Wednesday, January 16, 2008

Honorer Jadi Pemulung

Di tengah hamparan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan, berdiri tiga buah gubuk berdinding kardus dan triplek serta beratap terpal bekas. Di antara tiga gubuk itu, terlihat seorang laki-laki paro baya sedang menyantap makanan.

Dengan berpakaian warna oranye bertuliskan Dinas Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Kota Banjarmasin, dia lahap menyantap sayur asam di depannya. Di atas meja yang dibuat dari kayu-kayu bekas bangunan, dia duduk bersila menikmati makan siang.

Bau sampah menyengat, anyir dan bagi yang belum pernah masuk areal itu, pasti akan muntah. Lalat berseliweran, menimbulkan suara mendengung aneh. Tapi, hilir mudik lalat yang terkadang singgah di piring sekadar ikut mencicipi makanan, tak dipedulikannya. Sambil menyuap makanan, sesekali memandang keluar gubuk itu.

Pria itu bernama Samani (51), warga Handil Puting yang ikut mengais rejeki dari sampah. Dia sebenarnya karyawan honorer di TPA Basirih yang mencari penghasilan tambahan dari memulung sampah.

Uang yang diterima sebagai honorer, sebesar Rp 500 ribu per bulan, tidak mencukupi. Padahal, dia mempunyai tanggungan istri dan tiga anak. “Dengan gaji segitu, mana cukup buat membiayai hidup anak dan istri saya,” kata pria bertubuh kurus itu.

Dituturkannya, sudah lima bulan gubuk itu ditempati. Di sana, dia menjalankan dua pekerjaan, sebagai karyawan Dinas Kebersihan sekaligus pemulung. Kadangkala juga membeli hasil pulungan temannya yang lain untuk dijual ke pengumpul.

Dia memperoleh Rp 500 untuk satu kilogram botol plastik, kaleng dan karung bekas. Sedangkan untuk gelas plastik, dihargai Rp 1.500 per kilonya. Dalam sehari, Samani dan keluarganya bisa memperoleh sekitar 20 kg sampai 30 kg barang bekas ini.

Dari situ, dia dapat penghasilan rata-rata Rp 30 ribu per hari. Sudah mencukupi untuk makan sekeluarga. Sementara uang honor, separonya ditabung.

Tinggal di atas gundukan sampah, selain bau anyir, penyakit tentunya rentan menyerang para pemulung ini. Tapi, Samani hanya tertawa ketika ditanya tentang itu. “Kami sudah kebal,” katanya. Bahkan, dengan sedikit bercanda, dia mengaku sudah berteman dengan lalat di sana.

“Mungkin lalat yang takut dengan kami. Kami ini beracun buat mereka,” candanya. Sedangkan bau menyengat yang harus mereka hisap tiap hari, Samani mengaku sudah terbiasa. Bahkan, bau itu dianggap sebagai pewangi.

Pemulung lain sepertinya bersikap sama dengan ancaman penyakit ini. Makanan yang mereka dapat di sampah pun sering mereka santap. Bahkan, makanan itu terkadang jadi rebutan. Mereka seolah tidak peduli kondisi makanan yang dimakan.

Seperti yang terjadi siang itu, Selasa (02/01), beberapa pemulung berebut mendapatkan kerupuk yang ditemukan oleh teman mereka. Dengan lahap mereka mengunyah dan menelan kerupuk itu tanpa ada rasa risih sedikit pun. Bahkan, mereka tampak senang dengan makanan itu.

***

Samani bersama istrinya, Rahima, sudah mulai memulung sejak lima tahun lalu. Anaknya empat orang, yang sulung meninggal tahun lalu karena sakit dalam usia 21 tahun.

Menurut cerita Samani, anaknya itu tidak mau makan, minum dan lebih suka diam di rumah saja. “Kata dokter, anak saya tidak berpenyakit apa-apa, tapi setelah 40 hari sakit, dia meninggal,” katanya sambil menerawang.

Anaknya yang kedua dan ketiga pernah bersekolah, namun putus di tengah jalan. Mereka lebih memilih bekerja daripada meneruskan pendidikan. Keduanya hanya lulus SD, sempat melanjutkan, namun tidak sampai setahun sudah berhenti.

Sedang anak bungsunya, belum mengecap pendidikan sedikit pun. alasannya, anaknya itu belum cukup umur bersekolah. “Umurnya baru enam tahun, mungkin tahun depan akan saya sekolahkan,” kata Samani.

Anak yang bernama Ahmad itu, bersama ibunya, terlihat mengumpulkan beberapa sampah dan memasukkannya ke karung. Setelah penuh, dengan tangan kecilnya, dia mencoba mengangkat karung bekas tepung itu.

Tertatih-tatih, dia menuruni jalan menuju tumpukan karung di seberang gubuk mereka. Dengan sedikit terengah ia kembali mengambil karung kecil di dalam gubuk dan mengisi dengan kardus-kardus.

Menurut Samani, anak dan istrinya akan membantu memulung hingga datangnya musim tanam. Kebanyakan para pemulung di sana mempunyai pekerjaan pokok sebagai petani. Jadi, sembari menunggu saat menggarap sawah, mereka memulung.

Bahkan, areal TPA yang kosong, dijadikannya persemaian bibit padi. “Nanti jika sudah cukup usia, saya pindahkan ke pahumaan,” ujarnya.

Hampir semua pemulung berasal dari tiga desa yang berada di sekitar TPA. Desa itu, Handil Puting, Tatah Bangkal dan Handil Puyung. Namun, ada juga orang yang datang dari luar Kalsel yang ikut mengais rejeki di tumpukan sampah itu. “Dua bulan yang lalu, ada tujuh orang yang datang dari Jawa hanya ingin ikut mulung di sini,” ungkap Samani.[]

No comments:

Post a Comment