Tuesday, August 31, 2010

Bedah Buku Ijtihad di Markas WAMY Jagakarsa

Selasa (31/8) sore, buku saya yang berjudul Ijtihad Membangun Basis Gerakan, dibedah di markas World Assembly Moslem Youth, di daerah Jagakarsa. Salah satu pembedah adalah Kang Tatang Muttaqin Mansyur. Dia mantan Koordinator Presidium Senat Mahasiswa Universitas Padjadjaran (SM UNPAD) 1995-1996. Sekarang, Kang Tatang bekerja sebagai Kepala Subdit Pendidikan Tinggi di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS.

Hadir di bedah buku tadi, elemen ormas kepemudaan dari berbagai gerakan. Lebih lengkapnya, tulisan Kang Tatang, saya posting di sini. Banyak kritik buat buku saya, sangat membangun. Silakan menikmati...




MENILIK “IJTIHAD MEMBANGUN BASIS GERAKAN”

Oleh: Tatang Muttaqin Mansyur


I. PENDAHULUAN

Terlebih dahulu, perkenankan saya menyampaikan selamat untuk Mas Amin Sudarsono, penulis “Ijtihad Membangun Basis Gerakan” yang juga pegiat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Semoga tradisi berpikir, beraksi dan menulis semakin marak dilakukan para pegiat gerakan mahasiswa sehingga berbagai pemikiran yang terus berkembang dan berdialektika dengan realitas mampu disistematisasikan agar mudah dikenali dinamika dan kedalamannya.

Ketika dua teman dari penerbit Muda Cendekia mengantar buku ini ke rumah, kesan pertama yang saya dapatkan dari sampul buku adalah “kepalan tangan demonstran” dengan pekikan Allohu Akbar yang ditimpali dengan iringan sholawat Badar, yang mengingatkan saya pada periode 1990-an di Pemuda Mahasiswa Islam Bandung (PMIB) di bawah komando Alm. Indra H. Kangiden (semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisiNya), di mana demonstrasi SDSB mengalami eskalasi yang cukup massif hampir sama dengan demonstrasi terkait isu jilbab. Di belakang “kepalan tangan” nampak mirip simbol Demilitarization Zone (DMZ) di Korea yang menandakan adanya kondisi krisis yang membutuhkan sikap kritis. Itulah barangkali potret calon cendekiawan muda.

Sebagai cendekiawan muda mahasiswa punya tanggung jawab yang harus senantiasa dilaksanakan. Menurut Julian Benda, dalam La trahison des Clercs (1972), tanggung jawab kecendekiaan didasarkan pada tiga tolok ukur, yaitu: keadilan, kebenaran, dan rasio. Merujuk pada tiga tolok ukur tersebut, nampak jelas bahwa mahasiswa dituntut untuk senantiasa mengupayakan tegaknya kebenaran dan keadilan yang dilandaskan pada rasionalitas.

Di sinilah tanggung jawab mendasar mahasiswa yang kemudian direfleksikan dengan berbagai aktivitas kemahasiswaan, gerakan mahasiswa (GM). Itu jika ditilik dari tanggung jawab sosial yang ideal, sebab dalam kenyataannya mayoritas mahasiswa lebih menikmati statusnya sebagai mahasiswa untuk mengoptimalkan kebutuhan personal saja, atau bahkan menjadi just for having fun sehingga dikenal jargon “buku, pesta, dan cinta” atau bahkan “hura-hura, hore-hore dan huru-hara”. Dan pegiat KAMMI barangkali berikhtiar untuk menjadikan suasana kampus bernuansa “Ngaji, Diskusi dan Silaturahmi”.

II. MEMOTRET IDE
Diawali dengan sekapur sirih mengutip syair “Lir-Ilir” Sunan Kalijaga, penulis berharap aktivisme mahasiswa yang direpresentasi kelompok “Hijau” KAMMI mampu menjadi Sang Penggembala (Bocah Angon) yang memberi petunjuk, mengarahkan dan kadang harus mengingatkan umatnya agar tidak melenceng dari Rukun Islam. (hal xii).

