Thursday, May 28, 2009

Bumi Bergetar di Bandara

Jogjakarta. Tiga tahun lalu, 27 Mei 2006. Hingga pukul 02.00 WIB dini hari saya belum bisa tidur. Tiket pesawat Merpati Air penerbangan Jogjakarta-Ternate saya pegang erat sambil rebahan santai di lantai beralas sajadah. Rumah kontrakan saya di Dusun Krangkungan Condongcatur sudah sepi. Teman-teman sudah lelap, tapi saya masih belum bisa terpejam mata. membayangkan akan pergi jauh ke tanah seberang. Merantau pertama kali ke negeri yang jauh: tanah Maluku Kieraha.

Dua minggu sebelum hari keberangkatan ke Maluku Utara itu, saya sibuk mempersiapkan hal-hal yang perlu dibawa. Pak Zulkarnain, guru saya sejak di Jogja, sudah pindah ke Pulau Bacan, Maluku Utara tiga bulan sebelumnya. Beliau mendapat amanat untuk belanja peralatan pemerintah daerah yang seluruhnya alat elektronik, yaitu kamera digital, laptop dan handycam. Seingat saya, total nilai seluruhnya hampir Rp 200 juta. “Antum (kamu) yang bawa belanjaan itu ke Ternate ya. Beli tiket pesawat Merpati Airlines, langsung dari Jogja ke Ternate,” ucap Pak Zul via telepon. Jadwal terbang Merpati itu adalah Sabtu 27 Mei 2006 pukul 06.15 WIB. Satu kali ganti pesawat, transit di Makassar.

Sejak Jumat saya sudah sibuk packing. Atas rekomendasi Pak Zul, saya belanja alat elektronik itu di Toko Shimura Jalan Gejayan (sekarang Jalan Affandi). Di sana, saya minta seluruh barang dibungkus menggunakan kardus dengan pelapis. Saya khawatir di bagasi pesawat akan terbanting-banting. Apalagi saat menaikkan dan menurunkan. Setelah semua jelas, saya bayar, lalu pulang ke kontrakan di Azzahro, Krangkungan Condongcatur. “Subuh nanti saya ambil, langsung ke bandara,” pesan saya kepada Mas Anto, pegawai Shimura.

Karena tak bisa kunjung tidur, saya tata lagi tas karier yang besar itu, juga beberapa koper. Barang yang harus ada adalah beberapa lembar pakaian dan buku-buku penting. Tak terasa sudah pukul 04.30 WIB, saya telpon taksi minta menjemput ke Krangkungan. Setengah jam kemudian taksi itu datang, saya bersungut-sungut. “Maaf pak, gang masuk susah,” ujar sopir minta maaf. Segera kami meluncur ke Toko Shimura untuk mengambil barang.

Pukul 05.15 WIB, Mas Anto sudah menunggu di depan toko. Bergegas kami memasukkan kardus berisi alat-alat elektronik itu ke dalam taksi. Tak cukup menggunakan bagasi, jok belakang penuh tumpukan. Taksi segera meluncur ke Bandara Adisucipto. Saya hanya bisa berharap masih bisa mengejar pesawat. Sebab penerbangan pukul 06.15, normalnya, setengah jam sebelumnya sudah harus check in.

Sampai bandara pukul 05. 40 WIB. Kawan yang membantu angkat barang tak kunjung datang. Tiba-tiba datang dua akhwat, yaitu Fitri dan Kardina Ani, dua-duanya mahasiswa Farmasi UII yang datang untuk melepas keberangkatan saya. “Ini pak, sekedar oleh-oleh, pengingat dan penyemangat,” ujar Ani sambil menyerahkan bungkusan buku. Saya ingatnya judulnya adalah Episode Cinta Sang Murabbi.

“Terimakasih atas semuanya,” saya terharu menerima benda itu. Waktu terus berjalan, dengan terpaksa untuk mengejar check in, saya minta bantua dua perempuan berjilbab lebar itu untuk mengangkut kardus besar berisi laptop dan handycam beberapa buah. Sukarela mereka mengangkat ke depan meja check in. Usai itu, mereka segera pamit.

