Wednesday, January 16, 2008

Ahmadiyah di Banjarmasin

Bangunan itu ada di Jalan Dahlia Kebun Sayur Rt 21 No 7 Kelurahan Mawar Kecamatan Banjarmasin Tengah. Berukuran 15 x 7 meter, berdinding papan bercat hijau, terdiri dari dua lantai. Lantai atas digunakan sebagai masjid, sementara lantai bawah untuk sekretariat. Pagar kayu warna putih membatasinya dengan jalan.

Di halaman depan yang selebar tiga meter, berdiri sebuah plang yang menunjukkan disitulah markas Jemaat Ahmadiyah Cabang Banjarmasin. Di plang itu juga ada Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah, di bawahnya ada tulisan Badan Hukum Menteri Kehakiman RI No.JA.5/23/13 Tgl 13-3-1953, yang memberi legalitas penyebaran Ahmadiyah.

Di sanalah aktivitas Jemaat Ahmadiyah Cabang Banjarmasin dilakukan. Pemimpinnya bernama Firman Alisyah, mubaligh yang dikirim oleh pusat Ahmadiyah di Parung Bogor sejak dua tahun yang lalu untuk mengawal dakwah Ahmadiyah di Kalimantan Selatan.

Bersama istri dan dua anaknya, Firman hijrah ke Banjarmasin. “Seluruh mubaligh sudah mewakafkan hidup untuk Jemaat. Tidak ada yang kami pikirkan dan lakukan, selain menyebarkan ajaran Ahmadiyah,” ujar Firman.

Seluruh kebutuhan hidupnya sudah ditanggung oleh pimpinan pusat, termasuk biaya sekolah anaknya di SD Mawar 6. Anaknya dua orang, sulung kelas tiga SD dan bungsu masih berumur lima tahun. Keduanya ikut kemana pun sang ayah pergi berdakwah.

“Para mubaligh siap dipindah kemanapun perintah amir (pemimpin). Sebelum di Banjarmasin, selama sepuluh tahun, saya berdakwah di seluruh wilayah Bandung, Jawa Barat saja,” kata Firman menerawang mengenang masa lalu. Firman lahir dan besar di Bandung, sementara sang istri lahir di Bogor.

Di ruang tamu, saya berkesempatan menemuinya. Di ruang tamu yang sederhana itu ada lima kursi berwarna hijau. Poster para Khalifah Ahmadiyah menempel di dinding sisi kanan. “Ada lima khalifah sepeninggal Mirza Ghulam Ahmad,” kata Firman.

Di dinding sisi kiri, ada foto Khalifah Mirza Thahir Ahmad (khalifah keempat Ahmadiyah) sedang bersalaman dengan Presiden Abdurahman Wahid. Di bingkai foto yang berbeda, juga ada gambar Amien Rais sedang ngobrol mesra dengan sang khalifah. “Itu semua bisa terjadi tahun 2000, sudah 75 tahun kami mengimpikan khalifah datang ke Indonesia. Terimakasih kepada Gus Dur yang saat itu jadi presiden,” kata Firman.

Di sudut ruangan, ada ratusan buku di atas rak kayu berwarna kusam. Buku-buku itu, tampaknya jarang disentuh. Di kalender Ahmadiyah dengan penanggalan yang berbeda dengan Masehi danHijriyah, tertulis “Love for All Hatred for None.”

Aktivitas Jemaat Ahmadiyah Banjarmasin, setiap minggu kedua dan keempat setiap bulan, mengadakan kajian di markas Dahlia Kebun Sayur. Selain hari Minggu, hanya mengaji al-Quran, dan kitab-kitab tertentu.

Di Banjarmasin, anggota Ahmadiyah hanya empat kepala keluarga. Dua di antaranya ada di Kelurahan Mawar juga, tidak jauh dari markas. Sementara di Komplek Cempaka Banjarbaru, ada lima kepala keluarga. Firman memberi pengajian di Banjarbaru tiap minggu pertama dan ketiga.

Ahmadiyah juga memiliki cabang di Tanah Bumbu, tepatnya Kecamatan Sebamban. “Di sana ada 12 kepala keluarga. Kebanyakan adalah para transmigran yang berasal dari Jawa. Mereka sudah Ahmadiyah sebelum sampai Kalsel,” jelas Firman.

Ahmadiyah pernah ingin mendirikan kepengurusan wilayah Kalsel secara resmi. Saat pengajuan ijin ke Poltabes, dilempar ke Polda, dari Polda disuruh ke Mabes Polri. Akhirnya sampai sekarang belum terealisasi keinginan itu.

