Friday, December 31, 2010

Batam (2): Menguak Luka Lama Perang Vietnam

Pernah mendengar kisah Manusia Perahu? Mereka yang menyeberangi Laut China Selatan untuk menghindari kekejaman akibat perang saudara di Vietnam pada tahun 1979. Ternyata, Indonesia menjadi penyelamat ratusan ribu manusia perahu. Berikut perjalananku bersma istriku ke sana.

Masuk ke kompleks memorial manusia perahu Vietnam, kita disambut pos penjagaan berpalang. Ada petugas berseragam yang menunggu di sana. Tiketnya Rp 5.000 saja, tanpa diberi karcis. Aku nggak tahu bagaimana nasib uang ongkos masuk itu. Karena tak ada lembaran tiket yang membuktikan itu untuk retribusi pariwisata. Bisa saja masuk kekantong pribadi penjaga palang, atau ada mekanisme yang aku nggak paham.

Motor yang kutumpangi bersama istri tercita melaju pelan. Setelah menempuh perjalanan 60 kilometer—dari Tanjung Piayu hingga Galang Baru—yang panas terik dan pandangan silau karena pantulan batu, kami merasakan sejuk udara di lingkung pohon dan hutan yang mengepung memorial place ini. Angin yang menerpa wajah tadinya panas, kini berubah adem. Jalan sedikit berkelok, tapi semua sudah beraspal halus.

Sampailah kami di depan Vihara Quan Am Tu. Vihara ini—atau beberapa orang menyebut Pagoda—memang terlalu mencolok untuk dilewatkan, karena bangunannya yang full colour alias warna-warni, sudah nampak dari jalan tanpa harus berbelok. Saat memasuki halaman vihara, bau hio yang dibakar menyergap hidung.

Seorang lelaki bermata sipit berdiri tegak menghadap patung Dewi Guang Shi Pu Sha atau yang biasa kita kenal sebagai Dewi Kwan Im. Tiba-tiba ingatanku melayang ke sosok Bibi Lung dalam serial Legend of White Snake (Legenda Ular Putih) yang dibintangi Andy Lau dan diputar di Indosiar dulu.

Lelaki itu menyalakan batang hio berwarna merah, asapnya berbau harum, namun cepat terlibas angin karena di luar ruangan. Menyusul, seorang perempuan berbaju merah, sipit juga matanya, berkulit putih, membungkuk sebentar lalu meletakkan dua tangkupan tangan di depan dada. Terpejam matanya, memohon sesuatu kepada dewanya. Selesai itu, dia melempar uang ke bawah patung Dewi Kwan Im.

Di dalam vihara, beberapa orang tengah bersembahyang, sementara seorang bhiksu Buddha tengah melayani konsultasi keagamaan dari sejumlah pengunjung. Sementara beberapa pengunjung seperti kami, sibuk mencatat dan mengambil foto-foto, tetapi tetap menghormati mereka yang tengah bersembahyang dengan memandang mereka tanpa bicara.

Yang mencolok dari bangunan itu adalah tiga patung berukuran besar warna-warni yang di depannya dijagai naga raksasa. Salah satu patung berukuran raksasa itu adalah Dewi Guang Shi Pu Sha. Biasanya para pelancong menyempatkan diri berfoto-foto di depannya. Ada dua plakat yang diletakkan di kaki Sang Dewi, ditulis dengan huruf merah. Salah satunya berbunyi:

“Dewi Guang Shi Pu Sha bisa memberikan kita hoki, jodoh, dan keharmonisan dalam rumah tangga dengan cara: berdoa. Semoga Dewi Guang Shi Pu Sha mengabulkan apa yang kita inginkan setelah selesai berdoa, melemparkan koin ke arah Guang Shi Pu Sha”.

Orang lain ikut melemparkan koin, tetapi aku tidak. Kami takut durhaka karena “menyalahi” keyakinan dan agama yang kami anut. Tujuan kami adalah merekamjejak perjalanan manusia perahu. Tapi, ada alasan juga kenapa aku tidak lempar koin kesana: takut dapat jodoh lagi!

