Friday, October 12, 2007

Maulid Habsyi dan Pak Ngadri

Tadi malam saya berkeliling Banjarmasin. Sekitar jam sembilan malam, kami (saya dan satu teman) sampai di kediaman Habib Novel Husein Alaydrus. Setelah bersalaman—cium tangan bolak-balik, atas bawah—kami berbincang ringan. Bertanya kabar dan saling mendoakan. Ada tiga lelaki di sana. Semuanya memakai sarung dan peci rapi. Nampaknya habis selesai tarawih dengan 20 rakaat yang panjang. Maksud saya berbeda dengan 20 rakaat yang kilat super ngebut itu.

Seperminuman teh, tiba-tiba Habib memutuskan. “Kita baca Maulid sebentar. Tiga puluh menit saja,” ucapnya berwibawa. Diawali dengan al-Fatihah. Dengan takdzim, kitab Maulid Habsyi yang berwarna hijau berukuran kecil itu dicium. Lalu bacaan maulid yang ritmis, mengalun pelan dari mulut sang habib. Diselang-selingi shalawat dari seluruh jamaah.

Di saat “sholawat asyroqol”, seluruh jamaah berdiri. Seakan ruh Rasulullah hadir disana. [mohon maaf, ini jelas adalah metafora untuk menunjukkan kedekatan kami dengan sang Nabi. Jangan diartikan secara harfiah bahwa ruh nabi ada di lingkaran penyelawat]. “Asyraqal badru ‘alaina. Min tsaniyati wada’i,” syahdu dan membuka kalbu.

Setelah duduk kembali, majelis itu ditutup dengan doa khatam al-Quran. Langsung oleh Habib sendiri. Setelah selesai, kami berbincang kembali. Untaian nasehat mulai lahir dari sang habib. “Mau menjadikan kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, kalo Allah bilang ngesot. Ngesot kamu. Rejeki itu datangnya dari Allah. ‘Siapa saja yang berkhitmad kepadaKu, niscaya akan Kuberikan dunia,’ itu hadits qudsi,” ucap habib dengan keras. “Karena itu, jika kalian pengen kaya, perbaiki hubungan dengan Allah,” pesan habib.

Sekira sudah cukup, kami lalu berpamitan. Apalagi salah satu jamaah—mas Bondan—sudah tergeletak di sudut ruangan kecil itu. Nampaknya dia kelelahan.

Saya melanjutkan perjalanan. Kali ini memang untuk berkunjung ke daerah transmigran di pelosok Sungai Tabuk. Satu jam perjalanan, masuk ke tengah sawah. Menyusuri sungai. Akhirnya sampai di sebuah mushola. Di rumah itu bertemu dengan Pak Ngadri namanya. Tentu bersama anak-anaknya. Dua orang lelaki muda.

Pak Ngadri datang ke Kalimantan Selatan tahun 1992, tepatnya tanggal 27 Desember. “Tahun Baru nang nduwur kapal, mas,” katanya. Maksudnya, dia ingat betul saat itu tahun baru 1993 masih di atas kapal. Lalu mereka mulai membangun. Dan kini sudah berlalu kurang lebih 14 tahun. Sudah banyak perubahan di lahan itu.

Saya ijin ke belakang. Pekarangan belakangnya mengingatkan saya tentang rumah di Penunggalan—tempat saya dibesarkan. Ada beberapa batang pohon kelapa tegak berdiri, tanah keras luas yang bersih. Tak ada daun berserak. Menampakkan penghuninya rajin membersihkan. Pandangan mata tak terhalang sesuatu apapun ke belakang. Jengkerik masih bernyanyi, diselingi sedikit kodok menyongsong hujan yang datangnya masih kadang-kadang. Hmm, saya hirup udara ini. Mengobati rindu tanah Jawa di tengah Hari Raya. Mengingat wajah ibunda dan keluarga.

Lalu kembali ke depan. Melanjutkan obrolan. Kulo asline Ungaran, ning taksih minggah malih. Nduwure Babadan,” lanjut pak Ngadri disambung anaknya, Arham. Lalu, kami ngobrol ngalor ngidul. Tentang pekerjaan baru, tentang pupuk yang terlambat datang. Dan terakhir tentang hari raya yang berbeda. Kami bercanda, ”Enteni bintang nang langit kae. Yen ono hurup S, berarti bodone Setu. Yen metu J, berarti sesuk wis bodo,” kata Arham disambut tawa keras kami berenam.

Malam larut. Sudah pukul 12 malam. Saya pamit pulang. Bersalaman dan berjanji akan berkunjung kapan-kapan suatu saat lagi. Pulang ke Banjarmasin, menelusuri sungai, sawah yang luas, dan kegelapan yang berselimut kabut.[]

No comments:

Post a Comment