Thursday, May 22, 2008

Katanya, Lelah Jadi Wartawan...

Hampir lima tahun tak bersua, akhirnya saya bertemu dengan seorang kawan lama di kereta api saat perjalanan pulang dari Purworejo-Jakarta. Nostalgia pun mewarnai pertemuan kami saat itu. Saling mengenalkan anak-istri kami, tukar kartu nama, basa-basi, dll. Di tengah perbincangan tiba2 sebuah ucapan mengejutkan terlontar dari mulut kawan tsb. "Saya sudah lelah jadi wartawan, Wan," katanya.

"Gila!," pikir saya dalam hati. Ada apa gerangan dengan kawan saya ini? Padahal dia sudah eksis di dunia tulis menulis sejak awal tahun 90-an. Saya pun tahu betul semangat kawan ini, dan bagaimana dia mampu menjelajah dari desk yang satu ke desk lainnya, semua dilahapnya. Multi tasking banget!

Perbincangan semakin memanas hingga akhirnya kami memutuskan melanjutkan obrolan di sambungan gerbong kereta. Spot paling ciamik untuk melanjutkan obrolan berpadu dengan berbatang-batang rokok. Intinya, profesi kuli tinta yang dulu dibanggakannya kini tak lagi memberikan kepuasan batiniah-nya (kalau materil memang sudah tidak berharap). Banyak hal yang diungkapkannya sehingga membuat saya berpikir keras. Ceritanya pun beragam.

Kira2 seperti ini penggalannya:

"Ketika saya di desk ekonomi, saya harus tunduk dengan kebijakan redaksi karena salah satu komisaris duduk di bangku empuk DPR. Saya harus menyulap artikel demi mulusnya kebijakan konco2 si komisaris itu. Dan bodohnya hal itu saya lakukan demi susu dan sembako untuk keluarga. Berdosa saya!"

"Saya juga pernah di desk politik. Orangnya berengsek semua! hampir tiap artikel adalah "pesanan" biar proyek jalan terus. Tapi namanya kuli ya mau nggak mau harus dijalani. Padahal waktu itu saya sudah jadi redaktur. Tetap nggak berkutik!"

"Ketika pindah di desk hiburan, sama saja! jilat sana-sini! Harus kreatif bikin isu/gosip murahan demi menaikan pamor artis dungu yang notabene pernah "dilahap" oleh bos-bos di lingkaran setan media saya,"

"Pernah juga pegang desk Polri-TNI & Pengadilan. Parah banget! Artikelnya mirip rilis dari Humas. Maniiiis bangeeeet... Maklum, petinggi di instansi tsb juga kawan baik dari bos2 di media. Asu tenan!"

"Ketika di desk teknologi, lebih parah! saya sering berantem sama orang marketing karena harus bikin artikel "melacur" demi menarik klien supaya pasang iklan. Harus me-review produk bobrok disulap jadi produk hi-tech non cacat. Artikel tengik berkedok "advertorial" itu pun berlumur dosa, dan saya salah satu yang terlibat di dalamnya. Bedebah!"

"Hampir semua desk kebentur dengan masalah yang sama. Mulai dari desk olahraga, metro wilayah, korespondesi, kesehatan, properti, dll. Semuanya dipasung!"

"Hampir tiap artikel yang saya garap hingga saat ini adalah bad news. Tapi di media, bad news is a good news! Itu sudah hukum alam. Nyawa manusia yang melayang, tragedi kemanusiaan, pembunuhan, pembantaian, konflik berdarah, fitnah, bentrok demonstrasi, dll adalah santapan utama yang jadi prioritas! Kenapa bukan good news dalam artian sebenarnya yang jadi prioritas? Sulit memang, media kita ini belum dewasa dan makin kapitalis! Kalau mau idealis berhenti aja jadi wartawan!"

Perkataan terakhirnya itu pun saya tanyakan balik kepada kawan tsb. "Lho, kenapa mas sekarang masih jadi wartawan?" tanya saya. "Saya jadi wartawan seperti mati suri, mau ditinggalkan tapi sudah terlanjur jatuh cinta. Plus bulanannya (gaji) lumayan untuk tambah dapur biar ngebul. Tapi saya tidak bergantung penuh kepada profesi ini. Beruntung istri saya kerja di perusahaan swasta, dan punya usaha sendiri walaupun masih kelas kaki lima," katanya.

