Friday, December 31, 2010

Batam (3): Diskusi Jurnalis Menatap Masa Depan Kepulauan Riau

Agenda utama ke Pulau Batam kemarin adalah Daurah Marhalah II KAMMI Kepulauan Riau di Kota Batam. Acaranya berlangsung sejak 23-26 Desember 2010. Aku mendapat jatah untuk menemani diskusi para jurnalis pada Studium Generale DM II yang digelar pada Kamis, 23 Desember 2010 pagi.

Bersama istriku, Alwin Khafidhoh, kami berangkat menaiki Lion Air, jam penerbangan pukul 16.20 WIB. Istriku berangkat dari Bandung dan aku dari kantor PATTIRO di Tebet, karena masih menyelesaikan beberapa pekerjaan. Pukul 15.00 kami sudah bertemu di bandara. Setelah check-in, lalu makan siang (menjelang sore) di restoran dalam bandara. Ternyata, pesawat delay 45 menit. Ya, kami harus menunggu. Tapi tidak terlalu boring, karena istriku bertemu koleganya dari Bengkulu. Mereka bertemu di acara workshop IBP (International Budget Project)-nya Debbie Budlender di Bandung dulu.

Pukul 17.10 kami naik, sepuluh menit kemudian terbang. Ternyata, teman sebelahku adalah seorang pelaut. Namanya Anto, dia mengaku asli Gemolong Sragen. Kamipun asyik bercerita dalam bahasa Jawa. Anto sudah 10 tahun di laut. Dia sekarang bekerja di kapal yang mengangkut pasir dari Malaka ke Singapura. Hanya 4 bulan sekali bisa menginjakkan kaki di daratan. Dia mengaku takut pesawat, “Rasanya perut mual, kepala pening. Mending kalau ada waktu cukup, saya naik kapal, Mas. Sudah biasa,” ujarnya.

Sesampai Bandara Hang Nadim pukul 19.00 WIB. HP-ku berdering, ternyata akh Armat Juang, Ketua KAMMI Komisariat Batam datang menjemput. Kamipun meluncur ke lokasi acara Daurah Marhalah di Kantor Pemuda dan Olahraga Kota Batam. Antoikut menumpang sampai Simpang Panbill. Dia turun dan menolak kuajak menginap di lokasi. “Jam 04.00 nanti sudah lepas jangkar, Mas. Kapan-kapan kita bertemu di Jakarta,” katanya.

Sebelum ke lokasi, akh Juang mengajak kami makan malam di sebuah tempat yang dari sana bisa melihat keindahan malam Batam. Cahaya berpendar dari bangunan dan gedung-gedung. Batam memang kota yang ditata, dibentuk dan dikonsep. “Wah, ilmuku berguna banget di sini,” ujar istriku. Dia alumni Planologi ITB, naluri tata kotanya masih melekat meski pekerjaanya lebih banyak advokasi dan riset di bidang pendidikan dan kesehatan.

Tempat makan kami juga unik, di sana ada bus besar yang bangkunya sudah diganti dengan meja dan kursi makan yang artistik. Ya, jadilah restoran bus. Kami tidak makan di sana, tapi di sebelahnya. “Apa menu khas Batam?” tanyaku kepada akh Juang. Dia menjawab, hampir tak ada, tapi bolehlah rasakah jus buah naga. Segera kupesan minuman itu, ternyata warnanya merah menyala. Agaknya varietas yang lain, kalau yang sering kujumpai selama ini, buah naga warnanya putih cerah.

Setelah makan, kami bergerak ke lokasi. Di sana bertemu akh Raja Dachroni, yang suka menggelari dirinya Raja Muda Berjaya. Masih keturunan raja-raja Kesultanan Lingga Riau agaknya. J Aku berjumpa dengan Ketua Kaderisasi KAMMI Kepri itu terakhir pada Oktober 2010 pada Pra Muktamar KAMMI di Solo. Kami berbincang dan mendiskusikan persiapan acara untuk besok pagi.

Malam pertama di Batam, kami menginap di rumah Mas Agus, sahabat lama saat kos di Jogja dulu. Rumah Mas Agus ada di Perumahan Nusa Indah Tanjung Piayu. Untuk kesana, aku dan istriku diantar akh Dachroni dan akh Juang. Sudah pukul 23.00 WIB, Mas Agus sudah tidur agaknya. Tak ada sahutan saat nomor HP-nya kupanggil. Untunglah dia terbangun, lalu menjelaskan rute yang harus kami tempuh. Hanya sekitar 30 menit sudah sampai.