Di samping plakat pertama, ada plakat kedua yang rupanya ditujukan kepada anak-anak. Tetapi di akhir pengumuman itu tetap sama, yakni diminta melempar koin ke arah Sang Dewi. “Bagi anak-anak yang ingin pintar sekolah, cita-cita cepat tercapai berdoalah kepada Dewi Guang Shi Pu Sha supaya membantu kita mencapai apa yang diinginkan (yang halal)”.

Vihara Quan Am Tu diresmikan pada 10 Desember 1979, yang berarti sudah hampir 30 tahun ia berdiri di Pulau Galang. Dari keadaannya yang bersih, tampaklah kalau tempat ibadat itu terawat dengan apik. Memori tentang pendirian vihara yang tergambar dari rangkaian foto-foto berwarna yang sudah pudar, tetap dapat terpelihara.

Agak di bawah vihara, tepatnya di halaman parkir, terdapat tiga ruangan bersekat tanpa pintu yang penuh dengan ornamen lukisan. Meski tidak berpintu, orang tidak boleh masuk karena dipasangi rantai. Ruangan terbuka tanpa pintu yang terkesan seperti los di pasar itu digunakan untuk ritual pada hari-hari tertentu.

Jejak Pilu Manusia Perahu

Pagoda Quan Am Tu adalah benteng spiritual. Dalam renunganku, para pengungsi itu meski tidak berada di tanah kelahiran, berada di pelarian, ada dalam tekanan, takut serangan perang dan hidup seadanya, mereka tetap bertahan dalam keagamaan. Agama menjadi obat bagi mereka yang sedih dan duka. Quan Am Tu salah satunya. Di dalam kompleks memorial itu, juga terdapat satu Gereja Katholik tua dan satu Gereja Protestan. Sayang, gereja Protestan ini tidak bisa dimasuki karena jalan menuju ke sana sudah tertutup semak tebal dan bangunannya rusak. Berbeda dengan vihara dan gereja Katholik yang masih terawat dan tampaknya sering dipakai untuk beribadah. Sayang juga, tak ada masjid di kompleks itu, tapi di luar kompleks, ke arah Pelabuhan Karyapura, masjid berkubah biru tampak berdiri megah.

Inti pokok renunganku adalah, betapa mereka butuh keteguhan batin. Ratusan ribu orang yang terbuang dari negaranya menghindari petaka perang itu, harus bukan hanya butuh perlindungan fisik—ruang tidur, ruang makan, ruang bergerak—tapi juga butuh perlindungan spiritual. Dan, agama adalah payung pelindung paling nyaman. Mereka bisa bertahan di lingkungan vihara dan gereja itu.

Setelah banyak mengambil foto, istriku mengajak segera jalan. Karena agaknya awan sudah mulai tebal. Khawatir kehujanan di jalan ketika pulang nanti. Motor kustater, keluar dari kompleks vihara dan berbelok ke arah kiri, menuju lokasi perawatan para pengungsi. Dua bangunan permanen yang pernah difungsikan sebagai puskesmas masih berdiri kokoh. Begitu juga dengan bekas rumah sakit yang mampu menampung lebih dari 100 orang.

Setelah melewati rumah sakit, kami bertemu papan petunjuk bertuliskan Humanity Statue. Di sana berdiri monumen yang di atasnya ada petung perempuan dalam terkulai. Monumen itu sudah agak berlumut, tampak tua dimakan usia. Awalnya kami bertanya-tanya, monumen apakah ini? Ternyata, itu adalah peringatan atas tragedi kemanusiaanyang pernah terjadi di kamp pengungsi. Patung Kemanusiaan ini menggambarkan sosok wanita yang bernama Tinhn Han Loai yang bunuh diri karena malu setelah diperkosa oleh sesama pengungsi.

