan gabungan organisasi perempuan dan basis masyarakat secara residensial ini menginginkan adanya penguatan partisipasi perempuan dalam pengambilan kebijakan publik khususnya dalam perencanaan anggaran. “Selama ini kelompok perempuan mengalami kesulitan dalam mengakses hal tersebut, apalagi turut terlibat di dalamnya,” ujar Mahmulatin, seorang pegiat PAKAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses berikutnya, warga Dusun Jingkol tidak lagi sendiri. Bersama PATTIRO Kendal dan PAKAR—yang juga diinisiasi oleh PATTIRO—mereka bisa melakukan kajian dan advokasi hingga kepentingan mereka bisa dipenuhi oleh pemerintah kabupaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dari Kajian ke Advokasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dusun Jingkol ini berlokasi di daerah perbukitan yang kering. Setiap harinya, penduduk dusun  mendapatkan  air bersih dari sumber mata air yang lokasinya jauh dari pemukiman, ditambah lamanya waktu untuk mengantre. Pengambilan air bersih ini menjadi lebih sulit lagi ketika musim kemarau. Warga dusun ini, dalam hal ini para perempuan, harus mengambil air dari mata air yang jaraknya tiga kilometer. Di sisi lain, infrastruktur  jalan yang dipunyai hanya jalan setapak dan rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian pertama dilakukan oleh PATTIRO Kendal bersama PAKAR. Dari hasil identifikasi masalah kemudian ditemukan bahwa penyediaan air bersih adalah persoalan mendasar yang harus diselesaikan, sebelum masalah yang lain. Karena itu, PATTIRO bersama warga lalu memunculkan rekomendasi untuk mengajukan usulan anggaran penyediaan air bersih di Dusun Jingkol dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten Kendal tahun 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah berikutnya adalah analisis anggaran dalam RAPBD 2009. Dalam proses  analisis itu justru ditemukan anggaran yang belum berpihak kepada masyarakat, misalnya anggaran makan minum untuk semua Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Kabupaten Kendal mencapai angka Rp 17 miliar, padahal sebelumnya dalam APBD 2008 pos ini dianggarkan sebesar Rp 10 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dari hasil analisis draft RAPBD justru alokasi anggaran untuk menyelesaikan persoalan masyarakat di Dusun Jingkol terkait persoalan air bersih, tidak ditemukan. Kemudian PATTIRO Kendal dan PAKAR sepakat untuk mengadvokasi masalah itu agar masuk di APBD 2009 melalui proses &lt;span style="font-style:italic;"&gt;lobby&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hearing&lt;/span&gt;, diskusi publik dan publikasi media pada saat pembahasan RAPBD di DPRD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil analisis draft RAPBD 2009 itu kemudian dipublikasikan melalui diskusi terbuka dengan mengundang DPRD, pihak pemerintah daerah, dan media selama dua hari sebelum penetapan RAPBD 2009 oleh DPRD. Dari diskusi publik itu muncul persoalan Dusun Jingkol yang kemudian menjadi perhatian DPRD. Anggota dewan mulai melihat persoalan mendasar, yaitu air bersih bagi warga Jingkol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah APBD 2009 diputuskan oleh DPRD, warga bersama jaringan perempuan di empat kabupaten di Jawa Tengah melakukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hearing &lt;/span&gt;ke tim evaluasi gubernur Jawa Tengah untuk memastikan persoalan Dusun Jingkol diakomodir dalam APBD 2009 Kabupaten Jingkol. Akhirnya, pada Januari 2009 anggaran senilai Rp 230.000.000 dialokasikan untuk pembangunan tangki penyediaan air bersih di Dusun Jingkol dalam APBD 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan warga makin bertambah setelah jembatan yang menghubungkan dengan pusat desa juga mulai dibangun. Bantuan diperoleh dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan nilai total proyek sebesar Rp 330.000.000. Dituturkan kepala Dusun Jingkol Mistari, bahwa proyek jembatan itu dikerjakan tanpa pemborong. Pengerjaan dilakukan para mahasiswa Fakultas Teknik Unnes sementara pekerja mengambil dari warga dusun setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jembatan ini kerjasama antara Unnes, warga dusun dan pemerintah daerah. Pemerintah memberi bantuan berupa barang. Sementara pendanaan seluruhnya ditanggung Unnes,” papar Mistari.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Metode Advokasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cerita keberhasilan warga Dusun Jingkol bersama PATTIRO Kendal dalam melakukan advokasi alokasi anggaran penyediaan air bersih dari APBD Kabupaten Kendal 2009 tersebut, bisa disimpulkan melalui tahapan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;community organizing&lt;/span&gt;, membentuk jaringan perempuan dari berbagai kalangan. Anggota jaringan ini berasal dari ormas perempuan, kepala desa, guru, anggota dewan, birokrat dan profesi yang lain. Awalnya mengundang mereka untuk datang ke forum-forum yang dibuat oleh PATTIRO. Selanjutnya ada pendekatan secara personal ke beberapa tokoh perempuan yang ditarget akan menjadi pegiat jaringan. Hasilnya adalah terbentuknya Jaringan Perempuan PAKAR (Pusat Advokasi dan Kajian Anggaran untuk Rakyat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;capacity building&lt;/span&gt; jaringan. Bentuknya adalah pelatihan analisis anggaran. Para perempuan itu belajar bersama tentang anggaran dan pola pengawasan. Setelah pemahaman anggaran cukup mendalam, para perempuan melakukan identifikasi permasalahan warga bersama jaringan perempuan PAKAR dan dari sini muncul kesepakatan untuk mengadvokasi penyediaan air bersih di Dusun Jingkol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan kapasitas bagi anggota jaringan ini dilakukan melalui Workshop Pembentukan Jaringan Perempuan Kabupaten Kendal pada Sabtu, 13 September 2008 dengan peserta berbagai ormas. Lalu dilanjutkan Training Analisis Kebijakan dan Analisis Anggaran Responsif Gender yang diselenggarakan pada 8-9 November 2008 di Kampung Jowo Sekatul Limbangan Kendal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, analisis anggaran APBD 2008 dan RAPBD 2009. Analisis ini bertujuan untuk melihat apakah permasalahan air bersih Dusun Jingkol sudah diakomodasi dalam RAPBD 2009. Hal ini dilakukan karena PATTIRO Kendal baru memulai advokasi ini pada Oktober 2008, di mana proses penyusunan RAPBD 2009 ketika itu berada di tahap proses pembahasan di DPRD Kabupaten Kendal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, lobi dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hearing &lt;/span&gt;kepada DPRD dan Tim Evaluasi Gubernur. Dilanjutkan diskusi publik hasil analisis RAPBD 2009 dengan mengundang DPRD, eksekutif, media dan masyarakat sipil. Dalam proses ini, PATTIRO Kendal bergandengan tangan dengan empat jaringan kerja perempuan dari tiga kabupaten lain di Jawa Tengah, yaitu Boyolali, Semarang dan Pekalongan. Sehingga kekuatan pendorong lebih banyak. Aspirasi penyediaan air bersih juga lebih didengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, berkolaborasi dengan media lokal untuk mempublikasikan hasil analisis untuk membangun opini bersama tentang pentingnya isu ini. Media memiliki peranan sangat penting dalam melakukan advokasi. Tercatat, dalam kliping yang dikumpulkan PATTIRO Kendal, persoalan Dusun Jingkol ini diangkat secara serentak selama beberapa hari di pelbagai media, terutama setelah hasil analisis PATTIRO Kendal digelar melalui diskusi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media koran yang memuat berita tentang Dusun Jingkol dan aktivitas PATTIRO Kendal adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Radar Kendal&lt;/span&gt;, 16 September 2008 berjudul “Pembentukan Jaringan Perempuan Kabupaten Kendal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara berita tentang terisolirnya dusun itu, meskipun alokasi dana untuk tangki air sudah dikucurkan, masih muncul di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, 29 Juli 2009 berjudul “800 Warga Puluhan Tahun Terisolasi,” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, 31 Juli 2009 dalam “Tajuk Rencana: Pesan Keprihatinan dari Limbangan,” &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, 31 Juli 2009 berjudul “Dusun Terisolasi: Ketika Tandu Menjadi Jembatan Kala Sakit” dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Pembaruan&lt;/span&gt;, 28 Juli 2009 berjudul “849 Warga Kendal Puluhan Tahun Terisolasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah berikutnya adalah melakukan pengawasan pelaksanaan proyek. Saat ini, proyek pembangunan tangki penampungan air telah selesai dilaksanakan dan PATTIRO Kendal melakukan pengawasan untuk memastikan tidak terjadinya penyimpangan. Sementara untuk proyek jembatan akan dimulai pada September 2009. “Harapan kami, akhir tahun 2009, jembatan sudah selesai,” kata Mistari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Simpul Akhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan proses advokasi di Dusun Jingkol ini, PATTIRO Kendal mengambil beberapa pembelajaran penting. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, sangat penting untuk berkoalisi dengan jaringan masyarakat sipil untuk memperkuat daya tawar masyarakat. Akan lebih mudah mendesakkan aspirasi jika digalang oleh seluruh stakeholder yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, pentingnya melibatkan media dalam gerakan advokasi anggaran dan menjadikan mereka sebagai mitra. Begitu PATTIRO Kendal melakukan publikasi, seluruh media massa meliput dan mengangkat dalam berita mereka. Para eksekutif dan pihak universitas membaca hal itu, dan mereka turun tangan untuk membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaligus, bisa disimpulkan, advokasi PATTIRO mendapat capaian pada dua level, yaitu level komunitas, dalam bentuk pengorganisiran kelompok perempuan dan media lokal untuk terlibat dalam gerakan advokasi anggaran. Kemudian yang kedua adalah level kebijakan anggaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(budget policy)&lt;/span&gt;, yaitu adanya alokasi anggaran di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kendal sebesar Rp. 230.000.000 untuk kegiatan Penyediaan Air Bersih yang berlokasi di Desa Jingkol. Bentuk kegiatannya adalah pembangunan tangki penampungan air bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perjuangan yang dilakukan seluruh pihak, akhirnya obsesi mengalirnya air bersih langsungke rumah penduduk, pada awal tahun 2009 ini, telah terpenuhi. Pemerintah daerah menurunkan alokasi dana dari APBD untuk dusun terpencil di ujung selatan kabupaten Kendal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alokasi dana APBD Kabupaten Kendal untuk infrastruktur air bersih Dusun Jingkol ini, tidak bisa dilepaskan dari peran PATTIRO Kendal dan seluruh jaringan kerja. Sukses advokasi untuk kebutuhan dasar perempuan menjadi kebahagiaan warga Jingkol yang selama ini cukup terasing dari kemajuan.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[aminsudarsono]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-2630199399270980424?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/2630199399270980424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/10/belajar-sukses-advokasi-air-bersih.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2630199399270980424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2630199399270980424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/10/belajar-sukses-advokasi-air-bersih.html' title='Belajar Sukses Advokasi: Air Bersih untuk Warga Jingkol'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-1614421199042886850</id><published>2009-06-09T08:48:00.004+07:00</published><updated>2010-09-01T15:53:00.576+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Iklan dan Akuntabilitas</title><content type='html'>Akhir-akhir ini, layar televisi sering menayangkan iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh Depdiknas. Iklan yang salah satunya memunculkan Bu Mus—tokoh utama film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt;—itu mengabarkan tentang adanya sekolah gratis alias tanpa biaya. Bahasa iklan memang biasa: selalu bombastis, provokatif dan lebih sering tidak sesuai dengan kenyataan. Di sana lebih banyak dihembuskan angin surga. Terlepas dari motif politis, banyak orangtua yang berbinar matanya tiap iklan itu ditayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, semua orangtua sudah tahu di mayoritas sekolah, bayaran selalu ditarik. Benar bahwa ada komponen pembiayaan yang tidak perlu dibayar orangtua murid, seperti buku pelajaran dan uang peralatan fisik. Namun sekolah ternyata masih kekurangan biaya. Untuk menutupi kekurangan, beberapa berinisiatif menjemput sumbangan orangtua murid secara sukarela, ada juga yang mewajibkan jumlah pungutan tertentu. Bahkan ada yang membuka lini bisnis dan pengembangan usaha kreatif untuk menambah pembiayaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada sekolah gratis, yang ada hanyalah sekolah murah. Kalimat itu pernah dilontarkan Gubernur Jateng Bibit Waluyo ketika kampanye oleh Depdiknas mulai gencar. Menurutnya, harus ada kejelasan mana komponen yang dibiayai pemerintah dan yang harus dibayar oleh orangtua. Penjelasan ini, perlu diturunkan ke tingkat daerah. Karena Dana Alokasi Khusus (DAK) yang berupa BOS itu langsung ditransfer ke rekening daerah, maka perincian skema pembiayaan yang lebih detil, diserahkan pada daerah. Bentuk kongkretnya adalah SK Bupati/Walikota, Peraturan Bupati atau Peraturan Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perjelas Aturan Main &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, persoalan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pertama &lt;/span&gt;dalam masalah pembiayaan pendidikan adalah payung hukum yang menaungi, menjelaskan, memandu dan memberi koridor bagi manajemen keuangan sekolah. Misalnya di sebuah kabupaten sudah ada perda yang secara khusus mengatur masalah pembiayaan, tentu lebih mudah. Ini di luar regulasi yang memiliki konten substansi manajemen pendidikan, visi, misi dan hal yang bersifat non-finansial. Pemerintah pusat perlu segera membuat nota kesepakatan dengan legislatif pusat yang “memaksa” dan “mengikat” pemerintah daerah membuat regulasi detil di tingkat kabupaten/kota. Jadi, bukan hanya memberikan pernyataan pers seperti yang selama ini dilakukan Menteri Pendidikan. Terbukti, himbauan tanpa surat perintah atasan, selalu hanya menjadi macan ompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kedua &lt;/span&gt;yang dirasakan sekolah adalah skema pembiayaan pendidikan yang sangat beragam. Setidaknya terdapat tujuh skema yang umum digunakan, yaitu BOS, BOS buku, BOS pendamping, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;block grant&lt;/span&gt;, dana dekonsentrasi rehab, DAK rehab dan APBD rehab. Dalam implementasinya, beragamnya skema ini menyulitkan sekolah dan stakeholder terkait. Alih-alih pemantauan orangtua murid, pihak sekolah dan Komite Sekolah sendiri juga kesulitan memahami berbagai aturan tersebut. Hal ini berdampak pada lemahnya pemantauan oleh Komite Sekolah maupun orangtua siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ada penyederhanaan skema pembiayaan. Misal, dikelompokkan dalam dua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cluster &lt;/span&gt;skema, yaitu investasi dan operasional. Dua skema utama sudah mapan selama ini dan cukup akuntabel, yaitu DAK untuk skema investasi dan BOS untuk skema operasional. Secara bertahap dalam waktu yang ditetapkan, skema lain seperti Dekon, TP dan lainnya harus diintegrasikan ke dalam skema utama. Sebaiknya pusat juga mengarahkan daerah untuk mengikuti mekanisme dalam skema tersebut untuk penyaluran anggaran dari daerah. Penyederhanaan jenis skema akan memudahkan semua pihak untuk memahami dan mengontrol implementasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, tidak jelasnya aturan main pembiayaan. Tiap daerah berbeda memang bagus, menghargai kekhasan lokal. Selain kemampuan finansial mereka juga berbeda. Namun, tetap diperlukan standarisasi manajemen keuangan. Sehingga tidak bertumpu pada patron, tapi pada sistem. Bukan personal tapi lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan-aturan formal yang bersifat prosedural seringkali kalah oleh aturan main informal. Posisi sekolah terhadap Dinas Pendidikan relatif lemah, polanya adalah patron klien, atasan dan bawahan. Padahal, sekolah seharusnya menjadi institusi yang memperjuangkan kepentingan siswa. Akan tetapi, posisi struktural kepala sekolah berada di bawah Dinas mengakibatkan kepsek mempunyai ketergantungan formal dan informal tinggi, membuat ‘suara’ sekolah lemah dalam memperjuangkan kepentingan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, sekolah kesulitan membuat prediksi yang jelas berapa anggaran yang akan diterima setiap tahunnya, karena hanya skema BOS/BOS Pendamping yang jelas rumus pengalokasiannya. Ini menyulitkan sekolah untuk membuat perencanaan jangka menengah, dan menyusun kebutuhan sekolah. Selain itu dirasakan ketidakpastian apakah skema yang ada sekarang akan berkelanjutan, mengingat dasar hukum yang belum jelas. Ini menyebabkan daerah dan sekolah ragu-ragu dalam menyusun kebijakan pembiayaan, misalnya dengan menghapuskan keseluruhan pungutan dari orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiayaan BOS memang memotong rantai birokrasi yang rawan kebocoran. Dana ini ditransfer langsung dari pusat ke rekening sekolah. Namun kelemahan umum dari mandat skema pembiayaan ini adalah tidak jelasnya pengukuran kinerja. Kelonggaran ini dimaksudkan pusat untuk mendorong stakeholder di level sekolah bisa menentukan sendiri rencana penggunaan dana ini bersama sumber pendanaan sekolah yang lain. Akan tetapi temuan Pattiro menyebutkan bahwa hal tersebut membuat semua pihak cenderung hanya mengikuti aturan administratif dan tidak fokus pada substansi pemanfaatan dana BOS sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengukur Akuntabilitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ternyata ada perbedaan antara pengelolaan BOS di perkotaan dan pedesaan. Di perkotaan alokasi BOS jauh dari kebutuhan. Semakin besar anggaran pemerintah semakin besar pula biaya pendidikan di kota. Meskipun sudah ada BOS buku, sekolah masih mewajibkan siswa untuk membeli banyak buku. Selain buku juga ada berbagai pelajaran tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah dasar di perkotaan banyak yang mewajibkan siswa kelas satu untuk mengikuti pelajaran tambahan. Jadi, tetap saja biaya yang harus dikeluarkan orangtua tidak berkurang. Berbeda dengan sekolah di pedesaan, alokasi BOS dianggap besar sehingga mereka cukup “kesulitan” untuk menghabiskan dana tersebut. Sementara, ada aturan “ancaman” jika BOS pada periode tersebut masih sisa maka periode berikutnya akan diturunkan jumlahnya. Hal ini kemudian disiasati dengan membuat laporan yang selalu habis dibelanjakan. Uang dibelanjakan untuk hal-hal tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiayaan investasi yaitu DAK, dana dekon dan APBD tidak didasari suatu data hasil pemetaan sekolah yang komprehensif dan terbuka. Masalah ini ditambah adanya tumpang tindih skema antara pusat, propinsi dan daerah, membuat alokasi ke sekolah tidak optimal memenuhi mandat pemeliharaan infrastruktur sekolah dan rawan penyalahgunaan. Besaran dan lokasi dana juga sarat dengan lobi-lobi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik kelemahan dalam akuntabilitas sekolah yang lain adalah, tidak adanya laporan yang terintegrasi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;consolidated&lt;/span&gt;). Seringkali tidak semua sumber penerimaan dicantumkan dalam laporan, sehingga rentan penyelewengan dan menyulitkan pengawasan oleh masyarakat. Selain itu paradigma sekolah mengenai pelaporan dan pertanggungjawaban hanya pada pemerintah, karena pemerintah adalah pihak yang memberi mandat, memberikan dana, memeriksa dan berwenang memberikan sangsi atau tindak lanjut. Sekolah hanya memberikan pelaporan kepada masyarakat sebatas prosedural, dan berupa laporan umum, yang menyulitkan untuk dilacak/diaudit oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kelemahan manajemen, suara dan tuntutan masyarakat pengguna maupun komite sekolah terhadap akuntabilitas sekolah relatif lemah. Masyarakat sudah merasa terbantu saat ada aturan pembebasan (sebagian) biaya langsung, dan kurang termotivasi untuk memantau sekolah, baik secara langsung maupun melalui Komite Sekolah.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-1614421199042886850?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/1614421199042886850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/06/iklan-dan-akuntabilitas.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/1614421199042886850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/1614421199042886850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/06/iklan-dan-akuntabilitas.html' title='Iklan dan Akuntabilitas'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-5925806619157374904</id><published>2009-06-09T08:40:00.005+07:00</published><updated>2010-09-01T15:53:27.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Jangan Lagi Salah Anggaran</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Amin Sudarsono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pegiat PATTIRO Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah Alokasi Dana Khusus (DAK) untuk pendidikan yang sifatnya untuk perbaikan fisik sekolah pada 2009 sudah mencapai angka Rp 9,3 triliun. Namun, mengapa di televisi, koran dan media lainnya masih saja diberitakan banyak sekolah yang ambruk atau keropos bangunannya. Pertanyaan itu wajar muncul ke permukaan karena antara jumlah angka dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;result &lt;/span&gt;tidak berimbang. Ada yang salah di sini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, berdasar Rencana Kerja Pemerintah (RKP), dalam APBN 2010, total anggaran pendidikan akan mencapai Rp 195,636 triliun atau rasionya 20 persen dari total alokasi belanja negara yang jumlahnya sekitar Rp 330 triliun. Porsi anggaran pendidikan 2010 itu berarti turun hingga Rp 11,777 triliun dibandingkan dengan tahun 2009, seiring dengan berkurangnya belanja pemerintah. Pada 2009 pemerintah pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp 207,413 triliun atau 21 persen dari total alokasi belanja negara yang besarnya Rp 333,5 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski turun jumlahnya, rasionya tetap 20 persen. Ini artinya ada itikad baik dari pemerintah untuk tidak “mengkhianati” konstitusi. Amanat rakyat itu agaknya tetap diperhatikan. Namun, itu belum cukup. Harus ada mekanisme pendistribusian dan monitoring yang benar-benar tepat. Agar pertanyaan di atas tidak muncul lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa usulan bagi pemerintah pusat. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, perbaikan mekanisme distribusi/pengalokasian skema investasi ke daerah. Inefisiensi utama muncul karena ketidaktepatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(mis-match&lt;/span&gt;) dalam mengarahkan anggaran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(targeting)&lt;/span&gt;. Daerah mengalami ketidakpastian alokasi anggaran dari pusat, sehingga kesulitan membuat perencanaan skala menengah. Terlebih bila didorong untuk membuat perencanaan partisipatif dan transparan. Selain itu hal ini cukup rawan praktek-praktek kolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah pusat tampaknya perlu membuka seluas-luasnya informasi terkait mekanisme alokasi skema investasi (misalnya DAK), baik bagi pemerintah daerah maupun stakeholder lainnya. Seiring dengan itu, pemerintah pusat juga harus mewajibkan daerah untuk melaksanakan tingkat transparansi yang sama di masing-masing daerah. Bahkan—jika perlu—mengaitkannya sebagai prasyarat desentralisasi fiskal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, perbaikan manajemen keuangan di tingkat sekolah. Salah satu titik krusial dalam akuntabilitas anggaran pendidikan adalah pelaporan di tingkat sekolah. Pemerintah pusat sudah saatnya mengatur agar sekolah memiliki satu laporan keuangan yang standar dan terpadu (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;consolidated)&lt;/span&gt;. Di dalam berkas laporan itu terdapat data tentang semua bentuk pendapatan yang diterima sekolah. Selain itu ada keharusan menyampaikan laporan pada semua stakeholder terkait, yaitu perwakilan orangtua, komite sekolah dan dewan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, mengontrol kinerja daerah dalam target pendidikan dengan tegas. Pemerintah pusat harus lebih tegas dalam menilai kinerja daerah, khususnya pada titik-titik krusial tantangan pendidikan. Misalnya tingkat partisipasi SMP, kualitas pendidikan dan biaya pendidikan yang ditanggung orangtua. Untuk yang terakhir, peraturan di tingkat lokal harus segera dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat juga harus mampu menilai indikator proksi kinerja pemerintah daerah, di antaranya adalah arah kebijakan daerah dan profil anggaran daerah. Hal itu semata untuk menilai sejauh mana pemerintah daerah mampu mengarahkan kebijakan dan anggaran ke titik strategis, seperti pelatihan guru dan anggaran langsung ke sekolah. Selain itu pemerintah pusat perlu menyebarluaskan hasil penilaian tersebut secara luas, untuk memastikan masyarakat luas ikut memantau kinerja daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk pemerintah daerah, saya mengusulkan enam hal. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, perbaikan mekanisme pengalokasian skema anggaran investasi ke sekolah. Diperlukan aturan lokal mengenai pendataan atau pemetaan sekolah (school mapping), dengan memasukkan unsur partisipatif dan transparansi. Daerah seharusnya membuat pemetaan kebutuhan sekolah secara terbuka bersama stakeholder, yang menjadi dasar kerangka belanja skema investasi ke sekolah dalam jangka waktu tertentu (misalnya 5 tahun ke depan). Kerangka belanja ini wajib dipublikasikan secara luas, sehingga memberi kepastian bagi sekolah, kesempatan bagi stakeholder terkait untuk ikut mengontrol implementasinya, dan mengurangi ruang bagi penyalahgunaan ataupun praktek-praktek gratifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, penguatan mandat skema anggaran operasional sekolah. Dibutuhkan aturan daerah yang berfungsi memperkuat beberapa mandat skema dari pusat. Salah satunya adalah kebutuhan aturan prioritasi penggunaan anggaran BOS, agar memberi panduan bagi sekolah untuk memprioritaskan pos-pos sesuai tujuan utama BOS, yaitu membebaskan beban biaya kelompok miskin dan menurunkan iuran orangtua murid. Penguatan mandat ini harus diikuti dengan mekanisme audit kinerja, sehingga pemerintah daerah bisa mengetahui sejauh mana hasil dari penggunaan anggaran dikaitkan dengan mandat utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, membangun forum stakeholder sektor pendidikan. Sangat penting untuk membangun suatu forum berkala bagi semua stakeholder pendidikan, yaitu dinas pendidikan, dewan pendidikan, sekolah, komite sekolah, dan organisasi guru ataupun orangtua, untuk secara bersama membahas rencana program serta alokasi anggaran tahunan. Forum ini selain digunakan untuk kebutuhan perencanaan kebijakan dan kerangka belanja, juga berfungsi sebagai mekanisme komplain atau pengaduan atas masalah-masalah di seputar sektor pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, perbaikan manajemen keuangan sekolah. Perlu kebijakan daerah yang mengatur standar pencatatan keuangan sekolah yang baku, mengikuti aturan umum akuntansi sederhana berupa format keuangan yang terkonsolidasi. Standar keuangan semacam ini mencantumkan semua pendapatan dalam satu format laporan, dan melaporkan semua pengeluaran riil sesuai belanja. Kebijakan tersebut juga mengatur bagaimana laporan ini juga harus dipublikasikan secara luas, baik secara internal maupun eksternal, termasuk kepada orangtua murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;, penguatan komite sekolah dan organisasi orangtua. Diperlukan aturan-aturan daerah yang bertujuan memperkuat posisi dan peran komite sekolah ataupun organisasi orangtua, khususnya dalam peran monitoring sekolah. Misalnya berupa aturan surat keputusan pengangkatan yang lebih tinggi dari kepala sekolah dan peningkatan kapasitas berupa pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keenam&lt;/span&gt;, penguatan pengawasan oleh pihak legislatif. Walaupun secara normatif fungsi ini sudah otomatis dimiliki legislatif, pada kenyataannya pengawasan oleh legislatif sangat lemah. Legislatif bahkan seringkali tidak memiliki data akurat mengenai hasil belanja. Oleh karena itu dibutuhkan terobosan baik berupa aturan daerah ataupun institusionalisasi praktek-praktek inovasi yang bertujuan menguatkan pengawasan oleh pihak legislatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika rekomendasi untuk pusat dan daerah di atas terlaksana dengan maksimal, dipastikan akuntabilitas sekolah akan terbentuk. Efeknya, mutu sekolah akan terbangun. Tentu setelah urusan finansial lokal sekolah terselesaikan. Untuk yang t erakhir ini, sikap proaktif dari pemerintah daerah sangat diperlukan. Agaknya, jumlah anggaran sebesar apapun, jika tidak akuntabel dan transparan, juga tidak akan tepat sasaran.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-5925806619157374904?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/5925806619157374904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/06/jangan-lagi-salah-anggaran.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/5925806619157374904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/5925806619157374904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/06/jangan-lagi-salah-anggaran.html' title='Jangan Lagi Salah Anggaran'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-6986894919616280764</id><published>2009-05-28T02:13:00.005+07:00</published><updated>2010-09-01T15:56:14.087+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tempat Kenangan'/><title type='text'>Bumi Bergetar di Bandara</title><content type='html'>Jogjakarta. Tiga tahun lalu, 27 Mei 2006. Hingga pukul 02.00 WIB dini hari saya belum bisa tidur. Tiket pesawat Merpati Air penerbangan Jogjakarta-Ternate saya pegang erat sambil rebahan santai di lantai beralas sajadah. Rumah kontrakan saya di Dusun Krangkungan Condongcatur sudah sepi. Teman-teman sudah lelap, tapi saya masih belum bisa terpejam mata. membayangkan akan pergi jauh ke tanah seberang. Merantau pertama kali ke negeri yang jauh: tanah Maluku Kieraha.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu sebelum hari keberangkatan ke Maluku Utara itu, saya sibuk mempersiapkan hal-hal yang perlu dibawa. Pak Zulkarnain, guru saya sejak di Jogja, sudah pindah ke Pulau Bacan, Maluku Utara tiga bulan sebelumnya. Beliau mendapat amanat untuk belanja peralatan pemerintah daerah yang seluruhnya alat elektronik, yaitu kamera digital, laptop dan handycam. Seingat saya, total nilai seluruhnya hampir Rp 200 juta. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Antum &lt;/span&gt;(kamu) yang bawa belanjaan itu ke Ternate ya. Beli tiket pesawat Merpati Airlines, langsung dari Jogja ke Ternate,” ucap Pak Zul via telepon. Jadwal terbang Merpati itu adalah Sabtu 27 Mei 2006 pukul 06.15 WIB. Satu kali ganti pesawat, transit di Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Jumat saya sudah sibuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;packing&lt;/span&gt;. Atas rekomendasi Pak Zul, saya belanja alat elektronik itu di Toko Shimura Jalan Gejayan (sekarang Jalan Affandi). Di sana, saya minta seluruh barang dibungkus menggunakan kardus dengan pelapis. Saya khawatir di bagasi pesawat akan terbanting-banting. Apalagi saat menaikkan dan menurunkan. Setelah semua jelas, saya bayar, lalu pulang ke kontrakan di Azzahro, Krangkungan Condongcatur. “Subuh nanti saya ambil, langsung ke bandara,” pesan saya kepada Mas Anto, pegawai Shimura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak bisa kunjung tidur, saya tata lagi tas karier yang besar itu, juga beberapa koper. Barang yang harus ada adalah beberapa lembar pakaian dan buku-buku penting. Tak terasa sudah pukul 04.30 WIB, saya telpon taksi minta menjemput ke Krangkungan. Setengah jam kemudian taksi itu datang, saya bersungut-sungut. “Maaf pak, gang masuk susah,” ujar sopir minta maaf. Segera kami meluncur ke Toko Shimura untuk mengambil barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 05.15 WIB, Mas Anto sudah menunggu di depan toko. Bergegas kami memasukkan kardus berisi alat-alat elektronik itu ke dalam taksi. Tak cukup menggunakan bagasi, jok belakang penuh tumpukan. Taksi segera meluncur ke Bandara Adisucipto. Saya hanya bisa berharap masih bisa mengejar pesawat. Sebab penerbangan pukul 06.15, normalnya, setengah jam sebelumnya sudah harus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;check in&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai bandara pukul 05. 