Monday, October 8, 2012

PERHELATAN AKBAR ANAK BANGSA




Barisan pengendara sepeda motor mengular sepanjang jalan di Pantai Utara (pantura) Jawa. Iringan truk, bus, dan mobil pribadi dengan berbagai merek, memenuhi jalan yang dibangun Jenderal Daendels itu. Ya, kesibukan ini selalu berulang, terus terjadi, setahun sekali. Rentang waktunya biasanya sekitar dua minggu, tujuh hari sebelum Idul Fitri, dan ke arah sebaliknya, tujuh hari sesudah Lebaran.
Dalam menyambut hari kemenangan (Idul Fitri) setelah melewati ujian di bulan Ramadhan ada satu tradisi unik di Indonesia, yaitu mudik. Suatu peristiwa budaya yang tidak hanya bertumpu pada silaturahim, lebih dari itu, mudik merupakan ajang atau tempat berkumpul sesama kerabat di kampung halaman. Sedih, gembira, tangis dan tawa bercampur menjadi satu cerita untuk berbagi kenikmatan (tahaaduts bi ni’mah).
Mudik dalam perspektif budaya memerlukan momentum bulan Ramadhan. Dari sanalah kekuatan paguyuban di kampung halaman membuncah sebagai salah satu unsur pembentuk komunikasi spiritual dan sosial sesama kerabat. Dan mampu melintasi sekat-sekat status sosial saat mencari nafkah di kota.
Dari kampung halaman ini, lahirlah kosakata mudik. Mudik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) adalah pulang ke kampung halaman. Biasanya seminggu menjelang lebaran sudah banyak orang yang mudik. Merekalah pemudik yang rindu ke udik (kampung halaman). Bagi banyak orang, Lebaran tidak terasa nikmat jika tidak pulang kampung.
Budaya mudik ini boleh dikatakan khas Indonesia, dan sebenarnya tidak hanya melibatkan kaum muslim saja, akan tetapi sudah merupakan kebiasaan yang turun-menurun bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Selama sekitar satu minggu sebelum Lebaran, arus mudik menuju perdesaan begitu padatnya, sementara sebaliknya satu minggu setelah Lebaran, arus balik menuju daerah metropolitan mengalami kenaikan intensitas yang luar biasa.
Penduduk kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya selama seminggu sebelum Lebaran sampai Lebaran akan menyusut begitu drastis, sebaliknya daerah perdesaan akan mengalami pertambahan penduduk yang cukup besar. Kejadian kebalikannya akan berlangsung setelah masa mudik menuju kota berlangsung.
Ketika Idul Fitri datang sebenarnya terjadi kondisi ideal. Penduduk kota besar tidaklah terlalu padat, sementara di daerah perdesaan akan ramai tidak seperti biasanya yang ditinggalkan oleh banyak penduduknya untuk mencari nafkah di berbagai daerah yang lebih menjanjikan. Benarlah pepatah “ada gula ada semut”, penduduk desa seperti semut-semut yang akan menuju di mana gula berada.
Realitas yang menarik dari sudut ekonomi pada masa mudik adalah jumlah uang beredar yang begitu besar akan terjadi pada masa-masa itu. Hal ini disebabkan jumlah uang beredar di daerah perkotaan lebih besar dibandingkan di daerah perdesaan, apalagi fenomena uang beredar di Jakarta saja sekitar 70 persen. Sekiranya diperkirakan jumlah pemudik sekitar 17 juta orang dengan asumsi masing-masing orang memegang Rp 1 juta, maka uang beredar di seluruh “kawasan mudik” akan bertambah menjadi sekitar Rp 17 triliun. Ini belum termasuk uang yang dibelanjakan menjadi tiket, uang jajan dan filantropi (sedekah).
Efek pengganda dari bertambahnya uang tersebut akan menjadi sangat besar sekiranya kegiatan mudik tersebut dapat menggerakkan ekonomi kerakyatan, yang berarti mempunyai aspek positif menyembuhkan penyakit kronis masalah kemiskinan, pengangguran dan disparitas pendapatan.
Besarnya dana total yang terjadi selama mudik kalau dialokasikan pada usaha yang produktif, tentunya dapat mempunyai efek pengganda (multiplier) yang baik. Di samping dana terserap untuk biaya perjalanan pulang balik, maka di daerah asal yang mayoritas perdesaan dana ikut juga dikucurkan. Dengan adanya mudik tersebut paling tidak ekonomi perdesaan bisa menggeliat sesaat, tidak seperti hari-hari biasa sebagai korban pembangunan yang terlalu bias ke kota.
Mengkaji fenomena “semut pergi ke pabrik gula” harus dengan pendekatan teori migrasi dan urbanisasi. Ini agar mendapat dasar yang kuat untuk melakukan rekayasa sosial ekonomi atas budaya mudik dan pembangunan daerah ini.

