Thursday, October 1, 2009

Belajar Sukses Advokasi: Air Bersih untuk Warga Jingkol

Tulisan ini memuat cerita tentang pengalaman lapangan advokasi anggaran di Dusun Jingkol yang termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Kendal. Sebuah kisah tentang keberhasilan akses anggaran daerah oleh organisasi masyarakat sipil yang digawangi oleh PATTIRO (Pusat Telaah dan Informasi Regional) Kendal dan jaringan perempuan.

Secara geografis, dusun ini termasuk di Desa Kedungboto Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah. Arah baratdaya dari Kota Semarang, ibukota provinsi Jawa Tengah. Letaknya di balik perbukitan, biasa disebut oleh warga setempat dengan nama Perbukitan Wuluhgambir, termasuk dataran tinggi di lereng Gunung Ungaran.

Posisi Dusun Jingkol benar-benar terpencil. Untuk bisa mencapai daerah itu, harus melewati jalanan terjal bebatuan tanpa aspal yang naik turun dan menyeberangi sungai. Dusun tersebut ditempati 146 kepala keluarga dengan keseluruhan penduduknya berjumlah 499 jiwa.


Tahun 1999, Mistari didaulat menjadi kepala Dusun Jingkol oleh warganya. Proses pengangkatan Mistari juga bisa menjadi cerita tersendiri tentang bangunan demokrasi yang mengakar di masyarakat dusun terpencil itu. Mistari sama sekali tidak mencalonkan diri, tetapi dia diangkat secara aklamasi oleh penduduk dan digaji sedikit oleh mereka.

Di awal menjabat sebagai kadus, Mistari memiliki tiga obsesi, yaitu pemenuhan kebutuhan air bersih, pembuatan jembatan yang menghubungkan dusunnya dengan desa lain, dan perbaikan kondisi jalan. Air bersih adalah kebutuhan dasar setiap manusia, ketiadaannya akan membuat kebutuhan yang lain juga tidak terpenuhi.

Sebelum tahun 2009, kondisi Dusun Jingkol sangat memprihatinkan. Para penduduk harus mengambil air dengan jarak tiga kilometer berjalan kaki dengan wadah jerigen dan ember. Itu pun tidak bisa digunakan untuk seluruh kebutuhan. “Hanya cukup untuk masak saja, untuk mandi sehari sekali sudah cukup,” ujar Welas, salah satu warga.

Problem berikutnya adalah jembatan penghubung. Dua dusun tersebut, yaitu Semanding dan Jingkol berada terpisah dengan pusat desa. Keberadaan jembatan sangat penting untuk bisa mengakses fasilitas kesehatan dan pendidikan bagi warga. Selama ini, jembatan terbuat dari kayiu dan tali. Sudah banyak yang keropos dan lapuk. Ketika dilewati, jembatan kayu itu akan bergoyang keras karena hentakan kaki. Saat dilewati sepeda motor, lebih mengerikan, karena kekuatan jembatan terombang-ambing.

“Dulu sudah ada korban jatuh saat saya boncengkan dan melintas di jembatan itu. Padahal ibu yang saya boncengkan itu hendak berobat ke Poliklinik Desa. Ini orang sakit, malah semakin sakit,” kata Mistari.

Infrastruktur jalan di dusun itu juga sangat jelek. Terdiri dari bebatuan keras ditambah medannya yang naik turun. Penduduk biasa berjalan kaki untuk menuju fasilitas pendidikan dan kesehatan. Tiap ada yang sakit harus diangkat oleh empat sampai lima lelaki dewasa dengan berjalan kaki. “Karena jalan tak memungkinkan dilalui motor, pasien yang akan berobat biasa kami tandu,” kata Mistari.

Air bersih yang tak ada, jembatan yang tidak kokoh dan jalan yang rusak berefek panjang. Penduduk tidak bisa mengakses fasilitas pendidikan, kesehatan dan transaksi ekonomi mereka juga terhambat. Hampir seluruh penduduk laki-laki bekerja di hutan dengan menyadap (nderes, bhs Jawa) pohon aren, yang akan diolah menjadi gula merah. Sementara kaum perempuan dan para ibu bekerja di rumah. Para ibu ini yang harus mengambil air dengan jarak yang jauh, ditambah pekerjaan domestik yang menyita waktu.