Aku tertegun lama di depan patung monumen itu. Tinhn Han Loai bunuh diri di dekat patung yang sekarang berdiri sebagai peringatan bahwa perkosaan adalah kejahatan kemanusiaan. Bukti atas tekanan mental yang merenggut nyawa. Pesannya jelas: martabat perempuan harus dijaga.

Di dekat Patung Taman Humanity, terdapat areal pemakaman bernama Ngha Trang yang menjadi tempat peristirahatan sekitar 503 pengungsi Vietnam yang meninggal di Galang karena penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Karena pemakaman itu, para kerabat yang kini telah kembali ke Vietnam maupun bermukim di negara lain yang memberikan suaka, masih kerap datang ke Galang untuk berziarah ke pemakaman itu. Kemarin, ada empat orang berbahasa Khmer yang dipandu seorang petugas yang tampak fasih berbicara bahasa orang Vietnam itu.

Batu nisan itu menjadi saksi kebesaran hati Indonesia dalam menerima pengungsi dari Vietnam. Menampung dan memberi mereka tempat untuk hidup selama puluhan tahun. Kemuliaan anak bangsa ini harus jadi pelajaran penting, bahwa persaudaraan lintas negara jauh lebih penting dari sekedar saling gertak dengan negara serumpun. Maksudku, Malaysia itu.

Dari sana, kami menuju ke Monumen Perahu yang terdiri atas tiga perahu yang digunakan para pengungsi ketika meninggalkan Vietnam.. Tampak di sana, bekas perahu yang ditumpangi para pengungsi. Bayanganku melayang ke masa itu. Sungguh sangat memilukan menginat kisah para pengungsi Vietnam ini. Bermula dari perang saudara antara Vietnam Selatan dengan Vietnam Utara (Vietkong). April 1975 Vietnam Utara memenangkan perang saudara ini dan menimbulkan chaos yg luar biasa. Para penduduk Vietnam Selatan banyak yang mengungsi dengan perahu seadanya, bahkan ada yang bocor. Mereka mengarungi lautan tanpa arah yang tentu sampai akhirnya mereka terdampar di Kepulauan Riau. Tercatat mereka mendarat di Tanjung Uban, Kepulauan Natuna, Pulang Galang, dan pulau-pulau kecil lain yang tidak berpenghuni.

Kurang lebih 250ribu pengungsi Vietnam mendarat ke kepulauan di Indonesia dalam beberapa gelombang. Mereka berjuang hidup mengendarai perahu yang berisikan 40-100 orang tiap perahu. Dan ini menjadi perhatian Indonesia dan dunia internasional. Akhirnya UNHCR (United Nation High Commission for Refugees) dengan disetujui oleh pemerintah Indonesia mendirikan pusat penampungan sementara pengungsian di Pulang Galang. Di sana dibangun berbagai fasilitas seperti rumah sakit, rumah-rumah penampungan pengungsi, rumah-rumah pekerja UNHCR, vihara, gereja, depo bahan bakar, jalan-jalan penghubung dan pelabuhan kecil untuk pasokan kebutuhan hidup. Pelabuhan ini disebut sebagai Pelabuhan Karyapura.

Selama tahun 1979 sampai dengan 1996, Pulau Galang menjadi perkampungan Vietnam. Telah beratus-ratus orang Vietnam yg meninggal di sini, selain karena sakit juga karena memang sudah tua. Selama 18 tahun ini pula mereka telah beregenerasi. Pada tahun 1996, perahu-perahu yang mereka tumpangi dengan sengaja ditenggelamkan oleh para pengungsi sebagai bentuk protes atas kebijakan UNHCR dan Pemerintah Indonesia yang ingin memulangkan sekitar 5.000 pengungsi.

Lima ribu pengungsi ini dipulangkan karena mereka tidak lolos tes untuk mendapatkan kewarganegaraan baru. Mereka tidak hanya menenggelamkan perahu sebagai bentuk protesnya, namun juga dengan membakarnya. Sepeninggal para pengungsi ini, oleh Pemerintah Otorita Batam, perahu ini diangkat ke daratan, diperbaiki, dan dipamerkan ke publik sebagai benda bernilai sejarah, yang mengingatkan pengunjung akan penderitaan para pengungsi tersebut.

