Saturday, February 2, 2008

Belajar Bertani Lagi

Kompleks mess berbentuk barak sepanjang 36 meter itu dibagi dalam delapan bidakan (kamar besar) yang berukuran 7 x 4 meter. Berdinding dan beralas kayu lapis. Sementara atapnya memakai seng. Warnanya sudah agak kusam, cat hijau yang menempel di dinding beberapa terkelupas. Di teras bangunan ada pagar setinggi setengah meter.

Satu bidakan dibagi dalam tiga ruangan, kamar tamu di depan, kamar tidur di tengah dan dapur. Jumat (1/2) siang saat saya ke sana, kasur lebar dihamparkan di ruang depan rumah Hendy (29), karena kamar tidur penuh dengan perabot yang hendak dibawa pulang.

Bangunan itu sudah didiami selama lima tahun bersama anak istri Hendy. Tapi, minggu depan dia sudah akan keluar dari kompleks mess karyawan PT Austral Byna itu. Barang-barangn sudah tertata rapi dalam kardus. Termasuk mainan anaknya, juga sudah masuk kotak. "Saya sedang mencari truk yang bisa mengangkut sampai Surabaya," katanya.

Bapak satu anak ini termasuk yang mendapat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bersama 1.200 karyawan yang lain. Hendy sudah bekerja di PT Austral Byna sembilan tahun. "Rasanya berat meninggalkan kompleks ini. Bukan hanya masalah PHK saja, perpisahan dengan tetangga dan kawan-kawan itu yang paling berat. Kami sudah bertahun-tahun berkumpul, sudah lebih dari saudara," ujarnya.

Bagi lelaki asal Magelang Jawa Tengah ini, perusahaan tempatnya bekerja sudah memberikan banyak hal. Salah satunya, dia menemukan gadis yang sekarang menjadi istrinya, juga di Austral Byna. Istrinya, Endang (27), karyawan bagian administrasi produksi. Mereka menikah tahun 2002 dan sudah memilik satu anak berusia empat tahun.

Menurut Hendy, dengan gaji yang diberikan perusahaan saat masih berproduksi, cukup untuk menghidupi keluarga. Bahkan, mereka masih bisa menabung untuk anaknya. "Saya sisihkan Rp 100 ribu tiap bulan untuk masa depan anak," ujar Hendy.

Tapi sejak Agustus 2007, perusahaan berhenti beroperasi. Gaji yang diberikan sebesar 80 persen dari yang semestinya. Sepasang suami istri ini mendapat Rp 1,2 juta tiap bulan tanpa bekerja di pabrik. Tapi untuk susu anak dan kebutuhan sehari-hari masih tidak mencukupi.

Akhirnya, selama rentang enam bulan terakhir, Hendy berusaha mencari pekerjaan lain di luar pabrik. Hampir tiap hari, lulusan STM ini mencari pekerjaan, meski dengan gaji harian. "Saya cari kerja sampai di Sebamban Tanah Bumbu, naik motor bersama kawan. Tapi, belum ada yang cocok juga," ujarnya.

Kamis (31/1) kemarin, nasibnya sudah jelas. Dia tidak akan bekerja lagi di Austral Byna, termasuk istrinya. Pesangon yang mereka peroleh sekitar Rp 20 juta. "Hari ini (1/2) sudah ada pengumuman, seluruh mess harus sudah kosong satu bulan lagi. Tanggal 1 Maret, seluruh jaringan listrik akan diputus," ungkap Hendy.

Keputusan sudah bulat, bersama empat keluarga yang lain, Hendy akan menyewa truk untuk mengangkut seluruh perabotan keluarga yang bisa dibawa. Mereka kembali ke tanah asal di Jawa. "Saya akan belajar bertani kembali. Lama sudah tidak menyentuh cangkul," kata karyawan bagian mekanik mesin ini sambil tersenyum.

Tidak jauh berbeda, Marji (50) juga akan membawa istri dan anak-anaknya ke Jawa. Karyawan pengawas bagian produksi ini, sudah seperempat abad bekerja di Austral Byna. "Sudah saatnya pulang, mas" kata lelaki asal Kediri Jawa Timur ini.

Meskipun Marji sempat membeli tanah di Banjarbaru dan membangun satu rumah, dia tetap memilih kembali ke Jawa. Meskipun diberhentikan, dia merasa agak lega karena pesangon dirasa mencukupi. Seluruh karyawan mendapat pesangon sesuai lama kerja.[]

2 comments:

  1. tani... mulia banget
    kenapa ga di kalimantan aja taninya
    membagi kegigihan sama orang kalimantan. saya rasa mereka (dan juga saya) sangat memerlukannya.

    ReplyDelete
  2. Pakai falsafah Jawa ya
    Yang penting Kumpul mangan ora mangan
    Padahal di Kalsel tanah luas peluang usaha di bidang terbuka lebar. Mau Perikanan, Perkebunan, Tanaman Pangan, Peternakan.
    di pelaihari sekarang ini ( agustus 09), banyak peternakan ayam ras, pedaging. banyak peluang
    ..... yang enak modal dikit, jual pentol..

    ReplyDelete