Friday, February 8, 2008

Ditangkap di Rumah Mertua

H Saroso Sundoro SH, MSi adalah legenda hidup jurnalis Kalimantan Selatan. Sejak berdirinya SKH Banjarmasin Post pada 2 Agustus 1971, lelaki asal Lumajang ini sudah bergabung, hingga 2002 mengundurkan diri karena alasan fisik.

Jumat (8/1) sebelum sholat Jumat saya berkunjung ke kediamannya yang asri di Kompleks Wildan No 31 Rt 18 Banjarmasin Tengah. Rumah yang asri dan penuh rimbun pohon. Ruang depan rumah sekaligus menjadi tempat praktek istrinya yang berprofesi sebagai bidan. Mereka menikah tahun 1974.

Saat datang pertama kali ke Banjarmasin tahun 1971, Saroso diterima menjadi dosen di Akademi Administrasi Negara (AAN), dengan status pegawai negeri. Meski begitu, hobinya menulis membuatnya tetap ingin masuk ke dunia jurnalistik.

“Saat itu, dibuka pendaftaran wartawan bagi koran baru, saya bergabung. Seingat saya, awalnya akan diberi nama Mimbar Demokrasi tapi tidak jadi karena di beberapa daerah sudah ada koran dengan nama serupa. Akhirnya, dipilihlah nama Banjarmasin Post,” katanya.

Teknologi cetak


Saroso masih mengalami zaman teknologi cetak huruf per huruf. Saat itu, wartawan biasa membantu menempel, akhirnya ikut mahir sistem percetakan. “Untuk bikin berita, satu huruf demi satu huruf ditempel ke klise. Orang menyebut itu huruf muntilan, karena pabriknya ada di Muntilan, Jawa Tengah,” ujarnya.

Zaman bergerak, lalu lahirlah sistem lenotip. Sistem ini lebih canggih, bukan lagi satu huruf harus ditempel, tapi satu kata. Salah satu sisa mesinnya masih dipajang di depan kantor BPost. “Tapi, untuk cetak gambar masih harus dikirim ke Surabaya. Butuh waktu tiga hari baru bisa dicetak,” kenang Saroso.

Ternyata, pada saat teknologi cetak masih sederhana, BPost pernah tidak terbit gara-gara bakal cetakan masuk got. “Seperti biasa, segala klise huruf dan gambar dinaikkan becak, diangkut dari kantor BPost Jl. Pasar Baru No. 222 menuju Percetakan Adil yang jaraknya hanya 500 meter untuk dicetak. Yang mengantar waktu itu Thamrin Yunus, adik Pak Djok Mentaya (pendiri BPost). Ternyata di tengah jalan, becak mengalami kecelakaan dan masuk got. Akhirnya, esok harinya BPost gagal terbit,” ujar Saroso.

Tapi, lanjutnya, setelah kejadian itu tidak ada kata tidak terbit bagi BPost. “Ketika kantor sudah pindah ke Jl. Haryono MT. Pada 3 Nopember 1989, terjadi musibah kebakaran yang menghabiskan seluruh lantai. Hanya seperangkat mesin cetak di lantai dasar selamat dari amukan api. Walaupun dengan cetak darurat, pada hari berikutnya BPost tetap terbit,” kata Saroso.

Saat zaman sudah serba komputerisasi, Saroso mulai kesulitan dengan kemodernan itu. Selama bertugas menjadi wartawan sampai 2002, dia tetap memilih mengetik menggunakan mesin ketik manual. “Agak bisa memakai komputer, tapi sering tersalah tekan tombol,” tukasnya.

Teknologi sekarang luar biasa maju, lanjutnya, semua tulisan harus dikirim email. Dulu, bagi wartawan daerah, untuk mengirim berita harus dititip ke sopir distributor koran pagi yang datang ke sana.

Ditangkap militer

Bapak dua anak ini, pernah merasakan jeruji besi akibat tulisannya yang kritis. Saroso pernah ditangkap pihak Laksus Pangopkamtibda, institusi militer di masa Orde Baru.

Tahun 1978, Saroso menulis sebuah berita tentang liputan penebangan kayu Ulin secara liar yang terjadi di Tanah Laut. “Saya menulis berdasar fakta. Bertemu langsung dengan petani di pedesaan,” tegas alumni Fakultas Hukum Unibraw Malang ini.

Setelah tulisan itu terbit, Saroso ditangkap dengan tuduhan melakukan fitnah terhadap penguasa. “Saya ditangkap ketika berkunjung ke mertua di Paringin. Pihak Laksus bersama Koramil Paringin mendatangi rumah mertua saya, lalu mengangkut saya ke Banjarmasin tanpa boleh membawa apa-apa,” kenang Saroso.

Setelah itu, masuk ruang tahanan Laksus di Jl S Parman (sekarang menjadi bangunan Kimia Farma). Dua hari kemudian, dipindah sebagai tahanan titipan di sel Polresta Banjarmasin, yang sekarang menjadi Markas Polda. “Satu minggu ditahan, lalu saya dilepas. Ini tidak lain dari peran pengurus PWI Pusat yang menyurati pihak Laksus agar membebaskan kami,” kata suami Hj Nurpaidjah ini.

Saat itu, selain dirinya, ada tiga nama yang juga ditangkap. “Ketua PWI Anang Adenansi, Lian Sitanggang dan Mukri Gawid. Ketiganya karena dianggap menghasut masyarakat. Padahal, hanya mengkritisi kebijakan pemerintah yang otoriter,” kata Saroso.

Koran Kompos

Kedekatan Saroso dengan masyarakat pedesaan tidak lepas dari minat besarnya dengan wilayah liputan pedesaan dan pertanian. Periode 1980-an, kata Saroso, pernah diterbitkan Koran Kompos oleh BPost Grup. Koran itu didistribusikan ke seluruh pelosok Kalsel. Saat itu, oplahnya mencapai 15 ribu per hari dengan harga eceran Rp 25.

“Saat itu terbentuk Kelompok Pembaca Kompos. Keberadaan koran ini sangat membantu para anggota, yaitu petani di pedesaan. Saya berharap langkah yang mendekatkan dengan pembaca di pelosok ini perlu dilakukan lagi oleh BPost,” katanya. Saroso menjadi pengasuh rubrik pertanian dan sering berhubungan dengan Dinas Pertanian. Sampai mengundurkan diri dari dunia jurnalistik, Saroso menjadi pengasuh tetap rubrik pedesaan di Banjarmasin Post.

Saat ini, Saroso tengah menikmati masa pensiun sejak Desember 2007. Selain pengabdiannya di dunia pers, Saroso juga menjadi tenaga pengajar di Jurusan Pendidikan Ekonomi FKIP Unlam. Karena pengabdian itu, pada 1999, dia mendapat kesempatan mengikuti program S-2 di Universitas Brawijaya Malang.

Di Hari Pers yang jatuh hari ini, Saroso mengaku bangga dengan perkembangan teknologi yang pesat dalam dunia pers. “Hanya saja, bagi penulis yang tidak bisa kirim email seperti saya, mohon jangan ditolak tulisannya,” katanya sambil tertawa.

Selain itu, Saroso melihat insan pers sekarang memiliki daya serap yang lebih baik. Banyak jalan untuk belajar, sehingga wartawan memiliki pengetahuan yang lebih. Terakhir, Saroso berharap agar PWI sebagai institusi yang menaungi insan pers, bisa berkembang lebih baik.[]

No comments:

Post a Comment