Kami sempat parkir motor agak lama untuk melihat-lihat barang yang ditinggalkan para pengungsi. Perabotan mereka sekarang disimpan di museum yang sekaligus adalah markas Brimob. Tampak foto-foto keluarga, barang rumahtangga, buku klasik, kitab suci, dan karya kreatif para pengungsi. Database penghuni kamp juga masih disimpan rapi.

Di kawasan ini juga terdapat bekas ruang tahanan. Tempat ini pernah dijadikan tempat penahanan para pengungsi yang melakukan tindakan kriminal.

Di sana juga terdapat bekas rumah sakit dan sekolah bahasa. Sekolah bahasa ini dulunya digunakan Badan Penanganan Pengungsi (PBB), UNHCR, untuk meningkatkan keterampilan bahasa para pengungsi. Sebelum mendapat suaka di negara ke tiga, para pengungsi diwajibkan memiliki keterampilan khusus dan menguasai bahasa. Diantaranya bahasa Inggris dan Prancis.

Setelah dari museum, kami berjalan menuju Gereja Katholik. Yang terlihat dari jauh mengenai kekhasan sebuah gereja tentu saja tanda salib di pucuk teratas atapnya. Tetapi yang mencolok dari Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem ini adalah patung putih Maria di bagian muka bangunan di bawah tanda salib. Maria yang sedang merentangkan tangan agak ke bawah, berdiri di atas bola dunia dengan jubah putihnya yang merentang seperti sayap.

Di sana terdapat titian kecil melengkung terbuat dari besi yang kokoh untuk sampai di depan gereja. Dasar titian terbuat dari kayu yang kuat. Tapi, sudah dibuat jembatan baru dari semen, jadi kami bisa melewatinya dengan motor, langsung di depan gereja tanpa lewat titian kayu.

Aku melihat sekeliling, dan tertarik pada sosok patung di sayap kanan gereja itu, agak jauh dan menepi. Itu sebuah patung Maria berjubah paduan biru dan putih, tetapi dengan pose menelungkupkan dan mempertemukan kedua telapak tangan di dadanya, berdiri di atas bola dunia. Bola dunia itu berada di atas patung perahu bernomor lambung VN.02.1985. Sedangkan di atas kepala patung itu terdapat lingkaran putih terbuat dari lampu neon, yang kalau malam hari lampu neon berbentuk lingkaran itu menyala, sebagai penanda “malaikat” atau orang suci lainnya.

Di kiri-kanan patung Maria terdapat dua singa putih yang sedang “ngaso”, seakan-akan mengapit pria yang sedang melintas itu. Di atas kedua punggung singa terdapat inskripsi besar yang ditulis dalam bahasa Vietnam dan Inggris. Salah satu inskripsi yang berjudul “Ta On Duc Me” itu berbunyi begini: “O Mary, we are all deeply grateful for your protecting presence on our way to freedom. We always entrust our lives to you. Your care for us will be highly appreciated in our heart forever”.

Itu bukan salah satu doa para santo atau orang suci lainnya, melainkan salah satu harapan dan doa para pengungsi Vietnam penganut Katholik yang masih melihat secercah harapan di ujung lorong yang gelap. Sebuah harapan yang tidak saja menunjukkan bahwa mereka tidak fatalis, tetapi lebih menunjukkan sikap keberagamaan mereka, sikap religiositas mereka, meski penderitaan tengah menekan mereka tanpa ampun di Pulau Galang ini.

Agaknya tak ada yang bisa disaksikan lagi. Motor kugas agak cepat, khawatir keduluan hujan. Pukul 15.00 kami meninggalkan kamp pengungsi Vietnam itu. Aku terdiam di jalan, menelusuri jalan yang lurus dan lengang. Berharap tidak terjadi tragedi kemanusiaan lagi di bumi ini.[]

2 comments: