Sunday, January 9, 2011

Pulau Seribu (1): Digoncang Ombak di Teluk Jakarta

Pagi yang dingin di udara Jakarta, kami diantar Tatang Yusuf, marketing Muda Cendekia, menuju dermaga Muara Angke. Jakarta sepi sekali pagi itu, tampaknya semua orang sudah lelah berpesta malam harinya. Pesta tahun baru yang menyisakan sampah di jalan protokol dan gang-gang sempit perumahan Jakarta. Pesta yang kadang hilang makna selain hura-hura. Gembira dan bahagia tapi hidup statis dan nggak berubah. Semoga Anda, memiliki tahun baru dengan optimisme dan perubahan hidup yang lebih baik.

Mobil melaju kencang, sama sekali tak ada kemacetan--langka sekali keadaan ini. Jalan tol juga lapang. Di atas fly over, semburat matahari pagi indah sekali. Warna emas memancar dari ufuk timur, muncul dari balik beton-beton gedung dan bangunan, bagai raksasa tidur berdiri. Terdiam di atas jasad kota tua yang dibangun Fatahillah ini. Pikiran saya melayang, memikirkan kota yang makin sumpek, sesak, panas dan penuh polusi. Kota ini butuh pengaturan, agar semua orang bisa hidup layak, tinggal layak dan makan layak. Beginilah ibukota, yang kejam bagi mereka yang tak mampu melawan dengan kreativitas. Jakarta menawarkan peluang besar untuk menjadi orang, tapi akan membantai siap saja yang tak mampu berkompetisi dan hanya apatis menatap hidup.

Hanya 45 menit, mobil memasuki pemukiman nelayan Muara Angke. Begitu kaca mobil dibuka, menyeruak bau amis ikan, mendesak-desak masuk ke indera penciuman. Otomatis, kami yang belum terbiasa ini, langsung menaikkan kerah jaket, menempelkannya ke lubang hidung. Kami turun di depan kantor pemadam kebakaran, Tatang berputar balik kembali ke Muda Cendekia. Tinggal saya, Rijal dan Samsul, kami berjalan menerobos TPI (tempat pelelangan ikan) dan Pasar Ikan Muara Angke. Di tepi jalan, ikan segar baru ditumpahkan dari drum-drum yang tampaknya berasal dari kapal penangkap ikan. Kerang, kepiting dan udang berserak. Ada juga cumi segar yang masih bergerak-gerak, tinggal menuju ajal di penggorengan di dapur ibu.

Di sebuah pelataran aspal yang menjorok ke pantai, tampak dua orang lelaki sibuk mendorong gerobak berisi galon-galon air. Mereka menjajakan air bersih kepada para pedagang di sana. Tahu sendiri, biasanya di kawasan pantai, air bersih susah diakses. Gerobak-gerobak itu lalu diletakkan begitu saja di pinggir jalan.

Dari gugling yang saya lakukan, ternyata Pemukiman Nelayan Muara Angke ini didirikan pada tahun 1977 pada zaman Presiden Soeharto. Wilayah seluas 2.500 hektare itu menjadi salah satu destinasi kuliner serba ikan bagi warga ibukota. Kawasan ini—secara administratif merupakan wilayah Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara.

Selidik demi selidik—menurut data, Muara Angke mempunyai sejarah kelam. Terbentang ke belakang sekitar lima abad silam. Tepatnya, pada zaman VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Pada tahun 1700-an, pedagangan Belanda menuai kegemilangan. Tapi, pesaing baru muncul, yakni pedagang Tionghoa yang sudah lama berdagang sebelum Belanda datang di bumi Nusantara. Pemerintah Belanda memberlakukan regulasi yang intinya menghambat laju perdagangan Tionghoa. Tapi, tidak mempan. Situasi ini membuat Gubernur Jenderal Valckenier menghalalkan segala cara.

Tragedi itu terjadi pada 9-10 Oktober 1740. Gubernur Jenderal memerintahkan pasukannya mengepung dan membumihanguskan perkampungan Tionghoa lokal. Tragedi ini memakan korban sekitar 10 ribu jiwa. Mayat-mayat mereka bergelimangan di berbagai jalan dan kali. Mayat-mayat itu dibuang ke Kali Besar. Kali Besar ini menghayutkan mayat-mayat itu ke kali-kali cabangnya. Salah satunya Kali Angke. Ilustrasi dan sepotong ceritanya bisa dilihat di Museum Fatahillah, Jakarta Kota. Nah, tempat terdamparnya mayat-mayat korban tentara kompeni itu di sebut sebagai Muara Angke—dari kata bangke atau bangkai.

Mataku menerawang, membayangkan tragedi di jejak jalan yang sekarang saya lewati. Jalan menuju dermaga benar-benar becek. Air masih menggenang, warnanya hitam mirip jelaga. Mungkin bercampur lumpur-lumpur yang terangkut drum. Hampir semua orang yang bekerja di tempat itu memakai sepatu bot. Saya dan Rijal memakai sendal, Samsul menyesal memakai sepatu mengkilap. Hampir tak ada tempat berpijak untuk menghindar dari air comberan akibat got tersumbat yang menutupi jalan itu. Tak selamatlah sepatu bagus itu. “Foke pasti nggak pernah ke tempat ini! Kok ya dibiarin ya, kan ini aset!” Samsul menumpahkan kekesalan ke gubernur DKI. Hehe.

Di depan gang arah dermaga, muncul Faisal Fadly, pengurus PD KAMMI Jakarta. Dia menjemput kami, mengantarkan ke KM Karisma yang masih bersandar. Ada beberapa kapal lain yang bersandar, tapi kami sudah dipesan Abuzarr, Ketua PD KAMMI Jakarta untuk naik KM Karisma. Menyesal saya sesudahnya, kenapa tidak naik kapal yang lebih besar.

Di dek atas kapal ternyata sudah ramai. Penuh sesak, demikian juga kapal-kapal di sebelah. Lebih banyak muda-mudi, pasangan maupun rombongan. Pakaian mereka modis, beberapa membawa koper besar. Agaknya mereka akan berlibur sampai Senin, dua hari di pulau untuk berwisata. Di KM Karisma itu, kami bertemu sekitar 10 orang kader KAMMI yang ke Pulau Pramuka juga. Mereka berasal dari LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), sebuah kampus yang disokong penuh donatur Saudi.

Kami lalu berkenalan, ngobrol akrab dan hangat. Bercanda-canda gembira. Tapi, yang namanya anak LIPIA, pinter bahasa Arab dan hafalan ayat Quran-nya banyak, bercanda juga tak berlebihan. Kutipan-kutipan sering muncul, karena saya tahu betul, anak LIPIA adalah penghafal hebat. Tapi, candaan itu akan sirna setelah satu jam kapal berlayar.

Singkat kata, menunggu 1,5 jam kami di atas kapal, lalu motor kapal mulai dinyalakan. Tali yang bertambat di kapal sebelah, mulai dilepaskan. Kapal bergerak pelan, perlahan mulai laju. Di sebelah kanan, di tepian pantai berdiri raksasa apartemen, yang sering kita tonton ilkannya di MetroTV, yaitu Pantai Indah Kapuk. Yah, tempat berdiamnya orang berduit. Mungkin yang tinggal di sana berfikir, agar saat mau tidur bisa melihat laut dan bangun tiidur menghirup udara pantai. Tapi, apa ya nggak bosan begitu terus tiap hari?

Ada tanggul yang dibuat di pantai Muara Angke itu. Seorang lelaki menjala ikan, melemparkan jala ke laut, menarik pelan-pelan berharap atas rejeki hasil laut yang dikaruniakan Allah. Di sisi kiri kapal, saya melihat beberapa lelaki berdiri di atas tanggul yang terdiri dari tumpukan pasir diwadahi dalam zak. Mereka berdiri memegangi pancing, udara pagi di hari libur, di awal tahun pula, membuang waktu berharap membawa pulang beberapa ekor ikan untuk anak tercinta.

Sepanjang perjalanan selama satu jam kami berbincang-bincang. Lalu mulai terdiam menatap ke kejauhan. Riak yang tak banyak, angin semilir, bendera merah putih yang sudah roek pinggirnya, ditalikan di atas dek. Berkibar kencang mengikuti arah angin. Kami melewati beberapa pulau yang sayangnya saya nggak tahu namanya. Hanya satu pulau tampak unik, ada bangunan mirip benteng di atasnya. Tapi pulau itu kecil, apakah itu Onrust? Mungkin saja.

Setelah 2 jam berlayar, ternyata cuaca berubah. Angin menjadi kencang, ombak tiba-tiba mengganas. Kapal oleng depan belakang dan kanan kiri. Awak kapal berteriak, “Turun...turun, sebagian turun ke bawah!” Memang saat itu, dek atas penuh sesak, sementara di bawah, belakang kemudi nahkoda kapal, masih agak kosong. Hanya ibu-ibu dan keluarga yang di sana. Segera saya turun ke bawah, masuk ke dalam. Beberapa orang juga turun. Saya berbegas mencari tempat, duduk tenang bersila. Baru lima belas menit, perut saya mual, mata kunag-kunag. Ternyata orang-orang di sekitar saya banyak yang memegang plastik menutupi mulut mereka. Banyak yang mabuk laut. Bau muntahan itu yang membuat rangsangan memicu orang lain muntah juga, ditambah suara hoek..hoek.. yang keluar dari mulut "korban."

Saya bertahan, memejamkan mata, menyeimbangkan pikiran meski kapal terus oleng dengan keras. Sebelah kiri saya, lelaki dengan dandanan modil dan jaket putih yang bagus, wajahnya pelan-pelan memutih laksana warna jaketnya. Pucat pasi. Dia memegang tangan perempuan yang mungkin pacarnya. Saya merogoh tas ransel, beruntung, di kantung luar ada botol kecil minyak kayu putih. Segera kuambil, mengoleskan ke leher dan hidung, lalu menawarkan ke lelaki itu. Dia mengambil dari tangan saya, belum sempat mengoleskan, dia tiba-tiba beranjak berdiri, lalu setengah tergesa ke pintu kapal. Muntahan keluar mulutnya.

Saya melihat ke Rijal, dia juga pejamkan mata. Duduk bersila dan menyedekapkan tangan. Mulutnya bergumam, mungkin berzikir atau membaca ayat-ayat. Saya coba buka mata lagi, makin pening, saya putar kepala ke belakang, semua orang tergeletak saling tindih. Lama-lama saya nggak kuat juga, tergeletak menindih tas-tas milik orang. Hampir semua mabuk laut.

Saya sudah pernah naik kapal beberapa kali, dulu tahun 2006 saat tinggal di Labuha, Halmahera Selatan, selalu naik kapal untuk ke Ternate, saya nggak mabuk laut. Mungkin karena bodi kapal yang besar, sehingga turbulensi akibat ombak tak terlalu besar. Sering juga naik katinting dan jukung saat tinggal di Banjarmasin 2008 dulu. Tapi tidak sedahsyat ini rasanya. Saya hanya berdoa semoga kapal tidak hancur dihantam ombak, meski bunyi krieet..krieet muncul dari kayu yang membentuk kapal ini. Kejadian inilah yang membuat saya menyesal naik kapal kecil. Apalagi karena liburan, sehingga penuh sesak orang.

Kapal oleng selama 1,5 jam. Selama itu pula, saya hanya menutup mata dan tergeletak meringkuk. Tiba-tiba kapal sudah berhenti. Ternyata kapal merapat ke dermaga Pulau Tidung. Saya pikir sudah sampai, saat awak kapal membangunkan saya untuk menarik ongkos, ditanya turun di mana? Pulau Pramuka jawab saya. “Ongkosnya Rp 30 ribu. Tetap di kapal ya mas, satu pulau lagi,” kata awak kapal itu.

Saya keluar kapal, naik ke dek lagi. Rijal dan Samsul sudah di atas. Saya lihat anak-anak LIPIA tergeletak, wajah mereka pucat, sebagian berebah. Canda tawa di saat kapal akan berangkat tadi, agaknya sirna seiring goncangan kapal. “Mereka tadi terus menerus murajaah, merapalkan ayat-ayat Quran dari bibir. Aku juga cuma bisa berdoa dalam batin. Alhamdulillah sekarang selamat,” ujar Samsul. “Tapi kan kita masih satu pulau lagi,” sergahku.

Perjalanan berikutnya, sekitar satu jam, dari Pulau Tidung ke Pulau Pramuka ternyata sudah tidak ganas. Ombak agak stabil. Pelan-pelan candaan muncul, kita bercerita lagi. Teman-teman LIPIA juga sudah duduk dan bisa tertawa mengisi waktu perjalanan. Alhamdulillah, masih diberi keselamatan setelah total 4,5 jam kami berlayar dengan kapal motor tradisional. Dari Muara Angke pukul 08.30, sampai di Pulau Pramuka pukul 13.00 WIB.

Pulau Pramuka sudah kelihatan dermaganya. Di atas bangunan dermaga, ada plang nama dengan tulisan Pramuka Cyber Island. Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau yang berada pada gugusan Kepulauan Seribu. Pulau ini merupakan pusat administrasi dan pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu. Pulau Pramuka termasuk ke dalam Kelurahan Pulau Panggang. Dinamakan Pulau Pramuka, karena dulu pulau ini kotor dan tak terurus. Kemudian beberapa rombongan Pramuka datang ke pulau dan membersihkan pulau ini. Untuk menghormati jasa para Pramuka inilah pulau ini dinamakan Pulau Pramuka.

Masjid kabupaten dengan kubah warna kuning terang menyambut kedatangan kami. Berjejer di tepian dermaga, ada kantor kabupaten, rumah sakit daerah, dan bebarapa perwakilan dinas. “Jadi PNS di sini itu enak, kantornya dua. Selain di pulau, ada yang di Kuningan dan Sunter. Mereka kalau masuk bergilir, dua hari di sini, sisanya di Jakarta,” cerita Abuzarr. Ketua KAMMI Jakarta ini rumahnya tepat di samping "alun-alun" Pulau Pramuka, di samping Kantor Bupati Kepulauan Seribu.

Setelah sampai pulau, saya baru sadar betapa laparnya perut ini. Ternyata saya nggak muntah, karena memang nggak ada yang bisa dimuntahkan. Sejak malam belum makan. Jadi, bergegas kami ke warung makan. Menunya, asam cumi. Rasanya, yummy... Mungkin karena lapan dan perut dikocok-kocok di atas laut sebelumnya.

Setelah makan, lalu mandi, saya ke masjid kabupaten. Ada bedug bolong di sana. Sholat jama' qashar Dzuhur dan Ashar sekaligus. Lalu rebahan, rasanya nikmat luar biasa. Perlu diketahui, listrik di Pulau Pramuka hanya menyala pukul 17.00 sampai 07.00. Jadi pagi sampai sore tak ada listrik di rumah-rumah. Maka, di masjidlah saya bisa menikmati kipas angin yang menyejukkan di hawa panas berbau garam itu.[]

No comments:

Post a Comment