Tuesday, August 31, 2010

Labuha, Mengingat Samargalila

Samargalila. Aku tidak paham artinya, hanya terdengar indah di telinga. Samargalila, nama sebuah tempat di Labuha, ibukota Kabupaten Halmahera Selatan. Di suatu siang gerimis, aku berada di sudut ruangan di Lapangan Samargalila, yang ada di tengah Labuha.

Tahun 2006 saat itu, sekira bulan Juni. Duduk di temani kompuputer jinjing dan segepok lembar administrasi. Ingat benar saat itu, aku menjadi administrator JSK (Jaminan Sosial Kesehatan) yang digulirkan Bupati Kasuba. Tugasku, mencatat warga, memotret wajah mereka lalu berjanji mencetak kartu JSK untuk bisa berobat gratis di Puskesmas se penjuru Bacan.

Samargalila. Siang panas, tapi tetap gerimis. Juni 2006, di lapangan itu digelar semacam pameran dinas-dinas. Namanya Halsel Expo 2006. Semua dinas mendirikan stand yang bisa dikunjungi warga dengan bebas. Ada Dinas Kesehatan misalnya, bikin peta penyakit kusta di Halmahera Selatan. Kusta memang endemik di kabupaten pemekaran itu. Dinas yang lain juga membuat pameran atau launching program. Warga antusias datang ke sana, untuk jajan, jalan-jalan atau sekedar ngobrol.

Di lapangan itu pula, pertama kali aku berolahraga. Tanggal 27 Mei 2006, tepat saat gempa melanda Jogja, aku terbang ke Ternate. Setelah satu malam menempuh perjalanan kapal dari Ternate ke Bacan, pagi harinya saat jalan-jalan. Lapangan Samargalila adalah yang pertama kukunjungi. Di sana aku kenalan dengan Alun--nama aslinya Khairun Musyari--juga bertemu dua kawan yang sudah satu bulan lebih dulu berangkat: Ronny Hardjito dan SuryantaBakti. Pagi itu, Ronny asyik melatih anak-anak untuk karate. Ronny--yang kini tinggal di Batam--menjuluki dirinya sendiri karateka puitis. Dimana pun dia tinggal, selalu punya murid. Dia dipanggil sensei..

Di lapangan Samargalila itu juga, aku bertemu Rusmina Harisi--seorang laboran yang bertugas di laburatorium RSUD Labuha. Dia gadis dengan jilbab (sangat) lebar. Awalnya kami tidak bicara, tapi karena berada dalam satu stand--dia menjaga stand RSUD dan aku stand JSK, maka ngobrollah kami. Dia pernah mengikuti pengajian Wahdah Islamiyah--sebuah organisasi di Makassar yang cukup ketat dalam pengamalan Islam. Dia juga sempat masuk ke organisasi HMI. Saat itu, Mina--panggilan akrabnya--sudah menjadi PNS di RSUD. Untuk beberapa bulan berikutna, aku akan sering bertemu dia, karena aku mendapat job mengerjakan kartu identitas seluruh karyawan RSUD Labuha yang banyaknya ada 80 orang.

Samargalila kala 2006 hanya lapangan biasa, nggak tahu sekarang. Dulu senang sekali bisa lari pagi menghirup udara bebas di lapangan itu. Dari kontrakan kami di Jalan Molon Junga Pasar Lama, berlari melewati kantor bupati yang merupakan sewaan dari keluarga Kerajaan Bacan, lalu berbelok kiri sampai di Samargalila.

Ah, rinduku dengan Samargalila. Kapan bisa menginjak rumputmu lagi?[]

No comments:

Post a Comment