Thursday, December 30, 2010

Batam (1): Jembatan Barelang, Tengku Fisabilillah hingga Raja Kecil

Pukul 11.00 WIB, siang sangat terik di Kota Batam. Kota ini ternyata jauh lebih panas dari Jakarta. Kupikir karena tempatnya di dekat dengan khatulistiwa. Jaket yang sudah kusiapkan—dan akhirnya memenuhi tas punggungku—jarang sekali kupakai. Kaos tanpa kerah rasanya lebih nyaman.

Tanahnya keras, lebih banyak batu-batuan. Benar kata teman, Batam itu gunungnya dipotong, d
anaunya diurug. Kulihat masih banyak gunung setengah tegak yang menyisakan pandangan lapisan batu yang merah, hitam dan kuning cerah. Mungkin mahasiswa Geologi akan berjingkrak senang melihat batu-batuan itu, tak perlu ekskavasi, tinggal diteliti.

Ahad (26/12) siang, setelah pulang dari Singapura sore hari sebelumnya dan mengisi training dua sesi di Daurah Marhalah II KAMMI Kepulauan Riau di Kantor Pemuda dan Olahraga Kota Batam, aku dan Alwin, istriku, bertekad menghabiskan waktu satu hari untuk menelusuri jembatan Barelang, dan berziarah ke lokasi bekas manusia perahu Vietnam di Pulau Galang. Kami menaruh koper Polo berisi pakaian, beberapa cinderamata oleh-oleh untuk kawan dan keluarga dari Singapura dan laptop di rumah Mas Agus, di Perumahan Nusa Indah, Tanjung Piayu.

Mas Agus adalah kawan satu kamar kos dulu tahun 2002 di Jogja. Saat itu, dia sedang tugas akhir di Elektro UGM dan aku masih mahasiswa semester 4 di IAIN Sunan Kalijaga. Kos kami di Karangmalang E22, rumah Pak Rudjito. Sampai saat ini, anak-anak E22 masih terhubung melalui grup di Facebook. Kos itu memang solidaritasnya tinggi. Selama menginap di rumah Mas Agus, kami mengurai lembar-lembar album kekonyolan saat masih kos di Jogja. Balada anak kos: makan tak tentu, kadang sehari sekali, antara burjo dan angkringan; kos harus ditagih dan dikejar pak kos; ketika penagih iuran listrik datang semua ngumpet, bahkan ada yang tutup pintu kamar dan meneriakkan takbir, pura-pura sedang sholat. Begitu penagih lena, segera lari ngacir. Hehehe. Kayaknya balada kos ini harus jadi satu tulisan sendiri.

Mas Agus sudah 6 tahun tinggal di sana. Dia bekerja di McDermott International Inc, perusahaan yang berfokus pada rekayasa, pengadaan, konstruksi dan instalasi pengelolaan minyak lepas pantai dan proyek-proyek gas di seluruh dunia. McDermott terletak di Batu Ampar, jadi setiap hari Mas Agus harus berangkat pukul 06.15 agar sampai kantor pukul 07.00. Sebelumnya dia bekerja di TNC dan PT Drydock Naninda Tanjung Uncang. Ingat kerusuhan antara pekerja Indonesia dengan India di Batam pada April 2010? Di Drydock-lah tempatnya. “Untung aku sudah keluar dari sana, sebelum kerusuhan itu terjadi,” ujar Mas Agus.

Kembali ke cerita rencana ziarah kami. Ahad yang terik itu, kami pinjam motor Mas Agus. Motor Honda Supra FitX dengan plat nomer BP 2941 DR itu akan mengantar kami membelah pulau dan menelusuri jalan halus mulus yang membelah pulau industri hasil otak cerdas Habibie ini. Kami berjalan pelan dari daerah Tanjung Piayu, sampai di Simpang Panbill membelok ke arah kiri. Sebelum berangkat agak khawatir juga tentang jalan, apalagi daerah itu belum sempat kuambah hari sebelumnya.

Aku dan Alwin hanya membawa selembar peta yang sempat kami beli di Toko Buku Kharisma di Nagoya Hills—kawasan perbelanjaan terbesar di Batam. Di peta itu, jalur jalan diwarnai tebal, menurutku asal kita mau baca peta dan memperhatikan jalan, tidak akan tersesat di Batam. Paling-paling kalau kesasar juga akan ketemu pantai.