Saat ditimbang, bobot beban yang saya bawa sampai 85 kilogram. Otomatis harus menambah biaya bagasi. Seingat saya, saat itu saya harus membayar Rp 600 ribu lebih. “Bayar di mana, Pak?” tanyaku tergesa. Soalnya, saat itu sudah pukul 05.50 WIB, pesawat sebentar lagi berangkat. “Di counter Merpati depan sana,” petugas menunjuk lokasi. Saya berlari cepat ke ruangan itu.

“Wah, habis banyak mas.” Saya segera ulurkan uang Rp 700 ribu. Kembalian yang harus saya terima Rp 35 ribu. Saat saya ulurkan uang kepada petugas, tiba-tiba gempa terjadi. Lantai di bawah kaki saya bergeser-geser. Petugas di depan saya panik, saya juga panik. “Brakkk,” terdengar suara benda jatuh. Tanpa babibu, petugas di depan saya lari, saya juga ikut keluar.

Tiga puluh detik pertama lantai bandara bergeser-geser. Saya berjalan pelan mepet ke dinding menuju pintu masuk bandara. Tiga puluh detik berikutnya, lantai terlonjak-lonjak, persis seperti jika kita loncat-loncat di atas sofa empuk. TV yang dipasang di pojok-pojok ruang check in berjatuhan. Plafon bandara juga runtuh. Untuk menghindari kejatuhan di kepala, saya terus mepet di dinding dan memastikan tak ada benda di atas kepala.

Satu menit teror itu berlangsung. Bumi digoyang hebat, bangunan kokoh bandara runtuh, terutama di ruang tunggu. Beberapa korban nyawa di ruang itu. Saya berucap syukur, keterlambatan membuat saya belum masuk ke waiting room, sebab ruang itulah yang paling banyak roboh.

Seorang bapak ikut berlari di samping saya. Kepalanya berdarah hebat, tapi dia masih bisa berlari. Seorang pramugari telentang di lantai. Kepala dan punggungnya berdarah, Mulutnya hanya berucap “Ah..a..a,” saja. Harris Simare-mare, teman saya yang ternyata datang terlambat, segera menolong pramugari itu. Digendongnya, lalu dibawa ke bangku halte di muka bandara. Tampaknya punggung pramugari itu patah.

Fragmen Padang Mahsyar tampak pada gempa itu. Semua orang hanya peduli pada nasibnya sendiri. Tak ada yang memikirnya orang lain, semuanya sibuk menyelamatkan diri. Ekspresi ketakutan juga macam-macam, ada lelaki yang menjerit-jerit terus. Ada juga perempuan muda berbaju seksi yang menghisap rokoknya cepat-cepat dan mengeluarkan asap bak meniup lilin ulang tahun. Nafasnya terengah-engah, tampaknya dia menghilangkan stress dengan berbuat itu.

Saya tak sempat berfikir saat gempa pertama yang menghacurkan bangunan bandara itu terjadi. Ketika bumi berhenti bergerak, saya sudah di luar bandara. Deretan rumah kayu di depan bandara terbakar rata. “Merapi meletus ya, Pak?” tanya bapak yang duduk di sebelahku. “Mungkin,” jawabku pendek.

Memang sebelum tragedi gempa itu, Gunung Merapi di utara Jogjakarta batuk-batuk terus, bahkan sampai keluar wedhus gembel alias awan panas. Saat detik pertama gempa, banyak orang Jogja yang berfikir, Merapi meletus karena itu semuanya berlari ke arah selatan kota. Tak dinyana, ternyata musibah gempa justru berasal dari selatan kota, yaitu Laut Selatan.

Kondisi mulai tenang. Tiba-tiba saya teringat kembalian yang harus saya ambil, saya lari ke counter Merpati dan meminta kembali uang Rp 35 ribu. Saya pikir itu hak yang harus diambil, jadi ya meskipun gempa, tetap saja saya teringat hak itu. Langsung saya mencoba cek barang kiriman senilai Rp 200 juta yang diamanatkan kepada saya. Bingung berputar-putar. Tak ada awak maskapai penerbangan yang bertugas, kondisi semua chaos, kacau dan individualis. Pilot, pramugari dan awak pesawat sibuk menyelamatkan diri masing-masing.

