Monday, August 25, 2008

Syahdu Biola di Suropati

Lampu merkuri warna kuning terang di tengah taman itu memendar, menerpa wajah orang-orang yang berkumpul di bawahnya. Hari sudah senja, matahari tak nampak lagi. Bahkan, sore itu rinai gerimis sedikit membasahi langit Jakarta. Tapi, limabelas orang itu tak beranjak. Mereka asyik menggesek biola.



Minggu (24/8) sore, tepatnya saat magrib, saya diajak seorang sahabat lama ke Taman Suropati Menteng, Jakarta Pusat. Sampai di taman itu, saya terpesona dengan pohon-pohon tua yang berdiri kokoh mengelilingi taman. Pohon itu tampak berdiri kokoh bagai prajurit penjaga benteng. Dahannya kokoh, daunnya rimbun, sore yang temaram makin membuat kesan angker dan wibawa barisan pohon itu.

Beberapa gelintir anak manusia yang duduk di bawah pohon itu, kadang harus dijatuhi beberapa helai daun tua yang rontok mengikuti takdir. Manusia-manusia itu, ada yang sendirian, berpasangan atau bergerombol. Mereka duduk terpisah dan mungkin tak saling kenal. Tapi, saya yakin mereka sepakat, senja itu, kesyahduan menyergap Taman Suropati.

Ya, di tengah taman, tepat di bawah pancaran merkuri kuning, kelompok pemain keroncong sedang beraksi. Mereka menggesek biola atau chello, memetik gitar kecil, ada juga yang membawa kendang yang tinggi mirip nekara itu—entah apa nama resminya, saya belum tahu.

Komunitas itu terkenal dengan nama Taman Suropati Chamber. Di sana saya dikenalkan dengan Pak Batara, yang saat dia berbicara, anak-anak muda duduk berjongkok di bawahnya. Pak Batara ini—ujar kawan saya—adalah maestro biola. “Bukan hanya itu, dia itu pelukis cum pematung cum musisi. Dahsyat kan,” kata Udin.

Sore itu, di keremangan, Pak Batara mengurai filosofi biola. Mengungkap nilai terdalam dari alunan lembut musik klasik. “Bahwa yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memanusiakan manusia dan menjadikannya sebagai manusia sebenarnya,” begitu sepatah kalimat yang kudengar dari mulut Pak Batara.

Di situ, saya juga dikenalkan dengan Pak Edy. Usianya agak tua, tampak dari uban yang mulai banyak menempel di kepalanya. Sore itu, dia memakai kaos lengan panjang warna hijau, sangat sederhana. Kemarin, Pak Edy menyanyikan lagu keroncong. Maaf aku tak hapal judulnya, yang jelas suaranya merdu didengar. Cengkok khas keroncong suara lelaki, cocok di telingaku—meski aku bukan musisi, hanya penikmat belaka.

Ternyata, keseharian Pak Edy sangat bersahaja. Dia adalah tukang sapu di Taman Suropati. Jadi, dia tidur di situ, membersihkan dedaunan yang rontok, mengangkat sampah yang ditebar orang tak tahu kebersihan. Sekaligus, dia menjaga tradisi dengan menjadi penyanyi di komunitas Taman Suropati Chamber. Kesahajaan itu tak menghalangi dia menjadi maestro keroncong, bersama musisi profesional di situ.

Keakraban, kesetaraan dan kehangatan dan kekeluargaan. Itu yang membuatku terpesona. Sejak saya datang lalu duduk di pinggir taman. Satu persatu menyalamiku, mereka menganggukkan kepala sambil sedikit membungkuk. Lalu menyebut namanya sembari tersenyum hangat. Kubalas dengan melakukan hal serupa. Tata krama, andhap asor, itu mungkin tercipta dari selera musik klasik atau neo-klasik yang tiap hari mereka mainkan.

Saya juga sempat dikenalkan dengan Arifin. Pemuda yang agak gondrong, rambutnya dibando ke atas. Kaosnya warna krem, celaka selutut agak kotor. Dia adalah pengamen yang biasa mangkal di taman itu. Tapi, jangan kaget. Permainan biolanya, ciamik betul. Bahkan dia tahu teori-teori dan filosofi musik.

“Biola itu dari hati, Mas. Kalau main memakai insting dan naluri. Musiknya keluar dari dalam,” ujarnya sambil meletakkan telapak tangan kanannya di dada. Lalu, Arifin memainkan lagu “Gundung-gundul Pacul” lewat biolanya. Saya terbahak-bahak mendengar alunan lagu masa kecil itu. Bisa-bisanya... Tapi, memang merdu permainan Arifin.

Malam makin merayap. Sore itu, Taman Suropati agak gerimis. Tapi, tak juga mereka pergi. Obrolan makin dalam saat semua istirahat dan duduk santai bergerombol. Saya cukup respek, semua orang di sana bisa menjadi guru sekaligus menjadi murid. Jika ada yang berbicara, semua mendengarkan lalu menggali dalam.

“Amilih manungsa kang nyata. Kang wus kawruh tindak lakune,” kata Pak Edy tiba-tiba. Kalimat Jawa yang keluar dari mulut lelaki tua asli Brebes itu berarti pilihlah orang yang sudah nyata, terbukti dan terlihat tingkah laku perbuatannya. Pak Edy bicara tentang tanggungjawab moral seorang guru. Tentunya, sore itu dalam konteks guru musik, gambar atau tari. “Kalau ada murid salah memainkan biola, bukan salah dia. Tapi salah gurunya,” lanjut Pak Edy.

Saya sudah pesan kereta dari Gambir, pukul 20.30 berangkat meninggalkan Jakarta. Tapi rasanya berat pergi dari Taman Suropati. Sebelum pergi saya ambil biola. Gatal rasanya tangan saya melihat mereka piawai bermain. Tangan saya memegang gagang alat gesek alias busur biola, lalu menggesekkan ke empat senar di tubuh biola pinjaman teman itu.

Agak gugup, yang keluar hanya suara kreeet, kreeet. Tapi, lama-lama saya bisa menarik busur, hingga keluar bunyi gesek yang cukup baik. Itu semua berkat Arifin yang mengajarkan nada dasar do re mi. Thanks, sobat.

Hari sudah malam. Kereta saya menunggu. Bergegas motor Revo milik Udin melaju kencang menuju Gambir. Terkenang dengan temaran merkuri yang lembut, dengan desauan angin, rinai kecil gerimis dan gesekan biola dan chello yang mengiris batin.[]

4 comments:

  1. Artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com
    http://musik.infogue.com/syahdu_biola_di_suropati

    ReplyDelete
  2. Salut mas! Aku juga pernah merasakan suasana itu di Taman Suropati. Pengen latihan, tapi jauh rumahku dari sana. Lagian biola mahal. Ada yang juag second-an nggak ya? hehehe

    ReplyDelete
  3. salam kenal mas Amin, tulisan mas Amin enak sekali dibacanya. sangat inspiratif. kebetulan saya setiap minggu saya suka antar anak saya berlatih biola disana. mungkin kita bisa ketemu dan ngobrol-ngobrol disana.

    ReplyDelete
  4. kata kata yang menyentuh .

    ReplyDelete