Tuesday, October 9, 2007

Selimut Kabut

Dalam sebuah kabut, uap air yang berada dekat permukaan tanah berkondensasi dan menjadi mirip awan. Hal ini biasanya terbentuk karena hawa dingin membuat uap air berkondensasi dan kadar kelembaban mendekati 100%.

Tempat yang paling berkabut di dunia adalah Grand Banks di lepas pantai pulau Newfoundland, Kanada. Hal ini dikarenakan tempat ini merupakan pertemuan arus Labrador yang dingin dari utara dengan arus Teluk yang hangat dari selatan. Daratan yang paling berkabut di dunia terletak di Point Reyes, California dan Argentia, Newfoundland, yang diselimuti kabut lebih dari 200 hari dalam setahun. [wikipedia]

Pagi dini hari tadi, pukul 02.00 saya menyusuri kota Banjarmasin. Ada yang lain kali ini. Kabut tebal menyelimuti kota. Sangat tebal untuk sebuah kota. Itu karena saya belum pernah mengalaminya. Setahu saya, kabut tebal lebih banyak ada di pedesaan atau pegunungan. Tapi, ini di tengah kota. Aneh rasanya. Kabut ini juga bukan kabut asap. Sama sekali tidak ada bau asap. Berbeda dengan yang kemarin saya jumpai di Buntok, Kalimantan Tengah. Di sana menyengat sekali bau kebakaran hutan itu.

Jalan Ahmad Yani, jalan protokol di Banjarmasin hanya 15 meter jarak pandang. Itupun sayup-sayup bayangan tak begitu jelas. Selebihnya adalah warna putih yang basah. Depan kantor PDAM dan Poltabes bermandikan kabut. Lampu merkuri yang menerangi halaman dan sepanjang jalanan berpendar indah. Seperti ada serabut cahaya yang mengitari merkuri kuning itu.

Pelan-pelan saya jalankan motor. Menikmati dinginnya udara, menghirup dalam-dalam kedamaian ini. Jalanan lengang, sepanjang jalan Pasar Kuripan hingga Kampung Melayu. Toko-toko tutup, tapi saya menjumpai ada segerombolan anak muda sedang bermain bola sepak di sebuah halaman toko yang agak lebar. Ternyata dingin dan kabut justru membuat mereka semangat, jam 2 dini hari pula.

Subuh datang. Selepas Subuh, saya masih ingin menikmati kabut dan embun ini. Motor berjalan pelan, berbalik kembali, melewati jalan S. Parman, Kampung Melayu, Kuripan, lalu tembus ke jalan A. Yani. Berjalan terus ke arah timur. Hingga ke lahan luas di kecamatan Gambut, kabupaten Banjar. Kabut ternyata makin tebal. Tetesan air makin terasa di muka. Jaket sudah basah semua.

Tapi, inilah keindahan. Ada sebuah damai yang tak terdefinisi setiap saya melewati kabut. Kenangan akan Lawu, Merbabu, Sindoro dan Merapi tiba-tiba meruap kembal. Menjejali otak dengan segala sejarah lama. Terkuak lagi akan konflik, damai, lelah, penat, pegal di puncak gunung-gunung di Jawa itu. Pagi tadi, saya merasa ada sesuatu yang sangat menenangkan. Eksotisme alam yang luar biasa.

Saya tidak berani mengatakan itu sebuah Lailatul Qadar. Karena salah satu isyaratnya adalah langit terang, cerah tidak panas tidak dingin. Tapi, jika kabut dan embun pagi adalah kedamaian, bagi saya itu cukup.[]

27 Ramadhan 1428 H

No comments:

Post a Comment