Pagi harinya, kami dijemput Pak Edison, driver yang biasa mengantarkan Bu Herlini Amran—anggota DPR RI Dapil Kepri—jika kunjungan daerah. Kami berbincang akrab, Pak Edison ternyata asli dari Padang. Sudah lama juga di Batam.

Sampai lokasi, aku tempatkan koper pakaian di kamar panitia. Ternyata sudah hadir satu pembicara di sana, yaitu Rumbadi Dalle, wartawan senior Tempo. Dia asyik berbincang dengan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Kepri, Azman Taufik. Aku memilih menunggu di dalam, tak lama kemudian datang para undangan. Aku tidak kenal, hanya tampak hadir Ketua PW Muhammadiyah Kepri Dr Chablullah Wibisono dan perwakilan DPRD Kota Batam.

Studium Generale DM 2 KAMMI Daerah Kepri ini bertema Konsep Pembangunan Kepri dan Masa Depannya di Mata Jurnalis. Mereka yang diundang menjadi pembicara adalah Kepala BAPPEDA Kepri—ternyata berhalangan dan digantikan stafnya Pak Sardison, General Manager/Pemimpin Redaksi Batam Pos Hasan Aspahani, jurnalis Tempo Rumbadi Dalle dan aku sebagai pembanding saja.

Setelah dibuka secara resmi oleh Azman Taufik—menggantikan Gubernur yang berhalangan datang—diskusi digelar. Sebelumnya diskusi, ada penyerahan cinderamata, buku Ijtihad Membangun Basis Gerakan, aku serahkan kepada Kadinkop UKM itu.

Pak Sardison, staf BAPPEDA Kepri mendapat kesempatan bicara pertama, dia menyampaikan data-data Kepri. Terdapat tujuh isu dan permasalahan utama, yaitu (1) Pengamanan dan pemanfaatan Pulau Terluar (PPT), (2) Pembangunan Pusat Pemerintahan Provinsi dan Kabupaten/Kota, (3) Realisasi FTZ (free trade zone/zona perdagangan bebas), (4) Mobilitas penduduk dan Kemiskinan, (5) Pendanaan pembangunan, (6) Pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan, dan (7) Pengelolaan hasil sumber daya alam.

“Luas daratan kita hanya 4 persen. Tentu kekayaan suberdaya laut sangatbesar. Karena itu, kitakonsentrasi pada pengelolaan hasil laut ini,” terangnya. Selain itu, Kepulauan Riau berbatasan dengan empat negara yaitu Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Thailand. Ini artinya 45 % dari batas negara Indonesia yang berbatasan dengan 9 negara. Kondisi ini membuat pemerintah Kepri berada dalam posisi persaingan langsung, untuk itu perlunya pemberlakuan free trade zone itu.

Untuk mendatangkan investor dari luar negeri, pemerintah mensiasatinya dengan menciptakan iklim investasi yang lebih menarik yaitu dengan membentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau yang sering disebut Special Economic Zone (SEZ) di beberapa kawasan di Indonesia. Sebagai pilot project SEZ ditunjuk Pulau Batam, Bintan dan Karimun (BBK) karena telah berpengalaman melaksanakan pelayanan investasi di daerah berikat (bonded area).

“Untuk mewujudkan SEZ tersebut, Pemerintah RI bekerjasama dengan Pemerintah Singapura yang ditandai dengan penandatanganan framework agreement pada tanggal 25 Juni 2006 di Batam. Ini modal besar kita untuk maju,” jelas Sardison.

Rumbadi Dalle mendapat kesempatan kedua. Law enforcement, perubahan mind set dan penghapusan ego sektoral adalah merupakan tiga hal yang harus menjadi perhatian pemerintah Kepri di masa depan, agar Kepri dengan segala potensinya yang sangat kaya dapat dinikmati oleh masyarakatnya sendiri dan bukan oleh bangsa asing, ujar Bang Rumbadi.

Wartawan senior Tempo itu juga memandang perlunya segera masyarakat, terutama pemerintah melakukan perubahan pola pikir atau mind set. “Kenyataannya 96 persen wilayah Kepri merupakan kawasan perairan. Seharusnya pemerintah membangun pabrik pengolahan ikan yang besar dan modern, sehingga potensi laut kita tidak dijual keluar dan juga dicuri oleh nelayan-nelayan asing,” ujarnya.

Bang Rumbadi juga menyesalkan terjadinya ego sektoral dari 12 instansi resmi yang terlibat dalam pengawasan dan pengelolaan kelautan di wilayah perairan Kepri. “Ini menjadi kendala sendiri, ego sektoral dari instansi-instansi kita sendiri,” jelas Rumbadi yang juga Ketua PWI Reformasi Kota Batam.