Sebagaimana diakui penulis, buku ini merupakan “fragmen” yang semula berdiri sendiri namun setelah dikonsolidasikan mampu menjadi satu pikiran. Diawali dengan Bab I. Refleksi Kelahiran yang bercerita tentang kelahiran Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) 29 Maret 1998 yang merupakan hasil Forum Silaturahmi Lembaga Dawah Kampus (FS-LDK) X di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Deklarasi Malang. (hal. 11). Dilanjutkan dengan Bab II. Software Gerakan yang memperbincangkan ideologi dan gerakan KAMMI. Software menjadi tak lengkap tanpa hardware sehingga dilengkapi dalam Bab III. Hardware Gerakan yang mendiskusikan Pemerintahan Mahasiswa dan detail implementasinya. Selanjutnya, penulis menutupnya dengan Bab IV. Ceruk Penutup yang mengelaborasi pentingnya “penyadaran” melalui constientizacao barangkali sejenis constientisasi (consciousness raising) dari pemikir besar Brazil, Paulo Freire (1921-1997).

Dengan melihat daftar isi, nampak sekali bahwa buku ini merupakan sejenis Manifesto KAMMI dalam perspektif penulis sehingga menjadi sangat wajib dibaca oleh kader-kader KAMMI di mana pun berada dan layak disimak oleh pegiat aktivis mahasiswa lainnya sebagai perbandingan, serta bacaan khalayak sebagai pembelajaran untuk memahami dinamika kaum muda. Nampaknya penilaian saya ini sejalan dengan komentar Rijalul Imam, Ketua Umum PP KAMMI yang menyatakan “Saya menyebut buku ini sebagai Risalah Pergerakan KAMMI”.

Ketika menyimak struktur, sistematika dan denyut semangat buku ini mengingatkan saya ketika menyimak hadiah buku dari teman yang juga Ketua Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Barat, M. Riyan yang bertajuk Political Quotient, Meneladani Kecerdasan Politik ala Nabi yang diterbitkan Salam Madani 2008. Sebagai sesama gerakan muda Islam generasi baru, alur bernarasinya hampir mirip. Diawali dengan konsepsi idelogis yang selanjutnya dioperasionalisasikan sehingga menjadi praksis, di mana ide bertemali dengan tindakan untuk selanjutnya didetailkan menjadi berbagai model gerakan dan teknisnya. Itulah barangkali pengejawantahan dari strategi, taktis dan teknis.

Membaca sekilas (skimming), saya mendapat kesan keluasan cara pandang penulis terkait ideologi gerakan dan mencoba menunjukkan posisi gerakan kaum muda Islam, dalam hal ini KAMMI. Kekayaan perspektif dan sekaligus sikap moderatnya (al-wasith) tersebut tak lepas dari latar belakang penulis yang sempat nyantri di Pesantren Salafiyah Al-Munawir Semarang yang bertradisi NU yang dikombinasikan dengan pendalamannya sebagai pembelajar di Jurusan Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

III. MENILIK “IJTIHAD MEMBANGUN BASIS GERAKAN”
Sebagai “ideolog” KAMMI, dengan nada retoris yang memikat penulis menunjukkan signifikansi KAMMI. Bagaimana mungkin, KAMMI mampu mengumpulkan massa sebanyak 20 ribu orang, pada saat usianya baru satu bulan? (hal. 12). Pertanyaan yang sudah dijawab penulis, bahwa sekalipun KAMMI berdiri menjelang Orde Baru tumbang namun “pembenihannya” sudah dilakukan sejak tahun 1980-an.

Penulis melihat sosok Orde Baru sebagai “developmentalisme tanpa nurani” (hal. 13). Suatu penilaian yang menarik sekaligus hati-hati karena memberi impresi ada “developmentalisme dengan nurani” yang ditolelir sehingga nampak cara pandang penulis tak hitam putih, bahkan cenderung eklektis. Suatu fenomena baru bagi saya karena selama bersentuhan dengan kader-kader KAMMI umumnya lebih firm sebagai wujud sami’na wa’atona sekaligus keyakinan syumuliyatul Islam sehingga cenderung merasa tak perlu rujukan lain.

