Sunday, October 21, 2007

Silaturahim Tiga Tuan Guru

Kemarin saya bersama kameramen Fauzi OKU dan reporter Rasyidi dari TVRI Banjarmasin berkesempatan mengikuti perjalanan silaturahmi para fungsionaris PKS bersama Habib Aboe Bakar al-Habsyi.

Perjalanan satu hari kemarin menuju Martapura, yang dikenal sebagai jantung religi daerah Kalimantan. Utamanya karena disanalah makam Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari atau yang dikenal sebagai Datu Kelampayan, ulama dengan magnum opus-nya: Sabilal Muhtadin. Selain itu, disana ada makam Guru Sekumpul, yaitu Tuan Guru Zaini Abdul Ghani yang telah wafat sekira dua tahun lampau.

Dua ulama itu adalah icon religi di Kalimantan yang makamnya terus menerus diziarahi ummat. Ratusan orang datang setiap hari, bahkan pada malam tertentu seperti malam Jumat, banyak peziarah yang mabit (menginap) untuk membaca Yasin dan tahlil.

Kunjungan kemarin itu berkenaan dengan agenda Idul Fitri. Idul Fitri menjadi momentum yang sangat berharga bagi kaum muslimin. Utamanya untuk menjalin silaturahmi. Mengunjungi saudara, handai taulan, dan para ulama yang berjasa besar bagi perkembangan Islam di tanah Banjar. Terlebih sebagai wakil urang Banjar di DPR RI. Hal ini memotivasi Habib Aboe Bakar al-Habsyi untuk roadshow mengunjungi tiga tuan guru di kabupaten Banjar.

Sabtu pagi, setelah beristirahat satu malam di Rattan Inn, habib yang terkenal dengan slogan “nang bakupiah haji” pada Pilgub 2005 kemarin ini, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pukul 08.30 pagi berangkat menuju kediaman Guru Sofyan di Kraton, Martapura. Padahal, satu malam sebelumnya, Habib Aboe Bakar masih berada di Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan umrah dan i’tikaf di Masjidil Haram. Nampaknya, tidak ingin meninggalkan keberkahan tanah suci.

Sekira pukul 10.00, rombongan habib Aboe sudah sampai di kediaman Guru Sofyan. Para petinggi Partai Keadilan Sejahtera Kalimantan Selatan nampak mengiringi. Mereka adalah Riswandi, SIP (Ketua MPW PKS), Husaini Sunni, Lc. (Ketua Dewan Syariah), Ibnu Sina, S.Pi. (Ketua Komisi I DPRD Kalsel), dan Guru H. Jamhari (Komisi D DPRD Kabupaten Banjar). Nampak pula Bendahara DPW PKS Kalsel, Didi Wahyudi, SE.

Memasuki ruang tamu Guru Sofyan, seluruh hadirin dipersilakan duduk. “Mari, silakan duduk. Semoga keberkahan Allah selalu menyertai kita,” sambut Guru Sofyan dengan segala keramahannya. Dialog akrab lalu terjadi antara Habib Aboe dengan Guru Sofyan, mereka saling bertanya kabar keluarga dan kesehatan. Ada tiga paramedis dari RS. Ratu Zalecha yang berada di ruangan itu. Nampaknya tuan rumah habis diperiksa. “Darah tinggi ulun agak naik, Bib ai. Mohon doa, semoga lekas sembuh,” tutur Guru Sofyan.

Berikutnya, perbincangan mengarah pada masalah politik. “Anak-anak muda yang tergabung dalam Partai Keadilan Sejahtera ini sangat membutuhkan bimbingan pian, karena itu, mereka ulun ajak mengunjungi pian, agar selanjutkan kada supan-supan lagi jika harus meminta bantuan pian,” pinta Habib Aboe dengan lugas. Sembari itu, Habib memperkenalkan satu persatu para hadirin. “Ini Riswandi, beliau Wakil Ketua DPRD Provinsi. InsyaAllah, kita bisa memberi manfaat banyak kepada umat melalui mimbar legislatif,” lanjut Habib.

“Hal seperti ini adalah tradisi yang sangat baik, seperti perintah Rasulullah: washilul arham ‘dan saling bersilaturahmilah kalian’. Terlebih yang berkunjung adalah dzurriyat (keturunan) Rasulullah. Ulun sangat berbahagia dan berharap keberkahan semakin mengalir dalam majelis ini,” balas Tuan Guru yang mendapat amanah untuk menjadi penerus Guru Ijai ini. “Segala apa yang kita lakukan ini adalah untuk dakwah dan ummat. Masing-masing juga memiliki bidang yang bekerja di wilayahnya sendiri, persis sebagaimana kajang,” lanjut Guru Sofyan mengibaratkan atap rumah.