Astaga! Pertemuan dengan kawan tersebut benar2 membuka mata saya yang notabene masih hijau di profesi ini. Saya memang baru sekitar enam tahun lebih menggeluti profesi ini. Fenomena yang dialami kawan tsb sama persis dengan apa yang dialami saya dan pada wartawan pada umumnya. Tapi rasa sensitif saya tak pernah sampai ke situ. Kadang iya, kadang tidak. Lebih banyak tidak-nya. Boro2 mikirin sensitif, mikirin deadline saja sudah pusing! Mungkinkah saya akan berakhir seperti dirinya? Apakah saya harus siap2 banting setir? Ah, namanya juga godaan, bisa datang dari kanan-kiri.

Wahai kawan, jika engkau membaca postingan ini. Aku menyesal bertemu denganmu! Menyesal kenapa baru sekarang kita bertemu. Aku senangbertemu denganmu! Senang karena cerita pengalamanmu sedikit menyuapi otakku yang sudah lama lupa ditelan deadline. []

***
Cerita di atas, saya dapat dari mas Iwan Suci Jatmiko [www.iwansucijatmiko.blogspot.com], entah imajiner atau benar-benar pengalamannya sendiri. Bukan maksud menyindir siapa-siapa. Tapi, bagi yang tergelitik hatinya, ya monggo dibatin sendiri. Ngukur awak dewe. Saya muat di sini buat introspeksi banyak orang, utamanya mereka yang mengaku diri sebagai jurnalis. Nuwun.

5 comments:

  1. huwahahaha...welcome to the jungle min!

    idealisme itu cuma ada di kampus dan ketika masih menjadi mahasiswa. tapi kalo sudah masuk dunia nyata, semuanya dipertaruhkan untuk menghadapi realitas! pekerjaan jurnalis itu sama halnya dengan menjual ideologi. dan saat ini kia sedang ditantang, sekuat apa kita bertahan dengan ideologi kita, hehe...

    aku sudah selesai dengan bab idealisme vs realitas di dunia jurnalistik sejak ambil mata kuliah reportase and public affairs reporting...karena dosenku bilang: MASING-MASING MEDIA PUNYA UKURAN 'OBYEKTIFITAS'NYA SENDIRI!

    andainya, alumni macam kita ini bisa punya media sendiri..yang didalamnya ada aku, kamu, bakti, akbar, udin, bambang dan para kuli disket lainnya...kayaknya keren tuh! ;)

    ReplyDelete
  2. wah apik iku usule akh.
    ngko aq dftr bag sekuriti ae.
    iya ya, mengapa org2 cerdas yg pernah ngumpul d kampus tu kok gak ngumpul lg d dunia profesi ngono.
    kan luwih penak iku, rasah mbaleni teamwork training.
    skalian jd klwrga bsr (bc: bersaudara krn iktn pernik****, kan menghemat rasah ndadak nggo ta'a*** sgala wong ud pd kuenal kuenthel buanget :p
    Jd, idealisme terjaga krn realitasnya pd ngumpul tuh ideolog2.

    ReplyDelete
  3. kurasa yg "bersih" cuma di masjid, min. yg membedakan di luar masjid, cuma kadarnya.
    tapi, kadang aku juga ragu, karena yang berlabel masjid juga kadang berbau tengik juga.

    ReplyDelete
  4. idealisme terkadang sukar dpertahankan.sebabnya byk.salah satunya adalah karena iklan yg nongol di sebuah media.jia sebuah kasus jelek ada hubungan dekat dgn iklan yg bersangkutan, maka siap2 wrtawan yb meliput kejadian itu gigit jari.berita bagusnya bakal gak terbit ....!
    hal itu aku alami saat aku krj di koran lokal banjarmasin (nama korannya mengambil nama sungai besar terkenal di banjarmasin).
    waktu itu aku ngeliput masalah demo ttg penolakan jam buka biliar.pernah ttg demo penutupan diskotik di banjarmasin.namun diskotek itu nyetor uang setiap bulan melalui iklan, maka berita yang berisi ttg tuntutan masyrakat banyak itu pun dibungkam.
    saya kecewa bgt.satu sisi saya ingin menyuarakan kebenaran tp disisi lain saya kalah dengan kekuasaan sang penentu di redaksi.

    ReplyDelete
  5. jadi kiai atau orang baik sekalipun bisa juga menjadi lelah kok...dengan konteks yang agak mirip dengan tulisan itu..
    Setahu ku, hidup itu pilihan...
    kata orang bule, kalau ga salah nulisnya, take it or liv it (bener ga ya tulisannya).
    bahasa indonesianya, ya kalau ga ya udah, tinggalin aja.
    di konteks tulisan itu, kalau emang segitunya, yang tinggal pergi aja cari kerjaan lain..
    jadi bukan idealismenya yang salah, atau pekerjaan wartawan itu salah....

    menurut ku pang lah, begitu den mas raden amin al b post al banjar al jawa i

    ReplyDelete