Thursday, April 3, 2008

Jangan Mengemis, Nak! Itu Hina...

SEBUAH ruang di pojok belakang lantai dua Kompleks Pasar Lima Atas Banjarmasin. Ruang itu berukuran 7 x 6 meter, bercat biru di pintu dan pinggir jendelanya. Di samping kanan kirinya, berjajar kios yang kotor dan berjejal barang bekas.

Di depan pintu masuknya ada penjahit yang mengerjakan ratusan lembar karung plastik. Di pintunya tertempel stiker “Prestasi Yes, Narkoba No!”. Itulah sekolah khusus anak jalanan, satu-satunya di Banjarmasin. Tadi pagi, aku menyambanginya.

Untuk mencapai tempat itu, harus melewati kios pedagang yang berjejal di bawahnya. Ketika hujan turun seperti sekarang, hampir tak ada tempat yang tidak berlumpur. Meskipun tadi lantainya bersih, tetap dikotori lumpur yang dibawa alas kaki para pedagang dan pengunjung pasar.

Setiap pagi, kecuali Minggu dan hari libur, belasan anak memenuhi ruangan yang berisi 30 meja dan kursi itu. Tata ruangnya benar-benar seperti sekolah dasar pada umumnya. Ada papan tulis di depan kelas, beberapa gambar pahlawan dan jadwal pelajaran.

Foto para guru, yang mengajar sejak pertama kali ‘sekolah’ itu berdiri, ditempel di salah satu dinding. Tak ada satupun angka yang menunjukkan ruangan itu kelas berapa. Jadwal pelajaran pun hanya ditempel berderet: hari, mata pelajaran, nama pengajar. Ada lima mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama, PPKN, Sains, Matematika, Kesenian dan Bahasa Indonesia.

Di atas pintu masuknya, ditempel plang dengan tulisan Sekolah Khusus Filial SDN Mawar 1 Kecamatan Banjarmasin Tengah. Agaknya, ruangan itu menjadi cabang dari sebuah sekolan negeri yang letaknya tak jauh dari Pasar Lima juga.

Tepat di depan ruangan itu, ada meja yang di atasnya diletakkan beberapa piring wadai dan gelas berisi teh. Seorang kakek bernama Mukrim, biasa berjualan di sana. “Sekaligus, ulun yang menyediakan teh dan mengambilakan makanan buat anak-anak yang belajar di sini,” ujar Mukrim yang biasa disapa Pak Utih oleh anak-anak.

Pak Utih mengaku sudah berjualan di sana sejak sekolah itu berdiri. “Awalnya, di bagian depan lantai ini. Sekitar tujuh tahun yang lalu, pindah ke ruang pojok ini yang dulu jadi kantor sebuah ekspedisi. Sekarang ekspedisi itu pindah di depan, bahurupan (tukar tempat) lah,” katanya.

Anak-anak yang dibesarkan di lingkungan Pasar Lima maupun Harum Manis, kebanyakan orangtuanya juga mengadu nasib di situ. Ibunya menjadi pengupas bawang, sementara ayahnya menjadi kuli angkat barang. Anak-anak jarang sekali diperhatikan pendidikannya.

Untuk menarik minat mereka, pengelola sekolah khusus itu menyediakan nasi bungkus, wadai (kue) dan minuman. “Belajarnya hanya dua jam, dari pukul 08.00 sampai 10.00 Wita. Setelah itu mereka mengambil jatah di sini. Meski begitu, banyak juga yang tidak datang. Paling 15 anak dari 30 anak yang terdaftar,” lanjut Pak Utih.

Kamis (3/4) pagi, suasana kelas itu riuh rendah, ada 17 anak di dalamnya. Seorang guru menuliskan lima soal hitungan di papan tulis. Anak-anak sekejap larut dalam hening, mengerjakan soal. Setengah jam kemudian, dua anak lelaki sama dewasa, pukul-pukulan. Kelas riuh kembali.

Ucapan kotor dan umpatan, kadang keluar dari mulut mereka. Bau ruangan kelas agak amis, beberapa anak tampak kusut. Lingkungan yang membuat mereka seperti itu, jarang mandi. Selain itu, barang dagangan yang mereka angkut juga meninggalkan bau khas pasar di tubuh mereka.

Dengan kondisi begitu, mereka tetap semangat. “Ulun umpat sekolah handak sorangan. Kada disuruh kuitan (Saya ikut sekolah kemauan sendiri. Tidak disuruh orangtua),” ujar Hamid (13), salah satu siswa.

Tapi, banyak juga yang berhenti di tengah jalan sebelum bisa membaca. Imah misalnya, gadis itu berusia 12 tahun, tubuhnya bongsor. “Malu kalau berkumpul sama adik-adik,” katanya polos.