Sebagaimana laiknya, semangat aktivis mahasiswa, penulis menekankan perlunya mahasiswa berkontribusi dalam politik di mana gerakan mahasiswa harus mendorong proses politik menuju politik yang memiliki moral (hal. 13) sehingga sangat kritis terhadap SK Mendiknas Daoed Yoesoef No. 0156/U/1978 tentang NKK dan SK No. 0230/U/J/1980 BKK suatu institusi “monster” bagi aktivis mahasiswa pasca Malari. Tujuan “ideal” NKK/BKK mengarahkan mahasiswa di wilayah minat dan bakat, kerohanian dan penalaran yang memberi blessing indisguise tumbuh suburnya halaqoh dan kelompok studi.

Dalam perspektif teknokratis, NKK/BKK ini didasarkan kekhawatiran model mahasiswa di Amerika Latin yang juga tidak kondusif bagi tujuan akhir pendidikan sehingga mudah terjadi politicking. Terlepas dari itu, NKK/BKK berakhir dengan hadirnya Fuad Hassan yang mengeluarkan SK No. 0457/01990 tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di PT melalui SMPT. Salah satu SMPT yang sering jadi rujukan adalah UGM dengan adanya ketokohan Anis R. Baswedan. Salah satu “konseptor” SMPT adalah mantan Ketua SM UNPAD yang sempat di BIN dan menjadi staf khusus Dirjen Dikti serta saat ini menjadi salah satu tokoh penting di PKS, Suripto.

Penulis mengungkapkan maraknya Gerakan Tarbiyah (LDK) justru di kampus-kampus sekular semisal ITB, UI, UGM, UNPAD, IPB, UNAIR, dan lain-lain bukan di PTAIN (UIN, IAIN dan STAIN). (hal 25). Hemat saya maraknya Gerakan Tarbiyah, di samping “blessing indisguise” represivitas Orde Baru juga hadirnya kerja sama mahasiswa dan dosen agama Islam melalui instrumen Mentoring yang sangat efektif untuk menggalang kader-kader baru secara langsung, terbuka dan “legal”.

Seiring dengan perjalanan dan dialektika dengan realitas obyektif dalam gerakan, sekalipun KAMMI merupakan gerakan kaum muda yang biasanya dikenal radikal namun persentuhannya dengan realitas menjadikannya lebih moderat dan realistik. Misalnya visi KAMMI direvisi di Muktamar Makassar 2008 dari “Masyarakat Islami” menjadi “Bangsa dan Negara Indonesia yang Islami”. (hal. 30). Secara pelan tapi pasti, KAMMI menyadari akan adanya realitas Keindonesiaan, di samping kombinasi Kemahasiswaan dan Keislaman. Perubahan ini mendapat justifikasi dengan adanya kesimbangan antara doktrin dan realitas praktis sehingga dimensi ideologinya merupakan “persenyawaan” antara idealisme, realitas dan fleksibilitas” (hal. 37) sehingga muncul tawaran Kiri Islam yang dipopulerkan Hassan Hanafi dan Kapitalisme Religius yang tak jauh berbeda dengan “Compassionate Capitalism” model DeVos.

Cara pandang yang menarik dari penulis terkait sikap personal kader KAMMI. “Perubahan pertama paradigma, cara berpikir. Menjadi negarawan jelas tidak berpikir sempit. Membuka diri terhadap perbedaan, membuat permakluman diiringi usaha perbaikan” (hal. 82). Di samping itu penulis menekankan perlunya profesionalitas dengan (1) perancangan produk; (2) transfer teknologi; dan (3) pematangan nilai (pendidikan) yang kesemuanya ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat. (Hal 84).

Terkait isu perempuan, sekalipun penulis berupaya menguraikan posisi yang tepat namun tetap saja masih “membingungkan” sehingga solusi praktisnya bersifat normatif dan umum. Terkait hal ini, untuk “menenangkan” penulis menyitir, ucapan Aisyah RA, “Tidak ada celanya aku tinggal di rumah, tetapi yang aku lakukan ini untuk kebaikan manusia”.

