Tuesday, November 27, 2007

Olahraga dan Olah Batin

Setiap hari Minggu pagi sehabis Subuh, ada dua aktivitas menarik di lingkungan Masjid Sabilal Muhtadin, yang berada di tengah kota. Pertama adalah orang yang berolahraga, kedua adalah jamaah pengajian di masjid terbesar Banjarmasin itu. Ada olah fisik, ada juga olah batin.

Seperti terlihat Minggu (25/11) pagi, jalan di depan Gedung H Djok Mentaya Banjarmasin Post Group sangat ramai. Para pejalan kaki dan pedagang makanan kecil memenuhi seluruh badan jalan. Kebanyakan mereka memakai pakaian olahraga, keringat membasahi wajah mereka.

Gadis seusia SMA bergerombol di sudut Taman PKK, bercanda sambil memegang sebungkus pentol di tangan. Sebagian sibuk bercerita tentang mode rambut dan pakaian. Sebelumnya, mereka berjalan mengitari Jl AS Musyaffa, Jl Merdeka, lalu berbelok ke Jl Sudirman, mengelilingi Masjid Sabilal.

Ada juga sepasang suami istri. Sang istri menggendong anak kecil di dekapannya. Berjalan pelan, tak tampak bekas keringat di tubuh dan wajah mereka. Berjalan pelan dari halaman timur Masjid Sabilal, menuju halaman parkir Taman PKK. Berhenti sebentar, membeli makanan dan minuman, lalu mereka pulang.

Segerombolan anak muda berpakaian serba hitam duduk di sudut halaman pagar Markas Komando Resimen Yudha Putra, tepat di seberang timur Gedung BPost Group. Celana serba ketat, jaket melekat di tubuh yang kebanyakan ceking. Mereka memakai sepatu bot yang tinggi ujung atasnya.

Rambut nyentrik gaya berdiri. Gelang kalung mereka unik, terbuat dari rantai besar warna perak. Aksesoris serba tak lazim bergantungan di badan mereka. Itulah kaum punk. Pagi itu, mereka juga menikmati suasana Minggu. Berkumpul dan jogging bersama.

Ratusan, bahkan bisa mencapai seribu orang yang berkumpul di sekitaran Masjid Sabilal. Mereka berolahraga pagi itu. Seperti Saiful (25), warga Kayu Tangi ini, setiap Minggu pagi berlari dari rumah kosnya ke halaman Masjid Sabilal Muhtadin. “Untuk pernafasan dan kesehatan badan,” katanya. Selain olah raga, beberapa orang datang hanya untuk mejeng atau cuci mata.

***

Berbeda dengan di luar, di dalam masjid ada aktivitas pengajian. Hiruk pikuk luar tidak mempengaruhi kekhusukan suara shalawat yang menggema ke seluruh sudut kota. Shalawat itu diselingi undangan bagikhalayak agar masuk masjid dan mengikuti acara dzikir dan pengajian bersama.

Ibu-ibu perpakaian serba putih melangkah masuk ke halaman masjid. Tangan mereka membawa tas berisi tasbih dan mukena. Setelah berwudhu, mereka masuk ke ruang utama masjid.

Sejumlah ibu sudah membentuk barisan rapi. Menghadap ke sebuah meja di depan mimbar yang biasa dinaiki para khatib Jumat. Dengan takzim, lantunan doa keselamatan mengalun dari mulut mereka. Ritmik, harmonis dan syahdu.

Kebanyakan ibu-ibu itu berusia lanjut. Hampir tidak ada anak muda. Sementara banyak anak muda berada di luar masjid. Berpakaian modis, bahkan sebagian ketat seksi, berlarian menyusuri jalan. Mereka berolahraga, sementara orang tua berolah batin di dalam masjid.[]

1 comment:

  1. Kata pepatah Cina: "Badan kita adalah alam semesta yang mungil, darah adalah sebuah sungai, tulang belulang adalah pegunungan, dan nafas adalah embusan angin". " men sana incopore sano", he...he...

    ReplyDelete