Thursday, April 3, 2008

Awalnya Video Mantenan

Tertatih-tatih, Hasbi melangkah di Pelabuhan Trisakti. Raut mukanya menunjukkan keletihan. Kuyu tak ada gairah hidup. Untung ada teman-teman sekolahnya seperti Ajay, Yudi, Andre dan Ian. Mereka menjadi ‘obat’ bagi Hasbi melupakan ketergantungannya pada narkoba.

Transformasi hidup lantas dilakukan Hasbi. Dia tekun mendalami agama. Menjadi seorang santri. "Aku ingin hidup normal. Aku ingin menikmati hidup tanpa menjadi budak narkoba. Hidup yang indah dan penuh warna," kata Hasbi.

Sebuah film pendek. Durasinya hanya 26 menit. Sebetulnya lumayan panjang dibanding short film yang lain. Judulnya Save Me Diary, berkisah tentang seorang anak bernama Hasbi yang kena candu narkoba. Sampai masa pertobatan melalui sebuah pesantren di Banjarmasin.

Film itu ditampilkan dalam sebuah even bernama 3 Cities Short Film Festival yang digelar di Taman Budaya Kalsel di Jalan Hasan Basry, tepat di seberang kampus Universitas Lambung Mangkurat pada Kamis dan Jumat, 20-21 Maret 2008 lalu.

Even itu digagas oleh Boemboe Organizer, sebuah lembaga nirlaba berpusat di Jakarta yang bergerak di bidang distribusi, eksebisi dan promosi film pendek. Aku sempat berbicang dengan salah satu penggerak Boemboe, namanya Amin Shabana.

Nama depannya sama dengan diriku. Kami berbincang di kursi belakang penonton, tepat beberapa menit setelah film pendek bikinan anak Pontianak berjudul Bondan 006 selesai diputar.

Amin menuturkan, tur festival ini khusus di Kalimantan. “Kita adakan di tiga kota: Pontianak, Banjarmasin dan Balikpapan. Tujuannya, mencari ‘intan’ film yang tersimpan di kota-kota non-mindstream seperti Banjarmasin ini,” katanya.

Menurutnya, kiblat film indie kebanyakan kota besar di Jawa seperti Jakarta, Bandung, Jogja atau Surabaya. “Kita pengen, filmaker di kota luar Jawa juga makin rame bikin film pendek dan kreasi sendiri itu,” tambahnya.

Amin memberi apresiasi positif bagi anak-anak muda Banjarmasin yang sudah bisa memproduksi film pendek. “Pesan saya satu aja, kalau bikin film indie seperti ini, jangan mikirin keuntungan material dulu. Ekspresikan dan tunjukkan kemampuan kita dulu. Kita kan juga puas bisa berkarya,” pungkasnya.

Sementara itu, gairah anak muda Banjarmasin yang ingin menciptakan karya besar melalui media film, sudah menemukan wadahnya. Mereka tergabung dalam Audiocam Film, satu komunitas yang mengumpulkan filmaker di Banjarmasin. Debut mereka ke publik, diawali dengan menggelar 3 Cities Short Film Festival 2008 itu.

Komunitas ini, ternyata berawal dari sebuah production house yang melayani syuting video perkawinan dan acara-acara formal lainnya. “Lalu, dari teman-teman muncul gagasan untuk bikin film pendek. Sampai saat ini, di Banjarmasin kan belum ada,” ujar Ikhwan Budiman, sineas muda yang menggagas Audiocam Film.

Pada 2003, lahirlah karya pertama mereka. Sebuah film pendek berjudul Namaku Abdi. Disusul dengan karya lain berupa reality show yang sempat ditayangkan di salah satu televisi swasta lokal Kalsel, dilanjutkan karya beberapa film dokumenter yang lain. Karya film pendek kedua, berjudul Save Me Diary itu.

Menjadi filmaker pemula, ternyata banyak kesan yang terekam dan pengalaman unik yang terjadi. “Sebetulnya, asyik banget bikin film seperti ini. Ide yang tersumbat di otak, bisa kita keluarkan. Rasanya plong kalau udah lahir jadi kepingan CD dan ditonton banyak orang,” kata Ikhwan.

