Thursday, August 28, 2008

Nyawa, Takdir dan Kuasa Dokter

Pagi ini, Kamis (28/8), saya hunting foto untuk ilustrasi kesehatan. Akhirnya, masuklah saya ke sebuah rumah bersalin. Dengan menenteng kamera digital Canon S215, saya masuk ke ruangan pemeriksaan umum. Dokter perempuan berjilbab putih itu menyambut ramah. Saya jelaskan maksud kedatangan untuk mengambil foto.

Tak lama kemudian, masuklah pasien ibu menggendong bayinya. Saat dokter sedang sibuk bertanya tentang nama dan identitas bayi, tiba-tiba seorang ibu yang lain, menggendong anaknya menyeruak masuk ke dalam ruang. "Dokter.., dokter, anak saya dok," suaranya menggesa.

Tergopoh-gopoh, dokter berdiri mengambil anak kecil itu. Saya hanya berdiri kaku di pojok ruang pemeriksaan itu, melihat dokter tergesa mengambil stetoskop, meletakkan di dada si anak. Kulihat muka dokter memucat, raut khawatir sangat nampak di sana. Dia menggeleng-gelengkan kepala.

Saya ganti menatap si anak kecil itu. Wajahnya pucat sekali, sudah seputih kertas. Meski tidak seputih jilbab yang dipakaikan oleh ibunya. Hampir tak ada gerakan sedikitpun dari anak itu. Persis seperti boneka dengan mulut yang sedikit terbuka dan mata tertutup. Saya lihat, bibir nak itu pecahpecah, sedikit ada darah di sana.

Dokter berulang-ulang menekan dada anak itu dan memeriksa denyut nadi, tak ada gerakan. Lalu menatap ibu si anak. Seketika, raungan keras memenuhi ruang pemeriksaan berukuran 4 x 4 meter itu. Pasien yang ada di luar terkejut, beberapa di antara mereka memaksa melongokkan kepala di pinggir pintu.

Ternyata, pagi ini saya harus menyaksikan sebuah kematian lagi. Nyawa si bayi sudah tidak tertolong. Dia mengembuskan nafas terakhir di rumah bersalin itu.

Tak lama kemudian, ayah si anak datang. Hanya bercelana jins pendek, berjaket hitam dan memakai topi. Merunduk-runduk dia melewati perawat, pelan-pelan membuka ruang pemeriksaan pasien yang telah ditutup karena tak ingin banyak orang melihat. Begitu masuk, istrinya mengambur di pelukannya, mereka berangkulan. Tangis istri makin keras.

Yang membuat saya berfikir adalah, ketika menunggu waktu sela dokter, saya duduk di ruang tunggu. Ibu dan anaknya yang berusia dua tahun itu, sudah saya bidik untuk jadi ilustrasi. Sudah ada dalam benak untuk meminta dia dan anaknya menjadi obyek foto, karena memang wajahnya fotogenik dan kulitnya bersih.

Ternyata, inilah takdir. Orang yang ada di rencana saya, justru diambil nyawanya pagi ini. Luar biasa kuasa takdir Tuhan atas nyawa manusia. Maka kemana lagi kau akan lari jika ajal menjemputmu?

Lalu, saya sengaja mendekat-dekat ke ruangan para dokter berkumpul. Mereka berdiskusi serius. Inilah bedanya dokter dengan manusia awam. Saat itu, saya sudah sangat panik, khawatir dan gagap. Tapi, para dokter itu sangat tenang, mereka diskusi mendiagnosis penyakit si anak, bahkan dengan diselingi tawa. Mereka sudah bisa menguasai ketakutan dan kekhawatiran sepertinya.

Saya curi-curi dengar. Ternyata si anak itu sudah sesak nafas sejak masih dari rumah. Sampai di rumah bersalin, si ibu masih tenang sambil menggendong anaknya yang dikiranya tidur lelap. Saya pun melihat sendiri itu, si ibu berjilbab hitam dengan tenang mengayun anaknya di gendongan. Ternyata, dikiranya tidur itu, si anak sudah meninggal.

Dokter tampak berdiskusi serius. Tapi, saya tahu, mereka tidak bisa disalahkan. Mereka adalah orang-orang baik yang selalu siap menolong pasien. Hanya memang kadang takdir tak bisa berdamai dengan suntik, rontgen, gunting operasi, selang infus, atau segala salep dan obat yang disiapkan tabib modern itu. Itu saja.

Semoga nyawa si anak mendapat ampunan dari Allah dan orangtuanya diselamatkan karena telah berikhtiar merawat hingga usia dua tahun dalam kebaikan. InsyaAllah...[]

2 comments:

  1. "Dan bila aku sakit, maka Tuhan lah yang menyembuhkan aku"

    Sakit, sembuh, hidup, mati...semua adalah kehendak Tuhan. Man propose, God dispose....

    ReplyDelete
  2. tulisanmu kerap mengharu biru. So, sekarang kau ada di mana? Semua peristiwa sudah diatur yang Maha Kuasa. "Tak selembar daun pun jatuh tanpa seizin-Nya"

    ReplyDelete