Sunday, January 9, 2011

Pulau Pramuka (2): Belajar Transplantasi Karang bersama KAMMI

Awal tahun 2011 ini saya mendapat pengalaman yang berharga, tentang bagaimana menghargai lingkungan, agar kerusakan di muka bumi tidak bertambah parah. Sabtu, 1 Januari 2011, pukul 06.00 saya pergi ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Bersama saya Rijalul Imam (Ketua PP KAMMI) dan Samsul Bahri (Ketua PD KAMMI Solo). Selain rapat Tim Konstitusi dan Sistem Organisasi (TKSO) KAMMI, kami juga akan ikut mukhoyyam KAMMI Jakarta yang salah satu agendanya adalah transplantasi karang.

Sabtu, 1 Januari 2011. Setelah 4,5 jam berlayar, kami sampai di Pulau Pramuka. Perjalanan normalnya adalah 2,5 jam, namun karena angin kencang dan ombak besar, kapal yang kami tumpangi berlayar lambat. Selain itu, kami harus mampir dulu ke Pulau Tidung mengantarkan sebagian besar penumpang. Begitu keluar dari jakarta, yang tampak adalah sampah mengapung di Teluk jakarta. Sampah plastik, bungkus makanan kecil, barang-barang tak terurai yang merusak ekosistem. Menyedihkan ya, saya jadi terfikir bagaimana agar masyarakat bisa mengolah sampah tak terurai ini dengan cepat. Misalnya membakarnya. Tapi, mau membakar sampah di mana, kalau kontrakan di Jakarta saja di gang kecil. Istilahnya, tidur mancal (menendang) kompor. Ruang tidur jadi satu dengan dapur.

Tapi, setelah agak jauh, Teluk Jakarta menjadi tampak indah. Air laut mulai hijau, di kejauhan menjadi biru. Meski tidak sebening air laut di Labuha, Halmahera Selatan, tempat saya tinggal 2006 dulu. Atau seperti laut di Kotabaru, Kalimantan Selatan, saat 2008 saya ke sana. Masih jauh. Teluk Jakarta memang kotor, ekosistemnya banyak yang rusak karena sampah. Air kotor, membunuh biota laut. Belum lagi karang yang dipanen muda.

Sore hari di Pulau Pramuka. Matahari masih panas juga meski sudah 15.30. Pantas memang, udara di tengah pulau kecil ini panas. Udara rasanya pekat oleh garam. Baru selesai mandi, badan rasanya sudah lengket-lengket. “Yakin saja, seputih apapun kulit orang, suruh tinggal beberapa hari di pulau ini, pasti jadi gelap mengkilap,” kata Noval Abuzarr, Ketua KAMMI Jakarta yang rumahnya di samping Kantor Bupati Kepulauan Seribu itu. Sudah 24 tahun dia tinggal di Pulau Pramuka itu. Ya iyalah, umurnya juga memang baru 24 tahun. Dan Noval—panggilannya jika di pulau—kulitnya juga hitam manis. Hehe.

Sesudah mendirikan sholat, saya menelusuri jalan di depan masjid, menuju lapangan di depan kantor bupati. Kapal-kapal diparkir di dermaga yang bersambung dengan lapangan itu. Saya duduk di beton semen yang tampaknya biasa dipakai untuk menikmati matahari tenggelam sore hari. Meletakkan pantat di sana, mata menatap jauh, laut agak gelap, angin kencang. Ombaknya agak tinggi, saya tahu sebab baru saja merasakan goncangannya. Menikmati angin yang mengelus pipi, rambut teracak lagi. Nusantara kita: luas, kaya, penuh warna pelangi nan indah. Fabiayyi alaai rabbikuma tukadzdzibaan (maka nikmat Tuhan manakah yang hendak kau dustakan)?

Faisal Fadly, seorang aktivis KAMMI Jakarta, datang mendekat dengan kamera SLR-nya yang ciamik itu. Saya berpose, minta difoto. Jadilah foto profil untuk Facebook saya itu, hasil jepretan Faisal yang datang ke pulau itu bersama adik perempuannya. Di seberang dermaga, di lapangan yang tampaknya biasa dipakai upacara bendera tiap Senin oleh para PNS di Kantor Bupati, sekitar 100 orang kader KAMMI Jakarta berdiri. Mereka meneriakkan yel-yel, bernyanyi lagu-lagu heroik. Lagu mars KAMMI, Darah Juang, dinyanyikan dengan keras, meski yang hapal sedikit. Hehe, lagu mars itu memang agaknya harus segera diganti. Susah sekali menghafalkan delapan bait diulang dua kali. Susah sekali mengurutkan dari panah terbujur, pedang terhunus, tombak berjajar, butir peluru, mata pena, dan pisau belati.

