Tuesday, August 2, 2011

Apa Makna "Allahu Akbar"?


Pemuda berbalut sorban kotak-kota hitam putih, biasa disebut kafiyeh. Tangan kanan memegang mushaf al-Quran kecil berwarna coklat, terbitan Beirut tampaknya. Mushaf itu diangkat tinggi. Kafiyeh menutupi separo wajahnya, hanya mata yang terlihat. Kedua tangannya diangkat tinggi, mulutnya lantang meneriakkan, "Allahu Akbar!" Pemuda itu, bersama puluhan kawannya menghadang tank Israel yang akan masuk ke Jalur Gaza. Ya, mereka adalah pemuda Hamas.

Demonstran mahasiswa di Jakarta. Kerumunan ratusan orang memakai jas almamater kampus tercinta. Berdiri mengelilingi Bundaran HI, membawa bendera organisasi mahasiswa, bak panji perang mereka mengangkat tinggi-tinggi bendera itu. Spanduk dan round text dipegangi para demonstran wanita. Isinya tuntutan agar pemerintah menuunkan harga BBM dan harga pokok sembako. "Kita menuntut jika BBM tak kunjung turun harga, kita turunkan preside. Allahu Akbar!" teriak koordinator aksi. Kumpulan demonstran tak kalah semangat, mereka kepalkan tangan kanan berteriak lantang, "Allahu Akbar!"

Imam Samudra, Amrozi dan terakhir M. Syarif, adalah daftar nama mereka yang melakukan peledakan di tempat umum. Membunuh banyak manusia. Mereka melakukan aksi kesyahidan--dalam bahasa mereka. Memberontak terhadap sistem kafir yang membuat manusia lalai akan misi akhirat. Kesyirikan ini harus diakhiri. Lalu bom dibuat, baik yang eksplosif maupun minimalis--hanya berisi paku, jarum dan serpihan kaca seperti M Syarif. Mereka ledakkan di mall, di hotel dan di masjid polisi. Menjelang bom meledak, "Allahu Akbar!" teriak mereka.

Jenazah KH Zainudin MZ, dai sejuta umat sudah selesai dikafani dan dishalatkan di dalam masjid yang telah dibangun beliau sendiri di daerah Kebayoran. Orang yang takziyah, ribuan jumlahnya, berkumpul menanti diangkatnya jenazah mulia itu menuju liang lahat peristirahatan terakhir. Begitu keranda berlapis kain hijua bertulis syahadat itu diangkat para murid kyai dari dalam masjid menuju liang yang sudah digali sebelumnya, para jamaah mulai histeris. "Allahu Akbar, Laa ilaha illaLlah! Allahu Akbar!" berseru mereka berbarengan. Teriakan yang menyiratkan kesenduan, kehilangan dan penghiburan sekaligus.

Kaum muslimin, wajib shalat lima kali sehari. Tujuh belas rakaat total wajibnya. Mulai Shubuh hingga Isya. Tujuh belas kali dalam sehari membaca al-Fatihah--yang wajib. Berapa kali melafalkan "Allahu Akbar" dalam seluruh shalat yang wajib itu? Saya belum sempat menghitungnya. Saat memulai, kalimat "Allahu Akbar" meluncur dari mulut kita sebagai takbiratul ihram. Takbir yang detik itu jug, mengharamkan kita melakukan aktivitas lain kecuali shalat sesuai syariat yang ditauladankan Rasul.

Takbiratul ihram, melafalkan Allahu Akbar, membesarkan asma, zat, sifat Allah secara total, menyeluruh, komprehensif, paripurna, syamil, mutakamil. Manusia hanya hamba, kecil tak bermakna, tak mampu apa-apa tanpa kehendak Allah. Dalam takbir yang menjadi starting point dalam sholat itu, terkandung makna mendasar hidup. Kita mencapai kekhusuan ketika takbir pertama benar-benar bermakna. Takbir pertama menjadi batas atas aktivitas, pikiran dan gerak-gerik kita setelahnya, setidaknya sampai salam terakhir dilafalkan sebagai penanda selesainya aktivitas shalat.

Lalu, kembali ke judul, apa makna Allahu Akbar sebenarnya? Teroris meneriakkan kalimat itu, pejuang Palestina menyerukannya, demonstran berteriak, pengiring jenazah bersedu-sedu menyebut asma Allah, kita pun setiap shalat mengawali dengan takbir. Ternyata dimensi kalimat itu sangat luas. Ada yang memaknai sebagai penyemangat, penggembira, hiburan, sekaligus ada yang menjadi arogan saat meneriakkannya.

Saya jadi ingat, banyak "preman berjubah" berteriak sambil mencekik leher orang atau menghancurkan properti umum tanpa perintah hukum yang jelas. Pembantai Ahmadiyah Cikeusik juga meneriakkan "Allahu Akbar" dengan mengacungkan golok, mata nyalang merah dan baju serba hitam. Bergidik ngeri melihat takbir yang diawali dengan amarah.

Bergetar hati melihat ratusan pengantar jenazah meneriakkan kalimat Allahu Akbar. Bergelora batin, melihat pejuang Palestina meneriakkan Allahu Akbar yang merindukan kebebasan. Kita juga menjadi khusuk karena Allahu Akbar adalah pintu menuju kesempurnaan penghambaan melalui shalat. Takbir ternyata obat, candu, sekaligus peneguh kepercayaan diri. Ya Allah, semoga aku tepat memakai kalimat ini dalam semua momentum yang Engkau berikan. Allahu Akbar![]

1 comment:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    ReplyDelete