Tuesday, November 27, 2007

Jualan Sama Keuntungan Beda

Di depan pagar SD Negeri Kampung Melayu 03 dan 09, seratus meter dari halaman parkir Duta Mall Banjarmasin, berjajar penjual makanan kecil. Salah satunya adalah pentol bakso. Bentuknya yang kecil dijual dengan harga Rp 500 dan yang besar Rp 1.000 per buah.

Sebuah sepeda jengki tua. Di stangnya ada terompet kecil yang dibunyikan ketika sepeda jalan, menandai bahwa tukang pentol sudah lewat. Aqua botol besar dan jerigen kecil warna putih menggantung di stang itu. Ujung gagang sebuah payung lusuh, yang melindungi penjual dari terik matahari, ditalikan di sadel tempat dudukan sepeda.

Dua kotak wadah pentol bergantung di boncengan sepeda. Pada kotak sisi kiri, atasnya terbuat dari kaca berisi pentol terbuat dari bakwan. Sementara kotak sisi kanan berisi panci yang memuat pentol dari tepung rasa daging sapi. Telur dan tahu rebus juga ada di panci itu.

Penjualnya bernama Suwoto (55). Memakai kaos hitam lengan panjang, warnanya sudah kusam. Celana bergurat hitam dan topi terbuat dari daun pandan yang ujungnya sudah terburai, melengkapi penampilannya.

Setiap hari, lelaki asal Lamongan ini menghabiskan 2,5 kilogram tepung kanji dan tepung terigu untuk barang jualannya. Dia menggiling tepung di Pasar Lama, sementara untuk racikan bumbu dibuatnya sendiri.

Lelaki beranak lima ini menjual pentol sejak tahun 1991, sepuluh tahun setelah dia merantau ke Banjarmasin pada 1981. Tempat penjualannya selain di SDN Kampung Melayu 03, juga di SD Marsudi Wiyata. Setelah siswa sekolah pulang, untuk menghabiskan jualan, dia berkeliling memasuki lorong dan gang. “Biasanya di sekitar Pasar Lama saja,” katanya.

Setiap hari, keluar rumah pukul 09.00 dan pulang 18.00. “Pendapatan kotor per hari Rp 50 ribu. Sementara keuntungan bersih sekitar Rp 25 ribu, Mas,” katanya dalam bahasa Jawa halus.

Meski sama-sama menjual pentol, keuntungan bisa berbeda. Seperti halnya Istaqomah (40). Perantau asal Jember, Jawa Timur ini memperoleh pendapatan kotor di atas Rp 200 ribu setiap harinya.

“Dari setiap biji, kami mengambil keuntungan seratus rupiah,” kata lelaki yang tinggal di Jl Akasia Kayu Tangi ini.

Gerobak kayuh beroda tiga bercat hijau di bawah kerindangan pohon. Tepat di samping tempat wudhu putri Masjid Kampus Unlam Banjarmasin. Gerobak itu digunakan Pak Is, panggilan akrabnya, untuk membawa pentol, telur dan tahu jualannya. Ada tambahan bumbu bawang goreng dan irisan daun seledri bagi pembeli yang meminta.

Harga rata-rata sama dengan yang lain, namun karena lokasi penjualan di kampus, pembelinya mayoritas mahasiswa. Cukup duduk di samping gerobak, pembeli sudah berdatangan. Langganannya selain mahasiswa adalah para dosen setempat.

Pak Is menjual pentol sejak lima tahun yang lalu. Dia ikut pengusaha pentol bernama Heru yang memiliki sepuluh anak buah. Delapan di antaranya berjualan di kampus-kampus.[]

No comments:

Post a Comment