A.  Urbanisasi, Migrasi dan Pencarian Kemapanan
Urbanisasi atau perpindahan penduduk desa ke kota menemukan momentumnya setiap tahun sekali, yakni seusai mudik Lebaran tiba. Tradisi mudik merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia. Mungkin, mudik adalah mobilisasi penduduk terbesar di dunia. Potret paling mudah dilihat adalah ribuan manusia yang beriringan keluar dari Jakarta, mereka yang mengadu nasib di Ibu Kota dan rutin pulang ke desa asal tiap tahunnya.
Gemerlap Ibu Kota ternyata lebih menyilaukan kaum perdesaan dari berbagai daerah, ketimbang bengisnya Jakarta yang masyarakatnya individualistis, egois, dan materialistis. Itu terlihat dari arus urbanisasi yang tidak pernah surut dan mencapai puncaknya setiap musim lebaran. Jakarta ibarat gula yang mengundang semut-semut dari berbagai penjuru menyerbu. Mereka tidak peduli kue pembangunan di Jakarta bukan tanpa plafon, dan carrying capacity Ibu Kota yang sudah sumpek dan semrawut itu pun ada batasnya.
Bisa dibayangkan, perjuangan hidup di Jakarta bakal makin keras, secara fisik maupun psikis. Tanpa diiringi aturan main yang ketat ditegakkan dengan tidak pandang bulu dan mental, moral, atau nilai-nilai transendental siapa pun gampang terpental. Gesekan pun mudah tersulut akibat stres kejiwaan dan tekanan hidup di rumah, lingkungan sekitar rumah, jalanan yang macet parah, hingga tempat kerja.
Bagi kaum rural, betapapun keras dan kejam, Jakarta jelas tetap menjanjikan. Nilai-nilai hidup yang serba dimaterialkan menempatkan Jakarta sebagai daerah yang memberikan peluang berusaha. Asal mau bekerja, apapun bisa menjadi duit. Bahkan ritual ibadah pun bisa menjadi ladang duit. Nilai-nilai ibadah berubah menjadi faham bisnis kapitalistis. Definisi menolong diterjemahkan dalam konteks kompensasi, entah berbentuk uang terima kasih, jasa, rokok, pelicin atau gratifikasi.
Penduduk Jakarta sudah sangat sesak. Saking padatnya, kalau lagi jalan sering tersandung anak, ujar Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dengan nada canda di media massa. Karena itu, berbagai usaha dilakukan Pemprov DKI, agar eksodus ke Ibu Kota tidak terjadi dalam jumlah besar. Operasi kependudukan dan razia KTP dua di antaranya.
Tetapi apa hasilnya? Arus urbanisasi tidak pernah bisa dibendung bak air bah yang tumpah mencari celah. Laju urbanisasi terus membuncah di setiap kali Lebaran, tak terkecuali di 2010 kemarin. Ini sekaligus membuktikan, pemerintah pusat gagal melakukan distribusi pembangunan ke daerah.
Tidak heran, Komisioner Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) dalam laporannya di Sidang Umum November 2009 memasukkan urbanisasi sebagai salah satu dari lima megatren selain pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, migrasi, dan ketidakamanan pangan, air, dan energi. Komisioner UNHCR Antonio Guterres mengatakan kelima megatren itu mengakibatkan krisis kemanusiaan yang berlipat dan mendalam di tengah melambatnya perekonomian dan keuangan global.
Sejak L. Wirth menulis tesisnya tentang Urbanism as a Way of Life (1983), urbanisasi menjadi buah bibir banyak kalangan. Urbanisasi bagi kalangan sarjana, penting dan menarik sebagai obyek penelitian dan konseptualisasi teori yang menyangkut mobilitas penduduk dari desa ke kota. Selain itu, masalah urbanisasi bersentuhan langsung dengan realitas sosial kita sehari-hari.
Dalam bukunya yang berjudul Cities, Poverty and Development Urbanization in the Third World, Gilbert dan Gigler, menyebutkan banyak literatur menemukan sederet bukti bahwa alasan utama urbanisasi adalah masalah ekonomi. Kuatnya variabel ekonomi sebagai alasan orang berurbanisasi terutama banyak dijumpai di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin. Dengan kata lain, urbanisasi lebih banyak terjadi di negara Selatan-Selatan yang relatif lebih miskin ketimbang di negara Utara-utara (Eropa dan Amerika Utara).
Dengan memakai model ekonometri, berhasil dinemukan fakta bahwa perbedaan pendapatan yang tajam antara desa dan kota telah memperlicin jalan maraknya urbanisasi. Faktor ekonomi inilah yang mempengaruhi secara signifikan terjadinya urbanisasi, termasuk di Indonesia.

No comments:

Post a Comment