Thursday, January 31, 2008

PHK 1200 Orang

Kondisi bisnis kayu lapis semakin terpuruk. Perusahaan yang dahulu berjaya, satu per satu mulai tutup. Kali ini giliran PT Austral Byna, Banjarmasin yang mem-PHK seluruh karyawannya. Sekitar 1.200 orang kehilangan mata pekerjaan di pabrik itu.

Rabu (30/1) siang, saya sempat mengunjungi areal pabrik itu. Perjalanan melalui pelabuhan Martapura menggunakan kelotok alias perahu kecil khas Banjar. Ongkosnya lumayan, Rp 10 ribu sekali jalan. Saya belum tahu kalau bisa naik motor langsung diangkut ferry dengan biasa Rp 3.000 pulang pergi. Akhirnya saya gunakan taksi air itu.

Baik, kembali ke kondisi PT Austral Byna. Siang itu, suasana pabrik tidak terlalu ramai. Sekitar 100 orang keluar masuk bergiliran mengambil cek pesangon di kasir pabrik. Seluruh karyawan, dari manajer hingga satpam seluruhnya diberhentikan oleh perusahaan.

Mereka yang telah jelas tidak akan bekerja lagi di perusahaan itu, berhak mendapatkan pesangon sesuai dengan lama kerja. Sejak Senin (28/1), tiap bagian digilir mengambil cek. Terakhir jadwal pengambilan Kamis (31/1).

Wajah para karyawan yang sudah mengambil cek, tidak segera pulang. Mereka masih duduk di bangku depan kantor. Wajah mereka tampak sedih, tempat bekerja yang sudah puluhan tahun ditempati, akan segera ditinggalkan. Setiap mereka bertemu kawan sesama pekerja, selalu bersalaman sambil meminta maaf. "Berelaanlah," ujar mereka kepada yang lain.

Suasana makin senyap saat saya memasuki areal pabrik. Alat berat dan mesin pemotong kayu itu menjadi saksi bisu kejayaan produksi kayu lapis di Kalimantan.

Beberapa karyawan, meski dengan nada getir, merasa yakin akan segera bertemu kembali. Misalnya Iswanto, satpam yang sudah 15 tahun bekerja itu, menyalami satu per satu karyawan yang lewat di depoan pos jaga. "Kita akan bertemu lagi kok," kata lelaki berkumis tebal itu.

Keyakinan itu agaknya beralasan. "Alat pabrik masih lengkap, aset masih banyak, kayu log malah dibeli oleh pabrik tetangga," ujar Suryadi, pekerja yang sudah 25 tahun di Austral Byna. Di belakang pabrik memang nampak berjajar puluhan kayu log, baik yang ditumpuk maupun diapungkan di permukaan air.

Petrus Wara, seorang satpam yang sudah 20 tahun mengabdi, mengaku tidak tahu akan bekerja di mana jika PHK tetap diberlakukan terhadap seluruh satpam di sana. Ayah dua anak ini mengaku, walaupun bisa mendapatkan Rp 17 juta dari pesangon, dia tetap memilih bekerja di Austral Byna.

"Keputusan terakhir untuk satpam diberikan besok pagi. Kami berharap ada panggilan lagi. Kabarnya, 2009 pabrik ada manajemen baru," kata lelaki asal Flores ini penuh harap.

Sudah satu tahun terakhir, pabrik kayu lapis ini tidak beroperasi. Selama itu, seluruh karyawan dirumahkan. Mereka tidak perlu bekerja, tapi uang gaji tetap mengalir ke rekening. "Kami mendapat 80 persen dari gaji utuh," ujar M Garra Aden, seorang karyawan.

"Kasihan juga perusahaan, pemasukan tidak ada, tapi pengeluaran untuk gaji terus menerus," kata Wajid, seorang satpam.

Menurutnya, di Austral lebih baik dibanding perusahaan kayu lapis yang lain. "Di sini tidak ada gejolak, karena perusahaan cukup bijak. Gaji tetap dibayar, pesangon juga diberikan sesuai aturan," ujarnya.[]

No comments:

Post a Comment