40 WIB. Kawan yang membantu angkat barang tak kunjung datang. Tiba-tiba datang dua akhwat, yaitu Fitri dan Kardina Ani, dua-duanya mahasiswa Farmasi UII yang datang untuk melepas keberangkatan saya. “Ini pak, sekedar oleh-oleh, pengingat dan penyemangat,” ujar Ani sambil menyerahkan bungkusan buku. Saya ingatnya judulnya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Episode Cinta Sang Murabbi&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimakasih atas semuanya,” saya terharu menerima benda itu. Waktu terus berjalan, dengan terpaksa untuk mengejar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;check in&lt;/span&gt;, saya minta bantua dua perempuan berjilbab lebar itu untuk mengangkut kardus besar berisi laptop dan handycam beberapa buah. Sukarela mereka mengangkat ke depan meja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;check in&lt;/span&gt;. Usai itu, mereka segera pamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditimbang, bobot beban yang saya bawa sampai 85 kilogram. Otomatis harus menambah biaya bagasi. Seingat saya, saat itu saya harus membayar Rp 600 ribu lebih. “Bayar di mana, Pak?” tanyaku tergesa. Soalnya, saat itu sudah pukul 05.50 WIB, pesawat sebentar lagi berangkat. “Di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;counter &lt;/span&gt;Merpati depan sana,” petugas menunjuk lokasi. Saya berlari cepat ke ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, habis banyak mas.” Saya segera ulurkan uang Rp 700 ribu. Kembalian yang harus saya terima Rp 35 ribu. Saat saya ulurkan uang kepada petugas, tiba-tiba gempa terjadi. Lantai di bawah kaki saya bergeser-geser. Petugas di depan saya panik, saya juga panik. “Brakkk,” terdengar suara benda jatuh. Tanpa babibu, petugas di depan saya lari, saya juga ikut keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh detik pertama lantai bandara bergeser-geser. Saya berjalan pelan mepet ke dinding menuju pintu masuk bandara. Tiga puluh detik berikutnya, lantai terlonjak-lonjak, persis seperti jika kita loncat-loncat di atas sofa empuk. TV yang dipasang di pojok-pojok ruang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;check in&lt;/span&gt; berjatuhan. Plafon bandara juga runtuh. Untuk menghindari kejatuhan di kepala, saya terus mepet di dinding dan memastikan tak ada benda di atas kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu menit teror itu berlangsung. Bumi digoyang hebat, bangunan kokoh bandara runtuh, terutama di ruang tunggu. Beberapa korban nyawa di ruang itu. Saya berucap syukur, keterlambatan membuat saya belum masuk ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;waiting room&lt;/span&gt;, sebab ruang itulah yang paling banyak roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bapak ikut berlari di samping saya. Kepalanya berdarah hebat, tapi dia masih bisa berlari. Seorang pramugari telentang di lantai. Kepala dan punggungnya berdarah, Mulutnya hanya berucap “Ah..a..a,” saja. Harris Simare-mare, teman saya yang ternyata datang terlambat, segera menolong pramugari itu. Digendongnya, lalu dibawa ke bangku halte di muka bandara. Tampaknya punggung pramugari itu patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fragmen Padang Mahsyar tampak pada gempa itu. Semua orang hanya peduli pada nasibnya sendiri. Tak ada yang memikirnya orang lain, semuanya sibuk menyelamatkan diri. Ekspresi ketakutan juga macam-macam, ada lelaki yang menjerit-jerit terus. Ada juga perempuan muda berbaju seksi yang menghisap rokoknya cepat-cepat dan mengeluarkan asap bak meniup lilin ulang tahun. Nafasnya terengah-engah, tampaknya dia menghilangkan stress dengan berbuat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak sempat berfikir saat gempa pertama yang menghacurkan bangunan bandara itu terjadi. Ketika bumi berhenti bergerak, saya sudah di luar bandara. Deretan rumah kayu di depan bandara terbakar rata. “Merapi meletus ya, Pak?” tanya bapak yang duduk di sebelahku. “Mungkin,” jawabku pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sebelum tragedi gempa itu, Gunung Merapi di utara Jogjakarta batuk-batuk terus, bahkan sampai keluar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wedhus gembel &lt;/span&gt;alias awan panas. Saat detik pertama gempa, banyak orang Jogja yang berfikir, Merapi meletus karena itu semuanya berlari ke arah selatan kota. Tak dinyana, ternyata musibah gempa justru berasal dari selatan kota, yaitu Laut Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi mulai tenang. Tiba-tiba saya teringat kembalian yang harus saya ambil, saya lari ke counter Merpati dan meminta kembali uang Rp 35 ribu. Saya pikir itu hak yang harus diambil, jadi ya meskipun gempa, tetap saja saya teringat hak itu. Langsung saya mencoba cek barang kiriman senilai Rp 200 juta yang diamanatkan kepada saya. Bingung berputar-putar. Tak ada awak maskapai penerbangan yang bertugas, kondisi semua chaos, kacau dan individualis. Pilot, pramugari dan awak pesawat sibuk menyelamatkan diri masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua penumpang Garuda jurusan Jakarta harap berkumpul di sini!,” tiba-tiba ada suara melalui megaphone. Wah, untuk urusan profesionalisme tampaknya Garuda masih nomor satu. Lalu menyusul Merpati melakukan hal yang sama. Saya merapat ke sumber suara, lalu diijinkan langsung mendekat ke pesawat. Saat melongok ke dalam bagasi, ternyata barang kiriman yang harus saya bawa sudah ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, barang semuanya selamat, Pak,” aku tergesa menelpon Pak Zul yang menunggu di Ternate. “Syukurlah, yang penting &lt;span style="font-style: italic;"&gt;antum &lt;/span&gt;juga selamat,” balasnya. Ternyata pesawat tak kunjung berangkat. Beberapa bagian landasan pesawat di bandara retak memanjang. Mungkin harus negosiasi dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, jaringan telepon seluler putus-putus. Saya hubungi orangtua di Purwodadi, lama sekali tak bisa tersambung. Ketika menghubungi kakak ipar saya di Semarang tersambung. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kula slamet kemawon, alhamdulillah&lt;/span&gt;,” ucapku cepat khawatir putus lagi. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lho, lha ono opo&lt;/span&gt;?” kakak iparku kaget. Ternyata dia tidak tahu jika ada gempa. Setelah kujelaskan baru dia paham ada gempa. Aku berharap berita itu sampai pada ibuku agar tak was-was. Di kemudian hari ternyata malah keluarga di rumah melihatku lewat SCTV yang menayangkan slot saat aku turun dari pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 08.30 WIB penumpang pesawat jurusan Ternate itu naik. Hanya separo terisi. Mesin pesawat sudah dihidupkan, 15c menit tak kunjung terbang. Tiba-tiba asisten pilot (aku tebak dari seragamnya) naik ke atas pesawat. “Maaf bapak dan ibu. Kami baru mendengar kabar bahwa yang terjadi baru saja bukan karena Merapi meletus, tapi karena terjadi gempa di Laut Selatan. Dan menurut kabar yang kami terima, gampa ini berpotensi tsunami seperti di Aceh,” ucap asisten pilot itu. Kontan saja, penumpang yang sudah duduk tenang kocar-kacir, mereka terbelalak kaget dan bergegas turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya batal pergi saja, keluarga saya di Bantul,” teriak seorang ibu histeris. Puluhan penumpang yang lain menyusul turun. Saya juga ikut turun, lalu rebahan di bawah badan pesawat jenis Foker itu. Saya sangsi dengan kabar yang saya terima, beberapa orang yang bersama saya juga berfikir hal yang sama. “Kalau memang tsunami, jelas Kota Yogya sekarang sudah tenggelam. Nyatanya ini nggak,” kata orang di sebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri masih ragu dengan tsunami, tapi juga tak sepenuhnya percaya pikiran saya sendiri. “Kalau begini kondisinya, memang lebih baik harus segera pergi dari sini,” sambar penumpang yang lain. Dalam hati, saya mengamini pendapat yang terakhir. Terlebih lagi, saya diamanati barang titipan senilai Rp 200 juta milik pemerintah Halmahera Selatan. Bagaimanapun itu harus sampai kesana, pikir saya begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 09.00 WIB, kami diminta masuk pesawat. Tinggal 15 orang dalam pesawat berkapasitas besar itu. Tak ada formalitas peragaan penyelamatan seperti biasanya pramugari melakukan itu. Tak ada juga sambutan senyum manis atau lambaian tangan mempersilakan masuk. Semua orang tampak kuyu dan lelah. Tapi pesawat harus segera terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin menyala, pesawat mulai tinggal landas. Lalu, ribuan rumah porak-poranda tampak di balik kaca jendela pesawat yang membawa saya terbang ke Ternate. Hati saya menangis meninggalkan Jogja. Pedih tak mampu berbuat banyak, hanya doa terpanjat sembari mata nanar menatap atap-atap genteng rumah yang hancur membentuk garis patahan itu.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt; Jakarta, 27 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-6986894919616280764?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/6986894919616280764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/05/bumi-bergetar-di-bandara.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6986894919616280764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6986894919616280764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/05/bumi-bergetar-di-bandara.html' title='Bumi Bergetar di Bandara'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-766779152974878032</id><published>2009-05-28T01:55:00.004+07:00</published><updated>2009-05-28T02:07:17.005+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Bonsai dan Sequoia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/Sh2OyDlwzCI/AAAAAAAAAg4/PlkktfiInow/s1600-h/bonsai.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/Sh2OyDlwzCI/AAAAAAAAAg4/PlkktfiInow/s320/bonsai.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340581723739573282" /&gt;&lt;/a&gt;Orang Jepang memelihara pohon yang lazim disebut bonsai, pohon ini indah dan dibentuk dengan sempurna walaupun tingginya hanya dalam hitungan sentimeter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di California ditemukan pohon raksasa hutan yang bernama Sequoia. Salah satu pohon raksasa ini diberi nama Jenderal Sherman dengan ketinggian mencapai 90 meter seakan menembus langit dan lingkar batang hingga 26 meter. Pohon raksasa ini begitu hebat sehingga jika ditebang akan menghasilkan kayu bangunan yang cukup untuk membuat 35 buah rumah dengan lima kamar.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada saat berbentuk biji, bonsai dan Jenderal Sherman berukuran sama kecil, masing2 beratnya kurang dari satu miligram. Setelah keduanya dewasa, terjadi perbedaan ukuran yang luar biasa dan kelihatan seperti peristiwa yang sederhana saja, tetapi kisah di balik perbedaan ukuran itu mengandung pelajaran dalam kehidupan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pohon Bonsai mulai menyembulkan tunasnya di muka bumi, orang Jepang mencabutnya dari tanah dan mengikat pokok akar dan sebagian cabang akarnya, dengan demikian secara sengaja menghambat pertumbuhannya. Hasilnya adalah sebatang pohon mini yang indah, tetapi tetaplah mini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/Sh2PGQErb5I/AAAAAAAAAhA/_QZeBj-Rkm4/s1600-h/Sequoia-Big.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/Sh2PGQErb5I/AAAAAAAAAhA/_QZeBj-Rkm4/s320/Sequoia-Big.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340582070687854482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Biji Jenderal Sherman jatuh ke tanah California yang subur dan mendapat gizi dari mineral, air hujan dan sinar matahari, hasilnya adalah sebuah pohon raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Bonsai maupun Jenderal Sherman tidak punya pilihan dalam menentukan nasibnya. Tidak demikian dengan manusia, Anda punya hak untuk menentukan nasib, Anda bisa jadi besar atau jadi kecil sebagaimana yang anda kehendaki. Anda bisa jadi Bonsai atau Jenderal Sherman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra diri Anda dan cara Anda memandang diri sendiri akan menentukan akan menjadi apa Anda kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu Anda punya pilihan.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kita bisa menjadi apa yang kita inginkan, jika kita tahu kita ingin jadi apa. Temukan cita-citamu dulu.&lt;/span&gt; Thanks to Yantisa Akhadi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-766779152974878032?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/766779152974878032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/05/bonsai-dan-sequoia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/766779152974878032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/766779152974878032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/05/bonsai-dan-sequoia.html' title='Bonsai dan Sequoia'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/Sh2OyDlwzCI/AAAAAAAAAg4/PlkktfiInow/s72-c/bonsai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-1175315699209830904</id><published>2009-05-28T01:38:00.002+07:00</published><updated>2009-05-28T01:52:29.006+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Tinggalkan Tandamu, Buatlah Karya</title><content type='html'>Tahukah Anda ?&lt;br /&gt;Joan Of Arc hanya berusia 19 tahun ketika dia mengepalai sepasukan tentara untuk memerdekakan Perancis dari Inggris. John Calvin berusia 26 tahun saat dia mempublikasikan “lembaganya”. Sir Isaac Newton menemukan hukum gravitasi pada saat dia berusia 23 tahun. Henry Clay, “compromiser besar”, dikirim ke senat Amerika pada usia 29 tahun dan menjadi juru bicara perwakilan rakyat AS pada usia 34 tahun. Raphael menggambarkan karya besarnya antara usia 25 sampai 30 tahun. Mozart hanya hidup selama 35 tahun.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, kebanyakan dari kita tidak akan pernah mencapai posisi seperti individu-individu yang luar biasa di atas. Setiap kita merupakan potongan dari pola yang unik. Tetapi, kebanyakan  orang merasa bahwa mereka harus meninggalkan sesuatu yang lebih dari keberadaanya di dunia. Waktu aku masih muda, aku ingin membuat sesuatu. Setelah beberapa tahun, aku menyadari bahwa aku harus mengisi hidupku dengan mengamati banyak hal yang terjadi. Saat ini, aku sering menemukan bahwa aku tidak mempunyai ide apapun tentang apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan menolong untuk mengingat bahwa ada satu waktu untuk segala sesuatunya dan semua orang. Waktu kita untuk menghasilkan buah yang baik akan segera datang. Sambil menunggu, kita bekerja sebaik-baiknya atau menemukan tempat melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya atau tempat yang lebih baik, setelah kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon-pohon Aspen di Colorado bertumbuh dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terjadi suatu kebakaran hutan, Aspen kadang kala merupakan pohon pertama yang tumbuh kembali. Mereka memenuhi hutan dengan cepat, memberikan keteduhan pada anak cemara yang lambat bertumbuh. Pohon cemara hijau ini tumbuh lebih lambat dari pohon, tetapi mereka hidup lebih lama dari pohon aspen. Setiap tanaman tumbuh dan berkembang sesuai waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga setiap orang. Beberapa orang berhasil dengan sangat cepat, yang lainnya mengkontribusikan hal-hal yang penting dalam waktu yang lama. Jika kau belum menjadi dirimu sendiri, jangan khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelihara pekerjaan dan aspirasimu dengan ketelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menyerah, tetapi lebih baik sabar, pertumbuhan bisa saja lambat. Badai dan penyakit dapat saja menyerang, tetapi mereka juga dapat memangkasmu dan membuatmu lebih kuat. Dengan pemeliharaan yang tepat, kau akan panen dengan berlimpah pada waktunya.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: thanks to Yantisa Akhadi atas kirimannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-1175315699209830904?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/1175315699209830904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/05/tinggalkan-tandamu-buatlah-karya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/1175315699209830904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/1175315699209830904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/05/tinggalkan-tandamu-buatlah-karya.html' title='Tinggalkan Tandamu, Buatlah Karya'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-138146818965698672</id><published>2009-02-23T22:57:00.005+07:00</published><updated>2009-05-27T10:00:58.602+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Mulai Menulis Lagi</title><content type='html'>Seorang penyair tidak akan menulis bait-bait syair ketika tak ada gundah di hatinya. Musisi kritis model Iwan Fals juga tidak akan berkarya jika tak ada gulana dalam sanubari. Tidak ada balur cat di tubuh kanvas pelukis jika dia sudah mati rasa terhadap keadaan sekelilingnya. Kepekaanlah yang menuntun seorang mencipta karya. Dan, saya merasa semenjak tidak bekerja lagi sebagai wartawan, kepekaan saya menjadi surut ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini saya merasa berdosa saat menengok rumah lama yang satu ini. Sama sekali tidak pernah saya sentuh sejak September 2008. Genap lima bulan berlalu, tak ada pembenahan apapun pada bangunan maya ini. Banyak kawan bertanya kenapa tidak ada posting apapun di blog ini. Lama-lama saya merasa risih juga, terlebih ketika membaca tulisan saya sendiri &lt;a href="http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/05/mandul-setelah-menikah.html"&gt;Mandul Setelah Menikah&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menikah usai Lebaran kemarin, memang saya sangat jarang menulis untuk blog. Pernikahan memang membawa konsekuensi panjang. Awalnya adalah urusan teknis pernikahan seperti surat-surat dan pesta kecil di rumah mertua. Lalu diikuti perpindahan domisili dari Banjarmasin ke Bandung lalu ke Jogja dan Magelang. Usai itu, aktivitas berputar-putar di Banjarnegara, Kebumen dan Purbalingga. Kesibukan itu—diikuti kemalasan—akhirnya melenakan dari menulis blog. Berbagai-bagai aktivitas menumpuk ditambah tidak seringnya tangan menyentuh komputer menjadi pelengkap alasan kenapa saya tidak menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kini alasan itu ternyata hanya alasan. Persoalan intinya adalah pada kemauan dan keinginan yang makin menipis. Pada detik puncak inilah saya gelisah. Selalu ada gundukan di benak saya, berkeliar-keliar mengelilingi kepala. Seperti ular yang gelisah dalam bungkusan kain hitam pawang hujan di India. Harus keluar dan memperoleh kebebasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya saya kembali menemukan keinginan dan cinta terhadap deretan huruf ini. Saya berdoa, semoga bisa tetap tuangkan pikiran melalui blog ini.[]banjarnegara, 230209 23:42&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-138146818965698672?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/138146818965698672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/02/ketika-peka-mulai-tumbuh-lagi.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/138146818965698672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/138146818965698672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2009/02/ketika-peka-mulai-tumbuh-lagi.html' title='Mulai Menulis Lagi'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-4368946549727467514</id><published>2008-09-27T05:36:00.004+07:00</published><updated>2008-09-27T05:57:01.386+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ucapan'/><title type='text'>Kembali Fitri, Ampuni Kami</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SN1oqaBg7UI/AAAAAAAAAXg/tz1yQwugd4o/s1600-h/Buat+blog.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SN1oqaBg7UI/AAAAAAAAAXg/tz1yQwugd4o/s400/Buat+blog.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5250467818333334850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 Hijriyah. Mohon Maaf Lahir dan Batin. &lt;br /&gt;Kembali ke Fitri, Ampuni Salah Kami.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ORANG&lt;/strong&gt; hidup punya dua salah, pertama terhadap Tuhannya, kedua kepada sesama manusia. Dosa kepada Tuhan, sangat mudah diampuni. Karena dalam perspektif agama apapun, Tuhan adalah sosok Mahapengampun, Mahapenyayang dan Mahapengasih. Selalu ada ruang kembali bagi manusia yang bersalah. Tuhan selalu sediakan kabin untuk pertobatan di kapal besar kehidupan, agar manusia steril kembali dari dosa hingga dermaga keabadian.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, jika dosa itu terhadap sesama manusia, pengampunan kadang susah didapat. Banyak manusia yang tak mau melepas masa lalu, sebagian juga selalu mengungkit salah dan dosa orang lain. Mengikhlaskan salah orang lain terhadap diri kita teramat sulit. Apalagi, salah itu membuat batin teriris. Lidah yang tajam sering membuat salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, menjelang Idul Fitri 1429 H ini, ijinkan saya, Amin Sudarsono, meminta ampun atas segala salah, dosa dan khilaf yang sudah saya perbuat terhadap saudara. Mohon diikhlaskan seluruh yang membuat luka. Demikian juga, Lebaran kali ini, saya mencoba mengikhlaskan seluruh yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, apa yang terjadi patut disyukuri. Kita yakin, pemberian Tuhan selalu yang terbaik. Tak perlu meratapi atau terus berkutat di masa lalu. Lebih baik mencoba menyalakan lilin kecil, daipada terus menerus merutuki kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, selamat hari raya Idul Fitri 1429 H. Taqabbalallahu minna wa minkum, ja'alanallahu wa iyyakum minal 'aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.&lt;strong&gt;[]&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-4368946549727467514?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/4368946549727467514/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/09/kembali-fitri-ampuni-kami.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4368946549727467514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4368946549727467514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/09/kembali-fitri-ampuni-kami.html' title='Kembali Fitri, Ampuni Kami'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SN1oqaBg7UI/AAAAAAAAAXg/tz1yQwugd4o/s72-c/Buat+blog.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-2286267896622788662</id><published>2008-09-24T14:49:00.004+07:00</published><updated>2008-09-24T15:02:14.947+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Lebih Mulia Tangan Hitam Melepuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SNnzKUByEqI/AAAAAAAAAXQ/cMC27eoHo1I/s1600-h/tukang.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SNnzKUByEqI/AAAAAAAAAXQ/cMC27eoHo1I/s200/tukang.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249494199177450146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SUATU &lt;/span&gt;hari, Rasulullah berkumpul bersama para sahabatnya yang kebanyakan orang miskin. Beberapa sahabat yang hampir semuanya bekas budak, ada di sana. Mereka adalah Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabbah dan Suhayb Khabab bin Al-Arat. Pakaian mereka lusuh, jubah bulu yang kasar. Meski miskin dan papa, mereka adalah sahabat senior Nabi, para perintis perjuangan Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, serombongan bangsawan yang baru masuk Islam, datang ke majelis Nabi. Ketika melihat orang-orang di sekitar Nabi, mereka mencibir dan menunjukkan kebenciannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata kepada Nabi, “Kami mengusulkan agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab akan mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabilah Arab akan datang menemuimu. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dengan budak-budak ini. Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila urusan kami sudah selesai, bolehlah anda duduk bersama mereka sesuka Anda.”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Uyainah bin Hishn—salah satu bangsawan—menegaskan lagi, “Bau Salman al-Farisi mengangguku (dia menyindir bau jubah bulu sahabat Nabi yang miskin itu). Buatlah majelis khusus, agar kami tidak berkumpul bersama mereka. Buat juga majelis bagi mereka, sehingga mereka tidak berkumpul bersama kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba turunlah Malaikat Jibril menyampaikan Surat al-An’am [6] ayat 52: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka. Begitu pula mereka tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw segera menyuruh para sahabat yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;faqir &lt;/span&gt;itu, duduk lebih dekat lagi sehingga lutut-lutut mereka merapat dengan lutut Rasulullah saw. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Salâm ‘alaikum&lt;/span&gt;,” kata Nabi dengan keras, seakan-akan memberikan jawaban kepada usul para pembesar Quraisy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, turun lagi Surat al-Kahfi [18] ayat 28: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, apabila kaum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fuqara &lt;/span&gt;ini berkumpul bersama Nabi, beliau tidak meninggalkan tempat sebelum orang-orang miskin itu pergi. Apabila beliau masuk ke majelis, beliau memilih duduk dalam kelompok mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali beliau berkata, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alhamdulillah&lt;/span&gt;, terpuji Allah yang menjadikan di antara umatku kelompok yang aku diperintahkan bersabar bersama mereka. Bersama kalianlah hidup dan matiku. Gembirakanlah kaum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fuqara &lt;/span&gt;muslim dengan cahaya paripurna pada Hari Kiamat. Mereka mendahului masuk surga sebelum orang-orang kaya setengah hari, yang ukurannya 500 tahun. Mereka bersenang-senang di surga sementara orang-orang kaya tengah diperiksa amalnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, bertanyalah pada diri sendiri. Tariklah nafas sejenak untuk berkaca ke dalam cermin hati. Apakah kita seperti pembesar Quraisy yang terganggu dengan bau tubuh orang miskin? Apabila tamu datang, kota kita bersihkan dan mereka, kaum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fuqara&lt;/span&gt;, dipinggirkan. Kota baru (dianggap) gemerlap bila mereka disingkirkan. Pemandangan baru (dianggap) indah bila rumah-rumah kumuh digusur. Betapa perilaku kebanyakan kita lebih menyerupai pembesar Quraisy sombong itu daripada perilaku Nabi nan mulia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan lain Nabi bertemu dengan seorang sahabat, Sa’ad al-Anshari yang memperlihatkan tangannya yang melepuh karena kerja keras. Nabi bertanya, “Mengapa tanganmu hitam, kasar dan melepuh?” Sa’ad menjawab, “Tangan ini kupergunakan untuk mencari nafkah bagi keluargaku.” Nabi yang mulia berkata, “Ini tangan yang dicintai Allah,” seraya mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkanlah, Nabi yang tangannya selalu berebut untuk dicium oleh para sahabat, mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh. Bukalah cermin hati kita lagi. Turunlah kita ke bawah. Tengoklah jutaan tangan yang hitam dan melepuh menunggu uluran kasih sayang kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Nabi, adakah di antara kita yang mau mencium tangan orang miskin? Bukankah dengan status yang kita miliki, gelar akademik yang kita raih, kesejahteraan yang kita nikmati, kita merasa jauh lebih pantas bila orang miskin mencium tangan kita.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-2286267896622788662?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/2286267896622788662/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/09/lebih-mulia-tangan-hitam-melepuh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2286267896622788662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2286267896622788662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/09/lebih-mulia-tangan-hitam-melepuh.html' title='Lebih Mulia Tangan Hitam Melepuh'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SNnzKUByEqI/AAAAAAAAAXQ/cMC27eoHo1I/s72-c/tukang.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-8541251923790866411</id><published>2008-09-24T14:31:00.005+07:00</published><updated>2008-09-24T15:01:01.105+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jepretan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Lelap Usai Berkarya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SNntVWKIveI/AAAAAAAAAXI/xggl_dNWV3Q/s1600-h/Lelap+Usai+bekerja.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SNntVWKIveI/AAAAAAAAAXI/xggl_dNWV3Q/s400/Lelap+Usai+bekerja.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249487791658155490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelelahan adalah obat insomnia. Tukang kebun di Taman Pramuka Kota Bandung, terlelap usai menyapu bersih daun-daun dan sampah di taman itu, Minggu (21/9) siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur lelap di bawah pohon rindang beralaskan tikar pandan yang sudah sobek pinggirnya. Minggu siang di suasana bulan puasa, benar-benar syurga sesaat untuk pekerja penyapu taman itu. Tidur yang nikmat adalah kombinasi antara kepuasan hasil kerja dan suasana yang memadai. Tukang kebun itu, mendapatkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saat melihat bapak itu, saya tepekur lama. Berdiri di sampingnya sambil mengarahkan kamera beberapa kali. Dan, dia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran saya. Toh, mobil dan motor yang lalu lalang di jalan besar sekitar lima meter dari tubuh itu, sama sekali tidak menimbulkan kebisingan baginya. Lelap tetap menyelimuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia, tenang, bersahaja, apa adanya dan menikmati yang diberikan Tuhan pada hamba-Nya. Kesyukuran tiada habis akan apa yang diperoleh. Kepuasan atas hasil kerja dan karya, meski hanya onggokan dedaunan kering di Taman Pramuka. Itu justru adalah cermin profesionalitas dan kehambaan bernilai ibadah.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-8541251923790866411?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/8541251923790866411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/09/kelelahan-adalah-obat-insomnia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/8541251923790866411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/8541251923790866411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/09/kelelahan-adalah-obat-insomnia.html' title='Lelap Usai Berkarya'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SNntVWKIveI/AAAAAAAAAXI/xggl_dNWV3Q/s72-c/Lelap+Usai+bekerja.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-905090137091268348</id><published>2008-09-21T08:14:00.001+07:00</published><updated>2008-09-21T08:18:05.568+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Nisan Tanpa Nama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SNWgtPoM2lI/AAAAAAAAAXA/EEprHhx6OdY/s1600-h/bendera.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SNWgtPoM2lI/AAAAAAAAAXA/EEprHhx6OdY/s200/bendera.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5248277639919884882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AWAL &lt;/span&gt;Ramadhan 1429 H ini, setiap sore menjelang magrib aku habiskan waktu di pemakaman. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ngabuburit&lt;/span&gt; menemani nisan putih yang berjajar rapi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra Bandung. Ternyata, bukan hanya kami, puluhan orang juga memenuhi tempat itu. Benar kata adikku, Bandung sangat minim ruang publik. Tak ada tempat berkumpul, bermain dan bercengkerama. Akhirnya, pemakaman pun dipilih untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja di pemakaman memang syahdu. Duduk di tangga tanah yang menghubungkan pemakaman pahlawan Islam dan Kristen, menatap mentari yang makin redup. Angin semilir mengelus pipi, membawa berita gembira tentang dunia akhirat. Berada di pemakaman, tentu mengingat akhir dari kisah hidup. Melihat patok nisan dan diam, berkelebat bayangan maut. Benar memang, mau Islam, Kristen, Jawa, Sunda atau Quraisy, tetap ajal menjadi akhir.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kompleks TMP, ada patung burung garuda disepuh dengan cat krom emas kehitaman. Tampak berwibawa, apalagi dikerangkeng dengan rantai besi di sekitarnya. Di bawah patung itu ada dinding, menyambung ke pelataran yang tak terlalu luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutajamkan mata, melihat ke dinding yang tepat berada di kaki Garuda. Lamat-lamat terlihat dari balik kacamata minusku--selain juga karena beberapa huruf dudah mulai terkelupas dimakan waktu. "Teruskan perjuangan. Kami telah beri apa yang kami punya. Esa hilang dua terbilang," demikian tulisan tercetak dengan huruf kapital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertegun lama menatap deretan huruf itu. Apalagi ada dentuman salto di kejauhan. Ternyata ada pemakaman seseorang. Mungkin pejabat militer atau polisi, sebab kulihat barisan pengiring jenazah banyak memakai seragam TNI. Kuacuhkan mereka yang lewat, mataku kembali ke tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami telah beri yang kami punya." Pahlawan itu ternyata totalitas. Pahlawan adalah memberi dan bukan meminta. Pahlawan adalah berkorban dan bukan merajuk cengeng. Pahlawan itu sepenuhnya, memberi apa yang dipunyai. Hingga jasad wadag juga dikebumikan di tanah negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku berjalan ke sisi kanan. Ada tembok berwarna kuning. Di sana, ditulis berderet ribuan nama pahlawan yang dimakamkan di TMP Cikutra itu. Satu persatu kutatap, ada nama Jawa, Sunda, Arab dan suku lainnya. Mereka mungkin berjuang di Bandung atau Jawa Barat, dan wafat di teritori Siliwangi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku berkaca saat sampai di Blok I. Di blok itu memang ada deretan tulisan yang dimakamkan, tapi hanya "Tak Dikenal". Dan nama itu sangat banyak. Tak sempat kuhitung, tapi ada tiga puluh nama berderet rapi. Nama dengan tulisan "Tak Dikenal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa, jasad mereka di Taman Makam Pahlawan. Tapi tak ada yang tahu siapa mereka. Tak ada keluarga yang menziarahi, tak ada anak sekolah yang bertanya kepada gurunya saat diajak ke sana. Tapi, mereka pahlawan. "Tak perlu tahu siapa nama kami, yang penting sudah kami beri apa yang kami punya," mungkin begitu ucap mereka. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-905090137091268348?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/905090137091268348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/09/nisan-tanpa-nama.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/905090137091268348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/905090137091268348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/09/nisan-tanpa-nama.html' title='Nisan Tanpa Nama'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SNWgtPoM2lI/AAAAAAAAAXA/EEprHhx6OdY/s72-c/bendera.gif' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-4220629828887230299</id><published>2008-09-21T07:47:00.002+07:00</published><updated>2008-09-21T07:51:43.310+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Duhai, Dahsyat Nian Maut Ini</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TIBA&lt;/span&gt;-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak tahulah, Ayah. Orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?,” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku, ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya’,” kata Jibril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu, Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bishalati, wa maa malakat aimanukum. Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ummatii, ummatii, ummatiii. Umatku, umatku, umatku.” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-4220629828887230299?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/4220629828887230299/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/09/tiba-tiba-dari-luar-pintu-terdengar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4220629828887230299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4220629828887230299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/09/tiba-tiba-dari-luar-pintu-terdengar.html' title='Duhai, Dahsyat Nian Maut Ini'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-8176337813749254062</id><published>2008-08-28T10:54:00.004+07:00</published><updated>2008-09-20T23:10:06.632+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Nyawa, Takdir dan Kuasa Dokter</title><content type='html'>Pagi ini, Kamis (28/8), saya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hunting &lt;/span&gt;foto untuk ilustrasi kesehatan. Akhirnya, masuklah saya ke sebuah rumah bersalin. Dengan menenteng kamera digital Canon S215, saya masuk ke ruangan pemeriksaan umum. Dokter perempuan berjilbab putih itu menyambut ramah. Saya jelaskan maksud kedatangan untuk mengambil foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, masuklah pasien ibu menggendong bayinya. Saat dokter sedang sibuk bertanya tentang nama dan identitas bayi, tiba-tiba seorang ibu yang lain, menggendong anaknya menyeruak masuk ke dalam ruang. "Dokter.., dokter, anak saya dok," suaranya menggesa.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tergopoh-gopoh, dokter berdiri mengambil anak kecil itu. Saya hanya berdiri kaku di pojok ruang pemeriksaan itu, melihat dokter tergesa mengambil stetoskop, meletakkan di dada si anak. Kulihat muka dokter memucat, raut khawatir sangat nampak di sana. Dia menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ganti menatap si anak kecil itu. Wajahnya pucat sekali, sudah seputih kertas. Meski tidak seputih jilbab yang dipakaikan oleh ibunya. Hampir tak ada gerakan sedikitpun dari anak itu. Persis seperti boneka dengan mulut yang sedikit terbuka dan mata tertutup. Saya lihat, bibir nak itu pecahpecah, sedikit ada darah di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter berulang-ulang menekan dada anak itu dan memeriksa denyut nadi, tak ada gerakan.  