Pendapatan yang minim ini menyebabkan dari 499 warganya, tidak lebih dari 12 orang yang lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP). SMP adalah tingkat pendidikan tertinggi di dusun itu. Motivasi belajar yang rendah salah satunya juga disebabkan oleh sulitnya akses untuk menjangkau layanan pendidikan.

Jarak paling dekat Sekolah Dasar (SD) sejauh 1,5 kilometer yang ada di dusun tetangga, sedangkan untuk SMP sejauh tujuh kilometer yaitu di Desa Cening Kecamatan Singorojo atau 11 kilometer ke SMP Negeri 2 Limbangan. Semua itu harus dijangkau para siswa dengan berjalan kaki. “Mereka harus berangkat pukul 04.30 WIB agar tidak terlambat masuk sekolah pada pukul 07.00. Kalau terlambat, ya pulang lagi,” ujar Hery, seorang warga.

Mereka juga harus membayar mahal untuk mendapatkan layanan kesehatan, karena untuk menjangkau layanan tersebut mereka harus berjalan kaki sejauh dua kilometer dengan infrastruktur jalan yang sangat sulit dan menyeberangi Sungai Kaliputih selebar 10 meter. Setelah melewati sungai baru mereka dapat menjangkau transportasi jasa angkutan dengan jarak tiga kilometer menuju Poliklinik Desa, tempat bidan desa bertugas. Sedangkan untuk mencapai Puskesmas Kecamatan mereka harus menempuh jarak sejauh 12 kilometer.

Bidan desa melakukan kunjungan ke dusun tersebut hanya satu kali dalam satu bulan. Kepala Dusun Jingkol, Mistari mengungkapkan, dalam kurun waktu enam tahun terakhir ini hampir setiap tahunnya terjadi kematian ibu melahirkan atau bayi yang baru dilahirkan.

Geliat Advokasi
Melihat banyaknya problem mendasar itu, akhirnya membuat masyarakat sipil bergerak, adalah PATTIRO (Pusat Telaah dan Informasi Regional) Kendal yang memulainya. Sejak 2005, PATTIRO Kendal sudah melakukan pendampingan warga Dusun Jingkol.

Widi Heriyanto, pendiri PATTIRO Kendal mengungkapkan, pilihan Dusun Jingkol karena lokasinya yang paling terpencil di kabupaten Kendal dan ketiadaan akses fasilitas yang memadai. “Awalnya, kami ingin mencarikan sumber air bersih yang bisa diakses. Dari situ lalu advokasi melibatkan jaringan perempuan dan seluruh warga bergerak sendiri,” ujar Widi.

PATTIRO Kendal berbentuk persyarikatan, berdiri pada 3 Juni 2002 di Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah, dan tergabung dalam jaringan PATTIRO Raya. Organisasi ini berkomitmen untuk memperjuangkan terwujudnya masyarakat kritis, bertanggung jawab, dewasa, solutif, dan produktif yang bersama-sama membangun tatanan yang adil.

Organisasi ini mengemban misi untuk meningkatkan kapasitas dan penyadaran hak dan kewajiban bernegara bersama masyarakat madani sekaligus berkolaborasi dengan mereka dalam menjalankan misinya. Saat ini, PATTIRO Kendal sedang menjalankan program di tiga isu: konservasi alam, gender budget dan keterbukaan informasi publik.

Awalnya hanya warga Dusun Jingkol bersama PATTIRO Kendal yang melakukan kajian dan usaha advokasi. Tetapi kemudian bertambah dengan munculnya jaringan masyarakat sipil yang bernama Jaringan Perempuan PAKAR (Pusat Advokasi dan Kajian Anggaran untuk Rakyat), biasa disingkat PAKAR.

Misi jaringan kerja yang dibentuk pada 13 September 2008 ini diarahkan untuk mendorong Pemerintah Kabupaten Kendal dalam merencanakan dan menyelenggarakan anggaran lebih responsif gender, artinya kebijakan yang diambil lebih peka terhadap kebutuhan perempuan.

Jaringan yang beranggotakan gabungan organisasi perempuan dan basis masyarakat secara residensial ini menginginkan adanya penguatan partisipasi perempuan dalam pengambilan kebijakan publik khususnya dalam perencanaan anggaran. “Selama ini kelompok perempuan mengalami kesulitan dalam mengakses hal tersebut, apalagi turut terlibat di dalamnya,” ujar Mahmulatin, seorang pegiat PAKAR.

