Tuesday, June 3, 2008

Jalan Panjang Bayi Telantar

SAYANG - Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial (Dinkesos) Kalsel, Bachriar Hanafi menggendong bayi telantar Ansyari Saleh setelah acara serah terima.

Senin, 4 Februari 2008. Pukul 21.45 Wita, seorang ibu yang sedang hamil tua datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Ansyari Saleh Banjarmasin. Dia mengaku bernama Novia. Usianya masih muda, ciri fisiknya menurut kesaksian para perawat: berkulit putih, tinggi sekitar 160 sentimeter, berwajah oval, rambut lurus agak bersemir merah di tepinya, mata sipit dan kuku terawat. Pukul 22.00 Wita, Novia dimasukkan ke Ruang Bersalin Mutiara. Di sana dia menunggu detik kelahiran jabang bayi.

Selasa, 5 Februari 2008. Pukul 04.50 Wita (berdasar catatan medis), jabang bayi lahir. Sejak itu sampai Novia pergi, bayi itu sama sekali tak disentuh ibunya.

Rabu, 6 Februari 2008. Pukul 19.00 Wita, perawat di ruang bersalin terkejut, Novia sudah raib dari ruangannya. Tak ada jejak yang ditinggalkannya, kecuali tanda tanya yang besar.

Rabu, 13 Februari 2008. Saya menelusuri alamat yang ditinggalkan Novia. Dia mengaku bersuami Rudi dan tinggal di Jalan Agatis Gang Indah No 18 Rt 29 Anjir Barito Kuala. Perjalanan kurang lebih 40 kilometer ke luar Banjarmasin. Sampai malam mencari, saya tak menemukan alamat itu. Penduduk setempat membenarkan, alamat itu fiktif.

Kamis, 14 Februari 2008. Kepala Ruang Bayi, Helmina, menyatakan sudah ada 30 pasangan suami istri (pasutri) yang mendaftar ingin mengadopsi bayi itu. “Hampir tiap hari ada pasutri yang menengok. Ada yang menangis di balik kaca,” ujar Helmina.

Senin, 18 Februari 2008 sore hari. Ketua Komisi I DPRD Kalsel Ibnu Sina dan anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPRD Kalsel Rudi Anwar Luthfi, mengunjungi bayi itu. Mereka berkomitmen menanggung biaya pendidikan.

Selasa, 20 Februari 2008. Saat saya menengok, gelangnya belum dilepas. Sejak lahir masih di sana. Bayi itu mulai sakit. Sampai tiga minggu kemudian, media massa mulai ramai muncul polemik tentang pola adopsi bayi telantar. Akademisi, LSM anak dan instansi resmi pemerintah, berebut mewacanakan pendapatnya. Berbagai peraturan pemerintah dan undang-undang dikeluarkan.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kalsel Yurliani menegaskan bayi itu sebagai anak negara. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kalsel Jumberi menilai Dinkesos lamban menangani masalah adopsi ini.

Senin, 25 Februari 2008. Berat badan bayi sudah 4,4 kilogram. Calon pengadopsinya ada 45 orang. Wagub Kalsel Rosehan Noor Bachri sempat menitip pesan nama "Muhammad" saat bicara dalam forum coffee morning di gubernuran.

Selasa, 26 Februari 2008. KPAI Kalsel mengunjungi bayi itu di rumah sakit. Sekaligus, mereka menawarkan jasa menjadi fasilitator seleksi orangtua asuh bayi itu. “Saya jengkel dengan kelambanan Dinkesos,” ujar Jumberi. Sementara, rumah sakit kebingungan tentang status hukum bayi itu.

Senin, 3 Maret 2008 pagi. RS Ansyari Saleh menggelar rapat dengan lima lembaga untuk menentukan nasib bayi itu. Mereka yang diundang adalah Dinkesos, KPAI, Pengadilan Negeri Banjarmasin, Polsekta Banjarmasin Utara dan Biro Hukum Pemprov. Selama tiga kemudian, polemik terus terjadi. KPAI menunjukkan PP No 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, sebagai dasar hukum paling kuat.

Selasa, 26 Maret 2008. Tim PIPA (Pertimbangan Perijinan Pengangkatan Anak) resmi dibentuk oleh Dinkesos. Tim ini bertugas menyeleksi, memutuskan dan mengevaluasi orangtua asuh bayi Ansyari Saleh. Tim itu dibagi menjadi tiga, yaitu tim teknis, tim visit home dan tim evaluasi. Sejak itu, pendaftaran bakal pengadopsi dibuka. Ada 35 pasutri mengambil formulir.

Kamis, 30 April 2008. Bayi itu masih di ruang bayi. Sekarang nama resminya Muhammad Anugerah Ansyari Saleh, para perawat di sana yang men-tasmiyah-i. Bobotnya sudah tujuh kilogram. Rumah sakit mengaku mengeluarkan biaya Rp 1,5 juta per bulan untuk makanan, pakaian dan segala keperluan bayi itu.

Senin, 5 Mei 2008. Pendaftaran bakal pengadopsi ditutup. Tim PIPA bekerja lagi, mereka menyeleksi kelengkapan adminsitrasi pasutri-pasutri yang mendaftar.

Jumat, 9 Mei 2008. Ternyata, dari 35 pasutri yang mendaftar, hanya tiga yang lengkap seluruh surat-suratnya. Mereka adalah pasutri Hamdani-Enik Maryati, Abas Susetyo-Nur Isna dan Karsito-Lili Haryati. Nama terakhir ini, di tengah jalan mengundurkan diri karena alasan pekerjaan yang tidak menetap di Kalsel. Hamdani beralamat di Jl Tepian Kali Barito 2 Kuin Cerucuk Banjarmasin Barat, sementara Abas berasal dari Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Sabtu, 10 Mei 2008. Tim PIPA melakukan visite home (kunjungan rumah) untuk melakukan verifikasi vaktual. “Semacam studi kelayakan tinggal bagi bayi itu. Sekaligus sedikit interview tentang pola kehidupan dan cara pengasuhan,” ujar Jumberi, anggota Tim PIPA.

Senin, 19 Mei 2008 pagi. Tim PIPA yang beranggotakan Polda, Kanwil Hukum dan HAM, Dinkesos, Depag, Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, KPAI dan LPA, menggelar rapat tertutup di Aula Peradaban Dinkesos Kalsel. Mereka memutuskan pasutri yang berhak mengasuh bayi Ansyari Saleh, yaitu pasutri Hamdani-Enik Maryati.

Senin, 2 Juni 2008, bayi Ansyari saleh mengakhiri perjalanan panjang penantian. Dia diserahkan pada Enik, ibu berdarah Jawa asli yang penuh kasih sayang, dan Hamdani, lelaki Banjar yang pintar main pencak silat. Semoga bahagia hidupmu, Nak! []

No comments:

Post a Comment