Lalu menatap ibu si anak. Seketika, raungan keras memenuhi ruang pemeriksaan berukuran 4 x 4 meter itu. Pasien yang ada di luar terkejut, beberapa di antara mereka memaksa melongokkan kepala di pinggir pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, pagi ini saya harus menyaksikan sebuah kematian lagi. Nyawa si bayi sudah tidak tertolong. Dia mengembuskan nafas terakhir di rumah bersalin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, ayah si anak datang. Hanya bercelana jins pendek, berjaket hitam dan memakai topi. Merunduk-runduk dia melewati perawat, pelan-pelan membuka ruang pemeriksaan pasien yang telah ditutup karena tak ingin banyak orang melihat. Begitu masuk, istrinya mengambur di pelukannya, mereka berangkulan. Tangis istri makin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya berfikir adalah, ketika menunggu waktu sela dokter, saya duduk di ruang tunggu. Ibu dan anaknya yang berusia dua tahun itu, sudah saya bidik untuk jadi ilustrasi. Sudah ada dalam benak untuk meminta dia dan anaknya menjadi obyek foto, karena memang wajahnya fotogenik dan kulitnya bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, inilah takdir. Orang yang ada di rencana saya, justru diambil nyawanya pagi ini. Luar biasa kuasa takdir Tuhan atas nyawa manusia. Maka kemana lagi kau akan lari jika ajal menjemputmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, saya sengaja mendekat-dekat ke ruangan para dokter berkumpul. Mereka berdiskusi serius. Inilah bedanya dokter dengan manusia awam. Saat itu, saya sudah sangat panik, khawatir dan gagap. Tapi, para dokter itu sangat tenang, mereka diskusi mendiagnosis penyakit si anak, bahkan dengan diselingi tawa. Mereka sudah bisa menguasai ketakutan dan kekhawatiran sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya curi-curi dengar. Ternyata si anak itu sudah sesak nafas sejak masih dari rumah. Sampai di rumah bersalin, si ibu masih tenang sambil menggendong anaknya yang dikiranya tidur lelap. Saya pun melihat sendiri itu, si ibu berjilbab hitam dengan tenang mengayun anaknya di gendongan. Ternyata, dikiranya tidur itu, si anak sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter tampak berdiskusi serius. Tapi, saya tahu, mereka tidak bisa disalahkan. Mereka adalah orang-orang baik yang selalu siap menolong pasien. Hanya memang kadang takdir tak bisa berdamai dengan suntik, rontgen, gunting operasi, selang infus, atau segala salep dan obat yang disiapkan tabib modern itu. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga nyawa si anak mendapat ampunan dari Allah dan orangtuanya diselamatkan karena telah berikhtiar merawat hingga usia dua tahun dalam kebaikan. InsyaAllah...[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-8176337813749254062?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/8176337813749254062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/08/nyawa-takdir-dan-kuasa-dokter.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/8176337813749254062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/8176337813749254062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/08/nyawa-takdir-dan-kuasa-dokter.html' title='Nyawa, Takdir dan Kuasa Dokter'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-5153836013914083964</id><published>2008-08-25T11:43:00.007+07:00</published><updated>2010-09-01T15:54:11.582+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tempat Kenangan'/><title type='text'>Syahdu Biola di Suropati</title><content type='html'>Lampu merkuri warna kuning terang di tengah taman itu memendar, menerpa wajah orang-orang yang berkumpul di bawahnya. Hari sudah senja, matahari tak nampak lagi. Bahkan, sore itu rinai gerimis sedikit membasahi langit Jakarta. Tapi, limabelas orang itu tak beranjak. Mereka asyik menggesek biola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SLI7jrN1LaI/AAAAAAAAAWE/nJcBS0jJDdQ/s1600-h/Bagian_biola.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SLI7jrN1LaI/AAAAAAAAAWE/nJcBS0jJDdQ/s320/Bagian_biola.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238314800667504034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu (24/8) sore, tepatnya saat magrib, saya diajak seorang sahabat lama ke Taman Suropati Menteng, Jakarta Pusat. Sampai di taman itu, saya terpesona dengan pohon-pohon tua yang berdiri kokoh mengelilingi taman. Pohon itu tampak berdiri kokoh bagai prajurit penjaga benteng. Dahannya kokoh, daunnya rimbun, sore yang temaram makin membuat kesan angker dan wibawa barisan pohon itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa gelintir anak manusia yang duduk di bawah pohon itu, kadang harus dijatuhi beberapa helai daun tua yang rontok mengikuti takdir. Manusia-manusia itu, ada yang sendirian, berpasangan atau bergerombol. Mereka duduk terpisah dan mungkin tak saling kenal. Tapi, saya yakin mereka sepakat, senja itu, kesyahduan menyergap Taman Suropati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, di tengah taman, tepat di bawah pancaran merkuri kuning, kelompok pemain keroncong sedang beraksi. Mereka menggesek biola atau chello, memetik gitar kecil, ada juga yang membawa kendang yang tinggi mirip nekara itu—entah apa nama resminya, saya belum tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas itu terkenal dengan nama Taman Suropati Chamber. Di sana saya dikenalkan dengan Pak Batara, yang saat dia berbicara, anak-anak muda duduk berjongkok di bawahnya. Pak Batara ini—ujar kawan saya—adalah maestro biola. “Bukan hanya itu, dia itu pelukis cum pematung cum musisi. Dahsyat kan,” kata Udin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, di keremangan, Pak Batara mengurai filosofi biola. Mengungkap nilai terdalam dari alunan lembut musik klasik. “Bahwa yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memanusiakan manusia dan menjadikannya sebagai manusia sebenarnya,” begitu sepatah kalimat yang kudengar dari mulut Pak Batara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situ, saya juga dikenalkan dengan Pak Edy. Usianya agak tua, tampak dari uban yang mulai banyak menempel di kepalanya. Sore itu, dia memakai kaos lengan panjang warna hijau, sangat sederhana. Kemarin, Pak Edy menyanyikan lagu keroncong. Maaf aku tak hapal judulnya, yang jelas suaranya merdu didengar. Cengkok khas keroncong suara lelaki, cocok di telingaku—meski aku bukan musisi, hanya penikmat belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, keseharian Pak Edy sangat bersahaja. Dia adalah tukang sapu di Taman Suropati. Jadi, dia tidur di situ, membersihkan dedaunan yang rontok, mengangkat sampah yang ditebar orang tak tahu kebersihan. Sekaligus, dia menjaga tradisi dengan menjadi penyanyi di komunitas Taman Suropati Chamber. Kesahajaan itu tak menghalangi dia menjadi maestro keroncong, bersama musisi profesional di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keakraban, kesetaraan dan kehangatan dan kekeluargaan. Itu yang membuatku terpesona. Sejak saya datang lalu duduk di pinggir taman. Satu persatu menyalamiku, mereka menganggukkan kepala sambil sedikit membungkuk. Lalu menyebut namanya sembari tersenyum hangat. Kubalas dengan melakukan hal serupa. Tata krama, andhap asor, itu mungkin tercipta dari selera musik klasik atau neo-klasik yang tiap hari mereka mainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sempat dikenalkan dengan Arifin. Pemuda yang agak gondrong, rambutnya dibando ke atas. Kaosnya warna krem, celaka selutut agak kotor. Dia adalah pengamen yang biasa mangkal di taman itu. Tapi, jangan kaget. Permainan biolanya, ciamik betul. Bahkan dia tahu teori-teori dan filosofi musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biola itu dari hati, Mas. Kalau main memakai insting dan naluri. Musiknya keluar dari dalam,” ujarnya sambil meletakkan telapak tangan kanannya di dada. Lalu, Arifin memainkan lagu “Gundung-gundul Pacul” lewat biolanya. Saya terbahak-bahak mendengar alunan lagu masa kecil itu. Bisa-bisanya... Tapi, memang merdu permainan Arifin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam makin merayap. Sore itu, Taman Suropati agak gerimis. Tapi, tak juga mereka pergi. Obrolan makin dalam saat semua istirahat dan duduk santai bergerombol. Saya cukup respek, semua orang di sana bisa menjadi guru sekaligus menjadi murid. Jika ada yang berbicara, semua mendengarkan lalu menggali dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amilih manungsa kang nyata. Kang wus kawruh tindak lakune,” kata Pak Edy tiba-tiba. Kalimat Jawa yang keluar dari mulut lelaki tua asli Brebes itu berarti pilihlah orang yang sudah nyata, terbukti dan terlihat tingkah laku perbuatannya. Pak Edy bicara tentang tanggungjawab moral seorang guru. Tentunya, sore itu dalam konteks guru musik, gambar atau tari. “Kalau ada murid salah memainkan biola, bukan salah dia. Tapi salah gurunya,” lanjut Pak Edy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah pesan kereta dari Gambir, pukul 20.30 berangkat meninggalkan Jakarta. Tapi rasanya berat pergi dari Taman Suropati. Sebelum pergi saya ambil biola. Gatal rasanya tangan saya melihat mereka piawai bermain. Tangan saya memegang gagang alat gesek alias busur biola, lalu menggesekkan ke empat senar di tubuh biola pinjaman teman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak gugup, yang keluar hanya suara kreeet, kreeet. Tapi, lama-lama saya bisa menarik busur, hingga keluar bunyi gesek yang cukup baik. Itu semua berkat Arifin yang mengajarkan nada dasar do re mi. Thanks, sobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah malam. Kereta saya menunggu. Bergegas motor Revo milik Udin melaju kencang menuju Gambir. Terkenang dengan temaran merkuri yang lembut, dengan desauan angin, rinai kecil gerimis dan gesekan biola dan chello yang mengiris batin.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-5153836013914083964?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/5153836013914083964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/08/syahdu-biola-di-suropati.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/5153836013914083964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/5153836013914083964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/08/syahdu-biola-di-suropati.html' title='Syahdu Biola di Suropati'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SLI7jrN1LaI/AAAAAAAAAWE/nJcBS0jJDdQ/s72-c/Bagian_biola.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-6691732773609544158</id><published>2008-08-03T00:47:00.010+07:00</published><updated>2010-09-01T16:13:01.761+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Hakekat Pernikahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SJSiyN0EQQI/AAAAAAAAAVU/XRlnoAVOW44/s1600-h/100_1419.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SJSiyN0EQQI/AAAAAAAAAVU/XRlnoAVOW44/s320/100_1419.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229984050869190914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bagi anda yang akan atau baru saja menggenapkan setengah dien, sudah tahukah anda, sadarkah anda tentang hakekat sebuah pernikahan? Bagi yang sudah lama usia pernikahannya, ingatkah anda akan makna akad nikah yang pernah anda ucapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan dalam sebuah pelaminan. Allah menetapkan suatu ikatan suci, yaitu akad nikah. Dengan dua kalimat yang sederhana “Ijab dan Qabul” terjadilah perubahan besar, yang haram menjadi halal, yang maksiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Maka nafsu pun berubah menjadi cinta dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitu besarnya perubahan ini sehingga Al Qur’an menyebut akad nikah sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mitsaqan ghalidzha &lt;/span&gt;[perjanjian yang berat]. Hanya tiga kali kata ini disebut dalam al-Quran. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, ketika Allah membuat perjanjian dengan Nabi dan Rasul Ulul ‘Azmi [QS 33 : 7]. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, ketika Allah mengangkat Bukit Tsur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah [QS 4 : 154]. Dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, ketika Allah menyatakan hubungan pernikahan [QS 4 : 21].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akad nikah bukanlah sekedar kata-kata yang terucap dari mulut laki-laki, atau sekadar formalitas untuk mensahkan hubungan suami istri, atau bahkan adat yang menjadi kebiasaan dalam pernikahan. Akad nikah adalah sebuah perjanjian sakral yang ikatannya amat kokoh dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akad nikah telah mengikatkan suami dan istri dalam sebuah perjanjian syar’i, dimana perjanjian itu wajib dipenuhi hak-haknya. Perjanjian agung menyebabkan halalnya kehormatan diri untuk dinikmati pihak lainnya. Perjanjian kokoh yang tidak boleh diciderai dengan ucapan dan perbuatan yang menyimpang dari hakikat perjanjian itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. berfirman, "Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan dusta dan dengan (menanggung) dosa yang besar? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali padahal sebagian kamu telah bergaul dengan yang lain sebagai suami istri? Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuar? (An-Nisa’:20-21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thabrani dalam kitab tafsirnya menukilkan penjelasan Qatadah mengenai ayat di atas, “Perjanjian kuat yang diambilkan Allah untuk para wanita, rujuk kembali dengan cara yang baik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ma'ruf)&lt;/span&gt; atau menceraikan dengan cara yang bijak, dan perjanjian yang kuat itu terdapat dalam akad kaum muslimin tatkala melaksanakan akad nikah: Demi Allah kamu harus menjaganya dengan cara yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ma'ruf&lt;/span&gt; atau menceraikan (jika menceraikan) dengan cara yang bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda: Takutlah kamu sekalian kepada Allah mengenai wanita (istri) karena kamu telah mengambil mereka dengan amanat Allah (HR.Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar Jabir Al Jazairy dalam kitab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Minhajul Muslim&lt;/span&gt; menyebutkan bahwa pernikahan adalah aqad yang menghalalkan kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan untuk bersenang-senang satu dengan yang lainnya. Sehingga pernikahan bisa dipahami sebagai; akad untuk beribadah kepada Allah, akad untuk menegakkan syariat Allah, akad untuk membangun rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan juga akad untuk meninggalkan kemaksiatan, akad untuk saling mencintai karena Allah, akad untuk saling menghormati dan menghargai, akad untuk saling menerima apa adanya, akad untuk saling menguatkan keimanan, akad untuk saling membantu dan meringankan beban, akad untuk saling menasehati, akad untuk setia kepada pasangannya dalam suka dan duka, dalam kefakiran dan kekayaan, dalam sakit dan sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan berarti akad untuk meniti hari-hari dalam kebersamaan, akad untuk saling melindungi, akad untuk saling memberikan rasa aman, akad untuk saling mempercayai, akad untuk saling menutupi aib, akad untuk saling mencurahkan perasaan, akad untuk berlomba menunaikan kewajiban, akad untuk saling memaafkan kesalahan, akad untuk tidak menyimpan dendam dan kemarahan, akad untuk tidak mengungkit-ungkit kelemahan, kekurangan dan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan adalah akad untuk tidak melakukan pelanggaran, akad untuk tidak saling menyakiti hati dan perasaan, akad untuk tidak saling menyakiti badan, akad untuk lembut dalam perkataan, santun dalam pergaulan, akad untuk indah dalam penampilan, akad untuk mesra dalam mengungkapkan keinginan, akad untuk saling mengembangkan potensi diri, akad untuk adanya keterbukaan yang melegakan, akad untuk saling menumpahkan kasih sayang, akad untuk saling merindukan, akad untuk tidak adanya pemaksaan kehendak, akad untuk tidak saling membiarkan, akad untuk tidak saling meninggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan juga bermakna akad untuk menebarkan kebajikan, akad untuk mencetak generasi berkualitas, akad untuk siap menjadi bapak dan ibu bagi anak-anak, akad untuk membangun beradaban, akad untuk segala yang bernama kebaikan.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di Jalan Dakwah Aku Menikah&lt;/span&gt;, karya Cahyadi Takariawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pernak-pernik Rumah Tangga Islami&lt;/span&gt;, karya Cahyadi Takariawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-6691732773609544158?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/6691732773609544158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/08/hakekat-pernikahan.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6691732773609544158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6691732773609544158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/08/hakekat-pernikahan.html' title='Hakekat Pernikahan'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SJSiyN0EQQI/AAAAAAAAAVU/XRlnoAVOW44/s72-c/100_1419.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-826855616788060622</id><published>2008-07-29T00:06:00.006+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:26.402+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Dengarkan Kata-kataku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SI3-_vzGo8I/AAAAAAAAAUk/KMzCFAV9XQQ/s1600-h/Rembulan.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SI3-_vzGo8I/AAAAAAAAAUk/KMzCFAV9XQQ/s200/Rembulan.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228115113563038658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secepat mungkin engkau harus berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menghabiskan nafas di luar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan dunia sering membuat lena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang dapat mencegah selain engkau sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terjerumus makin jauh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebaiknya engkau berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secepat mungkin engkau harus pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menghabiskan mimpi yang hilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan hidup terkadang menyakitkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang mampu merubah selain engkau sendiri&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum senja merebut mentari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebaiknya engkau berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secepat mungkin engkau harus padamkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bara api panas membakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemerlap cahaya akan segera sirna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersama turunnya senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkanlah dengan hatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan engkau dengar dengan jiwa buta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkanlah kata-kataku jangan engkau melihat siapa aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkanlah kata-kataku jangan engkau meliahat siapa aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkanlah dengan hatimu.[*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, Ebiet menyadarkan kita. Pilihan hidup itu harus berpihak pada nurani. Labirin hati ini kita sendiri yang tahu kemana arahnya. Orang lain tak ada yang mampu membaca siapa dan bagaimana kita. Kembali pada nurani itu petunjuk yang paling utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum senja merebut mentari, sebaiknya engkau berhenti." Apakah pernah dalam hidup, engkau merasa berbuat dosa dan pengkhianatan? Jika iya, segeralah berhenti. Sebelum senja merebut mentari. Hanya ada gulita tanpa pelita. Pelihara mentari dalam nurani. Ikhlas, sabar, doa dan ikhtiar. Semoga Allah memberi petunjuk bagi mereka yang berserah diri.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-826855616788060622?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/826855616788060622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/07/dengarkan-kata-kataku.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/826855616788060622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/826855616788060622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/07/dengarkan-kata-kataku.html' title='Dengarkan Kata-kataku'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SI3-_vzGo8I/AAAAAAAAAUk/KMzCFAV9XQQ/s72-c/Rembulan.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-3643329683626026178</id><published>2008-07-29T00:02:00.004+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:26.530+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Cita-cita Kecil si Anak Desa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SI3_nd6nLVI/AAAAAAAAAUs/Gf6tcJqooPU/s1600-h/sawah.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SI3_nd6nLVI/AAAAAAAAAUs/Gf6tcJqooPU/s200/sawah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228115795957460306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil&lt;br /&gt;Tinggal di rumah desa dengan sawah di sekelilingku&lt;br /&gt;Luas kebunku sehalaman&lt;br /&gt;akan kutanami buah dan sayuran&lt;br /&gt;Dan di kandang belakang rumah kupelihara bermacam-macam peliharaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pasti akan hidup tenang&lt;br /&gt;jauh dari bising kota yang kering dan kejam&lt;br /&gt;Aku akan turun berkebun mengerjakan sawah ladangku sendiri&lt;br /&gt;dan menuai padi yang kuning bernas dengan istri dan anakku&lt;br /&gt;Memang cita-citaku sederhana, sebab aku terlahir dari desa&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Istriku harus cantik lincah dan gesit&lt;br /&gt;tapi dia harus cerdik dan pintar&lt;br /&gt;Siapa tahu nanti aku akan terpilih jadi kepala desa&lt;br /&gt;kan kubangkitkan semangat rakyatku dan kubangun desaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desaku pun pasti mengharap aku pulang&lt;br /&gt;Aku pun rindu membasahi bumi dengan keringatku&lt;br /&gt;Tapi semua itu hanyalah tergantung padanya jua&lt;br /&gt;Tapi aku merasa bangga setidak-tidaknya ku punya cita[*]&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Demikian Ebiet G Ade membuat lagu. Judulnya juga sederhana, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cita-cita Kecil si Anak Desa&lt;/span&gt;. Isinya dan substansinya tak sesederhana judulnya. Visi besar terkandung di dalamnya. Bukan hanya cita kecil, tapi mimpi besar. Visi menjadi mandiri dan independen. Lepas dari ketergantungan penguasa modal. Menjadi petani yang makan dari hasil tanamannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang petani pun tak lepas dari kuasa modal. Coba lihat siapa yang memproduksi bibit padi? Korporasi agribisnis juga! Maka, petani harus diajari, seperti gambaran film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bisa Dewek&lt;/span&gt; di Indramayu, atau seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lelakone Menur&lt;/span&gt; di Wonosari Gunungkidul. Dua film itu menceritakan petani yang bisa menyatukan kekuatan dan menggali apa yang mereka miliki. Akhirnya, varietas-varietas baru lahir dari kreativitas petani sendiri. Tak perlu tergantung pabrik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Ebiet. Dia juga bermimpi memimpin komunitas desa. Sebuah komunitas alami yang masalah hidupnya sederhana. Walau sebenarnya kompleks juga. Tapi, Ebiet punya visi kepemimpinan. Menggelorakan semangat kemandirian warga. Membuat mereka berfikir besar. Punya mimpi yang sama dengan Ebiet?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-3643329683626026178?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/3643329683626026178/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/07/cita-cita-kecil-si-anak-desa_29.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3643329683626026178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3643329683626026178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/07/cita-cita-kecil-si-anak-desa_29.html' title='Cita-cita Kecil si Anak Desa'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SI3_nd6nLVI/AAAAAAAAAUs/Gf6tcJqooPU/s72-c/sawah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-8941026599436628575</id><published>2008-06-03T23:34:00.008+07:00</published><updated>2010-09-01T15:55:00.622+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bayi Itu'/><title type='text'>Dia Terlelap di Rumah Baru</title><content type='html'>Inilah kisah perjalanan seorang bayi yang dibenci oleh ibu kandungnya. Buah hati yang ditelantarkan pemiliknya, setelah dikandung sembilan bulan bersakit-sakit. Kisah tentang bayi telantar di Rumah Sakit Ansyari Saleh. Setelah hampir empat bulan menginap di rumah sakit milik pemerintah Kalsel itu, Senin (2/6) kemarin, dia diserahkan pada orangtua asuhnya. &lt;a href="http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/34457/448/"&gt;Ini kisahnya.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SEVzD7sZkmI/AAAAAAAAAUE/My1H28XqVkM/s1600-h/Helmina.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SEVzD7sZkmI/AAAAAAAAAUE/My1H28XqVkM/s320/Helmina.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207695055524565602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;SEDIH &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Perawat Helmina menangis haru saat perpisahan dengan bayi Ansyari Saleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MATA &lt;/span&gt;Helmina memerah. Tangannya memeluk erat tubuh bayi Ansyari Saleh. Tak henti-henti, bibirnya mencium wajah dan leher bayi laki-laki itu. Akhirnya tangis pun pecah. Seluruh perawat di Ruang Bayi Merah Delima RS Ansyari Saleh Banjarmasin larut dalam tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sedih sekaligus senang. Sedih karena akan ditinggal anak yang berbulan-bulan kami rawat. Tapi juga senang, akhirnya bayi ini punya rumah tempat dia pulang. Saya janji akan sering menengoknya,” kata Kepala Ruang Bayi Merah Delima tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang telah tinggal orangtuanya empat bulan lalu, dijemput oleh orangtua asuhnya, Senin (2/6) pagi, sesuai janji Dinas Kesejahteraan Sosial Kalsel. Pasangan Hamdani-Enik Maryati menerima putera mereka dalam acara serah di aula lantai dua RS Ansyari Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh pihak yang tergabung dalam Tim PIPA (Pertimbangan Perijinan Pengangkatan Anak), hadir di sana. Selain itu, rombongan keluarga dan tetangga Hamdani juga tampak memenuhi tempat duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sambutannya, Direktur RS Ansyari Saleh dr Sriyanto mengingatkan pasutri Hamdani-Enik agar merawat bayi itu dengan baik layaknya anak sendiri. “Mengenai nama panggilan, saya hanya mengingatkan, Pak Wagub pernah titip nama Muhammad. Selanjutnya terserah orangtua asuh,” ujar Sriyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dilakukan pembacaan surat keputusan pengasuhan oleh Sekretaris Tim PIPA Sarbaini yang secara resmi memberi payung hukum bayi itu. Pengasuhan berjalan enam bulan, yang akan dievaluasi lagi. Jika baik pola pengasuhannya, akan ditetapkan menjadi orangtua angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pembacaan SK, bayi Ansyari dibopong bergantian. Pertama oleh perawat Helmina, diberikan kepada direktur RS dr Sriyanto, lalu digendong Kadinkesos Kalsel Bachriar Hanafi. Setelah itu, diberikan kepada Enik Maryati yang langsung menerima dengan tangisan haru. Tubuh mungil itu dipeluknya erat-erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SEVzuP7MuiI/AAAAAAAAAUM/cUg7dBQWK_E/s1600-h/utama20080603.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SEVzuP7MuiI/AAAAAAAAAUM/cUg7dBQWK_E/s320/utama20080603.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207695782509853218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;HARU &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Pasangan Hamdani dan Enik Maryati terharu menerima putra mereka, Muhammad Anugerah Ansyari Saleh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Acara serah terima itu berlangsung singkat. Ditutup dengan pembacaan doa bersama untuk bayi mungil itu. Hamdani langsung memboyong anak lelakinya yang baru itu ke rumah mereka di Jl Tepian Kali Barito Rt 25 Kuin Cerucuk Banjarmasin Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bersyukur diberi amanah ini. Kami akan merawat sebagaimana anak kandung kami. Terutama masalah pendidikannya,” kata Hamdani seusai penyerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di kemudian hari ibu kandung bayi itu datang untuk meminta, Hamdani siap menghadapi secara hukum. “Tidak semudah itu dia mengambil. Dia akan berhadapan dengan aparat dulu. Setelah itu proses hukum,” tambah lelaki yang juga staf Humas PT Arutmin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, saat rombongan Hamdani hendak pulang, suasana di pintu gerbang rumah sakit sangat ramai. Pasien yang berobat ingin tahu wajah bayi yang ditelantarkan itu. Mereka berebut melongok ke mobil yang ditumpangi Enik Maryati dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga perawat tidak rela melepas begitu saja bayi Ansyari Saleh. Helmina dan dua perawat lain, ikut ke rumah Hamdani di Kuin Cerucuk. “Saya nggak mau kehilangan jejak. Nanti kalau kangen, susah nyarinya kalau nggak tahu rumahnya,” kata Helmina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga dan keluarga besar Hamdani, sudah memenuhi rumah mungil bercat hijau muda di Jl Tepian Kali Barito 2 itu. Para bapak dan ibu itu bergegas bangkit, ketika Enik berjalan masuk rumah dengan  menggendong si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalawat lalu bergema dipimpin Kai Anggut, sesepuh setempat. Upacara tapung tawar segera dilakukan. Sesepuh kampung itu memercikkan air doa keberkahan ke bagian kepala dan tubuh si Muhammad Ansyari Saleh, diiringi shalawat dari para tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ada acara pesta kecil sebagai bentuk syukur. “Yah, kami masak-masak sedikit buat selamatan. Sekaligus untuk menyambut kedatangan warga baru di keluarga kami,” ujar Enik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramaian itu berlangsung sampai maghrib. Para tamu, kebanyakan para ibu, mencandai si kecil. Mereka gemas dengan kemontokan tubuh bayi lelaki itu. Apalagi, bayi itu jarang menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat magrib, berangsur-angsur para tamu pulang. Si kecil pun mulai terlelap di rumah barunya. Ditidurkan ibu asuh yang penuh kasih sayang.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-8941026599436628575?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/8941026599436628575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/06/dia-terlelap-di-rumah-baru.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/8941026599436628575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/8941026599436628575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/06/dia-terlelap-di-rumah-baru.html' title='Dia Terlelap di Rumah Baru'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SEVzD7sZkmI/AAAAAAAAAUE/My1H28XqVkM/s72-c/Helmina.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-2862449972010971632</id><published>2008-06-03T23:16:00.009+07:00</published><updated>2010-09-01T15:55:25.236+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bayi Itu'/><title type='text'>Jalan Panjang Bayi Telantar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SEVxgr-7veI/AAAAAAAAAT8/HKBsUceGJCc/s1600-h/Kadinkesos.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SEVxgr-7veI/AAAAAAAAAT8/HKBsUceGJCc/s320/Kadinkesos.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207693350500285922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;SAYANG &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;- Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) Kalsel, Bachriar Hanafi menggendong bayi telantar Ansyari Saleh setelah acara serah terima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 4 Februari 2008&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pukul 21.45 Wita&lt;/span&gt;, seorang ibu yang sedang hamil tua  datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Ansyari Saleh Banjarmasin. Dia mengaku bernama Novia. Usianya masih muda, ciri fisiknya menurut kesaksian para perawat: berkulit putih, tinggi sekitar 160 sentimeter, berwajah oval, rambut lurus agak bersemir merah di tepinya, mata sipit dan kuku terawat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pukul 22.00 Wita,&lt;/span&gt; Novia dimasukkan ke Ruang Bersalin Mutiara. Di sana dia menunggu detik kelahiran jabang bayi.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selasa, 5 Februari 2008.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pukul 04.50 Wita&lt;/span&gt; (berdasar catatan medis), jabang bayi lahir. Sejak itu sampai Novia pergi, bayi itu sama sekali tak disentuh ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rabu, 6 Februari 2008&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pukul 19.00 Wita&lt;/span&gt;, perawat di ruang bersalin terkejut, Novia sudah raib dari ruangannya. Tak ada jejak yang ditinggalkannya, kecuali tanda tanya yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rabu, 13 Februari 2008&lt;/span&gt;. Saya menelusuri alamat yang ditinggalkan Novia. Dia mengaku bersuami Rudi dan tinggal di Jalan Agatis Gang Indah No 18 Rt 29 Anjir Barito Kuala. Perjalanan kurang lebih 40 kilometer ke luar Banjarmasin. Sampai malam mencari, saya tak menemukan alamat itu. Penduduk setempat membenarkan, alamat itu fiktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kamis, 14 Februari 2008&lt;/span&gt;. Kepala Ruang Bayi, Helmina, menyatakan sudah ada 30 pasangan suami istri (pasutri) yang mendaftar ingin mengadopsi bayi itu. “Hampir tiap hari ada pasutri yang menengok. Ada yang menangis di balik kaca,” ujar Helmina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 18 Februari 2008&lt;/span&gt; sore hari. Ketua Komisi I DPRD Kalsel Ibnu Sina dan anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPRD Kalsel Rudi Anwar Luthfi, mengunjungi bayi itu. Mereka berkomitmen menanggung biaya pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selasa, 20 Februari 2008&lt;/span&gt;. Saat saya menengok, gelangnya belum dilepas. Sejak lahir masih di sana. Bayi itu mulai sakit. Sampai tiga minggu kemudian, media massa mulai ramai muncul polemik tentang pola adopsi bayi telantar. Akademisi, LSM anak dan instansi resmi pemerintah, berebut mewacanakan pendapatnya. Berbagai peraturan pemerintah dan undang-undang dikeluarkan.&lt;br /&gt;Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kalsel Yurliani menegaskan bayi itu sebagai anak negara. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kalsel Jumberi menilai Dinkesos lamban menangani masalah adopsi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 25 Februari 2008&lt;/span&gt;. Berat badan bayi sudah 4,4 kilogram. Calon pengadopsinya ada 45 orang. Wagub Kalsel Rosehan Noor Bachri sempat menitip pesan nama "Muhammad" saat bicara dalam forum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;coffee morning&lt;/span&gt; di gubernuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selasa, 26 Februari 2008&lt;/span&gt;. KPAI Kalsel mengunjungi bayi itu di rumah sakit. Sekaligus, mereka menawarkan jasa menjadi fasilitator seleksi orangtua asuh bayi itu. “Saya jengkel dengan kelambanan Dinkesos,” ujar Jumberi. Sementara, rumah sakit kebingungan tentang status hukum bayi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 3 Maret 2008 pagi.&lt;/span&gt; RS Ansyari Saleh menggelar rapat dengan lima lembaga untuk menentukan nasib bayi itu. Mereka yang diundang adalah Dinkesos, KPAI, Pengadilan Negeri Banjarmasin, Polsekta Banjarmasin Utara dan Biro Hukum Pemprov. Selama tiga kemudian, polemik terus terjadi. KPAI menunjukkan PP No 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, sebagai dasar hukum paling kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selasa, 26 Maret 2008.