Dalam proses berikutnya, warga Dusun Jingkol tidak lagi sendiri. Bersama PATTIRO Kendal dan PAKAR—yang juga diinisiasi oleh PATTIRO—mereka bisa melakukan kajian dan advokasi hingga kepentingan mereka bisa dipenuhi oleh pemerintah kabupaten.

Dari Kajian ke Advokasi
Dusun Jingkol ini berlokasi di daerah perbukitan yang kering. Setiap harinya, penduduk dusun mendapatkan air bersih dari sumber mata air yang lokasinya jauh dari pemukiman, ditambah lamanya waktu untuk mengantre. Pengambilan air bersih ini menjadi lebih sulit lagi ketika musim kemarau. Warga dusun ini, dalam hal ini para perempuan, harus mengambil air dari mata air yang jaraknya tiga kilometer. Di sisi lain, infrastruktur jalan yang dipunyai hanya jalan setapak dan rusak.

Kajian pertama dilakukan oleh PATTIRO Kendal bersama PAKAR. Dari hasil identifikasi masalah kemudian ditemukan bahwa penyediaan air bersih adalah persoalan mendasar yang harus diselesaikan, sebelum masalah yang lain. Karena itu, PATTIRO bersama warga lalu memunculkan rekomendasi untuk mengajukan usulan anggaran penyediaan air bersih di Dusun Jingkol dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten Kendal tahun 2009.

Langkah berikutnya adalah analisis anggaran dalam RAPBD 2009. Dalam proses analisis itu justru ditemukan anggaran yang belum berpihak kepada masyarakat, misalnya anggaran makan minum untuk semua Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Kabupaten Kendal mencapai angka Rp 17 miliar, padahal sebelumnya dalam APBD 2008 pos ini dianggarkan sebesar Rp 10 miliar.

Selain itu, dari hasil analisis draft RAPBD justru alokasi anggaran untuk menyelesaikan persoalan masyarakat di Dusun Jingkol terkait persoalan air bersih, tidak ditemukan. Kemudian PATTIRO Kendal dan PAKAR sepakat untuk mengadvokasi masalah itu agar masuk di APBD 2009 melalui proses lobby, hearing, diskusi publik dan publikasi media pada saat pembahasan RAPBD di DPRD.

Hasil analisis draft RAPBD 2009 itu kemudian dipublikasikan melalui diskusi terbuka dengan mengundang DPRD, pihak pemerintah daerah, dan media selama dua hari sebelum penetapan RAPBD 2009 oleh DPRD. Dari diskusi publik itu muncul persoalan Dusun Jingkol yang kemudian menjadi perhatian DPRD. Anggota dewan mulai melihat persoalan mendasar, yaitu air bersih bagi warga Jingkol.

Setelah APBD 2009 diputuskan oleh DPRD, warga bersama jaringan perempuan di empat kabupaten di Jawa Tengah melakukan hearing ke tim evaluasi gubernur Jawa Tengah untuk memastikan persoalan Dusun Jingkol diakomodir dalam APBD 2009 Kabupaten Jingkol. Akhirnya, pada Januari 2009 anggaran senilai Rp 230.000.000 dialokasikan untuk pembangunan tangki penyediaan air bersih di Dusun Jingkol dalam APBD 2009.

Kebahagiaan warga makin bertambah setelah jembatan yang menghubungkan dengan pusat desa juga mulai dibangun. Bantuan diperoleh dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan nilai total proyek sebesar Rp 330.000.000. Dituturkan kepala Dusun Jingkol Mistari, bahwa proyek jembatan itu dikerjakan tanpa pemborong. Pengerjaan dilakukan para mahasiswa Fakultas Teknik Unnes sementara pekerja mengambil dari warga dusun setempat.

“Jembatan ini kerjasama antara Unnes, warga dusun dan pemerintah daerah. Pemerintah memberi bantuan berupa barang. Sementara pendanaan seluruhnya ditanggung Unnes,” papar Mistari.

Metode Advokasi

Cerita keberhasilan warga Dusun Jingkol bersama PATTIRO Kendal dalam melakukan advokasi alokasi anggaran penyediaan air bersih dari APBD Kabupaten Kendal 2009 tersebut, bisa disimpulkan melalui tahapan sebagai berikut:

Pertama, community organizing, membentuk jaringan perempuan dari berbagai kalangan. Anggota jaringan ini berasal dari ormas perempuan, kepala desa, guru, anggota dewan, birokrat dan profesi yang lain. Awalnya mengundang mereka untuk datang ke forum-forum yang dibuat oleh PATTIRO. Selanjutnya ada pendekatan secara personal ke beberapa tokoh perempuan yang ditarget akan menjadi pegiat jaringan. Hasilnya adalah terbentuknya Jaringan Perempuan PAKAR (Pusat Advokasi dan Kajian Anggaran untuk Rakyat).