Ketiga adik Imah, yaitu Mahrita, Aisyah dan Masitah sekarang yang aktif masuk kelas, sementara ayahnya menjadi kuli angkut barang. Mereka keluar kelas pukul 10.00 Wita, lalu bergegas turun ke bawah. Membantu angkat barang di beberapa toko, atau mengangkut bawang dari gudang ke pengupas di Pasar Harum Manis.

Sekolah khusus itu dikelola oleh Zaini dan empat guru lainnya. Zaini menjadi kepala sekolah yang mengatur administrasi dan keuangan bagi kelangsungan sekolah itu.

“Sekolah ini berdiri 13 Agustus 1988. Seingat saya, HM Effendy Ritonga (Walikota Banjarmasin saat itu) melakukan inspeksi mendadak ke pasar ini. Ketika melihat anak-anak pengupas bawang dan pekerja kasar yang berkeliaran, walikota memerintahkan pendirian sekolah khusus ini,” papar Zaini.

Pendidikan yang ditekankan di sekolah itu adalah membentuk kepercayaan diri. Para guru selalu menekankan artinya kemandirian dan mahalnya harga diri. “Jangan mengemis, Nak. Jika engkau mengemis, rendahlah harga dirimu. Mengemis itu hina, Nak!” ujar Zaini saat mengajar.

HM Yunus, guru matematika di sekolah itu menambahkan, ada satu lulusan dari sana yang bisa sampai sarjana. “Dia punya keinginan kuat untuk belajar. Sembari itu dia berjualan buah. Dia ikut Ujian Kejar Paket A sampai C, lalu kuliah. Sekarang tinggal di Palangkaraya,” ucapnya penuh bangga.

Yunus mengakui, mengajar di tempat itu harus ekstra kesabaran. Jika dikasari mereka lari, jika terlalu lembut, mereka melecehkan. “Mengajar 10 anak di sini sama dengan 40 anak di sekolah biasa,” ucap guru yang mengajar di sana sejak 1988 itu.

Sebelum ada perbaikan, kata Yunus, ruang kelas itu kotor dan sumpek. Beberapa siswa yang nakal, bahkan buang air sembarangan di dalam kelas. Padahal, ada juga siswa yang setiap malam tidur di tempat itu.

Pengajar di sana, empat di antaranya adalah PNS atau pensiunan. Hanya satu yang tenaga honorer dari masyarakat. Selama ini, dana untuk operasional sekolah berasal dari Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. “Anggarannya, Rp 6.000 per hari untuk tiap anak,” kata Zaini yang juga guru di SD Mawar 2 itu.

Selain Disdik, tidak ada instansi lain yang memberi bantuan operasional. Termasuk Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Banjarmasin yang harusnya memayungi aktivitas pemberdayaan masyarakat seperti ini, tidak mengucurkan sepeserpun untuk anak jalanan.

“Saya berharap, pihak seperti Dinsos dan Depag ikut turun tangan menangani anak jalanan. Jika bisa, membuat program yang sinergi dengan aktivitas ini. Mengajak mereka yang di lampu merah dan yang keliaran di jalan untuk sekolah,” ujar Zaini.

Bagi anak-anak yang mampu, diikutkan Ujian Akhir di SDMawar 2. Sejak 2006 sudah 12 anak yang mendapat ijazah kelulusan. Hampir seluruh siswa berharap bisa melanjutkan lagi di sekolah setara SMP.

“Untuk tahun ini, saya rencanakan 10 anak ikut Ujian Kejar Paket A untuk dapat ijazah SD. Semoga semua berhasil dan bisa lulus,” ujar Zaini haru. Demikian potret anak bangsa. Semoga nasib mereka segera terangkat. []

2 comments:

  1. Halo..Salam kenal sebelumnya..Salut pada para pengajar di sekolah jalanan..Td malam saya lihat di metro tv,ternyata banyak anak jalanan yg terjerumus ke lembah narkoba...Semoga dg pendidikan yg cukup ini akan dapat mencegah anak2 tersebut dari penyalahgunaan narkoba.

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum....
    salam kenal pa !
    Saya salut pada para pengajar di sekolah ini, meskipun hanya sebuah sekolah jalanan, mereka tetap rela meluangkan waktunya dengan ikhlas. Bahkan sampai ada yang kuliah_
    Seandainya saya bisa bantu untuk peningkatan sekolah ini!!! saya hanya bisa mendoakan semoga semua pihak yang ikut andil dalam kegiatan ini akan mendapat balasn yang lebih dari Allah... "amin".

    ReplyDelete