&lt;/span&gt; Tim PIPA (Pertimbangan Perijinan Pengangkatan Anak) resmi dibentuk oleh Dinkesos. Tim ini bertugas menyeleksi, memutuskan dan mengevaluasi orangtua asuh bayi Ansyari Saleh. Tim itu dibagi menjadi tiga, yaitu tim teknis, tim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;visit home&lt;/span&gt; dan tim evaluasi. Sejak itu, pendaftaran bakal pengadopsi dibuka. Ada 35 pasutri mengambil formulir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kamis, 30 April 2008&lt;/span&gt;. Bayi itu masih di ruang bayi. Sekarang nama resminya Muhammad Anugerah Ansyari Saleh, para perawat di sana yang men-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tasmiyah&lt;/span&gt;-i. Bobotnya sudah tujuh kilogram. Rumah sakit mengaku mengeluarkan biaya Rp 1,5 juta per bulan untuk makanan, pakaian dan segala keperluan bayi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 5 Mei 2008&lt;/span&gt;. Pendaftaran bakal pengadopsi ditutup. Tim PIPA bekerja lagi, mereka menyeleksi kelengkapan adminsitrasi pasutri-pasutri yang mendaftar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jumat, 9 Mei 2008&lt;/span&gt;. Ternyata, dari 35 pasutri yang mendaftar, hanya tiga yang lengkap seluruh surat-suratnya. Mereka adalah pasutri Hamdani-Enik Maryati, Abas Susetyo-Nur Isna dan Karsito-Lili Haryati. Nama terakhir ini, di tengah jalan mengundurkan diri karena alasan pekerjaan yang tidak menetap di Kalsel. Hamdani beralamat di Jl Tepian Kali Barito 2 Kuin Cerucuk Banjarmasin Barat, sementara Abas berasal dari Kutai Barat, Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;Sabtu, 10 Mei 2008. Tim PIPA melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;visite home&lt;/span&gt; (kunjungan rumah) untuk melakukan verifikasi vaktual. “Semacam studi kelayakan tinggal bagi bayi itu. Sekaligus sedikit &lt;span style="font-style: italic;"&gt;interview &lt;/span&gt;tentang pola kehidupan dan cara pengasuhan,” ujar Jumberi, anggota Tim PIPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 19 Mei 2008&lt;/span&gt; pagi. Tim PIPA yang beranggotakan Polda, Kanwil Hukum dan HAM, Dinkesos, Depag, Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, KPAI dan LPA, menggelar rapat tertutup di Aula Peradaban Dinkesos Kalsel. Mereka memutuskan pasutri yang berhak mengasuh bayi Ansyari Saleh, yaitu pasutri Hamdani-Enik Maryati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Senin, 2 Juni 2008&lt;/span&gt;, bayi Ansyari saleh mengakhiri perjalanan panjang penantian. Dia diserahkan pada Enik, ibu berdarah Jawa asli yang penuh kasih sayang, dan Hamdani, lelaki Banjar yang pintar main pencak silat. Semoga bahagia hidupmu, Nak!&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; []&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-2862449972010971632?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/2862449972010971632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/06/jalan-panjang-bayi-telantar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2862449972010971632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2862449972010971632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/06/jalan-panjang-bayi-telantar.html' title='Jalan Panjang Bayi Telantar'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SEVxgr-7veI/AAAAAAAAAT8/HKBsUceGJCc/s72-c/Kadinkesos.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-7176914243556753085</id><published>2008-06-01T16:42:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:27.195+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jepretan'/><title type='text'>Berjumpa Raihan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SEJw1Lf2MjI/AAAAAAAAATs/pHTuuWQJE_Q/s1600-h/Rai.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SEJw1Lf2MjI/AAAAAAAAATs/pHTuuWQJE_Q/s400/Rai.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5206848178115457586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;KESEMPATAN LANGKA--Sabtu (31/5) malam, &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;kelompok nasyid &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raihan &lt;/span&gt;tampil di Gedung Sultan Suriansyah Kayutangi Banjarmasin. Che Amran, juru bicara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raihan&lt;/span&gt;, berhasil kami gaet untuk diwawancarai. Kesempatan langka berjumpa penyenandung album &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Demi Masa&lt;/span&gt; ini. Ternyata, Che Amran orang yang sangat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;low profile&lt;/span&gt;. Tutur katanya lembut dan berisi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-7176914243556753085?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/7176914243556753085/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/06/berjumpa-raihan.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/7176914243556753085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/7176914243556753085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/06/berjumpa-raihan.html' title='Berjumpa Raihan'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SEJw1Lf2MjI/AAAAAAAAATs/pHTuuWQJE_Q/s72-c/Rai.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-2936984327279170261</id><published>2008-05-25T20:15:00.004+07:00</published><updated>2010-09-01T15:57:51.726+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Usup Tak Pernah Dapat BLT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SDlnZbf2MiI/AAAAAAAAATk/o8SS_W1Pcog/s1600-h/it_costs_more_to_be_poor00.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SDlnZbf2MiI/AAAAAAAAATk/o8SS_W1Pcog/s200/it_costs_more_to_be_poor00.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204304530979041826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namanya Usup (55). Bukan hanya namanya yang pendek, rejekinya pun sampai saat ini masih pendek. Tak pernah ada bantuan pemerintah bernama BLT mampir di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu (25/5) siang, saat saya bertamu ke rumahnya, dia bersila di lantai rumahnya yang seluruhnya dari kayu. Warna biru cat rumah itu sudah kusam.  Berbeda dengan rumah di kanan kirinya yang seluruhnya terbuat dari tembok semen dan bercat oranye cerah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, perangkat kerjanya berhamburan. Ember hitam berisi air, besi penjepit, satu kotak berisi perangkat reparasi motor, dan ban bekas yang dipotong kecil-kecil. Usup menjalani hidup dengan matapencaharian sebagai tukang tambal ban. Di beranda rumahnya yang hanya seluas 1,5 x 4 itu, dia menerima orderan tambal ban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kadang jika kosong, saya mengojek juga. Hanya di depan sini saja,” ujar Usup sambil menunjuk sebuah sepeda motor Honda tua. Plat nomornya bahkan sudah kadaluwarsa. Usup mengaku tak ada biaya untuk perpanjangan surat-surat kendaraan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu hari, kadang ada tiga orang yang menambalkan ban motor mereka yang bocor. Satu kali tambal biayanya Rp 5.000. Tapi, kadang dua hari kosong tak ada orang yang menambal. Pendapatnnya, Rp 15.000 sehari. Itu pun belum tentu didapatnya.  “Yah, namanya orang nambal itu kan musibah buat mereka. Masak kita berdoa semoga ban motor orang tertusuk paku,” senyum kecutnya mengembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tinggal di rumah reot. Rumah di Kelurahan Sei Jingah Rt 11A Kecamatan Banjarmasin Utara itu, sudah ditempatinya selama 12 tahun itu, Usup hidup bersama istri dan anak perempuannya yang terakhir. “Saya punya lima anak, empat sudah berpisah. Selain itu, ada mertua saya yang hidup bersama saya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mertua Usup tergolek di lantai beralas tilam kusut. Selimut tipis membungkus tubuh renta itu. “Mamah kena stroke. Sudah sepuluh tahun ini tak bisa bangun. Untuk biaya pengobatan saya tak bisa berbuat apa-apa. Biaya hidup saja susah,” ujar Usup didampingi Asmah, istrinya (48). Mata Usup memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Usup sendiri tak lagi kuat. Sejak tiga tahun yang lalu, dia berhenti dari pekerjaan tetapnya sebagai tukang jaga malam. Karena hampir tak pernah melihat cahaya matahari, dan selalu melek di tengah malam, pandangannya kini kabur. Dia mengalami gangguan penglihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tubuh yang tidak terlalu sehat, ibu mertua yang sakit, sementara istri tidak bekerja, membuat beban Usup cukup berat. Dia juga sama sekali tidak punya sawah atau kebun. Beras dan kebutuhan makan, harus dibeli dengan uang. Tapi, itu pun tak dipunyainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pendapatan tidak cukup, Mas. Tetangga sebelah saya ini cukup baik. Dia sering kasih kami beras dengan cuma-cuma, kadang memberi uang Rp 10 ribu buat belanja. Untung juga ada anak saya yang menyisihkan sedikit-sedikit buat ayahnya ini,” ujar Usup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah himpitan nasib itu, Usup hanya bisa mengelus dada dan memandang dengan nanar, setiap ada tetangganya yang mengambil uang Bantuan Langsung Tunai sebesar Rp 300 ribu. Pasalnya, sejak tahun 2005 hingga 2008 ini, keluarga Usup tidak termasuk penerima uang kompensasi kenaikan harga BBM itu. Padahal, keadaan keluarga Usup sudah lebih dari cukup untuk dikategorikan sebagai keluarga miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Rt 11A, Bambang AM, yang menaungi kediaman Usup menjelaskan hal ini. “Begini, penerima 2008 ini berasal dari data penerima 2005 lalu. Sementara, BLT yang pertama pada 2005 itu, saya sebagai RT tidak dilibatkan dalam pendataan. Kemarin langsung ada dari Badan Pusat Statistik (BPS),” ujar Bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rt 11A Kelurahan Sei Jingah didiami 85 kepala keluarga. Sejak 2005, hanya 16 KK yang mendapat BLT. “Saat itu, ada mahasiswa mengaku sebagai suruhan BPS untuk mendata keluarga miskin di Rt saya. Lalu, mereka mendata, melaporkan ke BPS, sampai membagi kartu BLT. Semua itu, tanpa melibatkan saya,” tampik Bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Ketua Rt tudak bisa disalahkan. Menurut Bambang yang juga guru SD 4 Sei Jingah ini, kesalahan pertama sejak mekanisme pendataan oleh BPS. Mereka kebanyakan memakai asumsi saja, tanpa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;crosscheck &lt;/span&gt;dengan Rt. Akibatnya, penerima 2008 sama saja orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, kasus salah sasaran cukup banyak terjadi. Tapi, jika mekanisme yang disalahkan, lalu bagaimana penyelesaian UsupUsup yang lain. Dengan uang Rp 300 ribu itu—sebetulnya—banyak hal yang bisa mereka lakukan. “Kami hanya bisa sabar saja, Mas,” kata Usup mengelus dadanya yang makin tipis itu.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-2936984327279170261?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/2936984327279170261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/05/usup-tak-pernah-dapat-blt.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2936984327279170261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2936984327279170261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/05/usup-tak-pernah-dapat-blt.html' title='Usup Tak Pernah Dapat BLT'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SDlnZbf2MiI/AAAAAAAAATk/o8SS_W1Pcog/s72-c/it_costs_more_to_be_poor00.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-1963063202242642566</id><published>2008-05-22T09:32:00.007+07:00</published><updated>2008-06-11T23:16:37.062+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Katanya, Lelah Jadi Wartawan...</title><content type='html'>Hampir lima tahun tak bersua, akhirnya saya bertemu dengan seorang kawan lama di kereta api saat perjalanan pulang dari Purworejo-Jakarta. Nostalgia pun mewarnai pertemuan kami saat itu. Saling mengenalkan anak-istri kami, tukar kartu nama, basa-basi, dll. Di tengah perbincangan tiba2 sebuah ucapan mengejutkan terlontar dari mulut kawan tsb. "Saya sudah lelah jadi wartawan, Wan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Gila!," pikir saya dalam hati. Ada apa gerangan dengan kawan saya ini? Padahal dia sudah eksis di dunia tulis menulis sejak awal tahun 90-an. Saya pun tahu betul semangat kawan ini, dan bagaimana dia mampu menjelajah dari desk yang satu ke desk lainnya, semua dilahapnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Multi tasking&lt;/span&gt; banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan semakin memanas hingga akhirnya kami memutuskan melanjutkan obrolan di sambungan gerbong kereta. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Spot &lt;/span&gt;paling ciamik untuk melanjutkan obrolan berpadu dengan berbatang-batang rokok. Intinya, profesi kuli tinta yang dulu dibanggakannya kini tak lagi memberikan kepuasan batiniah-nya (kalau materil memang sudah tidak berharap). Banyak hal yang diungkapkannya sehingga membuat saya berpikir keras. Ceritanya pun beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira2 seperti ini penggalannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika saya di desk ekonomi, saya harus tunduk dengan kebijakan redaksi karena salah satu komisaris duduk di bangku empuk DPR. Saya harus menyulap artikel demi mulusnya kebijakan konco2 si komisaris itu. Dan bodohnya hal itu saya lakukan demi susu dan sembako untuk keluarga. Berdosa saya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya juga pernah di desk politik. Orangnya berengsek semua! hampir tiap artikel adalah "pesanan" biar proyek jalan terus. Tapi namanya kuli ya mau nggak mau harus dijalani. Padahal waktu itu saya sudah jadi redaktur. Tetap nggak berkutik!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika pindah di desk hiburan, sama saja! jilat sana-sini! Harus kreatif bikin isu/gosip murahan demi menaikan pamor artis dungu yang notabene pernah "dilahap" oleh bos-bos di lingkaran setan media saya,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernah juga pegang desk Polri-TNI &amp;amp; Pengadilan. Parah banget! Artikelnya mirip rilis dari Humas. Maniiiis bangeeeet... Maklum, petinggi di instansi tsb juga kawan baik dari bos2 di media. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Asu tenan!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika di desk teknologi, lebih parah! saya sering berantem sama orang marketing karena harus bikin artikel "melacur" demi menarik klien supaya pasang iklan. Harus me-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;review &lt;/span&gt;produk bobrok disulap jadi produk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hi-tech &lt;/span&gt;non cacat. Artikel tengik berkedok "advertorial" itu pun berlumur dosa, dan saya salah satu yang terlibat di dalamnya. Bedebah!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hampir semua desk kebentur dengan masalah yang sama. Mulai dari desk olahraga, metro wilayah, korespondesi, kesehatan, properti, dll. Semuanya dipasung!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hampir tiap artikel yang saya garap hingga saat ini adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bad news&lt;/span&gt;. Tapi di media, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bad news is a good news!&lt;/span&gt; Itu sudah hukum alam. Nyawa manusia yang melayang, tragedi kemanusiaan, pembunuhan, pembantaian, konflik berdarah, fitnah, bentrok demonstrasi, dll adalah santapan utama yang jadi prioritas! Kenapa bukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;good news&lt;/span&gt; dalam artian sebenarnya yang jadi prioritas? Sulit memang, media kita ini belum dewasa dan makin kapitalis! Kalau mau idealis berhenti aja jadi wartawan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan terakhirnya itu pun saya tanyakan balik kepada kawan tsb. "Lho, kenapa mas sekarang masih jadi wartawan?" tanya saya. "Saya jadi wartawan seperti mati suri, mau ditinggalkan tapi sudah terlanjur jatuh cinta. Plus bulanannya (gaji) lumayan untuk tambah dapur biar ngebul. Tapi saya tidak bergantung penuh kepada profesi ini. Beruntung istri saya kerja di perusahaan swasta, dan punya usaha sendiri walaupun masih kelas kaki lima," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Astaga! Pertemuan dengan kawan tersebut benar2 membuka mata saya yang  notabene masih hijau di profesi ini. Saya memang baru sekitar enam tahun lebih menggeluti profesi ini. Fenomena yang dialami kawan tsb sama persis dengan apa yang dialami saya dan pada wartawan pada umumnya. Tapi rasa sensitif saya tak pernah sampai ke situ. Kadang iya, kadang tidak. Lebih banyak tidak-nya. Boro2 mikirin sensitif, mikirin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;deadline &lt;/span&gt;saja sudah pusing! Mungkinkah saya akan berakhir seperti dirinya? Apakah saya harus siap2 banting setir? Ah, namanya juga godaan, bisa datang dari kanan-kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kawan, jika engkau membaca postingan ini. Aku menyesal bertemu denganmu! Menyesal kenapa baru sekarang kita bertemu. Aku senangbertemu denganmu! Senang karena cerita pengalamanmu sedikit menyuapi otakku yang sudah lama lupa ditelan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;deadline&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Cerita di atas, saya dapat dari mas Iwan Suci Jatmiko [&lt;a href="http://iwansucijatmiko.blogspot.com/"&gt;www.iwansucijatmiko.blogspot.com&lt;/a&gt;], entah imajiner atau benar-benar pengalamannya sendiri. Bukan maksud menyindir siapa-siapa. Tapi, bagi yang tergelitik hatinya, ya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;monggo &lt;/span&gt;dibatin sendiri. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ngukur awak dewe&lt;/span&gt;. Saya muat di sini buat introspeksi banyak orang, utamanya mereka yang mengaku diri sebagai jurnalis. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nuwun&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-1963063202242642566?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/1963063202242642566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/05/katanya-lelah-jadi-wartawan.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/1963063202242642566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/1963063202242642566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/05/katanya-lelah-jadi-wartawan.html' title='Katanya, Lelah Jadi Wartawan...'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-1991622433351751768</id><published>2008-05-11T12:13:00.006+07:00</published><updated>2010-09-01T16:01:35.944+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Bentuk Dasar Penulisan Sejarah Islam</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Makalah ini saya susun ketika masih kuliah di Jurusan Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada tahun 2004. Terimakasih saya sampaikan kepada dosen pengampu mata kuliah Historiografi Islam, ibu Herawati, atas pelajarannya tentang sejarah dan kehidupan umat. Jubah besar warna gelap, dipadu jilbab lebar menutup seluruh badan yang sering ibu kenakan, masih lekat di benak saya.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEJARAH&lt;/span&gt; ditulis un&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;tuk mengingat masa lalu, mengambil peringatan dan &lt;i style=""&gt;ibrah&lt;/i&gt; yang dapat disingkap melalui pembacaan komprehensif. Dalam &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;lintasan waktu, Islam sebagai sebuah entitas religius dalam komunitas insani telah meninggalkan warisan panjang berupa historiografi.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Islam sangat menghargai sejarah, bahkan ayat-ayat al-Quran yang merupakan kitab suci dan komponen introduksi fundamental bagi d&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;oktrin agama, mayoritas berisi kisah-kisah masa lalu, baik tentang para nabi, umat-umat beriman, kaum yang ingkar, ba&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;hkan penentang agama macam Fir’aun, Hamman dan Jaluth. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Wacana keilmuan sejarah ini kemudian berkembang pesat pasca kenabian &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;dan menyebarnya Islam ke negeri &lt;i style=""&gt;‘Ajam&lt;/i&gt; (non-Arab). Ditambah lagi ketika Islam bersentuhan dengan budaya intelektual dari warisan Yunani, Byzantium&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; dan Persia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Saat Islam lahir dan bangkit, terdapat empat peradaban yang eksis saat itu, yaitu Byzantium di Eropa Timur dengan ag&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;ama Cristio-Hellenistic, Persia di lembah Mesopotamia yang menganut Zoroaster (Maju&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;si), India di Asia Tengah dengan Hiduisme-nya dan negeri Tiongkok di Asia Timur dengan filsafat Confusius. Gesekan-gesekan intelektual ini merupakan s&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;alah satu pemantik berkembangnya peradaban Islam di kemudian hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Dalam &lt;i style=""&gt;arasy&lt;/i&gt; historiografi, Isla&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;m mendapatkan kontribusi berarti dari warisan kuno budaya Arab berupa &lt;i style=""&gt;al-Anshab&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;al-Ayyam&lt;/i&gt;. Dua bentuk pokok ini merupakan instrumen&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; pewarisan turun-temurun cerita tentang kepahlawanan seseorang, kemenangan di medan perang serta tuturan dan sedikit catatan tentang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; silsilah keluarga.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Secara umum, terdapat masalah yang dihadapi oleh historiografi masa awal Islam dan hingga kini belum tuntas. Antara legenda-legenda d&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;an tradisi-tradisi populer Arab masa pra-Islam dengan sejarah yang relatif ilmiah dan eksak yang muncul pada abad kedua hijriyah&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;, masih terbentang satu jurang yang belum dapat dijelaskan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Kemungkinan sebab terjadinya hal ini, ada dua pendapat&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;. &lt;i style=""&gt;Pertama&lt;/i&gt;, para penulis pada masa itu mengikuti pola penulisan Buku Raja-raja &lt;i style=""&gt;(Khuday-Nama)&lt;/i&gt;, yang ditulis oleh orang Persia. &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, kemungkinan hal in&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;i muncul dari gabungan beberapa arus komposisi sejarah dan &lt;i style=""&gt;quasi&lt;/i&gt; sejarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Karena itu, perlu dikaji lebih lanjut tentang bentuk dasar historiografi Islam untuk dap&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;at memahami konsepsi keilmuan sejarah dalam khasanah intelektual Islam. Sekaligus untuk menjembatani juran&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;g catatan sejarah yang selama ini terbentang lebar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Tulisan ini akan memberikan penjelasan lebih rinci tentang: (1) bentuk-bentuk dasa&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;r historiografi Islam: &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt;, annalistik, catatan dinasti, &lt;i style=""&gt;thabaqat&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;nasab&lt;/i&gt;. (2) karakteristik, tokoh penulis dan manuskrip yang ditulis pada masa itu. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;(3) pengaruh historiografi Yunani, Persia dan Byzantium terhadap historiografi Islam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SCaF4E1iVtI/AAAAAAAAAS8/uOiD63x4dBY/s1600-h/Kitab_fi%27l-jadari2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 397px; height: 299px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SCaF4E1iVtI/AAAAAAAAAS8/uOiD63x4dBY/s320/Kitab_fi%27l-jadari2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198990018263275218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Bentuk-bentuk Dasar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Bentuk dasar berposisi sebagai karakter awal penulisan sejarah dalam tradisi Islam. Bentuk-bentuk ini merupakan kerangka penulisan sejarah yang berisi kisah-kisah, syair-syair dan bait puisi. Pendapat umum para peneliti historiografi tentang beberapa &lt;i style=""&gt;genre&lt;/i&gt; awal penulisan sejarah di kalangan Islam dan Arab, adalah meliputi &lt;i style=""&gt;khabar, annalistik&lt;/i&gt; (kronologis), catatan dinasti, &lt;i style=""&gt;thabaqat&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;nasab&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Khabar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Khabar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; biasa diartikan sebagai ‘laporan’, ‘kejadian’ atau ‘cerita’. Biasanya lebih banyak berisi tentang cerita-cerita peperangan dan kepahlawanan. Karakteristik &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; ditekankan dengan garis &lt;i style=""&gt;sanad&lt;/i&gt; yang mendahului tiap-tiap &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt;, dan hal itu akan dihilangkan bila menginginkan keringkasan &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; itu atau sekedar menyingkirkan munculnya kecermatan pengetahuan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Dalam khazanah historiografi, dapat disimpulkan tiga ciri &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt;. &lt;b style=""&gt;Pertama&lt;/b&gt;, dalam &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; tidak terdapat hubungan sebab akibat antara dua atau lebih peristiwa. Tiap-tiap &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; sudah melengkapi dirinya sendiri dan tidak membutuhkan referensi pendukung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;, sesuai dengan ciri khasnya yang berakar jauh sebelum Islam, cerita-cerita perang dalam bentuk &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; tetap mempergunakan cerita pendek, memilih situasi dan peristiwa yang disenangi dan kadang menyalahi kejadian yang sebenarnya. Peristiwa selalu disajikan dalam bentuk dialog antar pelaku sehingga memudahkan ahli sejarah dalam melakukan pembacaan dan analisa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;, bentuk &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; cukup bervariasi, sebagai cerita pertempuran yang terus-menerus dan sebagai suatu ekspresi yang artistik, &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; juga disajikan dalam bentuk puisi serta syair-syair. Banyak sedikitnya syair tergantung kemauan dan ekspresi psikologis penulis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Terdapat pertanyaan yang agak mengganjal tentang kapan karya pertama berbentuk &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; ada dalam penulisan sejarah yang dilakukan oleh orang Islam. Literatur Islam permulaan tidak menyediakan jawaban, sementara sumber-sumber bibliografi dan kutipan penulis kontemporer juga tidak membantu. Dengan demikian terjadi jurang pemisah antara literatur Arab yang asli dengan organisasi penerbit buku-buku Islam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Bentuk &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; di dalam berbagai ragamnya terdapat pula dalam sejarah Muslim, walaupun mereka membatasi kepada catatan peristiwa-peristiwa saja atau menulis nama-nama tanpa ada penjelasan lanjut. Sebagaimana bentuk-bentuk dasar lainnya, jarang sekali muncul apa yang disebut bentuk murni. Biasanya selalu dikombinasikan dengan unsur-unsur lain dalam penulisan sejarah. Sehingga, sebagai misal, dalam menyajikan biografi Nabi Muhammad sudah dilengkapi dengan &lt;i style=""&gt;nasab&lt;/i&gt; (silsilah) dan informasi lain seperti daftar nama sahabat yang berjasa dan dikenang dalam perjuangannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Ilmuwan sejarah yang menulis dalam bentuk &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; ini diantaranya adalah: Abu Mihnaf Luth Ibn Yahya (w. 774 M) dan al-Haitsam Ibn ‘Adi (w. 821 M) yang karyanya berupa kumpulan monograf dalam bentuk &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;nasab&lt;/i&gt;. Juga terdapat nama ‘Ali Ibn Muhammad al-Madaini (w. 831 M) yang salah satu karyanya berjudul &lt;i style=""&gt;Al-Murdifat min Quraisy&lt;/i&gt; (Wanita Quraisy yang Poliandri).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Selanjutnya, pada tahun-tahun kehidupan penulis itu pula historiografi dalam bentuk &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; sebagai bentuk yang berdiri sendiri dalam sejarah mulai berakhir, bentuk selanjutnya mengarah pada kronologi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Analitik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Analitik berasal dari kata dasar &lt;i style=""&gt;anno&lt;/i&gt; (tahun). Historiografi dalam bentuk analitik merupakan bentuk khusus penulisan sejarah dengan menggunakan kronologis, yaitu pencantuman kejadian tiap tahun. Biasanya dimulai dengan kalimat “dalam tahun pertama” atau “ketika masuk tahun kesembilan”. Penyajian dalam bentuk ini sepenuhnya berkembang pada masa al-Thabari (wafat 310 H).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karya sejarah permulaan terbit pada dasawarsa pertama abad ke-10 M dan diteruskan sampai tahun 915 M. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Al-Thabari bernama lengkap Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid al-Thabari al-‘Amuli, adalah seorang penulis sejarah yang terkemuka. Namun pada masanya beliau lebih dikenal sebagai ahli fiqih, bahkan Ibn Nadhim menyejajarkannya dengan imam Malik dan Syafi’i. Dalam perjalanan hidupnya, banyak kitab yang telah dikarang, seperti &lt;i style=""&gt;Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Adab al-Manasik, Adab al-Nufus&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Tahdzib Atsar&lt;/i&gt;. Yang masih diperdebatkan adalah tentang afiliasi politik al-Thabari terhadap Syi’ah Rafidhah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Namun, sebelum al-Thabari juga telah berkembang penulisan dalam bentuk analitik, misalnya: (1) Sejarah &lt;i style=""&gt;Khalifah Ibn Hayyat&lt;/i&gt; yang ditulis sampai tahun 847 M sebagai bentuk analitik yang memulai uraiannya mengenai arti &lt;i style=""&gt;tarikh&lt;/i&gt; dan uraian singkat mengenai &lt;i style=""&gt;sirah nabawiyah&lt;/i&gt;, (2) Kitab sejarah dari Ya’qub ibn Sufyan (wafat 891 M) yang ditulis berdasar urutan tahun dengan beberapa kutipan. (3) Sejarah dari Ibn Abi Haitsamah (wafat 893 M). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Mu’in Umar menjelaskan, secara teori penulis-penulis muslim lebih dahulu berkenalan dengan penggunaan data sejarah dan sejak diperkenalkan tahun Hijriyah, mereka sampai pada kesimpulan bahwa bentuk analitik merupakan cara yang sangat menyenangkan dalam penyajian sejarah. Karena kepraktisan dan muatan isi penulisan yang lebih padat. Mungkin itu yang dijadikan alasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Contoh bentuk analitik ini, di antaranya ditunjukkan oleh Ibn Hajar yang berjudul &lt;i style=""&gt;al-Durar al-Kaminah fi A’yan al-Miati al-Saminah&lt;/i&gt; yang menyajikan biografi tokoh-tokoh terkemuka, termasuk guru-gurunya yang disusun menurut hijaiyah yang terdiri dari dua bagian, pertama disajikan menurut &lt;i style=""&gt;riwayah&lt;/i&gt; dan kedua dengan cara &lt;i style=""&gt;dirayah&lt;/i&gt;, sesuai tahun mereka meninggal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Penulisan bentuk analitik, awalnya menggunakan klasifikasi tahun, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sementara penyebutan bulan sangat sedikit. Terjadi pengecilan &lt;i style=""&gt;scope&lt;/i&gt; lintasan waktu, pada abad 14 dan 15 pasca Kristus, pengecilan itu mencapai hitungan bulan dan hari. Sedangkan kristalisasi historiografi seratustahunan (seabad) berlaku sampai akhir abad ke-13 masehi. Untuk pertama kali, perkataan “&lt;i style=""&gt;qarn&lt;/i&gt;” (abad) muncul dalam judul yang berhubungan dengan abad itu, misalnya karya Ibn al-Fuwaithi dan Lisanuddin ibn al-Khatib.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Catatan Dinasti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Tidak ada penulisan sejarah di masa lalu yang dapat lepas dari intervensi penguasa. Hampir seluruh catatan sejarah adalah cerita tentang kekuasaan, kemenangan perang dan kepahlawanan sang pendiri dinasti serta anak cucunya. Bahkan banyak terdapat biografi-biografi khusus yang menulis tentang raja-raja itu. Misalnya karya al-Qudla’i yang berjudul &lt;i style=""&gt;‘Uyun al-Ma’arif&lt;/i&gt;. Maka tidak heran jika muncul adagium bahwa sesungguhnya sejarah adalah milik penguasa. Rakyat kecil maupun bawahan hanya menjadi &lt;i style=""&gt;footnote&lt;/i&gt; (catatan kaki) yang kadang malah tidak tertulis sama sekali. Namun, bagaimanapun, biografi dinasti dan penguasanya merupakan sebuah bentuk dasar historiografi Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Perkataan “&lt;i style=""&gt;daulah&lt;/i&gt;” yang berarti peredaran dan pergiliran sebetulnya menjadi dasar kultural linguistik bagi penulisan model historiografi dinasti ini. Teori penggantian penguasa seperti pada masa al-Kindi, mengisyaratkan hal itu. Selain juga terdapat pengaruh yang besar dari budaya intelektual Persia dan Syiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Model penulisannya adalah menurut pergantian kekuasaan khalifah secara berurutan. Misalnya seperti Sinan ibn Tsabit yang terlebih dahulu menguraikan khalifah al-Mu’tadlid yang semasa dengannya baru kemudian menguraikan khalifah sebelumnya. Contoh biografi raja yang komprehensif adalah karya al-Haitsan ibn ‘Adi dan al-Madaini yang berjudul &lt;i style=""&gt;Biografi Mu’awiyah&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Bani Umayyah&lt;/i&gt; pada pertengahan abad kedua hijriyah (lk. 767 M). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Susunan dunasti dalam sejarah Islam sama halnya dengan penyajian sejarah pra Islam yang ditulis oleh penulis-penulis muslim dalam bentuk bangsa-bangsa dan dinasti-dinasti. Uraian mengenai sejarah pra Islam pada umumnya mendapat kesulitan, karena orang Islam tidak pernah menemukan sistem penentuan waktu untuk periode pra Islam, seperti waktu Sebelum Masehi (SM) yang biasa dipergunakan oleh penulis-penulis Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Untuk penulisan sejarah dinasti pra Islam, penulis Arab mendapat kontribusi berarti dari khazanah Yunani, Byzantium dan Persia. Terdapat juga sedikit tambahan dari India dan Cina, namun penerjemahan itu kurang begitu lancar sebab jiwa nasionalisme yang kuat dari sejarawan kala itu macam al-Dinawari dan Miskawayh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Thabaqat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Thabaqat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; berarti lapisan. Transisi masyarakat dari satu lapisan atau kelas dalam penggantian kronologis generasi mudah dilakukan. Sebagaimana &lt;i style=""&gt;qarn&lt;/i&gt; yang mendahului arti &lt;i style=""&gt;thabaqat&lt;/i&gt;, yang dalam penggunaannya berarti generasi. Ahli-ahli leksikografi mencoba menetapkan ukuran panjang yang pasti dari &lt;i style=""&gt;thabaqat&lt;/i&gt;. Sebagian mereka menentukan suatu lapisan generasi itu 20 tahun sedang lainnya 40 tahun. Ada juga yang berpendapat &lt;i style=""&gt;thabaqat&lt;/i&gt; itu 10 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Menurut penulis, &lt;i style=""&gt;thabaqat&lt;/i&gt; lebih mirip klasifikasi penulisan sejarah berdasarkan pada “batasan waktu” hidupnya. Dalam sepuluh tahun pertama, misalnya, terdapat tokoh-tokoh dengan kesamaan orientasi dan budaya intelektual. Maka jadilah klasifikasi sedemikian rupa yang selanjutnya ini menjadi metode tersendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Dalam tradisi Islam sendiri, &lt;i style=""&gt;thabaqat&lt;/i&gt; merupakan sesuatu yang amat lazim. Terutama jika merujuk pada sejarah Muhammad; dalam lingkaran dan lintasan waktu perkembangan agama Islam, terdapat lapisan &lt;i style=""&gt;shahabat, tab’in, tabi’ al-tabi’in&lt;/i&gt; dan seterusnya. Hal ini berhubungan dengan kritik &lt;i style=""&gt;isnad&lt;/i&gt; dalam &lt;i style=""&gt;‘ulum al-hadits&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Pada mulanya, sebagai contoh dalam karya ibn Sa’ad, penyusunan &lt;i style=""&gt;thabaqat&lt;/i&gt; dipergunakan sebagai biografi para penguasa yang penting dalam pemindahan hadits. Dalam sejarah lokal, semacam karya Washal &lt;i style=""&gt;Sejarah Wasith&lt;/i&gt; di dalamnya hanya dibatasi para perawi hadits. Kemudian dapat dipergunakan untuk kelas-kelas kelompok pribadi terutama yang tergolong ulama. Selanjutnya juga digunakan untuk klasifikasi kejadian-kejadian sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Dzahabi yang berjudul &lt;i style=""&gt;Tarikh al-Islam wa Thabaqati Masyahir al-‘Alam&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Yang penting dalam karya &lt;i style=""&gt;thabaqat&lt;/i&gt; ini ialah untuk memperoleh suatu gambaran yang nyata tentang apa yang sebenarnya harus dicari dan diteliti. Dalam karya Abu Ishaq yang berjudul &lt;i style=""&gt;Thabaqat al-Fuqaha’&lt;/i&gt; seseorang menginginkan sebanyak mungkin informasi, sehingga memungkinkan mereka untuk mendapatkan biografi tokoh dalam suatu wilayah dan lokasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Cara alfabetis penyusunan biografi ini banyak memberikan kemudahan bagi generasi selanjutnya. Dalam kitab &lt;i style=""&gt;al-Dibaj&lt;/i&gt; yang disusun oleh Ibn Farhun (abad 14 M), ulama-ulama Malikiyah diuraikan sesuai nama mereka, dan ini dibagi lagi ke dalam &lt;i style=""&gt;thabaqat&lt;/i&gt; kemudian &lt;i style=""&gt;thabaqat&lt;/i&gt; disusun menurut geografis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Nasab&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Nasab&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; adalah catatan silsilah keluarga. Bagi orang Arab, menjaga jalur keturunan, terutama bagi yang mempunyai nenek moyang tokoh terhormat menyebabkan mereka harus menuliskannya. Keuntungan posisi dan status sosial ekonomi kadang membuat orang menyalahgunakan nasab ini. &lt;i style=""&gt;Nasab&lt;/i&gt;, kemudian menjadi bentuk dasar bagi historiografi Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Selama abad kedelapan dan sembilan masehi, para ahli filsafat sejarah kuno, pada saat yang bersamaan juga merupakan ahli dalam bidang garis keturunan. Karya-karya mereka merupakan bentuk &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; yang berisi kumpulan berbagai kelompok &lt;i style=""&gt;kabilah &lt;/i&gt;(suku). Salah satu monograf yang berkenaan dengan garis keturunan yang mula-mula sekali adalah &lt;i style=""&gt;Kitab Hadzfu min Nasab Quraisy&lt;/i&gt; mengenai keluarga kecil suku Quraisy tanpa nabi Muhammad yang disusun oleh Mu’arrij ibn ‘Amr al-Sadusi. Selain itu terdapat nama al-Zubair ibn Abu Bakkar (w. 870 M) yang menulis kitab berjudul &lt;i style=""&gt;Nasab Quraisy&lt;/i&gt;, walaupun kitab ini lebih banyak membahas budi pekerti orang Quraisy daripada pohon keluarganya. Sebuah kitab dari al-Baladzuri berupa biografi tokoh berjudul &lt;i style=""&gt;Kitab al-Ansab&lt;/i&gt; didominasi biografi khalifah. Bentuknya adalah &lt;i style=""&gt;khabar&lt;/i&gt; dan historiografi dinasti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Bentuk penulisan nasab ini ada dua. Penulis bermadzhab Syi’ah, Tajuddin ibn Muhammad dalam pengantarnya untuk kitab &lt;i style=""&gt;Ghayat al-Ikhtishar fi Akhbari al-Buyutati al-‘Alawiyah&lt;/i&gt;, memasukkan dua macam penyajian untuk informasi garis keturunan, yaitu bentuk pohon dan bentuk datar/lajur &lt;i style=""&gt;(mabsuth)&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Sebenarnya, orang-orang Arab sejak masa lalu telah terbiasa membuat jalur keturunannya sendiri, dan ini merupakan cabang ilmu pengetahuan yang khusus dan seringkali dihubungkan dengan syair. Kebanggaan keluarga, sangat tergantung pada apa yang telah dilakukan nenek moyangnya dalam peristiwa &lt;i style=""&gt;ayyam al-A’rab&lt;/i&gt; (perang antara kabilah Arab) maupun peristiwa lain dan itu disusun dalam bentuk syair.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Seorang sejarawan muslim&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;India, Nizar Ahmed Faruqi dalam disertasinya berjudul &lt;i style=""&gt;Early Muslim Historiography&lt;/i&gt; (1979) menyatakan bahwa &lt;i style=""&gt;nasab&lt;/i&gt; merupakan satu-satunya sumber bagi penyusunan historiografi Islam, dengan mengambil dasar dari al-Quran surat &lt;i style=""&gt;al-Hujur&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;â&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; [49] ayat 13.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SCaIhBMn59I/AAAAAAAAATE/gLTouYiC1Ks/s1600-h/kitab4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 214px; height: 206px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SCaIhBMn59I/AAAAAAAAATE/gLTouYiC1Ks/s200/kitab4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198992920684259282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Pengaruh dari Luar Arab&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Gesekan budaya antara Islam yang baru lahir dan berkembang dengan bangsa &lt;i style=""&gt;oukimene&lt;/i&gt; (berperadaban) yang lain menyebabkan historiografi Islam sedikit banyak mengambil corak dari filsafat dan budaya intelektual yang diterjemahkan maupun dikutip oleh penulis-penulis sejarah muslim. Pada masa kekhalifahan al-Makmun, ketika penerjemahan naskah Yunani dengan materi filsafat dan sejarah digalakkan melalui institusi &lt;i style=""&gt;Dar al-Hikmah&lt;/i&gt; itu, perkembangan penulisan sejarah juga makin marak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Pengaruh Yunani. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Dalam bentuk analitik, historiografi Yunani memberikan pengaruh besar. Kronik Yunani pada periode itu ketika Islam datang menyajikan bentuk historiografi analitik secara jelas melalui penulis muslim kontemporer. Ketika itu Ioannes Malalas, menggunakan struktur analitik sehubungan kekuasaan kaisar-kaisar. Terdapat juga data-data tentang sarjana-sarjana, filosof dan pemimpin gereja walaupun pada saat yang sama mereka juga politikus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Yang menarik justru pernyataan Muin Umar, bahwa tidak pernah ada naskah klasik historiografi Yunani yang pernah sampai ke dunia Arab. Alasan yang dikemukakan adalah kecurigaan dari para ulama terhadap literatur sejarah lebih dari literatur pengetahuan lainnya. Selain juga kurikulum Yunani-Persia sangat jarang dimasukkan dalam pendidikan tinggi Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Model Yunani ini, masuk dalam lingkar intelektual Islam melalui Syiria, dimana mayoritas beragama Kristen yang sering melakukan kontak dengan masyarakat luar seperti Yunani dan Byzantium. Dari segi jumlah, kurang tepat bila disebutkan bahwa historiografi analitik Islam pada mulanya berasal dari model Syiria dan Yunani. Hal ini lebih karena masuknya orang-orang Kristen ke dalam Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Terdapat sebuah naskah sejarah Yunani, &lt;i style=""&gt;Akhbar al-Yunaniyiin&lt;/i&gt;, yang bentuk, isi dan penulisannya tidak begitu jelas. Menurut riwayat diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Habib ibn Bahrez dari Mosul Irak, yang hidup di masa al-Makmun dan penerjemahannya dilakukan oleh Hamzah al-Isfahani dan Qadli Waqi’ (wafat 918 M).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Pengaruh Byzantium. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Dalam konteks persentuhan dengan Byzantium, lebih banyak berasal dari penganut agama Kristen yang berbangsa Arab sehingga interaksi dengan kaum muslimin cukup sering dan terjadi transfer pengetahuan terhadap mereka. Peradaban Byzantium yang Kristen itu cukup memperhatikan penulisan sejarah, dan mereka cukup respek jika literatur historiografi menempati posisi yang besar dalam literatur Byzantium. Perlu disebutkan bahwa &lt;i style=""&gt;Bibliotheca of Photius&lt;/i&gt; abad sepuluh masehi, sebagian besar mencurahkan uraiannya mengenai sejarah dari segala sisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Persentuhan dengan Byzantium melalui Syiria ini mencatatkan &lt;i style=""&gt;Kronik Edessa&lt;/i&gt; pada abad keenam masehi yang merupakan karya analitik. Juga oleh Jacob van Edessa pada abd ke-7 M yang mahir menuliskan tentang peristiwa alam, bencana, gempa, kekeringan, hama dan sebagainya. Walaupun dia mengalami kesulitan kronologis karena adanya perbedaan almanak dalam naskah klasik terakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Informasi bagi orang Islam sekitar orang Romawi dan raja-raja Kristen kembali kepada sumber-sumber Yunani Kristen atau Syiria, demikian pula mengenai Perjanjian Lama dan Baru, juga berita tentang raja-raja Babylonia dan Asyiria juga kembali pada sumber-sumber Kristen. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Pengaruh Persia. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Sebenarnya, bukti yang tersedia tentang bentuk historiografi Persia abad tujuh masehi sangat kurang. Ketiadaan ini menyebabkan kesulitan penentuan penggunaan bentuk analitik dalam historiografinya. Banyak yang menganggap, pendapat yang menekankan pengaruh Persia pada keaslian histoiografi analitik Islam telah gugur. Namun kita masih dapat melacak adanya pengaruh yang tidak kecil dalam konsepsional penulisan sejarah Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Dalam contoh ini adalah penulisan sejarah Raja-raja. Shiddiqie&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6269977176617315631&amp;amp;postID=1991622433351751768#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; memberikan argumentasi dengan data masuknya tradisi intelektual Persia dalam khazanah Islam. Bahkan buku Persia berjudul &lt;i style=""&gt;Khuday-nama&lt;/i&gt;—yang merupakan kisah raja-raja, dan dianggap menjadi buku patokan penulisan biografi Arab—telah masuk dalam historiografi Arab satu abad sebelum Ibn Mukhaffa (w. 139 H). Pengaruh Persia ini cukup negatif. Banyak kisah dalam Khuday-nama yang memuat mitos pribadi dan spekulasi pendeta, juga legenda-legenda Avestik dan roman Iskandar bahkan cerita-cerita tradisi asli Sasanian sering disepuh dengan epik dan retorika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Tutup Layar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Sejarah penulisan sejarah Islam ternyata telah melalui proses yang sedemikian panjang dalam lintasan sejarah manusia. Dengan pedoman pada kitab suci al-Quran dan al-Hadits. Hadits sendiri memiliki disiplin keilmuan yang hampir sama dengan disiplin historiografi. Karena dalam al-Hadits, musti ada &lt;i style=""&gt;check and re-check&lt;/i&gt; bagi setiap statemen, bahkan terdapat penilaian bagi individu narator dan transmiter materi (pe&lt;i style=""&gt;rawi&lt;/i&gt;) yang disebut dengan &lt;i style=""&gt;al-jarh wa al-ta’dil&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Bersamaan dengan pengembangan keilmuan internal, hitoriografi Islam terus berkembang melalui interaksinya dengan peradaban sekitar yang telah memiliki sejarah intelektual dan catatan historiografi cukup panjang. Di sinilah, sejarawan muslim menimba ilmu dan mengembangkan bentuk penulisan yang khas Islam; dengan spirit Islam dan materi-materi sekitar kaum muslimin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Warisan intelektual itu, hingga saat ini masih bisa dinikmati pada peminat sejarah. Sangat membantu bagi ilmuwan yang akan meperdalam historiografi Islam dengan berbagai bentuknya.&lt;b style=""&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Referensi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Umar, A. Mu’in, &lt;i style=""&gt;Historiografi Islam (Pertumbuhan dan Perkembangannya)&lt;/i&gt;, Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 7 November 1992.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Umar, A. Mu’in, &lt;i style=""&gt;Pengantar Historiografi Islam&lt;/i&gt;, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Umar, A. Mu’in, &lt;i style=""&gt;Historiografi Islam&lt;/i&gt; (Jakarta: Rajawali Press, t.th.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span  lang="IN"  style="font-family:Georgia;font-size:100%;"&gt;Shiddiqie, Nourouzzaman, &lt;i style=""&gt;Pengantar Sejarah Muslim&lt;/i&gt; (t.tp.: Nur Cahaya, 1983).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;"  lang="IN"&gt;Al-Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;, edisi Syawwal-Dzulhijjah 1413/ April-Juni 1993.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;   &lt;hr style="height: 3px;font-size:78%;" width="33%" align="left" &gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6269977176617315631&amp;amp;postID=1991622433351751768#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-1991622433351751768?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/1991622433351751768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/05/terpengaruh-budaya-non-arabbentuk-dasar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/1991622433351751768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/1991622433351751768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/05/terpengaruh-budaya-non-arabbentuk-dasar.html' title='Bentuk Dasar Penulisan Sejarah Islam'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SCaF4E1iVtI/AAAAAAAAAS8/uOiD63x4dBY/s72-c/Kitab_fi%27l-jadari2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-5179409327992277002</id><published>2008-05-01T01:56:00.003+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:27.736+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Lelaki dan Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SBjFKa4_wJI/AAAAAAAAASM/pBG_SO28hDA/s1600-h/weding.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 235px; height: 335px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SBjFKa4_wJI/AAAAAAAAASM/pBG_SO28hDA/s320/weding.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195118952979611794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di mata orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan; bumi memupuk apa yang telah dijatuhkan langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila bumi kekurangan panas, langit mengirimkannya; apabila ia kehilangan embun dan kesegaran, langit memperbaruinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit berkeliling, laksana seorang suami yang mencari nafkah demi istrinya. Sedangkan bumi sibuk mengurus rumah tangganya; ia merawat yang lahir dan menyusui apa yang telah ia lahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaplah bumi dan langit sebagai makhluk yang dianugerahi kecerdasan, karena mereka melakukan pekerjaan makhluk yang memiliki kecerdasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau pasangan ini tidak merasakan kebahagiaan antara satu dan lainnya, mengapa mereka melangkah bersama laksana sepasang kekasih yang saling mencinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bumi, bagaimana bunga dan pepohonan akan tumbuh? Lalu, air dan panas langit akan menghasilkan apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Tuhan meletakkan gairah dalam diri lelaki dan perempuan, maka lewat persatuannya dunia terselamatkan.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;-----Jalaluddin Rumi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-5179409327992277002?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/5179409327992277002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/05/lelaki-dan-perempuan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/5179409327992277002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/5179409327992277002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/05/lelaki-dan-perempuan.html' title='Lelaki dan Perempuan'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SBjFKa4_wJI/AAAAAAAAASM/pBG_SO28hDA/s72-c/weding.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-2895006536656695931</id><published>2008-04-03T23:02:00.002+07:00</published><updated>2008-08-03T01:17:46.259+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjarmasin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Jangan Mengemis, Nak! Itu Hina...</title><content type='html'>SEBUAH ruang di pojok belakang lantai dua Kompleks Pasar Lima Atas Banjarmasin. Ruang itu berukuran 7 x 6 meter, bercat biru di pintu dan pinggir jendelanya. Di samping kanan kirinya, berjajar kios yang kotor dan berjejal barang bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan pintu masuknya ada penjahit yang mengerjakan ratusan lembar karung plastik. Di pintunya tertempel stiker “Prestasi Yes, Narkoba No!”.  Itulah sekolah khusus anak jalanan, satu-satunya di Banjarmasin. Tadi pagi, aku menyambanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tempat itu, harus melewati kios pedagang yang berjejal di bawahnya. Ketika hujan turun seperti sekarang, hampir tak ada tempat yang tidak berlumpur. Meskipun tadi lantainya bersih, tetap dikotori lumpur yang dibawa alas kaki para pedagang dan pengunjung pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi, kecuali Minggu dan hari libur, belasan anak memenuhi ruangan yang berisi 30 meja dan kursi itu. Tata ruangnya benar-benar seperti sekolah dasar pada umumnya. Ada papan tulis di depan kelas, beberapa gambar pahlawan dan jadwal pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto para guru, yang mengajar sejak pertama kali ‘sekolah’ itu berdiri, ditempel di salah satu dinding. Tak ada satupun angka yang menunjukkan ruangan itu kelas berapa. Jadwal pelajaran pun hanya ditempel berderet: hari, mata pelajaran, nama pengajar. Ada lima mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama, PPKN, Sains, Matematika, Kesenian dan Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas pintu masuknya, ditempel plang dengan tulisan Sekolah Khusus Filial SDN Mawar 1 Kecamatan Banjarmasin Tengah. Agaknya, ruangan itu menjadi cabang dari sebuah sekolan negeri yang letaknya tak jauh dari Pasar Lima juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di depan ruangan itu, ada meja yang di atasnya diletakkan beberapa piring wadai dan gelas berisi teh. Seorang kakek bernama Mukrim, biasa berjualan di sana. “Sekaligus, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ulun &lt;/span&gt;yang menyediakan teh dan mengambilakan makanan buat anak-anak yang belajar di sini,” ujar Mukrim yang biasa disapa Pak Utih oleh anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Utih mengaku sudah berjualan di sana sejak sekolah itu berdiri. “Awalnya, di bagian depan lantai ini. Sekitar tujuh tahun yang lalu, pindah ke ruang pojok ini yang dulu jadi kantor sebuah ekspedisi. Sekarang ekspedisi itu pindah di depan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bahurupan &lt;/span&gt;(tukar tempat) lah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang dibesarkan di lingkungan Pasar Lima maupun Harum Manis, kebanyakan orangtuanya juga mengadu nasib di situ. Ibunya menjadi pengupas bawang, sementara ayahnya menjadi kuli angkat barang. Anak-anak jarang sekali diperhatikan pendidikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menarik minat mereka, pengelola sekolah khusus itu menyediakan nasi bungkus, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;wadai &lt;/span&gt;(kue)&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;dan minuman. “Belajarnya hanya dua jam, dari pukul 08.00 sampai 10.00 Wita. Setelah itu mereka mengambil jatah di sini. Meski begitu, banyak juga yang tidak datang. Paling 15 anak dari 30 anak yang terdaftar,” lanjut Pak Utih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis (3/4) pagi, suasana kelas itu riuh rendah, ada 17 anak di dalamnya. Seorang guru menuliskan lima soal hitungan di papan tulis. Anak-anak sekejap larut dalam hening, mengerjakan soal. Setengah jam kemudian, dua anak lelaki sama dewasa, pukul-pukulan. Kelas riuh kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan kotor dan umpatan, kadang keluar dari mulut mereka. Bau ruangan kelas agak amis, beberapa anak tampak kusut. Lingkungan yang membuat mereka seperti itu, jarang mandi. Selain itu, barang dagangan yang mereka angkut juga meninggalkan bau khas pasar di tubuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi begitu, mereka tetap semangat. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ulun umpat sekolah handak sorangan. Kada disuruh kuitan&lt;/span&gt; (Saya ikut sekolah kemauan sendiri. Tidak disuruh orangtua),” ujar Hamid (13), salah satu siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, banyak juga yang berhenti di tengah jalan sebelum bisa membaca. Imah misalnya, gadis itu berusia 12 tahun, tubuhnya bongsor. “Malu kalau berkumpul sama adik-adik,” katanya polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga adik Imah, yaitu Mahrita, Aisyah dan Masitah sekarang yang aktif masuk kelas, sementara ayahnya menjadi kuli angkut barang. Mereka keluar kelas pukul 10.00 Wita, lalu bergegas turun ke bawah. Membantu angkat barang di beberapa toko, atau mengangkut bawang dari gudang ke pengupas di Pasar Harum Manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah khusus itu dikelola oleh Zaini dan empat guru lainnya. Zaini menjadi kepala sekolah yang mengatur administrasi dan keuangan bagi kelangsungan sekolah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekolah ini berdiri 13 Agustus 1988. Seingat saya, HM Effendy Ritonga (Walikota Banjarmasin saat itu) melakukan inspeksi mendadak ke pasar ini. Ketika melihat anak-anak pengupas bawang dan pekerja kasar yang berkeliaran, walikota memerintahkan pendirian sekolah khusus ini,” papar Zaini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang ditekankan di sekolah itu adalah membentuk kepercayaan diri. Para guru selalu menekankan artinya kemandirian dan mahalnya harga diri. “Jangan mengemis, Nak. Jika engkau mengemis, rendahlah harga dirimu. Mengemis itu hina, Nak!” ujar Zaini saat mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HM Yunus, guru matematika di sekolah itu menambahkan, ada satu lulusan dari sana yang bisa sampai sarjana. “Dia punya keinginan kuat untuk belajar. Sembari itu dia berjualan buah. Dia ikut Ujian Kejar Paket A sampai C, lalu kuliah. Sekarang tinggal di Palangkaraya,” ucapnya penuh bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunus mengakui, mengajar di tempat itu harus ekstra kesabaran. Jika dikasari mereka lari, jika terlalu lembut, mereka melecehkan. “Mengajar 10 anak di sini sama dengan 40 anak di sekolah biasa,” ucap guru yang mengajar di sana sejak 1988 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ada perbaikan, kata Yunus, ruang kelas itu kotor dan sumpek. Beberapa siswa yang nakal, bahkan buang air sembarangan di dalam kelas. Padahal, ada juga siswa yang setiap malam tidur di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajar di sana, empat di antaranya adalah PNS atau pensiunan. Hanya satu yang tenaga honorer dari masyarakat. Selama ini, dana untuk operasional sekolah berasal dari Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. “Anggarannya, Rp 6.000 per hari untuk tiap anak,” kata Zaini yang juga guru di SD Mawar 2 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Disdik, tidak ada instansi lain yang memberi bantuan operasional. Termasuk Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Banjarmasin yang harusnya memayungi aktivitas pemberdayaan masyarakat seperti ini, tidak mengucurkan sepeserpun untuk anak jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya berharap, pihak seperti Dinsos dan Depag ikut turun tangan menangani anak jalanan. Jika bisa, membuat program yang sinergi dengan aktivitas ini. Mengajak mereka yang di lampu merah dan yang keliaran di jalan untuk sekolah,” ujar Zaini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak-anak yang mampu, diikutkan Ujian Akhir di SDMawar 2. Sejak 2006 sudah 12 anak yang mendapat ijazah kelulusan. Hampir seluruh siswa berharap bisa melanjutkan lagi di sekolah setara SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk tahun ini, saya rencanakan 10 anak ikut Ujian Kejar Paket A untuk dapat ijazah SD. Semoga semua berhasil dan bisa lulus,” ujar Zaini haru. Demikian potret anak bangsa. Semoga nasib mereka segera terangkat. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-2895006536656695931?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/2895006536656695931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/04/jangan-mengemis-nak-itu-hina.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2895006536656695931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2895006536656695931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/04/jangan-mengemis-nak-itu-hina.html' title='Jangan Mengemis, Nak! Itu Hina...'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-5780031657584640593</id><published>2008-04-03T22:06:00.005+07:00</published><updated>2008-04-03T22:53:35.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Awalnya Video Mantenan</title><content type='html'>Tertatih-tatih, Hasbi melangkah di Pelabuhan Trisakti. Raut mukanya menunjukkan keletihan. Kuyu tak ada gairah hidup. Untung ada teman-teman sekolahnya seperti Ajay, Yudi, Andre dan Ian. Mereka menjadi ‘obat’ bagi Hasbi melupakan ketergantungannya pada narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transformasi hidup lantas dilakukan Hasbi. Dia tekun mendalami agama. Menjadi seorang santri. "Aku ingin hidup normal. Aku ingin menikmati hidup tanpa menjadi budak narkoba. Hidup yang indah dan penuh warna," kata Hasbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah film pendek. Durasinya hanya 26 menit. Sebetulnya lumayan panjang dibanding &lt;span style="font-style: italic;"&gt;short film&lt;/span&gt; yang lain. Judulnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Save Me Diary&lt;/span&gt;, berkisah tentang seorang anak bernama Hasbi yang kena candu narkoba. Sampai masa pertobatan melalui sebuah pesantren di Banjarmasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film itu ditampilkan dalam sebuah even bernama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;3 Cities Short Film Festival &lt;/span&gt;yang digelar di Taman Budaya Kalsel di Jalan Hasan Basry, tepat di seberang kampus Universitas Lambung Mangkurat pada Kamis dan Jumat, 20-21 Maret 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even itu digagas oleh &lt;a href="http://www.boemboe.org/"&gt;Boemboe Organizer&lt;/a&gt;, sebuah lembaga nirlaba berpusat di Jakarta yang bergerak di bidang distribusi, eksebisi dan promosi film pendek. Aku sempat berbicang dengan salah satu penggerak Boemboe, namanya Amin Shabana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama depannya sama dengan diriku. Kami berbincang di kursi belakang penonton, tepat beberapa menit setelah film pendek bikinan anak Pontianak berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bondan 006&lt;/span&gt; selesai diputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin menuturkan, tur festival ini khusus di Kalimantan. “Kita adakan di tiga kota: Pontianak, Banjarmasin dan Balikpapan. Tujuannya, mencari ‘intan’ film yang tersimpan di kota-kota &lt;span style="font-style: italic;"&gt;non-mindstream&lt;/span&gt; seperti Banjarmasin ini,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, kiblat film indie kebanyakan kota besar di Jawa seperti Jakarta, Bandung, Jogja atau Surabaya. “Kita pengen, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;filmaker &lt;/span&gt;di kota luar Jawa juga makin rame bikin film pendek dan kreasi sendiri itu,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin memberi apresiasi positif bagi anak-anak muda Banjarmasin yang sudah bisa memproduksi film pendek. “Pesan saya satu aja, kalau bikin film indie seperti ini, jangan mikirin keuntungan material dulu. Ekspresikan dan tunjukkan kemampuan kita dulu. Kita kan juga puas bisa berkarya,” pungkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, gairah anak muda Banjarmasin yang ingin menciptakan karya besar melalui media film, sudah menemukan wadahnya. Mereka tergabung dalam Audiocam Film, satu komunitas yang mengumpulkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;filmaker &lt;/span&gt;di Banjarmasin. Debut mereka ke publik, diawali dengan menggelar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;3 Cities Short Film Festival 2008&lt;/span&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas ini, ternyata berawal dari sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;production house&lt;/span&gt; yang melayani syuting video perkawinan dan acara-acara formal lainnya. “Lalu, dari teman-teman muncul gagasan untuk bikin film pendek. Sampai saat ini, di Banjarmasin kan belum ada,” ujar Ikhwan Budiman, sineas muda yang menggagas Audiocam Film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2003, lahirlah karya pertama mereka. Sebuah film pendek berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Namaku Abdi.&lt;/span&gt; Disusul dengan karya lain berupa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reality show&lt;/span&gt; yang sempat ditayangkan di salah satu televisi swasta lokal Kalsel, dilanjutkan karya beberapa film dokumenter yang lain. Karya film pendek kedua, berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Save Me Diary&lt;/span&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;filmaker &lt;/span&gt;pemula, ternyata banyak kesan yang terekam dan pengalaman unik yang terjadi. “Sebetulnya, asyik banget bikin film seperti ini. Ide yang tersumbat di otak, bisa kita keluarkan. Rasanya plong kalau udah lahir jadi kepingan CD dan ditonton banyak orang,” kata Ikhwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kesan itu saat membuat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Save Me Diary.&lt;/span&gt; Saat itu, harus mengambil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;setting &lt;/span&gt;tempat di Pesantren Darussalam Martapura. Menurut Ikhwan, lokasinya cocok banget sama ceritanya. Sayangnya, pihak pesantren tidak bersedia. Akhirnya, lokasi syuting pindah ke Pesantren Al-Falah Landasan Ulin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pimpinan pesantren menyetujui. Syaratnya, kami bikin presentasi di hadapan seluruh dewan guru dan ustadz. Banyak pertanyaan ketika itu, kami musti menjelaskan tentang dampak, alur cerita sampai teknik pembuatan. Akhirnya, syuting film sukses digelar,” papar Ikhwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah biaya pembuatan film pendek, menurut Ikhwan, jangan sampai jadi kendala buat berkarya. “Asalkan ada alat multi media, pasti bisa jadi kok. Tidak harus kamera profesional. Pakai handycam atau bahkan cuma HP berkamera, udah cukup buat bikin film pendek. Yang penting ide tersalurkan,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah serius menggeluti dunia film, banyak sineas pemula yang disokong oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;funding &lt;/span&gt;dari Jakarta dan luar negeri. “Selain Boemboe, ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prince Claus Fund for Culture and Development&lt;/span&gt; dan Kedutaan Besar Perancis yang mendukung langsung secara finansial. Juni nanti, temen-temen Boemboe akan ke Amerika buat presentasi film indie ini,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, setelah even festival film pendek ini, komunitas Audiocam Film akan melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;roadshow &lt;/span&gt;ke berbagai SMA di Banjarmasin. “Kita mau bangkitkan kreativitas positif pelajar. Mereka kan lebih punya gairah dan idealisme. Kalau bisa, di SMA dibuat ekskul yang mewadahi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;filmaker &lt;/span&gt;pelajar,” jelas Ikhwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sineas muda Banjarmasin yang sudah sampai ke tingkat nasional adalah Ken Zuraida Hamid. Melalui karyanya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setangkup Asa di Balik Kemilau Intan&lt;/span&gt;, Ken Zuraida memperkenalkan budaya lokal Banjar ke mata publik nusantara. Filmnya itu, masuk nominasi lima besar dalam Eagle Award yang digelar oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Metro TV&lt;/span&gt;, Oktober tahun lalu. Lihat &lt;a href="http://www.metrotvnews.com/eagle2007/isi_sinopsis2007.php"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak perlu memperkenalkan  orang yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan dan sastra ini. Karyanya seabreg. Pikiran, renungan dan karyanya, silakan dilihat di &lt;a href="http://kenzuraida.wordpress.com/"&gt;http://kenzuraida.wordpress.com&lt;/a&gt;. Cerita tentang perempuan Dayak ini juga bisa dilihat di &lt;a href="http://www.forums.apakabar.ws/viewtopic.php?p=21398&amp;amp;sid=d5e3d08e274ac7d54586c19e17a9aa39"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbincang sebelum bedah film di malam terakhir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;3 Cities Short Film Festival &lt;/span&gt;itu. Saat dia sudah ditarik-tarik sama panitia buat ngomong di forum. Kutahan dulu buat ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuraida bertutur, proses kreatifnya muncul dari keprihatinan sosial. “Aku lihat di lokasi pendulangan intan itu, masyarakat nggak makmur. Padahal intan di sekitar mereka. Selain itu, banyak anak-anak di situ nggak sekolah. Pendidikan mereka telantar,” ujar Dida, panggilan akrab Zuraida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal ketertarikan Dida untuk bikin film adalah rasa penasaran tentang proses bikin film. Kebetulan saat itu, ada even yang digelar Metro TV. Lalu, Dida mengajukan proposal ke pihak panitia. Setelah diloloskan, disediakan supervisor langsung dari Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembimbingku saat itu Toni Tri Marsanto, dia udah banyak pengalaman bikin film. Selain itu, kameramen dan tim editornya juga oke banget. Dukungan suamiku juga besar, dia terlibat langsung. Alhamdulillah, filmku lolos sampai lima besar,” kata istri dari Amiwan Ahmad Syaufi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dida punya keinginan membuat film lagi dengan berbasis pada budaya lokal Banjar. Selain itu, kata Dida, film itu musti mengambil tema yang mengungkap realitas dan bisa membuat perubahan nasib rakyat.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-5780031657584640593?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/5780031657584640593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/04/awalnya-video-mantenan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/5780031657584640593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/5780031657584640593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/04/awalnya-video-mantenan.html' title='Awalnya Video Mantenan'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-3121885050637439470</id><published>2008-04-03T21:38:00.002+07:00</published><updated>2008-04-03T21:51:02.933+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Temukan Candumu</title><content type='html'>Siang terik. Matahari menggigit. Usai liputan di lapangan yang menguras keringat, aku kembali ke kantor. Hendak naik ke lantai empat ruang redaksi. Bayanganku, ruang ber-AC yang sangat nyaman akan mengelus kulit dengan kesejukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatu kets, celana jins dan kaos berkerah kukenakan. Berjalan cepat menuju lift. Di depan pintu lift, ada bos yang juga mau naik. “Enerjik sekali kamu hari ini,” katanya. “Biasalah pak, baru mood,” balasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami masuk ke dalam. Hanya kami berdua. Matanya memandang ke diriku, dari atas ke bawah lalu tersenyum. “Kamu mesti segera menemukan candumu. Hidup itu butuh motivator, penyemangat. Kalau belum kamu temukan, gaya enerjikmu itu akan cepat luruh,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sampai lift merambat naik dan pintu terbuka. “Ingat itu, segera temukan candumu,” lanjut bos sambil melangkah keluar. Meninggalkan aku dalam ketermanguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek, hanya dua menit mungkin. Tapi, kata-katanya itu berbekas dan jadi pemantik renunganku. Benar kata bos, candu itu dibutuhkan. Tiap orang punya candu, hingga dia bisa bertahan dalam aktivitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, konsistensi berawal dari kegembiraan bekerja. Melakukan pekerjaan sebagai sebuah hiburan, hal yang menyenangkan. Bahkan, dengan candu itu, seseorang tidak lagi merasa bekerja, dia sedang menjadi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Pak Wahyu! []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-3121885050637439470?