Kedua, capacity building jaringan. Bentuknya adalah pelatihan analisis anggaran. Para perempuan itu belajar bersama tentang anggaran dan pola pengawasan. Setelah pemahaman anggaran cukup mendalam, para perempuan melakukan identifikasi permasalahan warga bersama jaringan perempuan PAKAR dan dari sini muncul kesepakatan untuk mengadvokasi penyediaan air bersih di Dusun Jingkol.

Peningkatan kapasitas bagi anggota jaringan ini dilakukan melalui Workshop Pembentukan Jaringan Perempuan Kabupaten Kendal pada Sabtu, 13 September 2008 dengan peserta berbagai ormas. Lalu dilanjutkan Training Analisis Kebijakan dan Analisis Anggaran Responsif Gender yang diselenggarakan pada 8-9 November 2008 di Kampung Jowo Sekatul Limbangan Kendal.

Ketiga, analisis anggaran APBD 2008 dan RAPBD 2009. Analisis ini bertujuan untuk melihat apakah permasalahan air bersih Dusun Jingkol sudah diakomodasi dalam RAPBD 2009. Hal ini dilakukan karena PATTIRO Kendal baru memulai advokasi ini pada Oktober 2008, di mana proses penyusunan RAPBD 2009 ketika itu berada di tahap proses pembahasan di DPRD Kabupaten Kendal.

Keempat, lobi dan hearing kepada DPRD dan Tim Evaluasi Gubernur. Dilanjutkan diskusi publik hasil analisis RAPBD 2009 dengan mengundang DPRD, eksekutif, media dan masyarakat sipil. Dalam proses ini, PATTIRO Kendal bergandengan tangan dengan empat jaringan kerja perempuan dari tiga kabupaten lain di Jawa Tengah, yaitu Boyolali, Semarang dan Pekalongan. Sehingga kekuatan pendorong lebih banyak. Aspirasi penyediaan air bersih juga lebih didengarkan.

Kelima, berkolaborasi dengan media lokal untuk mempublikasikan hasil analisis untuk membangun opini bersama tentang pentingnya isu ini. Media memiliki peranan sangat penting dalam melakukan advokasi. Tercatat, dalam kliping yang dikumpulkan PATTIRO Kendal, persoalan Dusun Jingkol ini diangkat secara serentak selama beberapa hari di pelbagai media, terutama setelah hasil analisis PATTIRO Kendal digelar melalui diskusi publik.

Media koran yang memuat berita tentang Dusun Jingkol dan aktivitas PATTIRO Kendal adalah Radar Kendal, 16 September 2008 berjudul “Pembentukan Jaringan Perempuan Kabupaten Kendal.”

Sementara berita tentang terisolirnya dusun itu, meskipun alokasi dana untuk tangki air sudah dikucurkan, masih muncul di Suara Merdeka, 29 Juli 2009 berjudul “800 Warga Puluhan Tahun Terisolasi,” Suara Merdeka, 31 Juli 2009 dalam “Tajuk Rencana: Pesan Keprihatinan dari Limbangan,” Kompas, 31 Juli 2009 berjudul “Dusun Terisolasi: Ketika Tandu Menjadi Jembatan Kala Sakit” dan Suara Pembaruan, 28 Juli 2009 berjudul “849 Warga Kendal Puluhan Tahun Terisolasi.”

Langkah berikutnya adalah melakukan pengawasan pelaksanaan proyek. Saat ini, proyek pembangunan tangki penampungan air telah selesai dilaksanakan dan PATTIRO Kendal melakukan pengawasan untuk memastikan tidak terjadinya penyimpangan. Sementara untuk proyek jembatan akan dimulai pada September 2009. “Harapan kami, akhir tahun 2009, jembatan sudah selesai,” kata Mistari.

Simpul Akhir
Dalam melakukan proses advokasi di Dusun Jingkol ini, PATTIRO Kendal mengambil beberapa pembelajaran penting. Pertama, sangat penting untuk berkoalisi dengan jaringan masyarakat sipil untuk memperkuat daya tawar masyarakat. Akan lebih mudah mendesakkan aspirasi jika digalang oleh seluruh stakeholder yang ada.