Sampai Simpang Panbill belok kiri, jalan terus sampai bertemu pertigaan besar, yaitu Simpang Tembesi. Dari sana ambil jalan ke kiri, ke arah Jembatan Barelang. Sepanjang jalan terlihat ratusan rumah baru dibangun. Tampaknya bisnis properti berkembang pesat di sini. “Rumah Murah, 3 Juta Pegang Kunci!” begitu bunyi spanduk di depan kompleks yang dibangun di atas “potongan bukit” itu. Berjajar rapi, seragam dengan cat kuning cerah, sekira 50 meter dari tepi jalan besar. Pantas saja, Sukaryo—kawan lama dulu di Jogja sukses bisnis properti di Batam. Bahkan sekarang dia menjadi salah satu anggota DPRD Kota Batam dari PKS.

Jalanan benar-benar halus dan sepi. Angin bertiup kencang siang itu, agaknya angin Desember dimana-mana memang begini wataknya. Kemarin ketika di Kawah Ratu Tangkuban Parahu juga sama, anginnya kencang merusak sisiran rambut yang sudah ditata rapi. Aku didepan memboncengkan Alwin. Angin menerpa wajah yang terbuka meski kepala tertutup helm. Rasanya seperti diayun, motor bergerak lurus ke depan, jalan sedikit naik naik turun. Akhirnya, kantung mulai menyerang. Bahaya! Ngantuk kok di atas motor. Alwin memijit pundakku untuk mengurangi kantuk.

Mau menepi untuk rehat, tak ada tempat. Aku bingung juga semisal hujan turun, pasti tubuh basah kuyup, sebab takada bangunan satu pun di tepi jalan yang kami lalui. Ada memang tapi, jaraknya jauh, itupun saat sudah memasuki Pulau Rempang. Setelah jembatan ketiga. Agaknya gerakan keagamaan cukup marak di sini. Kulihat ada tiga gereja berbeda aliran berdiri berdekatan, masih di pinggiran Pulau Batam. Di jalan kami bertemu dengan rombongan warga yang tampaknya pulang dari perayaan Natal. Anak-anak memakai topi Santa Claus berlari gembira saat Alwin memotret mereka.

Di kiri kanan jalan tampak perbukitan dengan pepohonan yang tak lagi lengkap. Sebagian besar pohon-pohon itu terlihat telah ditebangi. Ada pula yang meranggas habis dibakar. Pohon-pohon ditebangi dan dibakar karena sebagian areal di perbukitan akan digunakan sebagai pemukiman.

Akhirnya kami lihat batang dan kabel yang menegakkan jembatan pertama Barelang. Sampailah kami di Jembatan Tengku Fisabilillah yang menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton. Jembatan ini paling besar dan indah dan menjadi ikon kota. Banyak yang bilang, tidak sah ke Batam bila tidak ke Jembatan Barelang.

Ramai orang di atas jembatan. Motor dan mobil diparkir mepet pinggir jalan. Penjual makanan ada di sepanjang jembatan sepanjang 644 meter itu. Ada penjual rujak, es kelapa muda, siomay, sate padang. Dan yang paling kusuka adalah penjual udang goreng tusuk. Harganya Rp 10 ribu untuk 3 tusuk. Satu tusuk berisi 5 udang. Makan udang goreng sambil melihat selat yang biru airnya, wajah dan tubuh diterpa angin segar, nikmatnya luar biasa. Apalagi ditemani istri tercinta. Fabiayyi aalaai rabbikuma tukadzdzibaan, (Maka, nikmat apalagi yang hendak kau dustakan)?

Jembatan Barelang merupakan rangkaian enam jembatan yang menghubungkan tiga pulau yaitu Batam, Rempang dan Galang. Seluruh jembatan selesai dibangun pada 1992. Jika digabungkan, total panjang keenam jembatan itu mencapai 2 km. Waktu tempuh dari jembatan satu hingga keenam, tanpa berhenti dan jeda rehat, sekitar 20 menit. Tapi, menurut pengalaman kami kemarin, sekitar 1 jam jalan motor dengan santai. Keenam jembatan itu memiliki nama yang diambil dari nama raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Melayu-Riau pada abad 15 sampai 18.