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/3121885050637439470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/04/temukan-candumu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3121885050637439470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3121885050637439470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/04/temukan-candumu.html' title='Temukan Candumu'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-7977464551600592341</id><published>2008-02-20T23:40:00.006+07:00</published><updated>2010-09-01T16:02:45.632+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bayi Itu'/><title type='text'>Bayi Telantar Itu</title><content type='html'>Satu minggu ini, konsentrasi saya tercurah penuh pada satu sosok mungil yang menggemaskan. Setiap hari saya datang ke kamarnya. Membelai lembut kulitnya, mengelus rambut tipisnya, kadang mencubit pipi yang agak tembem itu. Setiap datang, saya lihat dia tersenyum manja, lalu terkekeh. Hatiku mulai jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R8BZES9sDVI/AAAAAAAAASA/k5XcR7jlQ1Y/s1600-h/Amin+cium+bayiq.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 243px; height: 229px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R8BZES9sDVI/AAAAAAAAASA/k5XcR7jlQ1Y/s200/Amin+cium+bayiq.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170230302566255954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sosok itu adalah bayi yang menghebohkan publik Kalimantan Selatan. Ceritanya begini. Senin (4/2) pukul 21.45 Wita, seorang wanita mengaku bernama Novia (21) yang sedang hamil tua, datang ke IGD Rumah Sakit Ansari Saleh Banjarmasin. Dia sendirian. Saat ditanya tentang suaminya, “Masih di belakang. Sebentar lagi menyusul,” ujar Novia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ibu muda itu dimasukkan ke ruang bersalin di Ruang Mutiara B4. Selasa (5/2) subuh, ketuban sudah pecah dan proses kelahiran akan terjadi. Dalam catatan medis, tepat pukul 04.50 Wita, lahirlah seorang bayi lelaki. “Proses kelahiran sangat lancar dan spontan,” ujar bidan Helmina yang membantu proses persalinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, para perawat melihat ketidaklaziman pada pasien. Dia menolak menyusui anaknya itu. Sekitar pukul 16.00 Wita, setelah memandikan bayi, perawat sempat menyerahkan bayi tersebut kepada ibunya untuk digendong. “Lazimnya, seorang ibu ingin selalu bersama bayi yang baru dilahirkannya, apalagi anak pertama. Tapi, pasien ini menyentuh bayinya pun tidak mau,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, keanehan itu terbukti. Rabu (6/2) pukul 19.00 Wita, Novia sudah tidak ada lagi di Ruang Mutiara B4 dan bayinya ditinggal sendirian. “Saat itu lampu padam. Lalu perawat sibuk dan petugas berusaha menyalakan genset. Saat itulah, pasien keluar dari rumah sakit,” kata Helmina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan dari El-Shinta FM, mengirim sms tentang peristiwa itu. Begitu mendengar kabar, sore harinya saya ke RS Ansari Saleh. Perawat bercerita, lalu memberikan alamat. Segera saya menelusur alamat yang ditinggalkan Novia. Ibu muda itu  mengaku tinggal di Jalan Agatis Gang Indah No 18 Rt 29 Anjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu (13/2) sore, dengan mengendara motor saya menuju ke arah Barito Kuala (24 kilometer dari Kota Banjarmasin). Ternyata, sampai malam, baik di Kelurahan Anjir Muara Kota maupun Kelurahan Anjir Pasar, saya tidak menjumpai nama Jalan Agatis. Beberapa warga yang saya tanyai juga mengaku tidak pernah melihat nama Jalan Agatis. “Yang ada Jalan Trans Kalimantan,” kata Ramlah, seorang pedagang di Anjir Pasar yang sempat saya tanyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sampai saat ini setiap hari saya menengok bayi yang ditelantarkan ibunya itu. Selain ada empati pribadi yang mendalam, juga karena tugas jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi itu berjenis kelamin laki-laki berkulit putih, dengan berat badan 3,3 kilogram, panjang tubuh 50 sentimeter dan lingkar kepala 30 centimeter. Luar biasa sehat dan menggemaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, sudah dua minggu ditinggalkan ibunya, bayi itu masih belum jelas nasibnya. Selasa (20/2) sore, saat saya menyambangi Ruang Merah Delima tempat menginap sang jagoan kecil itu, bobot tubuhnya makin naik. Saat lahir 3,3 kilogram, kini menjadi 3,9 kilogram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tangannya masih melingkar gelang warna putih transparan. “Gelang itu peneng penanda bayi, dilingkarkan selesai dibersihkan setelah dilahirkan. Sampai saat ini belum dilepas,” kata Yansina, perawat jaga sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, setelah dua minggu, para perawat sering memanggil bayi itu dengan sebutan ‘si bos kecil’. "Karena hanya dia yang belum diambil ibunya. Kalau ibu yang lain langsung mengambil, kami nggak sempat menggendong lama-lama. Tapi bos kecil, justru kami yang habis-habisan merawat,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perawat menyayangkan, bayi ini tidak mendapat ASI ekslusif sama sekali. “Padahal, jika tanpa ASI, antobodi tidak akan terbentuk. Dia akan rentan terkena penyakit besok sampai besar. Tapi, kalau ada yang bersedia menjadi ibu susuan, kiyau (panggil) orangnya,” ujarnya. Seluruh persediaan pakaian dan susu untuk ‘bos kecil’, masih dicukupi oleh rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, ada 45 orang yang berniat mengadopsi. Banyak di antaranya pejabat tinggi di Kalsel. Ada hakim, polisi, jaksa, bahkan yang terang-terangan ekspose ke media adalah istri Kapoltabes Banjarmasin. Dia ingin mengasuh langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, sampai sekarang belum jelas siapa ‘pemenang’ si jagoan kecil itu. Ah, andaikan saya sudah menikah, mungkin ikut berebut juga ya... &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-7977464551600592341?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/7977464551600592341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/satu-minggu-ini-konsentrasi-saya.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/7977464551600592341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/7977464551600592341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/satu-minggu-ini-konsentrasi-saya.html' title='Bayi Telantar Itu'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R8BZES9sDVI/AAAAAAAAASA/k5XcR7jlQ1Y/s72-c/Amin+cium+bayiq.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-4278305817696435738</id><published>2008-02-08T22:39:00.001+07:00</published><updated>2010-09-01T16:11:42.776+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Ditangkap di Rumah Mertua</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;H Saroso Sundoro SH, MSi adalah legenda hidup jurnalis Kalimantan Selatan. Sejak berdirinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;SKH Banjarmasin Post&lt;/span&gt; pada 2 Agustus 1971, lelaki asal Lumajang ini sudah bergabung, hingga 2002 mengundurkan diri karena alasan fisik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Jumat (8/1) sebelum sholat Jumat saya berkunjung ke kediamannya yang asri di Kompleks Wildan No 31 Rt 18 Banjarmasin Tengah. Rumah yang asri dan penuh rimbun pohon. Ruang depan rumah sekaligus menjadi tempat praktek istrinya yang berprofesi sebagai bidan. Mereka menikah tahun 1974.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat datang pertama kali ke Banjarmasin tahun 1971, Saroso diterima menjadi dosen di Akademi Administrasi Negara (AAN), dengan status pegawai negeri. Meski begitu, hobinya menulis membuatnya tetap ingin masuk ke dunia jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat itu, dibuka pendaftaran wartawan bagi koran baru, saya bergabung. Seingat saya, awalnya akan diberi nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mimbar Demokrasi&lt;/span&gt; tapi tidak jadi karena di beberapa daerah sudah ada koran dengan nama serupa. Akhirnya, dipilihlah nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Banjarmasin Post&lt;/span&gt;,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Teknologi cetak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R68g-C9sDTI/AAAAAAAAARw/yctoYIrMaxY/s1600-h/bungas20080208saroso.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R68g-C9sDTI/AAAAAAAAARw/yctoYIrMaxY/s200/bungas20080208saroso.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165383547936836914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saroso masih mengalami zaman teknologi cetak huruf per huruf. Saat itu, wartawan biasa membantu menempel, akhirnya ikut mahir sistem percetakan. “Untuk bikin berita, satu huruf demi satu huruf ditempel ke klise. Orang menyebut itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;huruf muntilan&lt;/span&gt;, karena pabriknya ada di Muntilan, Jawa Tengah,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman bergerak, lalu lahirlah sistem lenotip. Sistem ini lebih canggih, bukan lagi satu huruf harus ditempel, tapi satu kata. Salah satu sisa mesinnya masih dipajang di depan kantor &lt;span style="font-style: italic;"&gt;BPost&lt;/span&gt;. “Tapi, untuk cetak gambar masih harus dikirim ke Surabaya. Butuh waktu tiga hari baru bisa dicetak,” kenang Saroso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, pada saat teknologi cetak masih sederhana, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;BPost &lt;/span&gt;pernah tidak terbit gara-gara bakal cetakan masuk got. “Seperti biasa, segala klise huruf dan gambar dinaikkan becak, diangkut dari kantor BPost Jl. Pasar Baru No. 222 menuju Percetakan Adil yang jaraknya hanya 500 meter untuk dicetak. Yang mengantar waktu itu Thamrin Yunus, adik Pak Djok Mentaya (pendiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;BPost&lt;/span&gt;). Ternyata di tengah jalan, becak mengalami kecelakaan dan masuk got. Akhirnya, esok harinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;BPost &lt;/span&gt;gagal terbit,” ujar Saroso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lanjutnya, setelah kejadian itu tidak ada kata tidak terbit bagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;BPost&lt;/span&gt;. “Ketika kantor sudah pindah ke Jl. Haryono MT. Pada 3 Nopember 1989, terjadi musibah kebakaran yang menghabiskan seluruh lantai. Hanya seperangkat mesin cetak di lantai dasar selamat dari amukan api. Walaupun dengan cetak darurat, pada hari berikutnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;BPost &lt;/span&gt;tetap terbit,” kata Saroso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat zaman sudah serba komputerisasi, Saroso mulai kesulitan dengan kemodernan itu. Selama bertugas menjadi wartawan sampai 2002, dia tetap memilih mengetik menggunakan mesin ketik manual. “Agak bisa memakai komputer, tapi sering tersalah tekan tombol,” tukasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi sekarang luar biasa maju, lanjutnya, semua tulisan harus dikirim email. Dulu, bagi wartawan daerah, untuk mengirim berita harus dititip ke sopir distributor koran pagi yang datang ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ditangkap militer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak dua anak ini, pernah merasakan jeruji besi akibat tulisannya yang kritis. Saroso pernah ditangkap pihak Laksus Pangopkamtibda, institusi militer di masa Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1978, Saroso menulis sebuah berita tentang liputan penebangan kayu Ulin secara liar yang terjadi di Tanah Laut. “Saya menulis berdasar fakta. Bertemu langsung dengan petani di pedesaan,” tegas alumni Fakultas Hukum Unibraw Malang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tulisan itu terbit, Saroso ditangkap dengan tuduhan melakukan fitnah terhadap penguasa. “Saya ditangkap ketika berkunjung ke mertua di Paringin. Pihak Laksus bersama Koramil Paringin mendatangi rumah mertua saya, lalu mengangkut saya ke Banjarmasin tanpa boleh membawa apa-apa,” kenang Saroso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, masuk ruang tahanan Laksus di Jl S Parman (sekarang menjadi bangunan Kimia Farma). Dua hari kemudian, dipindah sebagai tahanan titipan di sel Polresta Banjarmasin, yang sekarang menjadi Markas Polda. “Satu minggu ditahan, lalu saya dilepas. Ini tidak lain dari peran pengurus PWI Pusat yang menyurati pihak Laksus agar membebaskan kami,” kata suami Hj Nurpaidjah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, selain dirinya, ada tiga nama yang juga ditangkap. “Ketua PWI Anang Adenansi, Lian Sitanggang dan Mukri Gawid. Ketiganya karena dianggap menghasut masyarakat. Padahal, hanya mengkritisi kebijakan pemerintah yang otoriter,” kata Saroso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Koran Kompos&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan Saroso dengan masyarakat pedesaan tidak lepas dari minat besarnya dengan wilayah liputan pedesaan dan pertanian. Periode 1980-an, kata Saroso, pernah diterbitkan Koran Kompos oleh BPost Grup. Koran itu didistribusikan ke seluruh pelosok Kalsel. Saat itu, oplahnya mencapai 15 ribu per hari dengan harga eceran Rp 25.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat itu terbentuk Kelompok Pembaca Kompos. Keberadaan koran ini sangat membantu para anggota, yaitu petani di pedesaan. Saya berharap langkah yang mendekatkan dengan pembaca di pelosok ini perlu dilakukan lagi oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;BPost&lt;/span&gt;,” katanya. Saroso menjadi pengasuh rubrik pertanian dan sering berhubungan dengan Dinas Pertanian. Sampai mengundurkan diri dari dunia jurnalistik, Saroso menjadi pengasuh tetap rubrik pedesaan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Banjarmasin Post&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, Saroso tengah menikmati masa pensiun sejak Desember 2007. Selain pengabdiannya di dunia pers, Saroso juga menjadi tenaga pengajar di Jurusan Pendidikan Ekonomi FKIP Unlam. Karena pengabdian itu, pada 1999, dia mendapat kesempatan mengikuti program S-2 di Universitas Brawijaya Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Hari Pers yang jatuh hari ini, Saroso mengaku bangga dengan perkembangan teknologi yang pesat dalam dunia pers. “Hanya saja, bagi penulis yang tidak bisa kirim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;email &lt;/span&gt;seperti saya, mohon jangan ditolak tulisannya,” katanya sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Saroso melihat insan pers sekarang memiliki daya serap yang lebih baik. Banyak jalan untuk belajar, sehingga wartawan memiliki pengetahuan yang lebih. Terakhir, Saroso berharap agar PWI sebagai institusi yang menaungi insan pers, bisa berkembang lebih baik.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-4278305817696435738?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/4278305817696435738/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/ditangkap-di-rumah-mertua.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4278305817696435738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4278305817696435738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/ditangkap-di-rumah-mertua.html' title='Ditangkap di Rumah Mertua'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R68g-C9sDTI/AAAAAAAAARw/yctoYIrMaxY/s72-c/bungas20080208saroso.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-3630521012623914801</id><published>2008-02-06T22:08:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:28.195+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjarmasin'/><title type='text'>Robot Anti Narkoba</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R6nQQQCUEvI/AAAAAAAAARo/Nzgo8v7eCgg/s1600-h/ist2_883783_elephant_cartoon.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R6nQQQCUEvI/AAAAAAAAARo/Nzgo8v7eCgg/s200/ist2_883783_elephant_cartoon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163887425358140146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;“Gajahnya mana, Om?,” tanya Adit (4) kepada penjaga tiket. Anak kecil itu ingin naik robot gajah yang menjadi favorit. Enam robot binatang berjalan pelan di lorong lantai satu Duta Mall Banjarmasin. Ada gajah, zebra, onta, badak, sapi dan domba.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Ukurannya setengah dari binatang aslinya, namun sudah cukup untuk dinaiki seorang anak. “Berat penumpang maksimal 25 kilogram,” kata Anto (25), penjaga tiket di stan Yada Toys.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Pemuda itu berbaju biru lengan pendek, di punggungnya tertera tulisan “Nikmati Petualangan Yada Toys.” Yada Toys adalah perusahaan mainan yang menyewakan robot berbagai jenis binatang untuk dinaiki anak-anak. Berpusat di Jakarta dan telah membuka cabang di berbagai mall di kota besar. Untuk Banjarmasin baru di Duta Mall saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lima orang yang biasa bertugas, mereka sibuk melayani anak-anak, sambil menjalankan robot binatang. Menurut penuturan Anto, satu hari ada 80 hingga 100 anak yang menaiki robot mereka. Bahkan pada hari Minggu atau libur, mencapai 250 anak. Harga tiket Rp 7.000 per anak untuk satu kali putaran. “Kami buka dari jam 09.30 hingga 21.30,” kata pemuda kelahiran Purwokerto ini.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Dengan dituntun seorang petugas, anak-anak menikmati pemandangan etalase toko di pojok belakang Duta Mall. Jarak putar perjalanan robot itu sekitar 100 meter.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standing banner&lt;/span&gt; yang berdiri di samping meja penjaga tiket, tertera tulisan “70 Persen Keuntungan Bersih Yada Toys untuk Mendukung YCAB.” YCAB (Yayasan Cinta Anak Bangsa) adalah sebuah lembaga non profit yang bergerak di bidang pencegahan penyalahgunaan narkoba di Indonesia melalui pendidikan, pelatihan dan riset. “Sejak awal pendirian usaha mainan ini memang untuk menunjang program YCAB,” tegas Anto.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Mereka punya website di &lt;a href="http://ycab.org"&gt;http://ycab.org&lt;/a&gt;, organisasi ini bekerjasama dengan banyak lembaga nirlaba sosial yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raudhah, seorang ibu yang mengantarkan anaknya, mengaku tidak tahu jika sebagian keuntungan digunakan untuk program anti-narkoba. Meski banyak pengunjung yang tidak mengetahui program sosial itu, tapi langkah Yada Toys merupakan terobosan baru.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-3630521012623914801?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/3630521012623914801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/robot-anti-narkoba.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3630521012623914801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3630521012623914801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/robot-anti-narkoba.html' title='Robot Anti Narkoba'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R6nQQQCUEvI/AAAAAAAAARo/Nzgo8v7eCgg/s72-c/ist2_883783_elephant_cartoon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-2475306273853425716</id><published>2008-02-06T21:58:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:28.317+07:00</updated><title type='text'>Tagana Urusi Pernikahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R6nMqACUEtI/AAAAAAAAARY/Uav-KFGzYsA/s1600-h/tagana+logo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R6nMqACUEtI/AAAAAAAAARY/Uav-KFGzYsA/s200/tagana+logo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163883469693260498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Hendak menikah? Persiapannya tentu harus matang. Untuk sebuah resepsi pernikahan yang mengundang banyak orang, tentu harus disiapkan mulai dari tenda, makanan, dan pernik lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Penyewaan perlengkapan fasilitas acara perkawinan di Kota Banjarmasin cukup banyak. Ternyata bukan hanya pihak swasta, sebuah unit teknis penanggulangan bencana di bawah naungan Dinas Sosial juga ikut menyediakan fasilitas tersebut.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Satuan Unit Tagana (Taruna Siaga Bencana) yang bermarkas di Gang 20, Jalan Sutoyo S Banjarmasin Tengah, dalam waktu senggangnya menyewakan tenda dan melayani jasa memasak nasi untuk acara perkawinan dan lain-lain. Mereka sudah terlatih bongkar pasang tenda dan memasak dalam jumlah banyak pada saat pembuatan dapur umum di kantong-kantong bencana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Demikian dikatakan Rihani Amin (34), salah seorang petugas Tagana. Anggota Taruna Siaga Bencana itu menambahkan, dia bersama tim pada hari-hari tertentu melayani penyewa tenda untuk berbagai acara, dengan izin komandannya. “Kami tidak berani bergerak, kalau komandan tidak mengiyakan,” ujarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Untuk jasa penyewaan tenda dalam satu hari acara, seperti pesta perkawinan, Tagana membandrol harga Rp 30 ribu per satu unit tenda berukuran 4 x 6 meter. Sedangkan biaya menanak nasi per liter beras dikenakan Rp 2.000, dengan catatan beras disediakan oleh yang punya acara. “Tapi kita sering berikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;discount&lt;/i&gt;. Bahkan bagi orang yang tidak mampu membayar, kita gratiskan&lt;i style=""&gt;,&lt;/i&gt;” katanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Tagana tidak menyediakan paket lengkap untuk pesta pernikahan selain tenda, seperti fotografer dan katering. Rahmad, petugas Tagana yang lain mengatakan, untuk hal itu mereka tidak mungkin bisa, karena memerlukan biaya dan waktu yang banyak. “Modal dari mana, lagian kami cuma mengisi waktu luang, sambil menunggu perintah tugas,” ucapnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Dalam sebulan, penyewaan tenda milik Dinsos tersebut empat kali mendapat pesanan pemasangan. Artinya, hampir setiap minggu mendapat order. Tetapi pesanan tersebut jarang disertai dengan jasa memasak nasinya. “Mungkin karena kalah dengan katering yang menyediakan menu lengkap masakan,” jelasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Keuntungan dari kegiatan ekstra tersebut,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagian diserahkan ke kas satuan dan sebagian lainnya dibagi sesuai dengan porsi kerja para personil yang berjumlah enam orang. “Rata-rata kami per orang mendapat hasil sekitar Rp 300 ribu dalam sebulan, lumayan bisa mentraktir pacar,” kata Amin terkekeh.&lt;b style=""&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-2475306273853425716?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/2475306273853425716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/tagana-urusi-pernikahan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2475306273853425716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2475306273853425716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/tagana-urusi-pernikahan.html' title='Tagana Urusi Pernikahan'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R6nMqACUEtI/AAAAAAAAARY/Uav-KFGzYsA/s72-c/tagana+logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-3374604231492241342</id><published>2008-02-02T12:23:00.000+07:00</published><updated>2008-08-03T01:17:46.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjarmasin'/><title type='text'>Belajar Bertani Lagi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Kompleks mess berbentuk barak sepanjang 36 meter itu dibagi dalam delapan bidakan (kamar besar) yang berukuran 7 x 4 meter. Berdinding dan beralas kayu lapis. Sementara atapnya memakai seng. Warnanya sudah agak kusam, cat hijau yang menempel di dinding beberapa terkelupas. Di teras bangunan ada pagar setinggi setengah meter.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Satu bidakan dibagi dalam tiga ruangan, kamar tamu di depan, kamar tidur di tengah dan dapur. Jumat (1/2) siang saat saya ke sana, kasur lebar dihamparkan di ruang depan rumah Hendy (29), karena kamar tidur penuh dengan perabot yang hendak dibawa pulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Bangunan itu sudah didiami selama lima tahun bersama anak istri Hendy. Tapi, minggu depan dia sudah akan keluar dari kompleks mess karyawan PT Austral Byna itu. Barang-barangn sudah tertata rapi dalam kardus. Termasuk mainan anaknya, juga sudah masuk kotak. "Saya sedang mencari truk yang bisa mengangkut sampai Surabaya," katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Bapak satu anak ini termasuk yang mendapat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bersama 1.200 karyawan yang lain. Hendy sudah bekerja di PT Austral Byna sembilan tahun. "Rasanya berat meninggalkan kompleks ini. Bukan hanya masalah PHK saja, perpisahan dengan tetangga dan kawan-kawan itu yang paling berat. Kami sudah bertahun-tahun berkumpul, sudah lebih dari saudara," ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Bagi lelaki asal Magelang Jawa Tengah ini, perusahaan tempatnya bekerja sudah memberikan banyak hal. Salah satunya, dia menemukan gadis yang sekarang menjadi istrinya, juga di Austral Byna. Istrinya, Endang (27), karyawan bagian administrasi produksi. Mereka menikah tahun 2002 dan sudah memilik satu anak berusia empat tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Menurut Hendy, dengan gaji yang diberikan perusahaan saat masih berproduksi, cukup untuk menghidupi keluarga. Bahkan, mereka masih bisa menabung untuk anaknya. "Saya sisihkan Rp 100 ribu tiap bulan untuk masa depan anak," ujar Hendy.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Tapi sejak Agustus 2007, perusahaan berhenti beroperasi. Gaji yang diberikan sebesar 80 persen dari yang semestinya. Sepasang suami istri ini mendapat Rp 1,2 juta tiap bulan tanpa bekerja di pabrik. Tapi untuk susu anak dan kebutuhan sehari-hari masih tidak mencukupi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Akhirnya, selama rentang enam bulan terakhir, Hendy berusaha mencari pekerjaan lain di luar pabrik. Hampir tiap hari, lulusan STM ini mencari pekerjaan, meski dengan gaji harian. "Saya cari kerja sampai di Sebamban Tanah Bumbu, naik motor bersama kawan. Tapi, belum ada yang cocok juga," ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Kamis (31/1) kemarin, nasibnya sudah jelas. Dia tidak akan bekerja lagi di Austral Byna, termasuk istrinya. Pesangon yang mereka peroleh sekitar Rp 20 juta. "Hari ini (1/2) sudah ada pengumuman, seluruh mess harus sudah kosong satu bulan lagi. Tanggal 1 Maret, seluruh jaringan listrik akan diputus," ungkap Hendy.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Keputusan sudah bulat, bersama empat keluarga yang lain, Hendy akan menyewa truk untuk mengangkut seluruh perabotan keluarga yang bisa dibawa. Mereka kembali ke tanah asal di Jawa. "Saya akan belajar bertani kembali. Lama sudah tidak menyentuh cangkul," kata karyawan bagian mekanik mesin ini sambil tersenyum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Tidak jauh berbeda, Marji (50) juga akan membawa istri dan anak-anaknya ke Jawa. Karyawan pengawas bagian produksi ini, sudah seperempat abad bekerja di Austral Byna. "Sudah saatnya pulang, mas" kata lelaki asal Kediri Jawa Timur ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Meskipun Marji sempat membeli tanah di Banjarbaru dan membangun satu rumah, dia tetap memilih kembali ke Jawa. Meskipun diberhentikan, dia merasa agak lega karena pesangon dirasa mencukupi. Seluruh karyawan mendapat pesangon sesuai lama kerja.&lt;span style=""&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-3374604231492241342?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/3374604231492241342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/belajar-bertani-lagi.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3374604231492241342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3374604231492241342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/belajar-bertani-lagi.html' title='Belajar Bertani Lagi'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-9003749010385013515</id><published>2008-02-02T11:37:00.000+07:00</published><updated>2008-08-03T01:17:46.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjarmasin'/><title type='text'>Kompleks Mess Mulai Sepi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Suasana pelabuhan kapal ferry yang biasa digunakan menyeberang oleh para karyawan PT Austral Byna, Jumat (1/2) siang tampak ramai. Biasanya, di tempat itu banyak karyawan lalu lalang yang pulang dari &lt;i style=""&gt;shift&lt;/i&gt; kerja malam. Tapi, siang itu justru banyak orang pindahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Beberapa penduduk menggunakan gerobak untuk mengangkut kasur, lemari, meja kursi dan perabot rumah tangga yang lain. Barang-barang itu segera dinaikkan ke atas &lt;i style=""&gt;kelotok&lt;/i&gt; yang menunggu di pinggir Sungai Martapura.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Kelotok&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="IN"&gt; penuh dengan perabotan beberapa keluarga yang satu kali angkut. Menurut salah satu penduduk, mereka yang sudah di-PHK perusahaan, akan pulang ke hulu sungai, sebagian ke Tanah Laut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;“Suasana mess sudah tidak seramai dulu. Satu per satu mulai meninggalkan kompleks,” kata Hendy, salah satu karyawan. Ini menyusul keluarnya pengumuman dari perusahaan bahwa mess harus segera kosong maksimum satu bulan lagi. Jika tetap di situ pun, listrik akan diputus oleh PLN.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;Ketika saya sampai di kompleks mess, banyak yang mulai ditinggalkan penghuninya. Kebanyakan yang beraktivitas di sana adalah penduduk Kelurahan Mantuil, yang rumahnya berbatasan langsung dengan kompleks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Dalam pengumuman yang ditempel di setiap barak itu tertulis, seluruh karyawan dilarang membawa pergi seluruh barang yang termasuk fasilitas perusahaan. Termasuk jika penghuni membuat bangunan tambahan di depan atau belakang mess, dilarang melakukan pembongkaran. Hanya perabotan boleh diangkut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Beberapa karyawan menyayangkan keputusan yang pukul rata itu. “Bagi yang bujangan mungkin tidak masalah. Tapi karyawan yang anaknya masih sekolah SD atau MTs di sini, tentunya harus diberi kompensasi khusus. Kasihan anak jika harus keluar tiba-tiba,” kata Ahmad, seorang karyawan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Di dalam kompleks mess yang masuk Rt 7 Rw II Kelurahan Mantuil Kecamatan Banjarmasin Selatan itu, selain 50 barak yang berisi sekitar 300 keluarga, juga ada sekolah, yaitu TK, SD dan MTs Bina Takwa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Seluruh staf pengajar sekolah, selama ini digaji oleh perusahaan. Maryati, Wakil Kepala SD Bina Takwa, juga di-PHK bersama 13 guru lainnya. “Nasib sekolah ini belum ditentukan. Kami berharap tetap dilanjutkan pengelolaannya oleh Dinas Pendidikan. Sudah banyak prestasi yang diraih sekolah kami ini," ujar Maryati penuh harap. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-9003749010385013515?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/9003749010385013515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/kompleks-mess-mulai-sepi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/9003749010385013515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/9003749010385013515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/02/kompleks-mess-mulai-sepi.html' title='Kompleks Mess Mulai Sepi'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-6372956213969255401</id><published>2008-01-31T00:02:00.000+07:00</published><updated>2008-08-03T01:17:46.261+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjarmasin'/><title type='text'>PHK 1200 Orang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                    Kondisi bisnis kayu lapis semakin terpuruk. Perusahaan  yang dahulu berjaya, satu per satu mulai tutup. Kali ini giliran PT Austral Byna, Banjarmasin yang mem-PHK seluruh karyawannya. Sekitar 1.200 orang kehilangan mata pekerjaan di pabrik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rabu (30/1) siang, saya sempat mengunjungi areal pabrik itu. Perjalanan melalui pelabuhan Martapura menggunakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kelotok&lt;/span&gt; alias perahu kecil khas Banjar. Ongkosnya lumayan, Rp 10 ribu sekali jalan. Saya belum tahu kalau bisa naik motor langsung diangkut ferry dengan biasa Rp 3.000 pulang pergi. Akhirnya saya gunakan taksi air itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Baik, kembali ke kondisi PT Austral Byna. Siang itu, suasana pabrik tidak terlalu ramai. Sekitar 100 orang keluar masuk bergiliran mengambil cek pesangon di kasir pabrik. Seluruh karyawan, dari manajer hingga satpam seluruhnya diberhentikan oleh perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mereka yang telah jelas tidak akan bekerja lagi di perusahaan itu, berhak mendapatkan pesangon sesuai dengan lama kerja. Sejak Senin (28/1), tiap bagian digilir mengambil cek. Terakhir jadwal pengambilan Kamis (31/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wajah para karyawan yang sudah mengambil cek, tidak segera pulang. Mereka masih duduk di bangku depan kantor. Wajah mereka tampak sedih, tempat bekerja yang sudah puluhan tahun ditempati, akan segera ditinggalkan. Setiap mereka bertemu kawan sesama pekerja, selalu bersalaman sambil meminta maaf. "Berelaanlah," ujar mereka kepada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Suasana makin senyap saat saya memasuki areal pabrik. Alat berat dan mesin pemotong kayu itu menjadi saksi bisu kejayaan produksi kayu lapis di Kalimantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa karyawan, meski dengan nada getir, merasa yakin akan segera bertemu kembali. Misalnya Iswanto, satpam yang sudah 15 tahun bekerja itu, menyalami satu per satu karyawan yang lewat di depoan pos jaga. "Kita akan bertemu lagi kok," kata lelaki berkumis tebal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keyakinan itu agaknya beralasan. "Alat pabrik masih lengkap, aset masih banyak, kayu log malah dibeli oleh pabrik tetangga," ujar Suryadi, pekerja yang sudah 25 tahun di Austral Byna. Di belakang pabrik memang nampak berjajar puluhan kayu log, baik yang ditumpuk maupun diapungkan di permukaan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Petrus Wara, seorang satpam yang sudah 20 tahun mengabdi, mengaku tidak tahu akan bekerja di mana jika PHK tetap diberlakukan terhadap seluruh satpam di sana. Ayah dua anak ini mengaku, walaupun bisa mendapatkan Rp 17 juta dari pesangon, dia tetap memilih bekerja di Austral Byna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Keputusan terakhir untuk satpam diberikan besok pagi. Kami berharap ada panggilan lagi. Kabarnya, 2009 pabrik ada manajemen baru," kata lelaki asal Flores ini penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sudah satu tahun terakhir, pabrik kayu lapis ini tidak beroperasi. Selama itu, seluruh karyawan dirumahkan. Mereka tidak perlu bekerja, tapi uang gaji tetap mengalir ke rekening. "Kami mendapat 80 persen dari gaji utuh," ujar M Garra Aden, seorang karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     "Kasihan juga perusahaan, pemasukan tidak ada, tapi pengeluaran untuk gaji terus menerus," kata Wajid, seorang satpam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menurutnya, di Austral lebih baik dibanding perusahaan kayu lapis yang lain. "Di sini tidak ada gejolak, karena perusahaan cukup bijak. Gaji tetap dibayar, pesangon juga diberikan sesuai aturan," ujarnya.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-6372956213969255401?