Kedua, pentingnya melibatkan media dalam gerakan advokasi anggaran dan menjadikan mereka sebagai mitra. Begitu PATTIRO Kendal melakukan publikasi, seluruh media massa meliput dan mengangkat dalam berita mereka. Para eksekutif dan pihak universitas membaca hal itu, dan mereka turun tangan untuk membantu.

Sekaligus, bisa disimpulkan, advokasi PATTIRO mendapat capaian pada dua level, yaitu level komunitas, dalam bentuk pengorganisiran kelompok perempuan dan media lokal untuk terlibat dalam gerakan advokasi anggaran. Kemudian yang kedua adalah level kebijakan anggaran (budget policy), yaitu adanya alokasi anggaran di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kendal sebesar Rp. 230.000.000 untuk kegiatan Penyediaan Air Bersih yang berlokasi di Desa Jingkol. Bentuk kegiatannya adalah pembangunan tangki penampungan air bersih.

Atas perjuangan yang dilakukan seluruh pihak, akhirnya obsesi mengalirnya air bersih langsungke rumah penduduk, pada awal tahun 2009 ini, telah terpenuhi. Pemerintah daerah menurunkan alokasi dana dari APBD untuk dusun terpencil di ujung selatan kabupaten Kendal itu.

Alokasi dana APBD Kabupaten Kendal untuk infrastruktur air bersih Dusun Jingkol ini, tidak bisa dilepaskan dari peran PATTIRO Kendal dan seluruh jaringan kerja. Sukses advokasi untuk kebutuhan dasar perempuan menjadi kebahagiaan warga Jingkol yang selama ini cukup terasing dari kemajuan.[aminsudarsono]

2 comments:

  1. Jelajah Wisata 2010 The Siprit of Boko
    Minggu, 18 Juli 2010
    Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta

    Buka Pendaftaran

    Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman kembali akan menggelar agenda wisata spektakuler yang terbuka untuk umum berupa Jelajah Wisata bertajuk “The Spirit of Boko 2010”, Minggu 18 Juli 2010. Informasi dan pendaftaran di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Yogyakarta Telepon/Faximile (0274) 869613 Website: www.tourismsleman.com, Email dan Facebook prtourismsleman@yahoo.co.id, Kantor Kecamatan Prambanan, TIC Jl. Malioboro, dan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.

    Menurut Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dra. Shavitri Nurmala Dewi, MA, pendaftaran akan dibuka pada tanggal 10 Juni 2010. Sedangkan kepesertaan dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok.Pendaftaran perorangan sebesar Rp. 30 ribu dan kelompok per 4 orang sebesar Rp.100 ribu. Setiap peserta akan memperoleh sebuah kaos cantik, snack dan minum, asuransi serta kupon undian doorprize untuk memperebutkan hadiah 2 (dua) sepeda motor Suzuki Smash, sepeda gunung, televisi, handphone,minicompo dan puluhan hadiah lainnya. Ditambahkan pula bahwa untuk peserta beregu mendapat fasilitas tambahan berupa kesempatan memperoleh trophy dan uang pembinaan.

    Yang tidak kalah menarik, setiap peserta akan menyusuri jalur wisata trekking sepanjang 12 kilometer yang berupa jalan setapak melalui pekarangan dan persawahan di sepanjang bukit kawasan Candi Ratu Boko dan sekitarnya dengan medan naik turun yang cukup menantang. Disamping dapat melihat kawasan obyek wisata Candi Ratu Boko, peserta juga akan dapat melihat beberapa obyek wisata lain yaitu diantaranya Candi Barong, Candi Dawangsari, Candi Banyunibo, dan Dam Pandanrejo.

    Secara terpisah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman mengungkapkan bahwa agenda Jelajah Wisata merupakan event tahunan untuk menarik wisatawan baik domestik maupun manca negara untuk berkunjung ke DIY khususnya ke obyek-obyek wisata di Sleman. Pada saat ini wisata trekking sudah menjadi salah satu wisata alternatif yang mulai dilirik banyak kalangan karena menawarkan panorama alami nan asri serta menjadi wahana olah raga sekaligus berwisata. Disamping itu para peserta akan dapat melihat secara
    langsung Candi Ratu Boko dan kawasan sekitarnya yang menawarekan panorama alami yang masih asri.-

    ReplyDelete