Pembicara ketiga, Pimred Batam Pos Hasan Aspahani justru sama sekali tidak menyinggung konsep pembangunan daerah. Aku ingat betul dengan gayanya. Mengambil mikropon, lalu berdiri—tidak seperti dua pembicara sebelumnya yang duduk manis di belakang meja. Bang Hasan membuka wicaranya dengan kisah kesuksesan Bill Gates, di usia muda penuh optimisme dan taktik jitu mengembangkan bisnis Microsoft. Bang Hasan lalu bercerita tentang membangun semangat wirausaha para pemuda.

“Ciputra, Anda tahu, adalah pebisnis sukses. Suatu hari setelah bertahun-tahun dia bersih-bersih rumah. Dan mendapati ijazah sarjananya tergeletak kotor di sela lemari. Lihatlah, dia sama sekali tidak pedulikan ijazah, justru tanpa itu dia menjadi sukses. Berani nggak, Anda menyobek ijazah sekarang dan mulai berbisnis meski kecil-kecilan?” tantang sastrawan Kepri itu.

Singkat kata, pemateri ketiga justru menyulut semangat bisnis mereka yang hadir. Dia bercerita tentang bisnis itu tidak harus besar. Semuanya bisa menjadi peluang. “Jika Anda melihat permasalahan, berartiada satu peluang bisnis yang bisa Anda jalankan. Menurut sebuah penelitian, rata-rata para pebisnis menjadi sukses setelah 17 kali berganti bisnis. Saya sudah 4 kali,” katanya.

Demikianlah, akhirnya aku menjadi yang terakhir. “Saya terperangah dengan orasi Saudagar Banjar yang ada di samping saya ini,” ucapku membuka kata. Hasan Aspahani adalah suku Banjar yang lahir di Balikpapan dan kuliah di IPB. Tapi dia juga sudah lama tinggal di Batam dan sekarang menakodai koran terbesar di Batam itu.

Karena tidak tahu banyak tentang Kepri, aku hanya membuat catatan kecil saja. Yaitu tentang proses swastanisasi di Batam. Sekarang PLN dan PDAM sudah dikelola swasta. Sektor pelabuhan juga demikian. “Bagaimana prospeknya, mengapa justru saya mendengar bahwa pelayanan masih sama saja dikelola negara?” tanyaku.

Aku tak banyak bicara, lalu kututup wicaraku yang hanya 15 menit dengan tafsir atas paradigma sosial independen KAMMI, bahwa KAMMI merupakan gerakan civil society yang harus melakukan kontrol, baik terhadap negara maupun sektor bisnis privat. Berikutnya adalah tanya jawab, cukup banyak penanya yang aktif.

Diskusi berakhir setelah azan Dhuhur berkumandang. Ratusan peserta diskusi—yang mayoritas mahasiswa—bergiliran foto bersama pembicara. Maklum, Hasan Aspahani adalah “yang empunya koran” dan punya rubeik tetap Kamisan yang terbit tiap Kamis. Sastrawan Kepri ini jadi rebutan foto, selain Bang Rumbadi yang jurnalis Tempo.

Sebelum diskusi berlangsung, aku sempat berbincang hangat dengan bang Rumbadi. Kusampaikan salam dari Akbar Tri Kurniawan—wartawan Tempo yang juga alumni KAMMI. Bang Rumbadi tampak sumringah mendengar itu. “Siapa lagi orang Tempo yang kau kenal?” tanyanya. Kujawab, aku ke kantor majalah Tempo dan bertemu dengan Sunu Dyantoro. Dia makin gembira.

Menurut cerita yang kudengar dari Akbar, Rumbadi adalah “pejuang ilegal logging” di Kepri. Dan benar, bang Rumbadi bercerita, dia sebelas hari penuh investigasi tentang pembalakan liar itu. “Setelah dimuat, aku sembunyi. Banyak orang datang. Malah sebelum berita itu naik, banyak juga yang datang menawari uang. Wah, mati-matian kutolak. Hidup ini kan bukan hanya cari uang, kita wartawan harus pikirkan rakyat,” katanya semangat.

Begitulah, diskusi berakhir dan aku lalu memilih berebah di kamar yang disediakan panitia. Letaknya di lantai 3 Kantor Pora itu.[]

1 comment:

  1. serasa kembali ke Desember 2010 yang lalu nih pak baca tulisan ini

    memaknai dan menuliskan perjalanan, tiap jejak langkah, semoga jadi pemacu semangat untuk menuliskan apa yang telah dilakukan, juga menuliskan apa yang akan dilakukan

    oy, bukan raja muda berjaya, tapi dachroni muda berjaya

    terima kasih telah datang, maaf jika ada yang kurang berkenan ketika pak amin n istri ada di kanpora

    ReplyDelete