Wednesday, September 24, 2008

Lebih Mulia Tangan Hitam Melepuh


SUATU hari, Rasulullah berkumpul bersama para sahabatnya yang kebanyakan orang miskin. Beberapa sahabat yang hampir semuanya bekas budak, ada di sana. Mereka adalah Salman al-Farisi, Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabbah dan Suhayb Khabab bin Al-Arat. Pakaian mereka lusuh, jubah bulu yang kasar. Meski miskin dan papa, mereka adalah sahabat senior Nabi, para perintis perjuangan Islam.

Tiba-tiba, serombongan bangsawan yang baru masuk Islam, datang ke majelis Nabi. Ketika melihat orang-orang di sekitar Nabi, mereka mencibir dan menunjukkan kebenciannya.

Mereka berkata kepada Nabi, “Kami mengusulkan agar Anda menyediakan majelis khusus bagi kami. Orang-orang Arab akan mengenal kemuliaan kita. Para utusan dari berbagai kabilah Arab akan datang menemuimu. Kami malu kalau mereka melihat kami duduk dengan budak-budak ini. Apabila kami datang menemui Anda, jauhkanlah mereka dari kami. Apabila urusan kami sudah selesai, bolehlah anda duduk bersama mereka sesuka Anda.”

Uyainah bin Hishn—salah satu bangsawan—menegaskan lagi, “Bau Salman al-Farisi mengangguku (dia menyindir bau jubah bulu sahabat Nabi yang miskin itu). Buatlah majelis khusus, agar kami tidak berkumpul bersama mereka. Buat juga majelis bagi mereka, sehingga mereka tidak berkumpul bersama kami.”

Tiba-tiba turunlah Malaikat Jibril menyampaikan Surat al-An’am [6] ayat 52: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka. Begitu pula mereka tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim.”

Nabi saw segera menyuruh para sahabat yang faqir itu, duduk lebih dekat lagi sehingga lutut-lutut mereka merapat dengan lutut Rasulullah saw. “Salâm ‘alaikum,” kata Nabi dengan keras, seakan-akan memberikan jawaban kepada usul para pembesar Quraisy.

Setelah itu, turun lagi Surat al-Kahfi [18] ayat 28: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Sejak itu, apabila kaum fuqara ini berkumpul bersama Nabi, beliau tidak meninggalkan tempat sebelum orang-orang miskin itu pergi. Apabila beliau masuk ke majelis, beliau memilih duduk dalam kelompok mereka.

Seringkali beliau berkata, “Alhamdulillah, terpuji Allah yang menjadikan di antara umatku kelompok yang aku diperintahkan bersabar bersama mereka. Bersama kalianlah hidup dan matiku. Gembirakanlah kaum fuqara muslim dengan cahaya paripurna pada Hari Kiamat. Mereka mendahului masuk surga sebelum orang-orang kaya setengah hari, yang ukurannya 500 tahun. Mereka bersenang-senang di surga sementara orang-orang kaya tengah diperiksa amalnya.”

Sekarang, bertanyalah pada diri sendiri. Tariklah nafas sejenak untuk berkaca ke dalam cermin hati. Apakah kita seperti pembesar Quraisy yang terganggu dengan bau tubuh orang miskin? Apabila tamu datang, kota kita bersihkan dan mereka, kaum fuqara, dipinggirkan. Kota baru (dianggap) gemerlap bila mereka disingkirkan. Pemandangan baru (dianggap) indah bila rumah-rumah kumuh digusur. Betapa perilaku kebanyakan kita lebih menyerupai pembesar Quraisy sombong itu daripada perilaku Nabi nan mulia.

Dalam kesempatan lain Nabi bertemu dengan seorang sahabat, Sa’ad al-Anshari yang memperlihatkan tangannya yang melepuh karena kerja keras. Nabi bertanya, “Mengapa tanganmu hitam, kasar dan melepuh?” Sa’ad menjawab, “Tangan ini kupergunakan untuk mencari nafkah bagi keluargaku.” Nabi yang mulia berkata, “Ini tangan yang dicintai Allah,” seraya mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh itu.

Bayangkanlah, Nabi yang tangannya selalu berebut untuk dicium oleh para sahabat, mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh. Bukalah cermin hati kita lagi. Turunlah kita ke bawah. Tengoklah jutaan tangan yang hitam dan melepuh menunggu uluran kasih sayang kita.

Setelah Nabi, adakah di antara kita yang mau mencium tangan orang miskin? Bukankah dengan status yang kita miliki, gelar akademik yang kita raih, kesejahteraan yang kita nikmati, kita merasa jauh lebih pantas bila orang miskin mencium tangan kita.[]

No comments:

Post a Comment