Sunday, September 21, 2008

Nisan Tanpa Nama


AWAL Ramadhan 1429 H ini, setiap sore menjelang magrib aku habiskan waktu di pemakaman. Ngabuburit menemani nisan putih yang berjajar rapi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra Bandung. Ternyata, bukan hanya kami, puluhan orang juga memenuhi tempat itu. Benar kata adikku, Bandung sangat minim ruang publik. Tak ada tempat berkumpul, bermain dan bercengkerama. Akhirnya, pemakaman pun dipilih untuk itu.

Senja di pemakaman memang syahdu. Duduk di tangga tanah yang menghubungkan pemakaman pahlawan Islam dan Kristen, menatap mentari yang makin redup. Angin semilir mengelus pipi, membawa berita gembira tentang dunia akhirat. Berada di pemakaman, tentu mengingat akhir dari kisah hidup. Melihat patok nisan dan diam, berkelebat bayangan maut. Benar memang, mau Islam, Kristen, Jawa, Sunda atau Quraisy, tetap ajal menjadi akhir.


Di tengah kompleks TMP, ada patung burung garuda disepuh dengan cat krom emas kehitaman. Tampak berwibawa, apalagi dikerangkeng dengan rantai besi di sekitarnya. Di bawah patung itu ada dinding, menyambung ke pelataran yang tak terlalu luas.

Kutajamkan mata, melihat ke dinding yang tepat berada di kaki Garuda. Lamat-lamat terlihat dari balik kacamata minusku--selain juga karena beberapa huruf dudah mulai terkelupas dimakan waktu. "Teruskan perjuangan. Kami telah beri apa yang kami punya. Esa hilang dua terbilang," demikian tulisan tercetak dengan huruf kapital.

Tertegun lama menatap deretan huruf itu. Apalagi ada dentuman salto di kejauhan. Ternyata ada pemakaman seseorang. Mungkin pejabat militer atau polisi, sebab kulihat barisan pengiring jenazah banyak memakai seragam TNI. Kuacuhkan mereka yang lewat, mataku kembali ke tulisan itu.

"Kami telah beri yang kami punya." Pahlawan itu ternyata totalitas. Pahlawan adalah memberi dan bukan meminta. Pahlawan adalah berkorban dan bukan merajuk cengeng. Pahlawan itu sepenuhnya, memberi apa yang dipunyai. Hingga jasad wadag juga dikebumikan di tanah negara.

Lalu aku berjalan ke sisi kanan. Ada tembok berwarna kuning. Di sana, ditulis berderet ribuan nama pahlawan yang dimakamkan di TMP Cikutra itu. Satu persatu kutatap, ada nama Jawa, Sunda, Arab dan suku lainnya. Mereka mungkin berjuang di Bandung atau Jawa Barat, dan wafat di teritori Siliwangi juga.

Mataku berkaca saat sampai di Blok I. Di blok itu memang ada deretan tulisan yang dimakamkan, tapi hanya "Tak Dikenal". Dan nama itu sangat banyak. Tak sempat kuhitung, tapi ada tiga puluh nama berderet rapi. Nama dengan tulisan "Tak Dikenal."

Betapa, jasad mereka di Taman Makam Pahlawan. Tapi tak ada yang tahu siapa mereka. Tak ada keluarga yang menziarahi, tak ada anak sekolah yang bertanya kepada gurunya saat diajak ke sana. Tapi, mereka pahlawan. "Tak perlu tahu siapa nama kami, yang penting sudah kami beri apa yang kami punya," mungkin begitu ucap mereka. []

4 comments:

  1. Hmm, ngabuburit di kuburan? Aku belum pernah nyoba mas...Soale kuburan di kampung sepiii bangeet...rasanya gimanaaa gitu...

    Semoga amal perbuatan para pahlawan itu mendapatkan pahala dari Tuhan Yang Maha Kuasa.Cinta tanah air sebagian dari iman. ^^

    ReplyDelete
  2. hmm.. kuburan? hmm...
    tulisannya syarat makna..

    ReplyDelete
  3. kok punya aku gak read more...???

    *OOT*

    ReplyDelete