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/6372956213969255401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/01/phk-1200-orang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6372956213969255401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6372956213969255401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/01/phk-1200-orang.html' title='PHK 1200 Orang'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-370623208946736584</id><published>2008-01-30T23:46:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:29.531+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Kagum Soeharto</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R6CtYgCUEsI/AAAAAAAAARQ/LJW2vqHl1XU/s1600-h/Soeharto1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R6CtYgCUEsI/AAAAAAAAARQ/LJW2vqHl1XU/s200/Soeharto1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161315809394692802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Beliau adalah sosok yang kebapakan, mengayomi, tutur katanya lembut, murah senyum, sekaligus memiliki wibawa yang besar," ujar Dra Hj Sri Widayati tentang almarhum mantan Presiden Soeharto yang wafat Senin (27/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah Pak Harto meninggal, saya bersilaturahmi dengan Ibu Sri di rumahnya, Kompleks Perumahan Dosen Unlam, Jalan Cendrawasih Belitung Banjarmasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu Sri pernah mendapat anugerah sebagai Dosen Teladan Nasional mewakili Universitas Lambung Mangkurat pada 19 Agustus 1992. "Saat itu, saya bertemu langsung, bersalaman dengan Pak Harto dan Ibu Tien di Istana Negara," kenangnya. Ketika bertutur, suaranya menjadi lirih dan bergetar, matanya berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang dikagumi dari sosok Soeharto adalah penguasaan sang presiden terhadap suatu masalah sangat dalam. "Saat memberi pengarahan tentang pendidikan, beliau mengetahui masalah hingga detil dan tingkat teknis. Bahkan beberapa pejabat terkejut mendengar paparan Pak Harto. Saking rincinya," kata ibu empat anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf pengajar di Jurusan Sejarah FKIP Unlam ini mengaku sangat mengagumi Soeharto dan istrinya, Siti Hartinah. "Banyak falsafah hidup yang diajarkan Pak Harto. Salah satunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mikul dhuwur mendhem jero&lt;/span&gt;, yang secara mudah artinya melakukan sesuatu sesuai porsinya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, Pak Harto benar-benar menerapkan falsafah ini, terutama ketika berinteraksi dengan orang lain, baik anak buahnya maupun tamu-tamunya. "Selain yang tadi, Pak Harto juga berpesan yang berbunyi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ojo rumangsa isa, lamun isa rumangs&lt;/span&gt;a, yaitu jangan sok merasa bisa, lebih baik rendah hati," kata istri dari Drs Soenarto ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat upacara penganugerahan di Istana Negara dulu, suasana ruangan hening dan syahdu. Kehadiran Pak Harto di ruangan memberikan aura kewibawaan yang besar. "Beliau itu, menurut beberapa budayawan Jawa, adalah raja Mataram," kata perempuan kelahiran Malang, 14 Juli 1945 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking takutnya, dia dan beberapa kawan tidak berani ijin ke belakang untuk buang air kecil. "Saya ini merasa orang kampung. Selain takut, juga karena alat-alatnya yang modern, serba otomatis," katanya sambil tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen sejarah ini sangat memahami posisi Soeharto. Menurutnya, tahun awal kebangkitan Orde Baru, memang menuntut tokoh kuat yang memegang kendali politik. Saat itu, kondisi sosial politik kacau, ekonomi bangsa juga terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahun 1965, saya kuliah tingkat tiga. Kami hidup makan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bulgur&lt;/span&gt;, sesuatu yang di Amerika biasa untuk makanan babi. Jika bukan orang militer seperti Pak Harto yang memegang kekuasaan, saya tidak yakin keamanan lahir di Indonesia," kata dosen yang mengajar di Unlam sejak 1970 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, menurut Ibu Sri, Trilogi Pembangunan yang dirumuskan Soeharto masih sangat tepat jika diberlakukan saat ini. "Trilogi itu adalah stabilitas politik, pembangunan ekonomi, dan pemerataan sandang, pangan, perumahan," ujar pengajar mata kuliah Sejarah Ekonomi ini.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-370623208946736584?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/370623208946736584/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/01/kagum-soeharto.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/370623208946736584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/370623208946736584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/01/kagum-soeharto.html' title='Kagum Soeharto'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R6CtYgCUEsI/AAAAAAAAARQ/LJW2vqHl1XU/s72-c/Soeharto1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-2721750408685737472</id><published>2008-01-16T10:30:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:29.676+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjarmasin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Ahmadiyah di Banjarmasin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R4-BhGMGEcI/AAAAAAAAAQk/VgcGFSG4M-A/s1600-h/ahmadiyah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R4-BhGMGEcI/AAAAAAAAAQk/VgcGFSG4M-A/s200/ahmadiyah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156482503959515586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bangunan itu ada di Jalan Dahlia Kebun Sayur Rt 21 No 7 Kelurahan Mawar Kecamatan Banjarmasin Tengah. Berukuran 15 x 7 meter, berdinding papan bercat hijau, terdiri dari dua lantai. Lantai atas digunakan sebagai masjid, sementara lantai bawah untuk sekretariat. Pagar kayu warna putih membatasinya dengan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman depan yang selebar tiga meter, berdiri sebuah plang yang menunjukkan disitulah markas Jemaat Ahmadiyah Cabang Banjarmasin. Di plang itu juga ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah&lt;/span&gt;, di bawahnya ada tulisan Badan Hukum Menteri Kehakiman RI No.JA.5/23/13 Tgl 13-3-1953, yang memberi legalitas penyebaran Ahmadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanalah aktivitas Jemaat Ahmadiyah Cabang Banjarmasin dilakukan. Pemimpinnya bernama Firman Alisyah, mubaligh yang dikirim oleh pusat Ahmadiyah di Parung Bogor sejak dua tahun yang lalu untuk mengawal dakwah Ahmadiyah di Kalimantan Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama istri dan dua anaknya, Firman hijrah ke Banjarmasin. “Seluruh mubaligh sudah mewakafkan hidup untuk Jemaat. Tidak ada yang kami pikirkan dan lakukan, selain menyebarkan ajaran Ahmadiyah,” ujar Firman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh kebutuhan hidupnya sudah ditanggung oleh pimpinan pusat, termasuk biaya sekolah anaknya di SD Mawar 6. Anaknya dua orang, sulung kelas tiga SD dan bungsu masih berumur lima tahun. Keduanya ikut kemana pun sang ayah pergi berdakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para mubaligh siap dipindah kemanapun perintah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;amir &lt;/span&gt;(pemimpin). Sebelum di Banjarmasin, selama sepuluh tahun, saya berdakwah di seluruh wilayah Bandung, Jawa Barat saja,” kata Firman menerawang mengenang masa lalu. Firman lahir dan besar di Bandung, sementara sang istri lahir di Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang tamu, saya berkesempatan menemuinya. Di ruang tamu yang sederhana itu ada lima kursi berwarna hijau. Poster para Khalifah Ahmadiyah menempel di dinding sisi kanan. “Ada lima khalifah sepeninggal Mirza Ghulam Ahmad,” kata Firman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dinding sisi kiri, ada foto Khalifah Mirza Thahir Ahmad (khalifah keempat Ahmadiyah) sedang bersalaman dengan Presiden Abdurahman Wahid. Di bingkai foto yang berbeda, juga ada gambar Amien Rais sedang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngobrol&lt;/span&gt; mesra dengan sang khalifah. “Itu semua bisa terjadi tahun 2000, sudah 75 tahun kami mengimpikan khalifah datang ke Indonesia. Terimakasih kepada Gus Dur yang saat itu jadi presiden,” kata Firman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut ruangan, ada ratusan buku di atas rak kayu berwarna kusam. Buku-buku itu, tampaknya jarang disentuh. Di kalender Ahmadiyah dengan penanggalan yang berbeda dengan Masehi danHijriyah, tertulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Love for All Hatred for None.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas Jemaat Ahmadiyah Banjarmasin, setiap minggu kedua dan keempat setiap bulan, mengadakan kajian di markas Dahlia Kebun Sayur. Selain hari Minggu, hanya mengaji al-Quran, dan kitab-kitab tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Banjarmasin, anggota Ahmadiyah hanya empat kepala keluarga. Dua di antaranya ada di Kelurahan Mawar juga, tidak jauh dari markas. Sementara di Komplek Cempaka Banjarbaru, ada lima kepala keluarga. Firman memberi pengajian di Banjarbaru tiap minggu pertama dan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadiyah juga memiliki cabang di Tanah Bumbu, tepatnya Kecamatan Sebamban. “Di sana ada 12 kepala keluarga. Kebanyakan adalah para transmigran yang berasal dari Jawa. Mereka sudah Ahmadiyah sebelum sampai Kalsel,” jelas Firman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadiyah pernah ingin mendirikan kepengurusan wilayah Kalsel secara resmi. Saat pengajuan ijin ke Poltabes, dilempar ke Polda, dari Polda disuruh ke Mabes Polri. Akhirnya sampai sekarang belum terealisasi keinginan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinggung tentang keluarnya fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menuntut pembubaran jemaat Ahmadiyah, Firman mengatakan sudah bosan memberi penjelasan. “Tolong tunjukkan mana bukti kesalahan kami. Jika karena sembilan kitab Ahmadiyah yang sesat, tunjukkan mana kitabnya,” kata Firman dengan suara meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, kitab suci Ahmadiyah hanya al-Quran saja. Kitab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tadzkirah &lt;/span&gt;yang selama ini dituduhkan sebagai kitab suci Ahmadiyah, itu hanya kumpulan tulisan Mirza Ghulam Ahmad. Bahkan, menurutnya hampir tidak ada yang menyimpan kitab itu. “Silakan geledah rumah seluruh anggota Ahmadiyah, kalau memang ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kitab Tadzkirah&lt;/span&gt;. Kami hanya mengimani al-Quran,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan isu penyerangan oleh beberapa elemen umat Islam, Firman mengaku tidak takut. “Kami sudah wakafkan hidup untuk dakwah. Jika berhasil, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alhamdulillah. &lt;/span&gt;Jika gagal, ya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;innalillah&lt;/span&gt;. Semuanya kembali kepada Allah. Bukankah dakwah Rasulullah Muhammad lebih mengerikan lagi cobaannya?” ujar lelaki bertubuh tinggi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, belum ada perintah dari khalifah untuk membalas serangan. Bahkan khalifah memerintahkan untuk berdamai. “Bersabar, bersabar, bersabar dan berdoa, itu perintah yang diberikan pada kami,” kata Firman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, aktivitas dakwah Ahmadiyah di Banjarmasin tetap berjalan seperti biasa. Firman mengaku, para tetangga di Dahlia tidak ada yang memasalahkan semenjak bangunan markas itu berdiri tiga tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi posisi kami memang dilematis. Jika kami menyampaikan dakwah dengan memberi penjelasan ajaran Ahmadiyah kepada masyarakat, kami dianggap mempengaruhi. Tapi jika kami hanya diam saja di rumah, kami disebut ekslusif dan tertutup,” jelas Firman. Karena itu, dakwah Ahmadiyah lebih banyak melalui buku-buku dan keping VCD yang dibagikan gratis kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Naik Haji Lewat Dephan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kaum muslim biasa naik haji diurusi Departemen Agama, lain dengan Jemaat Ahmadiyah, mereka difasilitasi oleh Departemen Pertahanan. Pasalnya, sampai saat ini, mereka dilarang naik haji jika ketahuan sebagai orang Ahmadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Firman, beberapa kali mencoba lewat jalur biasa. Tapi, selalu diketahui. “Kebetulan Dephan memiliki travel yang mengurusi perjalanan ke Makkah, akhirnya seluruh anggota jemaat sekarang melalui Dephan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, ini diskriminasi yang menyakitkan. “Kami ini muslim juga. Sama dengan yang anda dan lainnya,” katanya menunduk sedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman mengakui, jika seorang pegawai negeri atau militer diketahui sebagai anggota Ahmadiyah, niscaya pangkatnya tidak pernah naik tinggi. “Jika di militer, dia tidak akan sampai bintang satu lah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, akunya, banyak perwira yang menyembunyikan identitas keahmadiyahannya. “Salah satunya adalah Brigjen Pol Basyir Barmawie, mantan Kapolda Kalimantan Selatan. Beliau itu bahkan putra tokoh Ahmadiyah,” aku Firman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, untuk mendapatkan pembelaan atas posisi Ahmadiyah, Firman bergabung dengan tiga aliansi, yaitu LK3 (Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan), FALI (Forum Agamawan Lintas Iman) dan Forum Dialog Antar Agama. Ketiganya di Banjarmasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selain itu, kami juga terus mendekati Departemen Agama untuk mendapat penyelesaian damai atas tuntutan pembubaran kami. Kami lebih mencintai kedamaian, karena Islam adalah agama damai,” pungkas Firman. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-2721750408685737472?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/2721750408685737472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/01/ahmadiyah-di-banjarmasin.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2721750408685737472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/2721750408685737472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/01/ahmadiyah-di-banjarmasin.html' title='Ahmadiyah di Banjarmasin'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R4-BhGMGEcI/AAAAAAAAAQk/VgcGFSG4M-A/s72-c/ahmadiyah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-3628534586975954292</id><published>2008-01-16T10:25:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:29.835+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Honorer Jadi Pemulung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R4-MfGMGEdI/AAAAAAAAAQs/lphsBZx7eVI/s1600-h/rebutan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R4-MfGMGEdI/AAAAAAAAAQs/lphsBZx7eVI/s200/rebutan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156494564227682770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di tengah hamparan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan, berdiri tiga buah gubuk berdinding kardus dan triplek serta beratap terpal bekas. Di antara tiga gubuk itu, terlihat seorang laki-laki paro baya sedang menyantap makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpakaian warna oranye bertuliskan Dinas Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Kota Banjarmasin, dia lahap menyantap sayur asam di depannya. Di atas meja yang dibuat dari kayu-kayu bekas bangunan, dia duduk bersila menikmati makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau sampah menyengat, anyir dan bagi yang belum pernah masuk areal itu, pasti akan muntah. Lalat berseliweran, menimbulkan suara mendengung aneh. Tapi, hilir mudik lalat yang terkadang singgah di piring sekadar ikut mencicipi makanan, tak dipedulikannya. Sambil menyuap makanan, sesekali memandang keluar gubuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu bernama Samani (51), warga Handil Puting yang ikut mengais rejeki dari sampah. Dia sebenarnya karyawan honorer di TPA Basirih yang mencari penghasilan tambahan dari memulung sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang yang diterima sebagai honorer, sebesar Rp 500 ribu per bulan, tidak mencukupi. Padahal, dia mempunyai tanggungan istri dan tiga anak. “Dengan gaji segitu, mana cukup buat membiayai hidup anak dan istri saya,” kata pria bertubuh kurus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dituturkannya, sudah lima bulan gubuk itu ditempati. Di sana, dia menjalankan dua pekerjaan, sebagai karyawan Dinas Kebersihan sekaligus pemulung. Kadangkala juga membeli hasil pulungan temannya yang lain untuk dijual ke pengumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memperoleh Rp 500 untuk satu kilogram botol plastik, kaleng dan karung bekas. Sedangkan untuk gelas plastik, dihargai Rp 1.500 per kilonya. Dalam sehari, Samani dan keluarganya bisa memperoleh sekitar 20 kg sampai 30 kg barang bekas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, dia dapat penghasilan rata-rata Rp 30 ribu per hari. Sudah mencukupi untuk makan sekeluarga. Sementara uang honor, separonya ditabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal di atas gundukan sampah, selain bau anyir, penyakit tentunya rentan menyerang para pemulung ini. Tapi, Samani hanya tertawa ketika ditanya tentang itu. “Kami sudah kebal,” katanya. Bahkan, dengan sedikit bercanda, dia mengaku sudah berteman dengan lalat di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin lalat yang takut dengan kami. Kami ini beracun buat mereka,” candanya. Sedangkan bau menyengat yang harus mereka hisap tiap hari, Samani mengaku sudah terbiasa. Bahkan, bau itu dianggap sebagai pewangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemulung lain sepertinya bersikap sama dengan ancaman penyakit ini. Makanan yang mereka dapat di sampah pun sering mereka santap. Bahkan, makanan itu terkadang jadi rebutan. Mereka seolah tidak peduli kondisi makanan yang dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terjadi siang itu, Selasa (02/01), beberapa pemulung berebut mendapatkan kerupuk yang ditemukan oleh teman mereka. Dengan lahap mereka mengunyah dan menelan kerupuk itu tanpa ada rasa risih sedikit pun. Bahkan, mereka tampak senang dengan makanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samani bersama istrinya, Rahima, sudah mulai memulung sejak lima tahun lalu. Anaknya empat orang, yang sulung meninggal tahun lalu karena sakit dalam usia 21 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita Samani, anaknya itu tidak mau makan, minum dan lebih suka diam di rumah saja. “Kata dokter, anak saya tidak berpenyakit apa-apa, tapi setelah 40 hari sakit, dia meninggal,” katanya sambil menerawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anaknya yang kedua dan ketiga pernah bersekolah, namun putus di tengah jalan. Mereka lebih memilih bekerja daripada meneruskan pendidikan. Keduanya hanya lulus SD, sempat melanjutkan, namun tidak sampai setahun sudah berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang anak bungsunya, belum mengecap pendidikan sedikit pun. alasannya, anaknya itu belum cukup umur bersekolah. “Umurnya baru enam tahun, mungkin tahun depan akan saya sekolahkan,” kata Samani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang bernama Ahmad itu, bersama ibunya, terlihat mengumpulkan beberapa sampah dan memasukkannya ke karung. Setelah penuh, dengan tangan kecilnya, dia mencoba mengangkat karung bekas tepung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertatih-tatih, dia menuruni jalan menuju tumpukan karung di seberang gubuk mereka. Dengan sedikit terengah ia kembali mengambil karung kecil di dalam gubuk dan mengisi dengan kardus-kardus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Samani, anak dan istrinya akan membantu memulung hingga datangnya musim tanam. Kebanyakan para pemulung di sana mempunyai pekerjaan pokok sebagai petani. Jadi, sembari menunggu saat menggarap sawah, mereka memulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, areal TPA yang kosong, dijadikannya persemaian bibit padi. “Nanti jika sudah cukup usia, saya pindahkan ke pahumaan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua pemulung berasal dari tiga desa yang berada di sekitar TPA. Desa itu, Handil Puting, Tatah Bangkal dan Handil Puyung. Namun, ada juga orang yang datang dari luar Kalsel yang ikut mengais rejeki di tumpukan sampah itu. “Dua bulan yang lalu, ada tujuh orang yang datang dari Jawa hanya ingin ikut mulung di sini,” ungkap Samani.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-3628534586975954292?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/3628534586975954292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/01/honorer-jadi-pemulung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3628534586975954292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/3628534586975954292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2008/01/honorer-jadi-pemulung.html' title='Honorer Jadi Pemulung'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R4-MfGMGEdI/AAAAAAAAAQs/lphsBZx7eVI/s72-c/rebutan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-1805471039834803067</id><published>2007-11-27T23:28:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:29.964+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjarmasin'/><title type='text'>Rental Komik, Yuk</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xI896B5pI/AAAAAAAAAPs/HfSimhpBMGA/s1600-h/Conan5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 206px; height: 206px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xI896B5pI/AAAAAAAAAPs/HfSimhpBMGA/s200/Conan5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137561487170201234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Dua anak berseragam SD membolak-balik halaman komik &lt;i style=""&gt;Detektif Conan&lt;/i&gt;. Mereka membaca beberapa halaman, lalu meletakkan kembali. Tangannya mencomot komik lain. Sabtu (24/11) siang itu, tempat penyewaan komik Dr Zero di Jl Adhiyaksa Kayu Tangi tampak ramai dikunjungi mahasiswa, pelajar dan anak-anak SD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Ruangan berukuran 3 x 6 meter itu penuh sesak dengan novel, komik dan majalah yang berdiri di jajaran rak berlapis kertas hias. Lampu temaram membuat kesan sejuk di siang yang panas itu. Sehingga ada juga pengunjung yang memilih membaca di tempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Di sana ada koleksi komik berbagai versi. “Biasanya cowok suka pinjam komik bertema &lt;i style=""&gt;sport&lt;/i&gt;, perang-perangan dan ninja,” kata Lathifah (18), penjaga di Dr Zero. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sementara untuk peminjam novel &lt;i style=""&gt;teenlit&lt;/i&gt; kebanyakan gadis-gadis remaja. “Soalnya, banyak yang bertema romantis,” ujarnya dengan tersipu. Dia sendiri mengaku suka novel bertema cinta. Saat itu, di tangannya ada novel &lt;i style=""&gt;Scandalous Pride&lt;/i&gt; tulisan Diana Hamilton.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Harga sewa cukup terjangkau untuk kalangan remaja. Rp 1.200 untuk satu komik per hari. “Nominal itu, kita ambil dari 10 persen harga beli buku,” kata mahasiswi Fakultas Ekonomi Unlam ini. Jika lewat, dendanya sama dengan harga sewa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Bagi &lt;i style=""&gt;member&lt;/i&gt; awal, dipungut uang pendaftaran Rp 5.000 dan gratis meminjam dua komik. Berikutnya, jika meminjam harus meninggalkan identitas diri bisa KTP, Kartu Pelajar atau Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sistem peminjaman di Dr Zero tampaknya cukup rapi. Setiap &lt;i style=""&gt;member&lt;/i&gt; memiliki satu kartu berisi kolom identitas,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;judul buku dan waktu pinjam. Rekap peminjaman dikumpulkan dalam satu buku besar. Setiap buku juga memiliki nomer kode tersendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Tarif Dr Zero agak lebih mahal dibanding dengan Shibuya Comic Center di Jl Flamboyan I Kayu Tangi yang hanya Rp 1.000 untuk satu komik serial. Bahkan untuk komik baru &lt;i style=""&gt;(new release)&lt;/i&gt;, Shibuya berani memasang harga sewa Rp 900. “Pendapatan satu hari bisa Rp 50.000,” kata Zuhdi (18) penjaga di Shibuya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Persyaratan sewa Shibuya tidak serapi di Dr Zero, tidak ada kartu peminjam. Namun, ruangan lesehan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;3 x 3 meter menjadikan pembaca lebih nyaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Komik mendidik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Pembaca komik akan hanyut dalam cerita yang dibangun oleh pengarangnya. Kekuatan ilustrasi, alur cerita dan tampilanlah yang menjadikan pembaca betah memelototi setiap detil gambar di lembaran komik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Komik mengajarkan nilai-nilai persahabatan, solidaritas dan cinta. Seperti pengakuan Hendra (23), dosen muda FE Unlam ini juga komik-mania. “Banyak pelajaran bisa diambil dari komik, tapi tidak semua komik itu mendidik,” ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Hendra biasa menyewa komik di Meratus, Jl Meratus belakang kampus STIE Nas. “Di sana sudah buka sejak tahun 80-an, sejak SD saya sudah meminjam di sana,” ujar lelaki yang tinggal di Sungai Miai ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Menurutnya, ada dua jenis komik, yaitu versi Amerika dan Jepang. Komik Jepang disebut &lt;i style=""&gt;manga&lt;/i&gt;. Komik Amerika lebih banyak mengajarkan &lt;i style=""&gt;action&lt;/i&gt;, sementara &lt;i style=""&gt;manga&lt;/i&gt; lebih menyentuh jiwa. “&lt;i style=""&gt;Manga&lt;/i&gt; menggairahkan, bisa bikin menangis dan yang jelas, lebih dari sekedar komik,” katanya sambil menerawang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Ada juga komik untuk dewasa, misalnya &lt;i style=""&gt;The Simpson&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Sinchan&lt;/i&gt;. Keduanya cocok dikonsumsi orang dewasa yang sudah bisa memahami kenakalan bukan untuk dicontoh. “Ini yang saya maksud tidak mendidik bagi anak-anak,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Genre&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt; yang lain adalah &lt;i style=""&gt;Saint Seiya&lt;/i&gt;, ceritanya sangat dalam. Hanya yang berusia 20 tahun ke atas bisa memahami nilai- nilai yang diajarkan komik itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Pendapat senada dikemukakan &lt;a href="http://profiles.friendster.com/biruhati"&gt;Martina Rahmi&lt;/a&gt; (23). Dokter muda di RSUD Ulin ini menganggap komik sebagai pembuka cakrawala. Alumni Fakultas Kedokteran Unlam ini mengaku lebih suka novel bertema detektif, pengorbanan dan perjuangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Misalnya, &lt;i style=""&gt;Topeng Kaca Bidadari Merah&lt;/i&gt;, berisi kisah perjuangan seorang pemain teater yang mengawali kiprahnya dari nol. Novel kedua adalah &lt;i style=""&gt;Rose of Versailles&lt;/i&gt; yang mengisahkan perjuangan Maria Antoinette di Perancis. “Komik itu luar biasa,” ucap Rahmi, panggilan akrabnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Ternyata, penyuka komik bukan hanya anak-anak atau remaja. Kalangan profesional juga tetap membutuhkan komik sebagai sarana &lt;i style=""&gt;refreshing&lt;/i&gt; dan pembelajaran. Ke depan, bisnis rental komik ini tampaknya akan tetap laku.&lt;b style=""&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-1805471039834803067?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/1805471039834803067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/rental-komik-yuk.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/1805471039834803067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/1805471039834803067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/rental-komik-yuk.html' title='Rental Komik, Yuk'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xI896B5pI/AAAAAAAAAPs/HfSimhpBMGA/s72-c/Conan5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-5888837822550558593</id><published>2007-11-27T23:17:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:30.098+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjarmasin'/><title type='text'>Olahraga dan Olah Batin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xEad6B5oI/AAAAAAAAAPk/bbx3N07EWUs/s1600-h/Sabilal.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 221px; height: 166px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xEad6B5oI/AAAAAAAAAPk/bbx3N07EWUs/s200/Sabilal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137556496418203266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Setiap hari Minggu pagi sehabis Subuh, ada dua aktivitas menarik di lingkungan Masjid Sabilal Muhtadin, yang berada di tengah kota. Pertama adalah orang yang berolahraga, kedua adalah jamaah pengajian di masjid terbesar Banjarmasin itu. Ada olah fisik, ada juga olah batin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Seperti terlihat Minggu (25/11) pagi, jalan di depan Gedung H Djok Mentaya Banjarmasin Post Group sangat ramai. Para pejalan kaki dan pedagang makanan kecil memenuhi seluruh badan jalan. Kebanyakan mereka memakai pakaian olahraga, keringat membasahi wajah mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Gadis seusia SMA bergerombol di sudut Taman PKK, bercanda sambil memegang sebungkus &lt;i style=""&gt;pentol&lt;/i&gt; di tangan. Sebagian sibuk bercerita tentang mode rambut dan pakaian. Sebelumnya, mereka berjalan mengitari Jl AS Musyaffa, Jl Merdeka, lalu berbelok ke Jl Sudirman, mengelilingi Masjid Sabilal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Ada juga sepasang suami istri. Sang istri menggendong anak kecil di dekapannya. Berjalan pelan, tak tampak bekas keringat di tubuh dan wajah mereka. Berjalan pelan dari halaman timur Masjid Sabilal, menuju halaman parkir Taman PKK. Berhenti sebentar, membeli makanan dan minuman, lalu mereka pulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Segerombolan anak muda berpakaian serba hitam duduk di sudut halaman pagar Markas Komando Resimen Yudha Putra, tepat di seberang timur Gedung BPost Group. Celana serba ketat, jaket melekat di tubuh yang kebanyakan &lt;i style=""&gt;ceking&lt;/i&gt;. Mereka memakai sepatu bot yang tinggi ujung atasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Rambut &lt;i style=""&gt;nyentrik&lt;/i&gt; gaya berdiri. Gelang kalung mereka unik, terbuat dari rantai besar warna perak. Aksesoris serba tak lazim bergantungan di badan mereka. Itulah kaum &lt;i style=""&gt;punk&lt;/i&gt;. Pagi itu, mereka juga menikmati suasana Minggu. Berkumpul dan &lt;i style=""&gt;jogging&lt;/i&gt; bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Ratusan, bahkan bisa mencapai seribu orang yang berkumpul di sekitaran Masjid Sabilal. Mereka berolahraga pagi itu. Seperti Saiful (25), warga Kayu Tangi ini, setiap Minggu pagi berlari dari rumah kosnya ke halaman Masjid Sabilal Muhtadin. “Untuk pernafasan dan kesehatan badan,” katanya. Selain olah raga, beberapa orang datang hanya untuk &lt;i style=""&gt;mejeng&lt;/i&gt; atau cuci mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Berbeda dengan di luar, di dalam masjid ada aktivitas pengajian. Hiruk pikuk luar tidak mempengaruhi kekhusukan suara &lt;i style=""&gt;shalawat&lt;/i&gt; yang menggema ke seluruh sudut kota. Shalawat itu diselingi undangan bagikhalayak agar masuk masjid dan mengikuti acara dzikir dan pengajian bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Ibu-ibu perpakaian serba putih melangkah masuk ke halaman masjid. Tangan mereka membawa tas berisi tasbih dan mukena. Setelah berwudhu, mereka masuk ke ruang utama masjid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sejumlah ibu sudah membentuk barisan rapi. Menghadap ke sebuah meja di depan mimbar yang biasa dinaiki para khatib Jumat. Dengan takzim, lantunan doa keselamatan mengalun dari mulut mereka. Ritmik, harmonis dan syahdu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Kebanyakan ibu-ibu itu berusia lanjut. Hampir tidak ada anak muda. Sementara banyak anak muda berada di luar masjid. Berpakaian modis, bahkan sebagian ketat seksi, berlarian menyusuri jalan. Mereka berolahraga, sementara orang tua berolah batin di dalam masjid.&lt;b style=""&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-5888837822550558593?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/5888837822550558593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/olahraga-dan-olah-batin.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/5888837822550558593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/5888837822550558593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/olahraga-dan-olah-batin.html' title='Olahraga dan Olah Batin'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xEad6B5oI/AAAAAAAAAPk/bbx3N07EWUs/s72-c/Sabilal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-4462265342756181461</id><published>2007-11-27T23:07:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:30.179+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Kelotok: Usaha Turun Temurun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xCut6B5mI/AAAAAAAAAPU/NohNCI-bSs8/s1600-h/kelotok.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xCut6B5mI/AAAAAAAAAPU/NohNCI-bSs8/s200/kelotok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137554645287298658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sungai Martapura di depan Kantor Walikota Banjarmasin tampak ramai. Puluhan orang menunggu kelotok yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan. Alat transportasi air ini masih sangat akrab bagi penduduk Kota Seribu Sungai. Meskipun jalan darat sudah terbangun, masih banyak masyarakat yang memilih kendaraan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Mansyah (53), adalah salah satu pemilik kelotok yang beroperasi dari sungai di depan Kantor Walikota Jl RE Martadinata hingga ke Basirih. Dalam sehari, kelotoknya bisa empat kali bolak-balik. Selain itu, dia juga melayani penumpang rombongan yang meminta ke Pulau Kembang atau Pasar Terapung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Kelotoknya mampu mengangkut 30 orang sekaligus. “Sebetulnya jumlah maksimum di surat jalan 12 orang, tapi penumpang tidak mau menunggu kelotok berikutnya,” ujarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sekali jalan, penumpang dipungut bayaran Rp 2.500. Sementara untuk biaya &lt;i style=""&gt;carter&lt;/i&gt; ke Pulau Kembang, Mansyah memasang tarif Rp 125 ribu. Penghasilannya meningkat ketika hari libur atau Minggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Lelaki yang tinggal di Teluk Tiram ini mengaku sudah menggeluti profesi tukang kelotok sejak 1970. Tiga puluh tahun menggeluti profesi ini, tidak membuatnya bosan. “&lt;i style=""&gt;Ulun kada parnah bagawi nang lain pang&lt;/i&gt; (saya tidak pernah bekerja selain mengemudikan kelotok),” akunya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sejak kecil, bapak tujuh anak ini meneruskan usaha orangtuanya. Sudah sebelas kali dia berganti kelotok. “Mulai dari yang berukuran kecil berbahan bakar bensin, hingga yang ini,” katanya sambil menunjuk kelotok ukuran panjang delapan meter dan tiga meter di buritan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Pernah dulu dia memiliki dua kelotok, yang satu dikemudikan anak lelakinya. Sejak anaknya itu diterima kerja di tempat lain, kelotoknya dijual. Tampaknya, usaha ini belum ada yang meneruskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Dalam satu hari, dia biasa menghabiskan sepuluh liter solar untuk menjalankan kelotok. Keuntungan per hari tidak sama, tergantung jumlah penumpang. Namun, rata-rata sehari mengumpulkan Rp 50 ribu. “&lt;i style=""&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;, cukup saja untuk membiayai keluarga,” ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Bersama pengusaha kelotok yang lain, Mansyah tergabung dalam Gapasdaf (Gabungan Pengusaha Sungai, Danau dan Ferry). Persatuan ini yang menentukan trayek setiap kelotok, sekaligus tempat pendaftaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Tahun 1980-an pernah ada koperasi dari organisasi tersebut. Tapi kini sudah tidak jalan. “Dulu, kami bisa mengambil cat untuk kelotok tanpa bayar dulu,” kata lelaki kelahiran 3 Juli 1954 ini.