Tuesday, November 27, 2007

Uang Akhirat untuk Leluhur

Di kota Banjarmasin terdapat dua rumah ibadat yang sudah berusia ratusan tahun. Rumah ibadat yang juga disebut kelenteng itu, satu di antaranya terletak di Jl Kapten Pierre Tendean 36. Bangunan tua bernama Rumah Ibadat Tri Dharma itu sudah berusia 128 tahun. Umat Tri Dharma yaitu mereka yang beragama Budha, Tao dan Konghucu, beribadat di tempat itu.

Tulisan “Soetji Noerani” tercetak tebal di bagian atas gapura masuk. Soetji Noerani adalah terjemahan dari Tjhe Sen Kiong. Di atasnya menempel lambang berbentuk lingkaran terbagi dua bagian simetris berwarna hitam dan putih. Tanda itu biasa disebut yin-yang. Cat warna merah menyala dan kuning mendominasi pagar dan dinding di komplek itu.

Kaligrafi Cina berwarna merah menempel di dinding bangunan. Warna coklat kusam menandakan kaligrafi itu sudah lama ditempelkan. Dua tiang bulat berdiameter setengah meter di bagian depan menopang atap. Dua patung naga meliliti tiang itu. Lampion bulat transparan bergantung di ujung atap bagian bawah, bergoyang ditimpa angin.

Memasuki komplek kelenteng, tampak berdiri sebuah bangunan mirip pagoda kecil setinggi tiga meter. Pagoda itu tidak sendirian. Ada satu pagoda lagi yang berdiri di halaman bagian kiri dari kelenteng. Tapi bentuknya berbeda, yang satu ini bulat seperti gentong dan puncaknya mengerucut. Keduanya memiliki tungku pembakaran di sisi kanan-kirinya.

Sisa pembakaran bertumpuk di dalam tungku. Tampak bekas kertas yang dibakar. Sebelum menjadi abu, kertas-kertas itu ditata berbentuk seperti nekara. Seimbang atas dan bawahnya. Setiap lembar memiliki nilai berbeda, antara Rp 15.000 hingga Rp 100.000.

Orang yang beribadat itu harus membeli “uang akhirat” pada pengurus kelenteng. Mereka menukar sejumlah uang dengan beberapa helai kertas warna merah dan kuning dengan tulisan tertentu dalam huruf Cina. Lalu membakarnya di tungku pagoda.

Penganut Tri Dharma memiliki keyakinan bahwa arwah orang tua dan leluhur mereka di alam baka harus selalu dikirimi uang. Bagi mereka, alam baka sama dengan alam dunia. Butuh biaya untuk hidup di sana. Anak yang ingin berbakti kepada leluhur sesering mungkin membakar kertas “uang akhirat” itu. Bahkan ada yang disebut “uang malaikat”, yang nilainya mencapai satu milyar.[01/11/2007]

No comments:

Post a Comment