Wednesday, January 30, 2008

Kagum Soeharto


"Beliau adalah sosok yang kebapakan, mengayomi, tutur katanya lembut, murah senyum, sekaligus memiliki wibawa yang besar," ujar Dra Hj Sri Widayati tentang almarhum mantan Presiden Soeharto yang wafat Senin (27/1).

Sehari setelah Pak Harto meninggal, saya bersilaturahmi dengan Ibu Sri di rumahnya, Kompleks Perumahan Dosen Unlam, Jalan Cendrawasih Belitung Banjarmasin.

Ibu Sri pernah mendapat anugerah sebagai Dosen Teladan Nasional mewakili Universitas Lambung Mangkurat pada 19 Agustus 1992. "Saat itu, saya bertemu langsung, bersalaman dengan Pak Harto dan Ibu Tien di Istana Negara," kenangnya. Ketika bertutur, suaranya menjadi lirih dan bergetar, matanya berkaca-kaca.

Satu lagi yang dikagumi dari sosok Soeharto adalah penguasaan sang presiden terhadap suatu masalah sangat dalam. "Saat memberi pengarahan tentang pendidikan, beliau mengetahui masalah hingga detil dan tingkat teknis. Bahkan beberapa pejabat terkejut mendengar paparan Pak Harto. Saking rincinya," kata ibu empat anak ini.

Staf pengajar di Jurusan Sejarah FKIP Unlam ini mengaku sangat mengagumi Soeharto dan istrinya, Siti Hartinah. "Banyak falsafah hidup yang diajarkan Pak Harto. Salah satunya mikul dhuwur mendhem jero, yang secara mudah artinya melakukan sesuatu sesuai porsinya," katanya.

Baginya, Pak Harto benar-benar menerapkan falsafah ini, terutama ketika berinteraksi dengan orang lain, baik anak buahnya maupun tamu-tamunya. "Selain yang tadi, Pak Harto juga berpesan yang berbunyi ojo rumangsa isa, lamun isa rumangsa, yaitu jangan sok merasa bisa, lebih baik rendah hati," kata istri dari Drs Soenarto ini.

Saat upacara penganugerahan di Istana Negara dulu, suasana ruangan hening dan syahdu. Kehadiran Pak Harto di ruangan memberikan aura kewibawaan yang besar. "Beliau itu, menurut beberapa budayawan Jawa, adalah raja Mataram," kata perempuan kelahiran Malang, 14 Juli 1945 ini.

Saking takutnya, dia dan beberapa kawan tidak berani ijin ke belakang untuk buang air kecil. "Saya ini merasa orang kampung. Selain takut, juga karena alat-alatnya yang modern, serba otomatis," katanya sambil tertawa kecil.

Dosen sejarah ini sangat memahami posisi Soeharto. Menurutnya, tahun awal kebangkitan Orde Baru, memang menuntut tokoh kuat yang memegang kendali politik. Saat itu, kondisi sosial politik kacau, ekonomi bangsa juga terpuruk.

"Tahun 1965, saya kuliah tingkat tiga. Kami hidup makan dengan bulgur, sesuatu yang di Amerika biasa untuk makanan babi. Jika bukan orang militer seperti Pak Harto yang memegang kekuasaan, saya tidak yakin keamanan lahir di Indonesia," kata dosen yang mengajar di Unlam sejak 1970 ini.

Karena itu, menurut Ibu Sri, Trilogi Pembangunan yang dirumuskan Soeharto masih sangat tepat jika diberlakukan saat ini. "Trilogi itu adalah stabilitas politik, pembangunan ekonomi, dan pemerataan sandang, pangan, perumahan," ujar pengajar mata kuliah Sejarah Ekonomi ini.[]

No comments:

Post a Comment