Tuesday, July 29, 2008

Dengarkan Kata-kataku



Secepat mungkin engkau harus berhenti

menghabiskan nafas di luar

Kenikmatan dunia sering membuat lena

Tak ada yang dapat mencegah selain engkau sendiri

Sebelum terjerumus makin jauh

sebaiknya engkau berhenti



Secepat mungkin engkau harus pulang

menghabiskan mimpi yang hilang

Kenyataan hidup terkadang menyakitkan

tak ada yang mampu merubah selain engkau sendiri

Sebelum senja merebut mentari

sebaiknya engkau berhenti



Secepat mungkin engkau harus padamkan

bara api panas membakar

Gemerlap cahaya akan segera sirna

bersama turunnya senja

Dengarkanlah dengan hatimu



Jangan engkau dengar dengan jiwa buta

Dengarkanlah kata-kataku jangan engkau melihat siapa aku

Dengarkanlah kata-kataku jangan engkau meliahat siapa aku

Dengarkanlah dengan hatimu.[*]



***



Sekali lagi, Ebiet menyadarkan kita. Pilihan hidup itu harus berpihak pada nurani. Labirin hati ini kita sendiri yang tahu kemana arahnya. Orang lain tak ada yang mampu membaca siapa dan bagaimana kita. Kembali pada nurani itu petunjuk yang paling utama.



"Sebelum senja merebut mentari, sebaiknya engkau berhenti." Apakah pernah dalam hidup, engkau merasa berbuat dosa dan pengkhianatan? Jika iya, segeralah berhenti. Sebelum senja merebut mentari. Hanya ada gulita tanpa pelita. Pelihara mentari dalam nurani. Ikhlas, sabar, doa dan ikhtiar. Semoga Allah memberi petunjuk bagi mereka yang berserah diri.[]

2 comments:

  1. Benar...
    Terkadang kita hanyut dalam suatu aliran arus yang menarik kita dalam deras riaknya..
    Terkadang kita sulit melepaskan diri...
    Alur hidup bak arus itu...
    Namun...
    Hidup itu pilihan, banyak retorika pemikiran dan pilosofi yang mewarnai sebuah keputusan kala kita memilih alur mana yang terbaik.
    Hanya kita sendiri yang tahu... ke mana biduk hidup akan kita kayuh...

    Angela

    ReplyDelete