&lt;b style=""&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-4462265342756181461?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/4462265342756181461/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/kelotok-usaha-turun-temurun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4462265342756181461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4462265342756181461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/kelotok-usaha-turun-temurun.html' title='Kelotok: Usaha Turun Temurun'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xCut6B5mI/AAAAAAAAAPU/NohNCI-bSs8/s72-c/kelotok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-7088850239805879231</id><published>2007-11-27T22:58:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:30.366+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Jualan Sama Keuntungan Beda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xAhN6B5kI/AAAAAAAAAPE/y8hoaPHCR9g/s1600-h/940692.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xAhN6B5kI/AAAAAAAAAPE/y8hoaPHCR9g/s200/940692.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137552214335809090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Di depan pagar SD Negeri Kampung Melayu 03 dan 09, seratus meter dari halaman parkir Duta Mall Banjarmasin, berjajar penjual makanan kecil. Salah satunya adalah pentol bakso. Bentuknya yang kecil dijual dengan harga Rp 500 dan yang besar Rp 1.000 per buah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sebuah sepeda jengki tua. Di stangnya ada terompet kecil yang dibunyikan ketika sepeda jalan, menandai bahwa tukang pentol sudah lewat. Aqua botol besar dan jerigen kecil warna putih menggantung di stang itu. Ujung gagang sebuah payung lusuh, yang melindungi penjual dari terik matahari, ditalikan di sadel tempat dudukan sepeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Dua kotak wadah pentol bergantung di boncengan sepeda. Pada kotak sisi kiri, atasnya terbuat dari kaca berisi pentol terbuat dari bakwan. Sementara kotak sisi kanan berisi panci yang memuat pentol dari tepung rasa daging sapi. Telur dan tahu rebus juga ada di panci itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Penjualnya bernama Suwoto (55). Memakai kaos hitam lengan panjang, warnanya sudah kusam. Celana bergurat hitam dan topi terbuat dari daun pandan yang ujungnya sudah terburai, melengkapi penampilannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Setiap hari, lelaki asal Lamongan ini menghabiskan 2,5 kilogram tepung kanji dan tepung terigu untuk barang jualannya. Dia menggiling tepung di Pasar Lama, sementara untuk racikan bumbu dibuatnya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Lelaki beranak lima ini menjual pentol sejak tahun 1991, sepuluh tahun setelah dia merantau ke Banjarmasin pada 1981. Tempat penjualannya selain di SDN Kampung Melayu 03, juga di SD Marsudi Wiyata. Setelah siswa sekolah pulang, untuk menghabiskan jualan, dia berkeliling memasuki lorong dan gang. “Biasanya di sekitar Pasar Lama saja,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Setiap hari, keluar rumah pukul 09.00 dan pulang 18.00. “Pendapatan kotor per hari Rp 50 ribu. Sementara keuntungan bersih sekitar Rp 25 ribu, Mas,” katanya dalam bahasa Jawa halus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Meski sama-sama menjual pentol, keuntungan bisa berbeda. Seperti halnya Istaqomah (40). Perantau asal Jember, Jawa Timur ini memperoleh pendapatan kotor di atas Rp 200 ribu setiap harinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;“Dari setiap biji, kami mengambil keuntungan seratus rupiah,” kata lelaki yang tinggal di Jl Akasia Kayu Tangi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Gerobak kayuh beroda tiga bercat hijau di bawah kerindangan pohon. Tepat di samping tempat wudhu putri Masjid Kampus Unlam Banjarmasin. Gerobak itu digunakan Pak Is, panggilan akrabnya, untuk membawa pentol, telur dan tahu jualannya. Ada tambahan bumbu bawang goreng dan irisan daun seledri bagi pembeli yang meminta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Harga rata-rata sama dengan yang lain, namun karena lokasi penjualan di kampus, pembelinya mayoritas mahasiswa. Cukup duduk di samping gerobak, pembeli sudah berdatangan. Langganannya selain mahasiswa adalah para dosen setempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Pak Is menjual pentol sejak lima tahun yang lalu. Dia ikut pengusaha pentol bernama Heru yang memiliki sepuluh anak buah. Delapan di antaranya berjualan di kampus-kampus.&lt;b style=""&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-7088850239805879231?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/7088850239805879231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/jualan-sama-keuntungan-beda.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/7088850239805879231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/7088850239805879231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/jualan-sama-keuntungan-beda.html' title='Jualan Sama Keuntungan Beda'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0xAhN6B5kI/AAAAAAAAAPE/y8hoaPHCR9g/s72-c/940692.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-4985791645375178978</id><published>2007-11-27T22:46:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:30.457+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjarmasin'/><title type='text'>Robot Binatang Anti-Narkoba</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0w-e96B5iI/AAAAAAAAAO0/hTENP1xm5fY/s1600-h/gajah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0w-e96B5iI/AAAAAAAAAO0/hTENP1xm5fY/s200/gajah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137549976657847842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;“Gajahnya mana, Om?,” tanya Adit (4) kepada penjaga tiket. Anak kecil itu ingin naik robot gajah yang menjadi favorit. Enam robot binatang berjalan pelan di lorong lantai satu Duta Mall Banjarmasin. Ada gajah, zebra, onta, badak, sapi dan domba. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Ukurannya setengah dari binatang aslinya, namun sudah cukup untuk dinaiki seorang anak. “Berat penumpang maksimum 25 kilogram,” kata Anto (25), penjaga tiket di stan Yada Toys. Stan itu ada di bagian belakang lantai satu Duta Mall.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Pemuda itu berbaju biru lengan pendek, di punggungnya tertera tulisan “Nikmati Petualangan Yada Toys.” Yada Toys adalah perusahaan mainan yang menyewakan robot berbagai jenis binatang untuk dinaiki anak-anak. Berpusat di Jakarta dan telah membuka cabang di berbagai mall di kota besar. Untuk Banjarmasin baru di Duta Mall saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Ada lima orang yang bertugas hari itu. Mereka sibuk melayani anak-anak, sambil menjalankan robot binatang. Menurut penuturan Anto, satu hari ada 80 hingga 100 anak yang menaiki robot mereka. Bahkan pada hari Minggu atau libur, mencapai 250 anak. Harga tiket Rp 7.000 per anak untuk satu kali putaran. “Kami buka dari jam 09.30 hingga 21.30,” kata pemuda kelahiran Purwokerto ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Dengan dituntun seorang petugas, anak-anak menikmati pemandangan etalase toko di pojok belakang Duta Mall. Jarak putar perjalanan robot itu sekitar 100 meter.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Pada &lt;i style=""&gt;standing banner&lt;/i&gt; yang berdiri di samping meja penjaga tiket, tertera tulisan “70 % Keuntungan Bersih Yada Toys untuk Mendukung YCAB.” YCAB (Yayasan Cinta Anak Bangsa) adalah sebuah lembaga non profit yang bergerak di bidang pencegahan penyalahgunaan narkoba di Indonesia melalui pendidikan, pelatihan dan riset.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;“Sejak awal pendirian usaha mainan ini memang untuk menunjang program YCAB,” tegas Anto. Menariknya, mereka juga memiliki website yang bisa diakses di &lt;a href="http://ycab.org/"&gt;ycab.org&lt;/a&gt;. Sayang, versi Indonesianya masih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;under-development&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Raudhah, seorang ibu yang mengantarkan anaknya, mengaku tidak tahu jika sebagian keuntungan digunakan untuk program anti-narkoba. Meski banyak pengunjung yang tidak mengetahui program sosial itu, tapi langkah Yada Toys merupakan terobosan baru.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[6/11/2007]&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-4985791645375178978?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/4985791645375178978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/robot-binatang-anti-narkoba.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4985791645375178978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/4985791645375178978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/robot-binatang-anti-narkoba.html' title='Robot Binatang Anti-Narkoba'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0w-e96B5iI/AAAAAAAAAO0/hTENP1xm5fY/s72-c/gajah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-563766811412205601</id><published>2007-11-27T22:39:00.000+07:00</published><updated>2008-08-03T01:17:46.262+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjarmasin'/><title type='text'>Maaf, Anggota Polri Dilarang Masuk</title><content type='html'>&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Di belakang Hotel Banjarmasin Indonesia (HBI), yang terletak di Jalan A. Yani Kilometer 4,5, berdiri bangunan lima lantai. Lampu kerlap-kerlip menghiasi dinding luarnya. Baliho besar menempel di lantai lima. Baliho itu dibuat dari lampu warna-warni, di sana tertera tulisan BOEC (Banjarmasin One-stop Entertainment Center).  Sebulan yang lalu, saya ke  tempat itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Lift berkaca transparan naik turun mengangkut orang yang berdatangan. Di gedung itu ada fasilitas &lt;i style=""&gt;spa&lt;/i&gt; (mandi lulur), &lt;i style=""&gt;sauna&lt;/i&gt; (mandi uap), &lt;i style=""&gt;fitness&lt;/i&gt;, aerobik, diskotik dan karaoke. Ruang untuk diskotik dan karaoke adalah tempat yang paling sering dikunjungi orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Jam menunjukkan pukul 20.30, suasana masih sepi. Biasanya, mulai ramai di atas pukul 23.00. Anak muda Banjarmasin menjadikan gedung ini sebagai wahana hiburan, kencan dan berkumpul bersama kawan-kawan. Meski begitu, kaum setengah baya juga tidak sedikit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Di lantai empat gedungitu terdapat sebuah diskotik besar. Delapan orang berpakaian serba gelap menjaga di depan pintunya. Pin kecil Polri berwarna emas menempel di dada kanan mereka. Mereka adalah anggota satuan pengamanan (satpam) yang dilatih khusus oleh pihak kepolisian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Stiker bertuliskan “Anggota Polri Dilarang Masuk” menempel dengan mencolok di kaca pintu yang transparan. Tertera di stiker itu, sanksi hukum yang wajib diterapkan kepada anggota polisi yang datang ke diskotik. Tapi,  jelas sanksi itu hanya untuk yang memakai seragam dinas. Kalau hanya berpakaian preman bagaimana?  Yah, diperlakukan sebagaimana warga biasa lah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Resepsionis menjaga di meja depan. Tiga gadis ditemani beberapa lelaki yang berseragam kaos putih. Sebuah merek rokok tertera di kaos mereka. Setiap yang hendak masuk ke ruangan diskotik harus melalui resepsionis ini dulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Di depan resepsionis, seorang gadis cantik berpakaian ketat. Rok mini ukuran setengah paha dipakainya. Sepatu hak tinggi menjadikan langkah berirama. Bersama tujuh kawannya keluar dari pintu lift. Bergegas menuju ke pintu diskotik. Saat pintu terbuka, terdengar suara &lt;i style=""&gt;house music&lt;/i&gt; cukup keras. Musik yang menggelegar dan berirama rancak, membuat pendengarnya otomatis menggerakkan badan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Untuk bisa masuk ke dalam, setiap orang diwajibkan membayar uang Rp 35.000. Pelanggan yang biasa disebut &lt;i style=""&gt;member&lt;/i&gt;, akan mendapat akses masuk sekaligus satu botol &lt;i style=""&gt;softdrink&lt;/i&gt; (minuman ringan). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Di dalam ruang diskotik para penikmat musik bergoyang. Semacam konser kecil yang sangat meriah. Lampu gemerlap, kadang terang benderang kadang gelap gulita. Bola lampu bergerak memutar. Sorotnya yang penuh warna: merah, hijau, kuning bekerlipan menimpa wajah dan tubuh pelanggan yang bergoyang keras. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sementara di lantai lima, ruangan diskotik dan karaoke berupa kamar. Hanya &lt;i style=""&gt;member&lt;/i&gt; penyewa yang bisa memakainya. Setiap kamar berisi fasilitas disko, ranjang dan kamar mandi. Penyewa bebas melakukan apapun di dalam ruangan itu. Biasanya, penyewa membawa &lt;i style=""&gt;ladies&lt;/i&gt; yang bisa dipesan pada resepsionis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12;"  lang="IN" &gt;Lorong gelap membelah kamar-kamar di kanan kiri. Di ujung lorong ada &lt;i style=""&gt;bartender&lt;/i&gt; yang melayani pelanggan. Mereka menyediakan minuman berbagai macam merek, baik minuman ringan maupun minuman keras. Di tempat itu, tampaknya kepuasan dan privasi pelanggan sangat diutamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, dunia gerlap malam di Banjarmasin. Kota yang konon termasuk terpanas ke-11 di Indonesia.&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-563766811412205601?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/563766811412205601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/maaf-anggota-polri-dilarang-masuk.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/563766811412205601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/563766811412205601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/maaf-anggota-polri-dilarang-masuk.html' title='Maaf, Anggota Polri Dilarang Masuk'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-6348556230766712448</id><published>2007-11-27T22:07:00.000+07:00</published><updated>2008-12-09T08:00:30.574+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Banjarmasin'/><title type='text'>Uang Akhirat untuk Leluhur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0w56N6B5gI/AAAAAAAAAOk/SoiTdM3dKRc/s1600-h/300px-Kelenteng_Budi_Sutji_Banjarmasin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0w56N6B5gI/AAAAAAAAAOk/SoiTdM3dKRc/s200/300px-Kelenteng_Budi_Sutji_Banjarmasin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137544947251144194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Di kota Banjarmasin terdapat dua rumah ibadat yang sudah berusia ratusan tahun. Rumah ibadat yang juga disebut kelenteng itu, satu di antaranya terletak di Jl Kapten Pierre Tendean 36. Bangunan tua bernama Rumah Ibadat Tri Dharma itu sudah berusia 128 tahun. Umat Tri Dharma yaitu mereka yang beragama Budha, Tao dan Konghucu, beribadat di tempat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Tulisan “Soetji Noerani” tercetak tebal di bagian atas gapura masuk. Soetji Noerani&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;adalah terjemahan dari&lt;i style=""&gt; Tjhe Sen Kiong&lt;/i&gt;. Di atasnya menempel lambang berbentuk lingkaran terbagi dua bagian simetris berwarna hitam dan putih. Tanda itu biasa disebut &lt;i style=""&gt;yin-yang.&lt;/i&gt; Cat warna merah menyala dan kuning mendominasi pagar dan dinding di komplek itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Kaligrafi Cina berwarna merah menempel di dinding bangunan. Warna coklat kusam menandakan kaligrafi itu sudah lama ditempelkan. Dua tiang bulat berdiameter setengah meter di bagian depan menopang atap. Dua patung naga meliliti tiang itu. Lampion bulat transparan bergantung di ujung atap bagian bawah, bergoyang ditimpa angin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Memasuki komplek kelenteng, tampak berdiri sebuah bangunan mirip pagoda kecil setinggi tiga meter. Pagoda itu tidak sendirian. Ada satu pagoda lagi yang berdiri di halaman bagian kiri dari kelenteng. Tapi bentuknya berbeda, yang satu ini bulat seperti gentong dan puncaknya mengerucut. Keduanya memiliki tungku pembakaran di sisi kanan-kirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sisa pembakaran bertumpuk di dalam tungku. Tampak bekas kertas yang dibakar. Sebelum menjadi abu, kertas-kertas itu ditata berbentuk seperti nekara. Seimbang atas dan bawahnya. Setiap lembar memiliki nilai berbeda, antara Rp 15.000 hingga Rp 100.000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Orang yang beribadat itu harus membeli “uang akhirat” pada pengurus kelenteng. Mereka menukar sejumlah uang dengan beberapa helai kertas warna merah dan kuning dengan tulisan tertentu dalam huruf Cina. Lalu membakarnya di tungku pagoda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Penganut Tri Dharma memiliki keyakinan bahwa arwah orang tua dan leluhur mereka di alam baka harus selalu dikirimi uang. Bagi mereka, alam baka sama dengan alam dunia. Butuh biaya untuk hidup di sana. Anak yang ingin berbakti kepada leluhur sesering mungkin membakar kertas “uang akhirat” itu. Bahkan ada yang disebut “uang malaikat”, yang nilainya mencapai satu milyar.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[01/11/2007]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-6348556230766712448?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/6348556230766712448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/uang-akhirat-untuk-leluhur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6348556230766712448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6348556230766712448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/11/uang-akhirat-untuk-leluhur.html' title='Uang Akhirat untuk Leluhur'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/R0w56N6B5gI/AAAAAAAAAOk/SoiTdM3dKRc/s72-c/300px-Kelenteng_Budi_Sutji_Banjarmasin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-6747530723284276452</id><published>2007-10-28T00:31:00.001+07:00</published><updated>2010-09-01T16:13:29.306+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalistik'/><title type='text'>Huruf L Pengantar Petaka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/RyN3CdN7X1I/AAAAAAAAAOM/KEhhHOF8m18/s1600-h/V01indexL.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/RyN3CdN7X1I/AAAAAAAAAOM/KEhhHOF8m18/s200/V01indexL.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126071684964245330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://bernas.co.id/"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Bernas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt; adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di Jogjakarta. Pada 1990, Kelompok Kompas-Gramedia mengakuisisi &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt; menjadi bagian dari Persda, satu di antara anak perusahaannya. Karena satu huruf saja, harian ini pernah hampir digerebeg oleh massa. Sebab itulah, presisi sangat diutamakan dalam grup Kompas-Persda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Awalnya adalah ketika terbit perdana edisi berwarna. Sebelumnya, &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt; hanya terbit &lt;i style=""&gt;black-white&lt;/i&gt; setiap hari. Pada hari Minggu, medio 1991, diputuskan memuat berita tentang pagelaran busana di Inggris. Lalu, disepakati dengan judul ‘Pagelaran Musim Semi-Panas di Inggris.’ Dimuat dengan &lt;i style=""&gt;full color&lt;/i&gt;, seperempat halaman depan berisi foto para model yang cukup seksi. Pakaian minim dan penuh gebyar. Lazimnya busana musim semi dan panas di Barat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Hari Senin kondisi masih biasa. Selasa tidak ada respon berlebihan, Rabu juga &lt;i style=""&gt;adem ayem&lt;/i&gt;. Tiba-tiba, Kamis malam ada info dari jaringan &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt;, bahwa akan ada penyerbuan ke kantor redaksi &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt;. Malam itu berkumpul para aktivis gerakan Islam, seperti HMI, IMM, PII, NU dan Muhammadiyah. Mereka melakukan rapat di Masjid Syuhada Kotabaru. Agendanya hanya satu: menata rencana untuk demonstrasi ke kantor redaksi &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt; dituduh melakukan pelecehan terhadap kaum muslimin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Kita tahu, kondisi saat Soeharto masih bertahta, sangat menakutkan. Demonstrasi jarang terjadi. Jika toh terjadi, maka itu sebuah klimaks dari sebuah masalah. Terlebih jika gerakan Islam yang berdemonstrasi. Itu artinya, sebuah media tengah menghina kaum mayoritas di negeri ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Ketika kejadian itu sampai ke telinga redaksi &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt;, seluruh awak redaksi kalang kabut. Terbitan &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt; diteliti lagi, dibaca mundur. Edisi Kamis hingga Senin tidak menampakkan berita atau pilihan kata yang menyerempet isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan)—akronim yang dipopulerkan Menkopolkam Soedomo masa Soeharto dulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Ternyata, ditemukan kata yang menjadi malapetaka itu. Dalam &lt;i style=""&gt;caption&lt;/i&gt; atau keterangan foto, terdapat kesalahan ketik. Disana tertulis ‘Pagelaran Busana Mus&lt;b style=""&gt;l&lt;/b&gt;im Semi-Panas.’ Sementara tampilan di atasnya adalah aurat wanita—paha, pinggul, rambut tergerai—yang menjadi keharaman besar bagi umat Islam jika ditampakkan di muka umum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Segera pihak &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt; melakukan pengecekan internal. Bagian foto memastikan foto dan &lt;i style=""&gt;caption&lt;/i&gt; yang diserahkan pada redaktur sudah sesuai. Di pihak redaksi meyakinkan bahwa tidak melakukan kesalahan. Ketika sampai di bagian produksi, barulah pengakuan datang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Saat itu, koran hampir naik cetak. Ketika penataan foto dan berita, ternyata masih ada halaman yang bolong. Tata letak di bagian produksi memutuskan mengetik ulang &lt;i style=""&gt;caption&lt;/i&gt; foto pagelaran busana itu. Karena tergesa, akhirnya huruf ‘L’ terselip di antara ‘S’ dan ‘I’. Tulisan yang harusnya ‘musim’ menjadi ‘muslim’. Kesalahan tidak sengaja itu, hingga naik cetak. Parahnya, tidak ada yang menyadari hal itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Bagaimana antisipasinya? Sebuah posisi yang menguntungkan, saat itu banyak wartawan &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt; adalah alumni IAIN dan beberapa di antaranya mantan aktivis mahasiswa. Segera mereka bergerak dan berpencar, menghubungi para pemimpin gerakan mahasiswa dan ormas Islam di Jogjakarta. Meyakinkan mereka bahwa yang terjadi benar-benar tidak ada unsur kesengajaan. Semata-mata karena ketergesaan dan salah ketik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Pada mulanya, para aktivis Islam itu tidak percaya dengan &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt;. Alasannya, karena selama pascaterbitnya edisi malapetaka itu, yaitu Senin hingga Kamis, sama sekali tidak ada ralat dari redaksi. Tidak ada penjelasan hingga muncul respon dari pembaca yang cermat. Tapi, para pelobby yang juga alumni IAIN serta sudah kenal sebelumnya terus meyakinkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Akhirnya, para pemimpin organisasi Islam itu bisa diyakinkan. Sebagai konsekuensinya, edisi Jumat pagi itu, &lt;i style=""&gt;Bernas&lt;/i&gt; memenuhi halamannya dengan permohonan maaf kepada seluruh elemen umat Islam. Memberi klarifikasi atas kesalahan yang sangat fatal itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Kasus yang mirip pernah terjadi pada &lt;i style=""&gt;Jawa Pos&lt;/i&gt;. Pada 1994, ada sebuah tulisan di rubrik opini yang salah meletakkan huruf ‘N’ menjadi ‘B’. Fatalnya, kata yang tercetak itu adalah sebutan untuk pemimpin dan tauladan tertinggi umat beragama. Jadilah kata ‘nabi’ menjadi ‘babi’. Fatal bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Cerita ini saya peroleh dari Yusran Pare. Dia seorang jurnalis di kelompok Kompas-Persda, yang sekarang menjadi Wakil Pemimpin Redaksi &lt;i style=""&gt;Banjarmasin Post&lt;/i&gt;. Yusran juga orang yang membesarkan satu grup Kompas-Persda, harian yang terbit di Bandung yaitu&lt;i style=""&gt; Tribun Jabar&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Demikianlah, sebuah kecerobohan menciptakan malapetaka. Pelajaran yang bisa diambil, kecermatan dan ketelitian adalah syarat mutlak dalam jurnalisme. Satu huruf menjadi malapetaka, jika salah menempatkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12px;"  lang="IN" &gt;Terakhir, saya berdoa, semoga tidak ada huruf yang terselip atau hilang dari tulisan ini. Sekira ada, itu semata ketidaksengajaan.&lt;b style=""&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-6747530723284276452?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/6747530723284276452/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/10/huruf-l-pengantar-petaka.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6747530723284276452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/6747530723284276452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/10/huruf-l-pengantar-petaka.html' title='Huruf L Pengantar Petaka'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/RyN3CdN7X1I/AAAAAAAAAOM/KEhhHOF8m18/s72-c/V01indexL.png' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-9215812109739506737</id><published>2007-10-27T23:42:00.001+07:00</published><updated>2010-09-01T16:13:49.904+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalistik'/><title type='text'>Penjaga Gawang Bahasa dan ‘Opini’</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/RyNySdN7X0I/AAAAAAAAAOE/_sTyn8gnLzc/s1600-h/143555_balokhuruf.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/RyNySdN7X0I/AAAAAAAAAOE/_sTyn8gnLzc/s200/143555_balokhuruf.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126066462284013378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Mungkin Anda adalah orang yang suka membaca rubrik Opini di &lt;i style=""&gt;Banjarmasin Post&lt;/i&gt;. Atau Anda pernah mencoba mengirim tulisan ke rubrik itu. Halaman rubrik itu berisi beberapa tulisan. Pertama, tajuk rencana yang menjadi suara redaksi. Kedua, kolom yang dijuduli ‘Suara Rekan’ yaitu tajuk dari koran-koran lain satu grup Kompas-Persda. Ketiga, kutipan pendapat dari masyarakat yang dimuat sesuai tema hari itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Rubrik ini cukup berwibawa, katakanlah begitu. Menurut beberapa rekan, topik yang dimuat cukup hangat dan selalu aktual. Penyajian—yang tentunya sudah melalui proses &lt;i style=""&gt;editing&lt;/i&gt; ketat—juga mudah dipahami. Tampaknya, editor rubrik ini sudah ‘merenovasi’ kata-kata yang dibuat oleh penulis aslinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Saya sendiri pernah mengalaminya. Ketika mengirim tulisan dengan 700 kata, saat dimuat tinggal 500 kata. Dua ratus kata yang lain dipangkas habis. Tetapi, saya puas karena menghilangkan kalimat-kalimat yang tidak perlu. Sekaligus, saya makin penasaran dengan sosok yang menjadi penjaga gawang opini di &lt;i style=""&gt;Banjarmasin Post&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Akhirnya, setelah menjadi bagian dari korporasi media terbesar se-Kalselteng ini, saya bisa bertemu dengannya. Ternyata, dia seorang perempuan. Penampilannya &lt;i style=""&gt;nyentrik&lt;/i&gt;: potongan rambut pendek, bahkan lebih pendek dari saya. Pakaian serba hitam, celana panjang dari jins, kaos lengan pendek yang dilipat. Ditambah rompi hitam dengan emblem PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dan logo Polda Kaltim di dada kiri. Mungkin suaminya polisi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Belum cukup itu, gelang berwarna hitam perak melingkar di lengannya. Kalung rantai kecil menggantung di leher. Kacamata dengan frame hitam tebal yang ujungnya berantai juga. Tampilannya makin nyentrik dengan sepatu bots tinggi dan tensoplas warna hitam berbintik kecil di dahi kanannya. Coba bayangkan, unik bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Ketika bersuara nyaring sekali. Dalam forum tidak perlu mikropon lagi. Lantangnya menyentuh sudut-sudut ruangan. Tapi, di balik segala keanehan tampilannya itu, dia bukan perempuan sembarangan. Terutama di wilayah kata dan bahasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Nama lengkapnya adalah Noor Dachlianie Adul. Tapi, kawan-kawan di &lt;i style=""&gt;Banjarmasin Post&lt;/i&gt; lebih mengenalnya sebagai Ida Ima. Jadilah dia dipanggil Bu Ima, atau Kak Ima. Memiliki jabatan sebagai Ketua Forum Bahasa Media Massa di Kalimantan Selatan. Organisasi ini adalah penjaga bagi pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar di media massa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Hal itu yang menjadikan standar bahasa di &lt;i style=""&gt;Banjarmasin Post&lt;/i&gt; cukup ketat. Karena redaktur opininya adalah pakar bahasa. “Seluruh tulisan Anda tidak akan lepas dari sayatan saya. Banyak wartawan sering salah menempatkan kata, kalimat dan frase. Itulah yang membuat pembaca tambah bingung,” katanya tegas. Itulah sosok penjaga gawang opini di Banjarmasin Post.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Saya merasa menjadi sangat bodoh saat berhadapan dengan Bu Ida. Sepertinya, pelajaran Bahasa Indonesia yang saya dapatkan sejak SD hingga bangku kuliah, tidak ada satupun yang melekat. SPOK (Subyek-Predikat-Obyek-Keterangan), idiom, denotasi-konotasi, abstrak-konkret, dan lainnya seakan baru saya dapatkan hari ini. Saya bagai orang asing yang baru sehari berada di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:12px;"  lang="IN" &gt;Bahkan mungkin, saat saya menulis yang sedang anda baca ini, seluruhnya salah di mata kaidah Bahasa Indonesia. Rasanya, kita perlu membuka kamus dan pedoman berbahasa lagi.&lt;b style=""&gt;[]&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6269977176617315631-9215812109739506737?l=jelajahsemesta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/feeds/9215812109739506737/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/10/penjaga-gawang-bahasa-dan-opini.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/9215812109739506737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6269977176617315631/posts/default/9215812109739506737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelajahsemesta.blogspot.com/2007/10/penjaga-gawang-bahasa-dan-opini.html' title='Penjaga Gawang Bahasa dan ‘Opini’'/><author><name>Amin Sudarsono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='27' src='http://1.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/SsPgF_MkKHI/AAAAAAAAAhQ/DQrDU9IQGh0/S220/amiiin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PvWyzKnPLAA/RyNySdN7X0I/AAAAAAAAAOE/_sTyn8gnLzc/s72-c/143555_balokhuruf.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6269977176617315631.post-8176296830707193952</id><published>2007-10-21T07:24:00.001+07:00</published><updated>2010-09-01T16:03:36.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tempat Kenangan'/><title type='text'>Silaturahim Tiga Tuan Guru</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Kemarin saya bersama kameramen Fauzi OKU dan reporter Rasyidi dari TVRI Banjarmasin berkesempatan mengikuti perjalanan silaturahmi para fungsionaris PKS bersama Habib Aboe Bakar al-Habsyi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Perjalanan satu hari kemarin menuju Martapura, yang dikenal sebagai jantung religi daerah &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt;. Utamanya karena disanalah makam Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari atau yang dikenal sebagai Datu Kelampayan, ulama dengan &lt;i style=""&gt;magnum opu&lt;/i&gt;s-nya: Sabilal Muhtadin. Selain itu, disana ada makam Guru Sekumpul, yaitu Tuan Guru Zaini Abdul Ghani yang telah wafat sekira dua tahun lampau. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Dua ulama itu adalah &lt;i style=""&gt;icon&lt;/i&gt; religi di &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; yang makamnya terus menerus diziarahi ummat. Ratusan orang datang setiap hari, bahkan pada malam tertentu seperti malam Jumat, banyak peziarah yang &lt;i style=""&gt;mabit&lt;/i&gt; (menginap) untuk membaca Yasin dan tahlil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Kunjungan kemarin itu berkenaan dengan agenda Idul Fitri. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="AF" style="font-family:Georgia;"&gt;Idul Fitri menjadi momentum yang sangat berharga bagi kaum muslimin. Utamanya untuk menjalin silaturahmi. Mengunjungi saudara, handai taulan, dan para ulama yang berjasa besar bagi perkembangan Islam di tanah Banjar. Terlebih sebagai wakil &lt;i style=""&gt;urang&lt;/i&gt; Banjar di DPR RI. Hal ini memotivasi Habib Aboe Bakar al-Habsyi untuk &lt;i style=""&gt;roadshow&lt;/i&gt; mengunjungi tiga tuan guru di kabupaten Banjar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="AF" style="font-family:Georgia;"&gt;Sabtu pagi, setelah beristirahat satu malam di Rattan Inn, habib yang terkenal dengan slogan “nang bakupiah haji” pada Pilgub 2005 kemarin ini, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pukul 08.30 pagi berangkat menuju kediaman Guru Sofyan di Kraton, Martapura. Padahal, satu malam sebelumnya, Habib Aboe Bakar masih berada di Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan umrah dan &lt;i style=""&gt;i’tikaf &lt;/i&gt;di Masjidil Haram. Nampaknya, tidak ingin meninggalkan keberkahan tanah suci.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="AF" style="font-family:Georgia;"&gt;Sekira pukul 10.00, rombongan habib Aboe sudah sampai di kediaman Guru Sofyan. Para petinggi Partai Keadilan Sejahtera Kalimantan Selatan nampak mengiringi. Mereka adalah Riswandi, SIP (Ketua MPW PKS), Husaini Sunni, Lc. (Ketua Dewan Syariah), Ibnu Sina, S.Pi. (Ketua Komisi I DPRD Kalsel), dan Guru H. Jamhari (Komisi D DPRD Kabupaten Banjar). Nampak pula Bendahara DPW PKS Kalsel, Didi Wahyudi, SE.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="AF" style="font-family:Georgia;"&gt;Memasuki ruang tamu Guru Sofyan, seluruh hadirin dipersilakan duduk. “Mari, silakan duduk. Semoga keberkahan Allah selalu menyertai kita,” sambut Guru Sofyan dengan segala keramahannya. Dialog akrab lalu terjadi antara Habib Aboe dengan Guru Sofyan, mereka saling bertanya kabar keluarga dan kesehatan. Ada tiga paramedis dari RS. Ratu Zalecha yang berada di ruangan itu. Nampaknya tuan rumah habis diperiksa. “Darah tinggi &lt;i style=""&gt;ulun&lt;/i&gt; agak naik, Bib &lt;i style=""&gt;ai&lt;/i&gt;. Mohon doa, semoga lekas sembuh,” tutur Guru Sofyan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="AF" style="font-family:Georgia;"&gt;Berikutnya, perbincangan mengarah pada masalah politik. “Anak-anak muda yang tergabung dalam Partai Keadilan Sejahtera ini sangat membutuhkan bimbingan &lt;i style=""&gt;pian&lt;/i&gt;, karena itu, mereka &lt;i style=""&gt;ulun&lt;/i&gt; ajak mengunjungi &lt;i style=""&gt;pian&lt;/i&gt;, agar selanjutkan &lt;i style=""&gt;kada supan-supan&lt;/i&gt; lagi jika harus meminta bantuan &lt;i style=""&gt;pian&lt;/i&gt;,” pinta Habib Aboe dengan lugas. Sembari itu, Habib memperkenalkan satu persatu para hadirin. “Ini Riswandi, beliau Wakil Ketua DPRD Provinsi. InsyaAllah, kita bisa memberi manfaat banyak kepada umat melalui mimbar legislatif,” lanjut Habib. &lt;o:p&gt;&l