Disinggung tentang keluarnya fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menuntut pembubaran jemaat Ahmadiyah, Firman mengatakan sudah bosan memberi penjelasan. “Tolong tunjukkan mana bukti kesalahan kami. Jika karena sembilan kitab Ahmadiyah yang sesat, tunjukkan mana kitabnya,” kata Firman dengan suara meninggi.

Menurutnya, kitab suci Ahmadiyah hanya al-Quran saja. Kitab Tadzkirah yang selama ini dituduhkan sebagai kitab suci Ahmadiyah, itu hanya kumpulan tulisan Mirza Ghulam Ahmad. Bahkan, menurutnya hampir tidak ada yang menyimpan kitab itu. “Silakan geledah rumah seluruh anggota Ahmadiyah, kalau memang ada Kitab Tadzkirah. Kami hanya mengimani al-Quran,” katanya.

Terkait dengan isu penyerangan oleh beberapa elemen umat Islam, Firman mengaku tidak takut. “Kami sudah wakafkan hidup untuk dakwah. Jika berhasil, alhamdulillah. Jika gagal, ya innalillah. Semuanya kembali kepada Allah. Bukankah dakwah Rasulullah Muhammad lebih mengerikan lagi cobaannya?” ujar lelaki bertubuh tinggi ini.

Sejauh ini, belum ada perintah dari khalifah untuk membalas serangan. Bahkan khalifah memerintahkan untuk berdamai. “Bersabar, bersabar, bersabar dan berdoa, itu perintah yang diberikan pada kami,” kata Firman.

Sementara itu, aktivitas dakwah Ahmadiyah di Banjarmasin tetap berjalan seperti biasa. Firman mengaku, para tetangga di Dahlia tidak ada yang memasalahkan semenjak bangunan markas itu berdiri tiga tahun yang lalu.

“Tapi posisi kami memang dilematis. Jika kami menyampaikan dakwah dengan memberi penjelasan ajaran Ahmadiyah kepada masyarakat, kami dianggap mempengaruhi. Tapi jika kami hanya diam saja di rumah, kami disebut ekslusif dan tertutup,” jelas Firman. Karena itu, dakwah Ahmadiyah lebih banyak melalui buku-buku dan keping VCD yang dibagikan gratis kepada masyarakat.

Naik Haji Lewat Dephan

Jika kaum muslim biasa naik haji diurusi Departemen Agama, lain dengan Jemaat Ahmadiyah, mereka difasilitasi oleh Departemen Pertahanan. Pasalnya, sampai saat ini, mereka dilarang naik haji jika ketahuan sebagai orang Ahmadiyah.

Menurut Firman, beberapa kali mencoba lewat jalur biasa. Tapi, selalu diketahui. “Kebetulan Dephan memiliki travel yang mengurusi perjalanan ke Makkah, akhirnya seluruh anggota jemaat sekarang melalui Dephan,” katanya.

Menurutnya, ini diskriminasi yang menyakitkan. “Kami ini muslim juga. Sama dengan yang anda dan lainnya,” katanya menunduk sedu.

Firman mengakui, jika seorang pegawai negeri atau militer diketahui sebagai anggota Ahmadiyah, niscaya pangkatnya tidak pernah naik tinggi. “Jika di militer, dia tidak akan sampai bintang satu lah,” katanya.

Tapi, akunya, banyak perwira yang menyembunyikan identitas keahmadiyahannya. “Salah satunya adalah Brigjen Pol Basyir Barmawie, mantan Kapolda Kalimantan Selatan. Beliau itu bahkan putra tokoh Ahmadiyah,” aku Firman.

Sampai saat ini, untuk mendapatkan pembelaan atas posisi Ahmadiyah, Firman bergabung dengan tiga aliansi, yaitu LK3 (Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan), FALI (Forum Agamawan Lintas Iman) dan Forum Dialog Antar Agama. Ketiganya di Banjarmasin.

“Selain itu, kami juga terus mendekati Departemen Agama untuk mendapat penyelesaian damai atas tuntutan pembubaran kami. Kami lebih mencintai kedamaian, karena Islam adalah agama damai,” pungkas Firman. []

2 comments:

  1. Mas Amin ini pemerhati Ahmadiyah atau malah sudah jadi pengikut?
    Bagi saya, Ahmadiyah jelas kesesatannya. Tapi, masalah penanganannya juga harus manusiawi. Tidak boleh serang atau bantai mereka. Kembalikan ke hukum saja.

    ReplyDelete
  2. Saya posisinya menjadi jurnalis Banjarmasin Post saat itu pak. Tahun 2008 isu anti Ahmadiyah mulai memanas. Hari itu saya bertemu pak Firman dan mengikuti bagaimana mereka shalat dan baca quran.

    ReplyDelete