Menjelang pulang, majelis itu ditutup dengan berdoa. Dan ketika bersalaman pamit, Habib Aboe nampak menyerahkan sebotol minyak wangi berukuran kecil, “Ini oleh-oleh ulun dari Makkah. Semoga bisa dikenang, pengikat ukhuwah kita dan menjadi cinderamata.” Perjalanan rombongan PKS dilanjutkan menuju kediaman Guru Zainal Ilmi di Astambul.

Perjalanan menuju Astambul dalam mobil cukup ramai. Hal ini karena di kanan kiri jalan, nampak banyak sekali orang melakukan bapintaan, yaitu meminta sedekah. Nampaknya memang sudah menjadi tradisi setiap sehabis Lebaran atau ketika haul akbar Datu Kelampayan, masyarakat berjajar menerima sedekah dari para peziarah. “Kultur seperti ini tidak terlalu bagus,” kata seorang. “Tapi ini bukti bahwa orang ‘alim mampu memberi rejeki masyarakat di sekitarnya sekalipun sudah meninggal,” timpal yang lain. Bagaimanapun, mengemis adalah masalah mentalitas dan pola pikir. Banyak di antara mereka yang bertubuh kekar dan berusia muda. Mengapa tidak menggarap tanah saja atau behuma? Pertanyaan ini cukup disimpan saja.

Sekira pukul 11.00, rombongan memasuki rumah Guru Zainal Ilmi. Rumah bercat putih itu terletak persis di depan pintu gerbang jalan menuju makam Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang dibanjiri peziarah. Gerbang itu di desa Lok Gabang, kecamatan Astambul. Lapangan yang cukup lebar memudahkan dua mobil rombongan parkir di depannya. Segera setelah turun, dengan jubah putih berkibar, dua orang ‘alim tersebut berpelukan. Seakan lama tidak bertemu. Kehangatan memancar dalam perjumpaan itu.

Seluruh hadirin memasuki ruang tamu. Foto Guru Sekumpul dan para habaib tertempel rapi di ruangan dengan cat dominan warna putih. Setelah bertanya kabar keluarga dan kesehatan, guru Zainal bercerita, “ulun lulus dari Darussalam tahun 1971. Setelah itu, kembali ke Astambul untuk membina ummat di sini.” Dari penuturan guru Zainal, pengajian berkembang pesat. Walaupun seminggu sekali, tapi keislaman masyarakat Astambul tetap tinggi.

“Elemen yang perlu diperhatikan lebih adalah pemuda. Di daerah sini, pemuda cukup berpengaruh. Kegiatan untuk mereka seperti olahraga penting untuk dikembangkan,” papar Guru Zainal. Selain itu, kegiatan Maulid Habsyi juga cukup dominan. Setiap RW di Astambul bisa dipastikan terdapat satu kelompok maulid habsyi. “Karena itu, ulun harap PKS mampu memahami kondisi ini,” tandas penasehat PKS Kabupaten Banjar ini. Setelah jamuan makan, pertemuan ditutup dengan doa oleh Habib Aboe dan rombongan berpamitan untuk menuju kediaman Guru Masdar di Sungai Tuan, Astambul.

Di rumah Guru Masdar, hadirin duduk melingkar. Tuan Guru yang sudah berusia 70 tahun ini menampakkan keteduhan. Khas para alim ulama. Ibarat abah dan anak, Habib Aboe mendapat tuturan tausiyah yang juga ditujukan seluruh hadirin. “Amanat yang diberikan Guru Sekumpul sebelum wafat adalah agar pengajian diteruskan oleh sepupu sidin, yaitu Guru Sofyan. Selain itu, disuruh menghormati para keturunan Rasul yang ‘alim,” papar Guru Masdar dengan suara teduh.

Menjelang pamitan, wartawan TVRI sudah menunggu di luar rumah. Wawancara lalu terjadi. Setelah Habib Aboe, Guru Masdar juga tidak ketinggalan diwawancarai TVRI itu. Berikutnya, rombongan menuju Tanah Laut untuk melanjutkan roadshow silaturahmi 1428 Hijriyah.[]

No comments:

Post a Comment