Salah satu kesan itu saat membuat Save Me Diary. Saat itu, harus mengambil setting tempat di Pesantren Darussalam Martapura. Menurut Ikhwan, lokasinya cocok banget sama ceritanya. Sayangnya, pihak pesantren tidak bersedia. Akhirnya, lokasi syuting pindah ke Pesantren Al-Falah Landasan Ulin.

“Pimpinan pesantren menyetujui. Syaratnya, kami bikin presentasi di hadapan seluruh dewan guru dan ustadz. Banyak pertanyaan ketika itu, kami musti menjelaskan tentang dampak, alur cerita sampai teknik pembuatan. Akhirnya, syuting film sukses digelar,” papar Ikhwan.

Masalah biaya pembuatan film pendek, menurut Ikhwan, jangan sampai jadi kendala buat berkarya. “Asalkan ada alat multi media, pasti bisa jadi kok. Tidak harus kamera profesional. Pakai handycam atau bahkan cuma HP berkamera, udah cukup buat bikin film pendek. Yang penting ide tersalurkan,” tambahnya.

Jika sudah serius menggeluti dunia film, banyak sineas pemula yang disokong oleh funding dari Jakarta dan luar negeri. “Selain Boemboe, ada Prince Claus Fund for Culture and Development dan Kedutaan Besar Perancis yang mendukung langsung secara finansial. Juni nanti, temen-temen Boemboe akan ke Amerika buat presentasi film indie ini,” ujarnya.

Rencananya, setelah even festival film pendek ini, komunitas Audiocam Film akan melakukan roadshow ke berbagai SMA di Banjarmasin. “Kita mau bangkitkan kreativitas positif pelajar. Mereka kan lebih punya gairah dan idealisme. Kalau bisa, di SMA dibuat ekskul yang mewadahi filmaker pelajar,” jelas Ikhwan.

Salah satu sineas muda Banjarmasin yang sudah sampai ke tingkat nasional adalah Ken Zuraida Hamid. Melalui karyanya, Setangkup Asa di Balik Kemilau Intan, Ken Zuraida memperkenalkan budaya lokal Banjar ke mata publik nusantara. Filmnya itu, masuk nominasi lima besar dalam Eagle Award yang digelar oleh Metro TV, Oktober tahun lalu. Lihat di sini.

Aku tidak perlu memperkenalkan orang yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan dan sastra ini. Karyanya seabreg. Pikiran, renungan dan karyanya, silakan dilihat di http://kenzuraida.wordpress.com. Cerita tentang perempuan Dayak ini juga bisa dilihat di sini.

Kami berbincang sebelum bedah film di malam terakhir 3 Cities Short Film Festival itu. Saat dia sudah ditarik-tarik sama panitia buat ngomong di forum. Kutahan dulu buat ngobrol.

Zuraida bertutur, proses kreatifnya muncul dari keprihatinan sosial. “Aku lihat di lokasi pendulangan intan itu, masyarakat nggak makmur. Padahal intan di sekitar mereka. Selain itu, banyak anak-anak di situ nggak sekolah. Pendidikan mereka telantar,” ujar Dida, panggilan akrab Zuraida.

Awal ketertarikan Dida untuk bikin film adalah rasa penasaran tentang proses bikin film. Kebetulan saat itu, ada even yang digelar Metro TV. Lalu, Dida mengajukan proposal ke pihak panitia. Setelah diloloskan, disediakan supervisor langsung dari Jakarta.

“Pembimbingku saat itu Toni Tri Marsanto, dia udah banyak pengalaman bikin film. Selain itu, kameramen dan tim editornya juga oke banget. Dukungan suamiku juga besar, dia terlibat langsung. Alhamdulillah, filmku lolos sampai lima besar,” kata istri dari Amiwan Ahmad Syaufi ini.

Dida punya keinginan membuat film lagi dengan berbasis pada budaya lokal Banjar. Selain itu, kata Dida, film itu musti mengambil tema yang mengungkap realitas dan bisa membuat perubahan nasib rakyat.[]

No comments:

Post a Comment