Friday, October 12, 2007

Tarawih di Sela Takbir

Lebaran kali ini berbeda lagi. Ini sudah biasa. Maksudnya karena hampir setiap tahun terjadi, lalu menjadi sebuah kebiasaan. Mengutip Gus Dur, “gitu aja kok repot.” Semuanya senang asal bisa Lebaran.

Malam tadi, saya berkeliling Banjarmasin. Bahkan sampai keluar kota. Ke arah Sungai Lulut dan Sungai Tabuk, kabupaten Banjar. Sengaja saya tidak tarawih jamaah di masjid, juga tidak takbiran. Salah satu misi perjalanan saya malam tadi, adalah investigasi kondisi masyarakat di tengah perbedaan hari raya ini.

Ternyata, hampir seluruh langgar dan masjid di pelosok Banjarmasin—apalagi kabupaten Banjar yang basis nahdliyin—melaksanakan shalat tarawih untuk malam terakhir di bulan Ramadhan. Sama sekali tidak nampak aktivitas takbiran. Bahkan masjid-masjid besar seperti Al-Jihad di jalan Cempaka, masjid Mujahidin di Kuin dan beberapa basis Muhammadiyah yang lain tidak menampakkan aktivitas takbiran secara vulgar. Cukup menarik untuk dicatat, toleransi masyarakat kita sudah cukup matang.

Saya sendiri memutuskan untuk berhariraya besok pagi, yaitu Sabtu 13 Oktober 2008. Berdasar keyakinan bahwa tidak ada penampakan hilal sebagaimana yang diharapkan, ketika sore kemarin para fuqaha, ahli falaq se-Banjarmasin meneropongnya dari puncak gedung Bappeda. Selain itu berbagai pertimbangan lain yang saya kira bisa kita baca di internet ini.

Di atas apapun yang terjadi, saya secara pribadi menyampaikan:

Taqabbalallâhu Minna wa Minkum
Ja’alnallâhu wa Iyyakum

Minal Âidin wal Fâidzin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H

Mohon Dimaafkan Segala Kekhilafan. Lahir dan Batin

Banjarmasin, 30 Ramadhan 1428 H [12 Oktober 2008 M]

1 comment:

  1. Kayaknya sekarang masih tahun 2007 deh.....too futuristic or what..;)

    Maaf lahir batin ya...

    Selamat idul fitri 1428 H/ 2007 M

    ReplyDelete