“Semua penumpang Garuda jurusan Jakarta harap berkumpul di sini!,” tiba-tiba ada suara melalui megaphone. Wah, untuk urusan profesionalisme tampaknya Garuda masih nomor satu. Lalu menyusul Merpati melakukan hal yang sama. Saya merapat ke sumber suara, lalu diijinkan langsung mendekat ke pesawat. Saat melongok ke dalam bagasi, ternyata barang kiriman yang harus saya bawa sudah ada di sana.

“Alhamdulillah, barang semuanya selamat, Pak,” aku tergesa menelpon Pak Zul yang menunggu di Ternate. “Syukurlah, yang penting antum juga selamat,” balasnya. Ternyata pesawat tak kunjung berangkat. Beberapa bagian landasan pesawat di bandara retak memanjang. Mungkin harus negosiasi dulu.

Saat itu, jaringan telepon seluler putus-putus. Saya hubungi orangtua di Purwodadi, lama sekali tak bisa tersambung. Ketika menghubungi kakak ipar saya di Semarang tersambung. “Kula slamet kemawon, alhamdulillah,” ucapku cepat khawatir putus lagi. “Lho, lha ono opo?” kakak iparku kaget. Ternyata dia tidak tahu jika ada gempa. Setelah kujelaskan baru dia paham ada gempa. Aku berharap berita itu sampai pada ibuku agar tak was-was. Di kemudian hari ternyata malah keluarga di rumah melihatku lewat SCTV yang menayangkan slot saat aku turun dari pesawat.

Pukul 08.30 WIB penumpang pesawat jurusan Ternate itu naik. Hanya separo terisi. Mesin pesawat sudah dihidupkan, 15c menit tak kunjung terbang. Tiba-tiba asisten pilot (aku tebak dari seragamnya) naik ke atas pesawat. “Maaf bapak dan ibu. Kami baru mendengar kabar bahwa yang terjadi baru saja bukan karena Merapi meletus, tapi karena terjadi gempa di Laut Selatan. Dan menurut kabar yang kami terima, gampa ini berpotensi tsunami seperti di Aceh,” ucap asisten pilot itu. Kontan saja, penumpang yang sudah duduk tenang kocar-kacir, mereka terbelalak kaget dan bergegas turun.

“Saya batal pergi saja, keluarga saya di Bantul,” teriak seorang ibu histeris. Puluhan penumpang yang lain menyusul turun. Saya juga ikut turun, lalu rebahan di bawah badan pesawat jenis Foker itu. Saya sangsi dengan kabar yang saya terima, beberapa orang yang bersama saya juga berfikir hal yang sama. “Kalau memang tsunami, jelas Kota Yogya sekarang sudah tenggelam. Nyatanya ini nggak,” kata orang di sebelahku.

Saya sendiri masih ragu dengan tsunami, tapi juga tak sepenuhnya percaya pikiran saya sendiri. “Kalau begini kondisinya, memang lebih baik harus segera pergi dari sini,” sambar penumpang yang lain. Dalam hati, saya mengamini pendapat yang terakhir. Terlebih lagi, saya diamanati barang titipan senilai Rp 200 juta milik pemerintah Halmahera Selatan. Bagaimanapun itu harus sampai kesana, pikir saya begitu.

Pukul 09.00 WIB, kami diminta masuk pesawat. Tinggal 15 orang dalam pesawat berkapasitas besar itu. Tak ada formalitas peragaan penyelamatan seperti biasanya pramugari melakukan itu. Tak ada juga sambutan senyum manis atau lambaian tangan mempersilakan masuk. Semua orang tampak kuyu dan lelah. Tapi pesawat harus segera terbang.

Mesin menyala, pesawat mulai tinggal landas. Lalu, ribuan rumah porak-poranda tampak di balik kaca jendela pesawat yang membawa saya terbang ke Ternate. Hati saya menangis meninggalkan Jogja. Pedih tak mampu berbuat banyak, hanya doa terpanjat sembari mata nanar menatap atap-atap genteng rumah yang hancur membentuk garis patahan itu.[] Jakarta, 27 Mei 2009

No comments:

Post a Comment