Monday, August 1, 2011

1 Ramadhan 1432, MASK

31 Juli 2011, petang menjelang, hati rasanya berdebar. Susah mendefinisikan, rasanya gembira dan bahagia sekali, bulan puasa sudah datang. Atmosfer Ramadhan itu selalu indah, manusia berjejalan di jalan menuju masjid dan mushala. Pakaian dominan putih, muncul semerbak bau misik dan kesturi--minyak wangi yang dijual botolan kecil di serambi masjid besar.

Kemarin, seharian tidak kemana-mana. Hanya di rumah saja, sore mengantar istri ke Carefour Permata Hijau untuk beli susu yang persediaan sudah habis. Susu, katanya harus untuk ibu hamil. Usai magrib, leyeh-leyeh menonton TV, menunggu Suryadharma Ali (SDA) mengumumkan kapan taraweh pertama bisa dilakukan. Sidang itsbat sedang digelar di Kantor Kementerian Agama RI. Di TV terlihat para duta besar, perwakilan ormas Islam dan SDA duduk di depan memimpin sidang. Pukul 19.00 kurang lebih, pengumuman keluar, besok pagi sudah bisa puasa. Artinya, 1 Ramadhan 1432 H jatuh tepat saat matahari tenggelam di ufuk barat tadi.

Bergegas istriku mengambil rukuh dan sajadah. "Ayo mas, kita awali Ramadhan di Sunda Kelapa," katanya. Baiklah, sebagai tukang ojek yang baik, aku juga menyiapkan diri. Kopiah, sajadah masuk ke tas. Motor di stater, keluar kami dari kontrakan kecil di Sukabumi Utara, Kebon Jeruk itu. Sepanjang jalan ramai orang keluar rumah. Para ibu dan anak gadisnya memakai rukuh, meski pakaian bawahnya hanya selutut, para bapak dan anak lelakinya memakai sarung kedodoran dan kopiah yang miring. Meski begitu, semangat tampak di wajah mereka.

Melewati Rawa Belong, jalanan tak seramai biasanya. Masuk Palmerah lancar sekali. Lewat jalur Pejompongan, Pemakaman Karet Bivak juga tidak ada antrean jalan. Tidak macet seperti biasanya. Padahal aku khawatir, banyak orang yang ziarah di Karet Bivak, mengingat ini hari Minggu terakhir sebelum masuk puasa. Ternyata tinggal beberapa mobil yang parkir di pinggiran jalan.

Menyusuri Setiabudi sampai di perbatasan rel, menyeberang sampailah kami di Masjid Agung Sunda Kelapa. Dan, luar biasa, parkir mobil sudah mengular 30 meteran sebelum masuk pagar masjid. Motor diparkir di pinggir jalan berjajar panjang. Para gadis bercelana jins ketat dan kaos warna pink mencolok dengan rambut tergerai bebas ditutupi selembar kain pink juga warnanya, yang dianggap sebagai kerudung. Sepatu berhak membuat bunyi ketika mereka berjalan. Mereka turun dari mobil, menuntun para ibu yang sudah sepuh dengan pakaian panjang dan kerudung lengkap. Semuanya mengapit sajadah dan rukuh di ketiak mereka.

Masjid Sunda Kelapa penuh sesak. Anak kecil bebas bekejaran di bawah pohon besar yang tumbuh di depan masjid, berguling-guling di hamparan rumput yang membuat baju koko mereka kotor. Tapi para ibu tak kuasa melarang, karena ibu-ibu juga harus berdesakan mencari shaf sholat yang paling nyaman. Mereka sibuk dengan sajadah yang harus digelar dimana.

Aku terlambat, sudah masuk ke rakaat ketiga Isya saat masuk halaman terbuka Masjid Sunda Kelapa. Jaket kulit tak sempat kulepas, untung tadi di rumah sudah ambil wudhu. Segera kudirikan sholat. Di barisan terdepan dari lapangan terbuka di sisi timur masjid.

Sebelum taraweh didirikan, Ketua Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa, Aksa Mahmud naik ke mimbar memberi beberapa pengumuman. Pertama, yang akan menjadi imam pada malam ini adalah Syaikh Muhammad al-Jabiri, imam dari Madinah. Kedua, taraweh di Sunda Kelapa akan dilaksanakan 20 (duapuluh) rakaat, disambung tiga rakaat witir. "Baru mulai tahun ini, Sunda Kelapa sholat taraweh 20 rakaat," ujar Aksa Mahmud.

Ternyata, usai rakaat kedelapan, jamaah taraweh separonya berhamburan keluar. Ruang utama yang penuh, berkurang menjadi separo, yang di belakang melesak ke dalam, akhirnya semua yang di luar bisa ditampung di dalam masjid.

Usai sholat pukul 21.30. Berhamburan keluar, sebagian jamaah meminta foto bersama imam sholat yang asli Madinah itu, tinggi hidung manjung, kulit wajah cokelat, tubuh dibalut jubah putih di kepala tersampir kain sorban putih menutupi sisi pipinya. Wibawa sekali imam ini, suaranya lembut dan mengalun pula. Setiap rakaat, imam membaca setengah halaman al-Quran. Rakaat pertama dimulai dengan al-Baqarah ayat 1. Artinya, setiap hari akan selesai 10 halaman kurang lebih.

Begitulah malam pertama Ramadhan, kami taraweh di Sunda Kelapa. Hari pertama puasa, usai sahur dan sholat Subuh, kebiasaan buruk dimulai lagi: tidur pagi! Susah juga mengendalikannya ya, hehe. Akhirnya berangkat ke kantor agak siang. Sudah siap mau naik motor, eh ternyata ban belakang bocor (lagi). Padahal tadi malam sudah ditambal. Ya sudahlah, naik busway. Aku dan istri berpisah di Pasar Palmerah seperti biasa. Istriku menuju DPR, aku melaju terus menuju halte busway Slipi. Jalanan tak terlalu ramai, sama sekali aku tidak melihat orang memegang batang rokok sehari ini, warung-warung juga tutup. Bagus lah kalau begitu.[]

No comments:

Post a Comment