Wednesday, February 20, 2008

Bayi Telantar Itu

Satu minggu ini, konsentrasi saya tercurah penuh pada satu sosok mungil yang menggemaskan. Setiap hari saya datang ke kamarnya. Membelai lembut kulitnya, mengelus rambut tipisnya, kadang mencubit pipi yang agak tembem itu. Setiap datang, saya lihat dia tersenyum manja, lalu terkekeh. Hatiku mulai jatuh cinta padanya.

Sosok itu adalah bayi yang menghebohkan publik Kalimantan Selatan. Ceritanya begini. Senin (4/2) pukul 21.45 Wita, seorang wanita mengaku bernama Novia (21) yang sedang hamil tua, datang ke IGD Rumah Sakit Ansari Saleh Banjarmasin. Dia sendirian. Saat ditanya tentang suaminya, “Masih di belakang. Sebentar lagi menyusul,” ujar Novia.

Lalu, ibu muda itu dimasukkan ke ruang bersalin di Ruang Mutiara B4. Selasa (5/2) subuh, ketuban sudah pecah dan proses kelahiran akan terjadi. Dalam catatan medis, tepat pukul 04.50 Wita, lahirlah seorang bayi lelaki. “Proses kelahiran sangat lancar dan spontan,” ujar bidan Helmina yang membantu proses persalinan.

Tapi, para perawat melihat ketidaklaziman pada pasien. Dia menolak menyusui anaknya itu. Sekitar pukul 16.00 Wita, setelah memandikan bayi, perawat sempat menyerahkan bayi tersebut kepada ibunya untuk digendong. “Lazimnya, seorang ibu ingin selalu bersama bayi yang baru dilahirkannya, apalagi anak pertama. Tapi, pasien ini menyentuh bayinya pun tidak mau,” lanjutnya.

Ternyata, keanehan itu terbukti. Rabu (6/2) pukul 19.00 Wita, Novia sudah tidak ada lagi di Ruang Mutiara B4 dan bayinya ditinggal sendirian. “Saat itu lampu padam. Lalu perawat sibuk dan petugas berusaha menyalakan genset. Saat itulah, pasien keluar dari rumah sakit,” kata Helmina.

Seorang kawan dari El-Shinta FM, mengirim sms tentang peristiwa itu. Begitu mendengar kabar, sore harinya saya ke RS Ansari Saleh. Perawat bercerita, lalu memberikan alamat. Segera saya menelusur alamat yang ditinggalkan Novia. Ibu muda itu mengaku tinggal di Jalan Agatis Gang Indah No 18 Rt 29 Anjir.

Rabu (13/2) sore, dengan mengendara motor saya menuju ke arah Barito Kuala (24 kilometer dari Kota Banjarmasin). Ternyata, sampai malam, baik di Kelurahan Anjir Muara Kota maupun Kelurahan Anjir Pasar, saya tidak menjumpai nama Jalan Agatis. Beberapa warga yang saya tanyai juga mengaku tidak pernah melihat nama Jalan Agatis. “Yang ada Jalan Trans Kalimantan,” kata Ramlah, seorang pedagang di Anjir Pasar yang sempat saya tanyai.

Akhirnya, sampai saat ini setiap hari saya menengok bayi yang ditelantarkan ibunya itu. Selain ada empati pribadi yang mendalam, juga karena tugas jurnalistik.

Bayi itu berjenis kelamin laki-laki berkulit putih, dengan berat badan 3,3 kilogram, panjang tubuh 50 sentimeter dan lingkar kepala 30 centimeter. Luar biasa sehat dan menggemaskan.

Hari ini, sudah dua minggu ditinggalkan ibunya, bayi itu masih belum jelas nasibnya. Selasa (20/2) sore, saat saya menyambangi Ruang Merah Delima tempat menginap sang jagoan kecil itu, bobot tubuhnya makin naik. Saat lahir 3,3 kilogram, kini menjadi 3,9 kilogram.

Di tangannya masih melingkar gelang warna putih transparan. “Gelang itu peneng penanda bayi, dilingkarkan selesai dibersihkan setelah dilahirkan. Sampai saat ini belum dilepas,” kata Yansina, perawat jaga sore.

Ternyata, setelah dua minggu, para perawat sering memanggil bayi itu dengan sebutan ‘si bos kecil’. "Karena hanya dia yang belum diambil ibunya. Kalau ibu yang lain langsung mengambil, kami nggak sempat menggendong lama-lama. Tapi bos kecil, justru kami yang habis-habisan merawat,” ujarnya.

Para perawat menyayangkan, bayi ini tidak mendapat ASI ekslusif sama sekali. “Padahal, jika tanpa ASI, antobodi tidak akan terbentuk. Dia akan rentan terkena penyakit besok sampai besar. Tapi, kalau ada yang bersedia menjadi ibu susuan, kiyau (panggil) orangnya,” ujarnya. Seluruh persediaan pakaian dan susu untuk ‘bos kecil’, masih dicukupi oleh rumah sakit.

Sampai saat ini, ada 45 orang yang berniat mengadopsi. Banyak di antaranya pejabat tinggi di Kalsel. Ada hakim, polisi, jaksa, bahkan yang terang-terangan ekspose ke media adalah istri Kapoltabes Banjarmasin. Dia ingin mengasuh langsung.

Hmm, sampai sekarang belum jelas siapa ‘pemenang’ si jagoan kecil itu. Ah, andaikan saya sudah menikah, mungkin ikut berebut juga ya... []

6 comments:

  1. Kang Amien, perhatian banget sama si bos kecil. Ada kepentingan apa neh?? ^_^

    ReplyDelete
  2. Nama itu adalah "Animus" kurang lebih bisa berarti "jiwaku" untuk si Kecil yang mempertahankan Jiwanya sendirian ku iklaskan deh kalau mau dipakai buat nama (itu nama calon bayiku lo he..he..) :)

    ReplyDelete
  3. ooo...ini thoh bayi yang menarik hatimu itu...udah min, adopsi ajah! abis itu, baru cari umminya, hehehe...

    ReplyDelete
  4. sudah adakah yang mengumandangkan adzan di telinga mungilnya?

    ReplyDelete
  5. Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the Impressora e Multifuncional, I hope you enjoy. The address is http://impressora-multifuncional.blogspot.com. A hug.

    ReplyDelete
  6. eyalah, bayi yg di ansari saleh itu toh.wkt jd wrtawan ga pernah ngeliput berita heboh itu sih......
    salam buat tmn jurnalis banjarmasin.(murhan, dll)gak bisa disebut 1, 1

    ReplyDelete