Saturday, October 27, 2007

Penjaga Gawang Bahasa dan ‘Opini’

Mungkin Anda adalah orang yang suka membaca rubrik Opini di Banjarmasin Post. Atau Anda pernah mencoba mengirim tulisan ke rubrik itu. Halaman rubrik itu berisi beberapa tulisan. Pertama, tajuk rencana yang menjadi suara redaksi. Kedua, kolom yang dijuduli ‘Suara Rekan’ yaitu tajuk dari koran-koran lain satu grup Kompas-Persda. Ketiga, kutipan pendapat dari masyarakat yang dimuat sesuai tema hari itu.

Rubrik ini cukup berwibawa, katakanlah begitu. Menurut beberapa rekan, topik yang dimuat cukup hangat dan selalu aktual. Penyajian—yang tentunya sudah melalui proses editing ketat—juga mudah dipahami. Tampaknya, editor rubrik ini sudah ‘merenovasi’ kata-kata yang dibuat oleh penulis aslinya.

Saya sendiri pernah mengalaminya. Ketika mengirim tulisan dengan 700 kata, saat dimuat tinggal 500 kata. Dua ratus kata yang lain dipangkas habis. Tetapi, saya puas karena menghilangkan kalimat-kalimat yang tidak perlu. Sekaligus, saya makin penasaran dengan sosok yang menjadi penjaga gawang opini di Banjarmasin Post.

Akhirnya, setelah menjadi bagian dari korporasi media terbesar se-Kalselteng ini, saya bisa bertemu dengannya. Ternyata, dia seorang perempuan. Penampilannya nyentrik: potongan rambut pendek, bahkan lebih pendek dari saya. Pakaian serba hitam, celana panjang dari jins, kaos lengan pendek yang dilipat. Ditambah rompi hitam dengan emblem PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dan logo Polda Kaltim di dada kiri. Mungkin suaminya polisi.

Belum cukup itu, gelang berwarna hitam perak melingkar di lengannya. Kalung rantai kecil menggantung di leher. Kacamata dengan frame hitam tebal yang ujungnya berantai juga. Tampilannya makin nyentrik dengan sepatu bots tinggi dan tensoplas warna hitam berbintik kecil di dahi kanannya. Coba bayangkan, unik bukan?

Ketika bersuara nyaring sekali. Dalam forum tidak perlu mikropon lagi. Lantangnya menyentuh sudut-sudut ruangan. Tapi, di balik segala keanehan tampilannya itu, dia bukan perempuan sembarangan. Terutama di wilayah kata dan bahasa.

Nama lengkapnya adalah Noor Dachlianie Adul. Tapi, kawan-kawan di Banjarmasin Post lebih mengenalnya sebagai Ida Ima. Jadilah dia dipanggil Bu Ima, atau Kak Ima. Memiliki jabatan sebagai Ketua Forum Bahasa Media Massa di Kalimantan Selatan. Organisasi ini adalah penjaga bagi pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar di media massa.

Hal itu yang menjadikan standar bahasa di Banjarmasin Post cukup ketat. Karena redaktur opininya adalah pakar bahasa. “Seluruh tulisan Anda tidak akan lepas dari sayatan saya. Banyak wartawan sering salah menempatkan kata, kalimat dan frase. Itulah yang membuat pembaca tambah bingung,” katanya tegas. Itulah sosok penjaga gawang opini di Banjarmasin Post.

Saya merasa menjadi sangat bodoh saat berhadapan dengan Bu Ida. Sepertinya, pelajaran Bahasa Indonesia yang saya dapatkan sejak SD hingga bangku kuliah, tidak ada satupun yang melekat. SPOK (Subyek-Predikat-Obyek-Keterangan), idiom, denotasi-konotasi, abstrak-konkret, dan lainnya seakan baru saya dapatkan hari ini. Saya bagai orang asing yang baru sehari berada di Indonesia.

Bahkan mungkin, saat saya menulis yang sedang anda baca ini, seluruhnya salah di mata kaidah Bahasa Indonesia. Rasanya, kita perlu membuka kamus dan pedoman berbahasa lagi.[]

No comments:

Post a Comment