Tuesday, November 27, 2007

Kelotok: Usaha Turun Temurun

Sungai Martapura di depan Kantor Walikota Banjarmasin tampak ramai. Puluhan orang menunggu kelotok yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan. Alat transportasi air ini masih sangat akrab bagi penduduk Kota Seribu Sungai. Meskipun jalan darat sudah terbangun, masih banyak masyarakat yang memilih kendaraan ini.

Mansyah (53), adalah salah satu pemilik kelotok yang beroperasi dari sungai di depan Kantor Walikota Jl RE Martadinata hingga ke Basirih. Dalam sehari, kelotoknya bisa empat kali bolak-balik. Selain itu, dia juga melayani penumpang rombongan yang meminta ke Pulau Kembang atau Pasar Terapung.

Kelotoknya mampu mengangkut 30 orang sekaligus. “Sebetulnya jumlah maksimum di surat jalan 12 orang, tapi penumpang tidak mau menunggu kelotok berikutnya,” ujarnya.

Sekali jalan, penumpang dipungut bayaran Rp 2.500. Sementara untuk biaya carter ke Pulau Kembang, Mansyah memasang tarif Rp 125 ribu. Penghasilannya meningkat ketika hari libur atau Minggu.

Lelaki yang tinggal di Teluk Tiram ini mengaku sudah menggeluti profesi tukang kelotok sejak 1970. Tiga puluh tahun menggeluti profesi ini, tidak membuatnya bosan. “Ulun kada parnah bagawi nang lain pang (saya tidak pernah bekerja selain mengemudikan kelotok),” akunya.

Sejak kecil, bapak tujuh anak ini meneruskan usaha orangtuanya. Sudah sebelas kali dia berganti kelotok. “Mulai dari yang berukuran kecil berbahan bakar bensin, hingga yang ini,” katanya sambil menunjuk kelotok ukuran panjang delapan meter dan tiga meter di buritan.

Pernah dulu dia memiliki dua kelotok, yang satu dikemudikan anak lelakinya. Sejak anaknya itu diterima kerja di tempat lain, kelotoknya dijual. Tampaknya, usaha ini belum ada yang meneruskan.

Dalam satu hari, dia biasa menghabiskan sepuluh liter solar untuk menjalankan kelotok. Keuntungan per hari tidak sama, tergantung jumlah penumpang. Namun, rata-rata sehari mengumpulkan Rp 50 ribu. “Alhamdulillah, cukup saja untuk membiayai keluarga,” ujarnya.

Bersama pengusaha kelotok yang lain, Mansyah tergabung dalam Gapasdaf (Gabungan Pengusaha Sungai, Danau dan Ferry). Persatuan ini yang menentukan trayek setiap kelotok, sekaligus tempat pendaftaran.

Tahun 1980-an pernah ada koperasi dari organisasi tersebut. Tapi kini sudah tidak jalan. “Dulu, kami bisa mengambil cat untuk kelotok tanpa bayar dulu,” kata lelaki kelahiran 3 Juli 1954 ini.[]

No comments:

Post a Comment