Tentu tak mantap jika penulis tak mengurai detail gerakan mahasiswa dalam konteks nyata di kampus sehingga Bab III berupaya mengurainya melalui tawaran student government sekaligus respon pada PP No. 61/1999 tentang Otonomi Kampus. Sekalipun bersemangat dengan Kepemerintahan Mahasiswa, penulis tetap mengedepankan aspek normatif sebagai prinsip dasarnya, yaitu: moralitas, intelektualitas, politis, independent dan sejajar. (hal.110). Sekalipun politik penting namun penulis tetap hati-hati dalam mencari benang merah politik sehingga sekalipun KAMMI sangat sulit dipisahkan dengan PKS, penulis berkeinginan adanya “independensi” sehingga menguraikan argument “Hendaknya, pada masa kini, citra KAMMI tidak selalu identik dengan PKS. Ini penting sebagai catatan gerakan mahasiswa tarbiyah”. (hal. 112).

Di akhir tulisannya, penulis memimpikan persaudaraan lintasgerakan, baik lokal semisal NU, Muhammadiyah dan Persis dan juga gerakan Islam berbasis Timur Tengah semisal Hizbut Tahrir, Jamaat al-Islami, dan Ikhwanul Muslimin. (hal 192). Penulis mengingatkan bahwa “Ta’ashub gerakan seringkali berujung pada pertikaian yang mubazir. Pertikaian itu muncul –ketika benar-benar ditelusuri- ternyata hanyalah pada persoalan baju dan kulit belaka”. (hal. 194). Suatu pandangan khas anak muda yang simpatik dan layak untuk digetoktularkan. Semua gerakan mahasiswa muncul dari credo untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan rasionalitas.

Namun fakta di lapangan menunjukkan adanya kompetisi yang komplikatif dan cenderung tidak sehat di antara gerakan mahasiswa yang ada. Alih-alih bersinergi melawan ketidakadilan, korupsi dan kejahatan kemanusiaan yang sering dilakukan oleh para penguasa, aktivis gerakan mahasiswa sibuk membuat strategi berkompetisi di antara mereka sendiri sehingga arah gerakan mahasiswa menjadi involutif dan kontradiktif.

Oleh sebab itu dibutuhkan terobosan baru dalam menjalin komunikasi yang lebih baik di antara gerakan mahasiswa yang ada sehingga bisa saling mengerti dan memahami. Silaturahmi dan sharing di antara elemen gerakan mahasiswa dapat mengurangi ketegangan dan kecurigaan yang tidak perlu sehingga energi yang berserak dapat terkumpul menjadi kekuatan yang luar biasa. Stigmatisasi dan predjudice di antara aktivis harus disudahi dengan saling bersapa dan berbagi, seperti pesan Robin Hood dalam The Merry Adventures of Robin Hood: “ceritakanlah masalahmu dan bicaralah dengan terbuka, mengalirkan kata-kata senantiasa meringankan hati yang luka; seperti mengeluarkan debu yang menyumbat penggilingan”.

IV. KHATIMAH

Secara umum, buku yang dipersembahkan Mas Amin Sudarsono merupakan bunga rampai pemikiran penulis sebagai ideolog, pemikir dan juga aktivis sehingga mampu merekam berbagai fakta sosial gerakan mahasiswa terbesar kontemporer, KAMMI.

Sekalipun berasal dari bahan yang terserak namun sistematika penulisan buku ini cukup mengalir dan koheren sehingga mudah ditemukenali konstruk dan pikiran besar, serta benang merah pemikiran penulis. Secara teknis, diperlukan selektivitas dalam penelusuran rujukan sehingga akan makin memperelok buku ini. Semisal perujukan pada wikipedia di halaman 18 tak lazim.

Akhirnya, ijinkan saya menyampaikan selamat dan terus bergiat dalam aktivisme dan perekamannya dalam bentuk tulisan. Sahabat Ali RA bertutur, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Hal ini sejalan dengan pepatah Latin, Verba volant, scripta manent di mana yang terucap akan hilang dan yang tertulis akan abadi.[]

No comments:

Post a Comment