Jembatan pertama yang menghubungkan Pulau Batam-Pulau Tonton dinamai Tengku Fisabilillah. Panjangnya mencapai 642 meter, lebarnya sekitar 350 m dengan ketinggian 38 m. Dijembatan ini kami berhenti sekitar 45 menit, menyantap udang dan minum air es kelapa muda. Tak lupa, mengambil foto untuk kenang-kenangan.

Narasinga menjadi nama jembatan kedua yang menghubungkan Pulau Tonton dan Pulau Nipah. Jembatan ini relatif lurus tanpa lengkungan dengan panjang 420 m, lebar160 m, dan tinggi 15 m. Jembatan ketiga adalah Jembatan Ali Haji yang memiliki panjang 270 m, lebar 45 m dan tinggi 15 m akan menghubungkan Pulau Nipah-Pulau Setokok. Tonton, Nipah dan Setokok masih dalam gugusan Kepulauan Batam.

Berikutnya, jembatan Sultan Zainal Abidin sepanjang 365 m, lebar 145 m, dan tinggi 16,5 m, yang menghubungkan Pulau Setokok – Pulau Rempang. Sedang Jembatan Tuanku Tambusai yang menghubungkan Pulau Rempang-Pulau Galang memiliki panjang 385 m, lebar 245 m2, dan tinggi 31 m2. Jembatan keenam dinamai Raja Kecil yang memiliki panjang panjang 180 m, lebar 45 m, dan tinggi 9,5 m yang menghubungkan Pulau Galang dan Pulau Galang Baru.

Bagi warga Batam, jembatan pertama dan terakhir adalah yang paling populer. Jembatan pertama dikenal karena cable stay pengikat jembatan yang terlihat unik dan artistik. Mengingatkan pada jembatan Golden Gate di San Fransisco, AS. Bahkan, jembatan ini diabadikan sebagai logo Pemerintah Kota (Pemkot) Batam. Di ujung jembatan di Tonton, tepatnya di bagian kanan jalan terdapat puluhan kios PKL yang menjajakan ragam makanan laut seperti udang goreng, kepiting, dan lainnya. Tak mengherankan, jembatan ini menjadi tujuan utama warga Batam terutama remaja untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Kemacetan arus lalu lintas di dua arah pun menjadi pemandangan jamak.

Lain halnya dengan jembatan keenam. Jembatan terakhir ini dikenal karena nilai sejarahnya. Pulau yang dihubungkan oleh jembatan keenam ini akan mengingatkan pada kejadian 30 tahun silam. Saat itu, Pulau Galang menjadi tempat penampungan 250 ribu “manusia perahu” dari Vietnam. Mereka terdampar di pulau itu setelah berhari-hari terombang-ambing di lautan dalam perahu kayu. Manusia perahu yang tak lain pengungsi dari Vietnam ini menghuni Pulau Galang sejak 1975 hingga 1996.

Setelah ditinggalkan, lokasi ini dijadikan tempat wisata oleh Otorita Batam. Di akhir pekan, warga Batam dan wisatawan lokal kerap mengunjungi pulau itu untuk menyaksikan sisa-sisa peninggalan pengungsi Vietnam, seperti perahu kayu, beberapa benda, bangunan, dan makam “manusia perahu” yang menjadi penanda dominan di pulau itu.

Kami sedang menuju ke lokasi memorial itu, setelah menikmati rangkaian enam jembatan Barelang. Kami akan napak tilas atas luka kemanusiaan karena perang saudara. Perang yang di belakangnya dimenangi oleh Amerika dan Uni Sovyet. Perang Vietnam yang mengharuskan Amerika memunculkan tokoh Rambo karena Amerika kalah di medan sebenarnya. Rambo, pahlawan palsu sebagai pil pahit, obat kekecewaan Amerika yang kalah. Sekaligus, kami mengenang para korban yang jatuh, nyawa melayang dan ribuan mengungsi.[]

2 comments:

  1. wah, pak amin jalan - jalan toh habis dari kanpora

    ReplyDelete
  2. kalimat terakhir kok kesannya anti amerika sekali bro??

    ReplyDelete