Acara inti mukhayyam KAMMI Jakarta itu, ada dua: pertama transplantasi karang dan pelatihan disaster management sebagai bentuk Launching KAMMI Reaksi Cepat (KRC) KAMMi Jakarta. Untuk yang terakhir, ada trainer dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) yaitu pak Iman. Sementara transplantasi karang langsung dipegang Abuzarr, yang asli penduduk Pulau Pramuka, bersama Pak Rasyid yang menjadi pengurus di Pondok Karang. Lokasinya dekat Kantor Bupati, berjalan ke menjauhi dermaga kira-kira 100 meter. Pondok Karang itu dikembangkan oleh Pak Mahmudin. Awalnya Mahmudin hanya pencari karang hias untuk dijual. Setelah tahu cara budidaya lewat transplantasi dari Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, mata Mahmudin mulai terbuka.

Sejak mendapat pelatihan, dia mulai membudidayakan terumbu karang karena prihatin pada rusaknya koral alam di sekitar perairan Pulau Pramuka. Mahmudin mulai mengumpulkan karang rusak setiap minggu. Lalu, ia mencoba menempelkan bagian yang masih hidup di atas media semen. Ternyata, setelah satu minggu, karang itu bisa hidup.

Mahmudin terus menyetek beragam spesies terumbu karang dan menjualnya dalam partai kecil pada pembeli yang kebetulan berkunjung ke Pulau Pramuka. Akhirnya, pada tahun 2000, Mahmudin mendapat bantuan dari Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu dengan melegalkan bisnis budidaya terumbu karang ini. Sejak 2004, bisnis terumbu karang itusudah legal. Sehingga mulai 2006, produknya bisa dijual ke pasar ekspor. Bahkan saat ini, ekspor karang hias itu sudah merambah ke 26 negara. Ternyata untungnya besar juga ya. Selain bisnis, juga demi melestarikan lingkungan.

Kembali ke Pak Rasyid. Sebetulnya belum terlalu tua juga sih, malah secara usia lebih tua saya. Baiklah, Bang Rasyid saja. Dia berdiri di depan barisan sekitar 100 aktivis KAMMI Jakarta. menerangkan tentang transplantasi yang akan dilakukan. “Transplantasi adalah kegiatan yang bertujuan untuk memicu pertumbuhan. Pertumbuhan karang yang biasanya setahun 1 centimeter, kalau ditransplantasi hasilnya setahun bisa tumbuh antara 3 sampai 4 centimeter. Perlu diketahui ya, karang ini adalah hewan, yang bersimbiosis dengan alga yang disebut Josantelae. Itulah sebabnya warnanya berbeda-besa, sesuai alga itu,” terang bang Rasyid.

Banyak peserta—termasuk saya juga sih—yang tidak tahu kalau karang itu ternyata hewan. Saya kira selama ini tumbuhan laut. Bang Rasyid memegang sebuah karang di tangannya, warnanya masih hijau kehitaman, berarti masih hidup. “Jangan sampai karang hidup berada di luar air lebih dari 15 menit. Nanti bisa mati. Harus sering dicelupin, kita juga nanti harus cepat melakukan transplantasi. Cirinya kalau warnanya putih cerah itu sudah mati, termasuk yang diinjak teman-teman itu juga karang mati. Pembentuk pulau ini sebetulnya adalah karang mati,” terangnya pajang lebar.

Dalam gugling yang saya lakukan, disebutkan bahwa terumbu karang di perairan Indonesia dalam kondisi rusak parah. Bila mengacu pada penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P3O-LIPI), terumbu karang yang hancur lebur mencapai hampir 50 persen, sedangkan yang masih sangat baik tinggal 6,2 persen. Kerusakan itu terutama disebabkan praktik pengeboman ikan dan pengambilan karang untuk bahan bangunan dan reklamasi pantai.

Kondisi rusaknya terumbu karang itu akan terasa makin memprihatinkan bila mendengar keterangan dari pakar terumbu karang, yang mengatakan bahwa pemulihan terumbu karang memakan waktu cukup lama, berpuluh hingga beratus tahun. Itu pun bila kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung.

Padahal, fungsi terumbu karang amat besar bagi kelangsungan hidup ikan dan beragam biota laut lainnya, mulai dari tempat mencari makan hingga berkembang biak. Oleh karena itu, rusaknya terumbu karang berarti juga menurunnya populasi ikan. Itu berarti pula berkurangnya pasokan ikan sebagai bahan pangan manusia. Manfaat lain dari terumbu karang adalah sebagai pelindung pantai dari abrasi. Fungsinya untuk peredam gelombang.

Muncul pertanyaan dari peserta yang unik-unik. “Karang itu ‘kan hewan, lalu makannya apa?” Dengan tersenyum, Bang Rasyid menjawab, “Karang makannya plankton. Itu sebabnya, kenapa dilakukan transplantasi dandiletakkan di lokasi yang lebih cepat. Misalnya, di habitat asli tumbuh di arus 3 meter/detik, setelah transplantasi lalu ditaruh di arus yang lebih kencang, dia akan mendapat makanan yang lebih banyak dan lebih cepat tumbuh.”

“Trus, bagaimana cara berkembang biaknya?” pertanyaan berlanjut. Karang berkembangbiaknya secara seksual dan aseksual. Yang seksual dilakukan pada malam bulan purnama. Ketika purnama, sel-sel ovum keluar, bentuknya seperti benang. Peserta mesam-mesem, tertawa. “Wah ada jadwalnya juga ya..”

Sementara kalau kembangbiak secara aseksual, salah satunya melalui transplantasi. Bisa juga karena patah jatuh, kena ombak lalu tumbuh jadi anakan.

Tercatat, sedikitnya 50 persen dari 4.750 hektar terumbu karang yang ada, kini kondisinya sangat memprihatinkan. Saat ini luas terumbu karang yang masih tersisa dan bisa dimanfaatkan untuk obyek wisata dan penelitian ilmiah, tinggal 2.375 hektar.

Pusat keanekaragaman hayati laut dunia, terutama terumbu karang terletak di kawasan segitiga karang. Kawasan ini meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon. Jika ditarik garis batas yang melingkupi wilayah terumbu karang di ke-6 negara tersebut maka akan menyerupai segitiga. Itu sebabnya wilayah tersebut disebut sebagai segitiga karang dunia (coral triangle). Total luas terumbu karang di coral triangle sekitar 75.000 Km2. Indonesia sendiri memiliki luas total terumbu karang sekitar 51.000 Km2 yang menyumbang 18% luas total terumbu karang dunia dan 65% luas total di coral triangle.

Singkat cerita, setelah penjelasan dan tanya jawab, Bang Rasyid memperagakan cara transplantasi karang. Model yang dipakai yaitu rockpile, batu karang yang sudah mati dilekati dengan karang yang masih hidup menggunakan semen. Karang hidup sepanjang 5 centimeter dijepitkan di selakarang mati dengan semen. “Tolong agak cepat, jangan lebih dari 15 menit ya, keburu mati,” ujar Abuzarr yang sudah sering melakukan praktek transplantasi.

Tiga pakaian untuk snorkeling sudah disewa. Rijal, Andriyana (Ketua KAMMI Wilayah Jabar) dan Samsul (Ketua KAMMI Solo) sudah mengenakan peralatan berwarna oranye terang itu. Di mulut mereka menempel alat bernafas dengan panjang setengah meter. Kaki mereka menempel sirip untuk berenang. Siap masuk ke dalam air.

Bergegas batu karang mati yang sudah ditempeli potongan karang hidup dibawa peserta menuju perairan yang agak dalam. Mereka yang sudah memakai peralatan menyelam, terjun ke dalam air, dan meletakkan transplant itu ke kedalaman 3 meter. Akhirnya semua karang sudah diletakkan di arus yang agak kencang.

Sebenarnya, transplantasi hanya sebentar. Yang lama, ya renang dan main di air itu. Beberapa peserta menangkap bintang laut, teripang dan bulu babi. Binatang terakhir ini yang sering mengenai kaki penyelam jika tak hati-hati melangkah. Ternyata keindahan alam laut Pulau Pramuka luar biasa indah. Berbagai binatang laut bisa kita lihat secara langsung. Subhanallah...

Setelah puas bermain dan menyelam, semuanya menuju pantai. Matahari juga sudah mulai tenggelam. Senja warna lembayung memenuhi cakrawala barat. Kami memilih tetap di pinggir pantai, memesan es teh dan mie rebus. Saya malas makan mie, hanya menghabiskan empat buah pisang rebus yang dijual gadis remaja di tepian dermaga itu. Sambil merenung tentang alam, tentang karang dan pulau yang karam.

Lebih dari 70 persen terumbu karang di Kepulauan Seribu, telah mengalami kerusakan akibat limbah karbol. Pemerintah sendiri mengaku tidak mampu mengatasi pencemaran lingkungan yang mengakibatkan rusaknya terumbu karang. Ternyata pencemaran karbol di sekitar kepulauan itu mencapai 29 ton. Diduga, karbol tersebut berceceran saat kapal membuang ballas atau akibat kebocoran pipa. Dalam setahun pencemaran itu bisa terjadi tiga kali. Selain dari kapal, pencemaran juga terjadi akibat limbah yang mengalir ke laut dari daerah hulu. Akibatnya, terumbu karang rusak berat dan saat ini populasinya tinggal 30 persen saja.

Saya jadi teringat sebuah hadits nabi, “Jika kiamat terjadi dan salah seorang di antara kalian memegang bibit pohon kurma, lalu ia mampu menanamnya sebelum bangkit berdiri, hendakalah ia bergegas menanamnya. Tanamlah bibit pohon yang ada di tanganmu sekarang juga, meski besok kiamat. Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya.”

Ya, KAMMI tetap mencoba menanam karang, melakukan transplantasi agar cepat tumbuh lagi, agar ekosistem kembali normal, agar bumi tetap terjaga. Semoga kita dijauhkan dari sifat zalim, yaitu mafsadat fi al-ardl (berbuat kerusakan di muka bumi.[]

1 comment:

  1. wah, Kammi bergeser ke area miskin konflik kayak politik ya, ke laut, hehehe... tp tetap diterjang ombak kan?

    Salam kenal mas, main ke blog aku :-D

    ReplyDelete