Sunday, October 28, 2007

Huruf L Pengantar Petaka

Bernas adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di Jogjakarta. Pada 1990, Kelompok Kompas-Gramedia mengakuisisi Bernas menjadi bagian dari Persda, satu di antara anak perusahaannya. Karena satu huruf saja, harian ini pernah hampir digerebeg oleh massa. Sebab itulah, presisi sangat diutamakan dalam grup Kompas-Persda.

Awalnya adalah ketika terbit perdana edisi berwarna. Sebelumnya, Bernas hanya terbit black-white setiap hari. Pada hari Minggu, medio 1991, diputuskan memuat berita tentang pagelaran busana di Inggris. Lalu, disepakati dengan judul ‘Pagelaran Musim Semi-Panas di Inggris.’ Dimuat dengan full color, seperempat halaman depan berisi foto para model yang cukup seksi. Pakaian minim dan penuh gebyar. Lazimnya busana musim semi dan panas di Barat.

Hari Senin kondisi masih biasa. Selasa tidak ada respon berlebihan, Rabu juga adem ayem. Tiba-tiba, Kamis malam ada info dari jaringan Bernas, bahwa akan ada penyerbuan ke kantor redaksi Bernas. Malam itu berkumpul para aktivis gerakan Islam, seperti HMI, IMM, PII, NU dan Muhammadiyah. Mereka melakukan rapat di Masjid Syuhada Kotabaru. Agendanya hanya satu: menata rencana untuk demonstrasi ke kantor redaksi Bernas. Bernas dituduh melakukan pelecehan terhadap kaum muslimin.

Kita tahu, kondisi saat Soeharto masih bertahta, sangat menakutkan. Demonstrasi jarang terjadi. Jika toh terjadi, maka itu sebuah klimaks dari sebuah masalah. Terlebih jika gerakan Islam yang berdemonstrasi. Itu artinya, sebuah media tengah menghina kaum mayoritas di negeri ini.

Ketika kejadian itu sampai ke telinga redaksi Bernas, seluruh awak redaksi kalang kabut. Terbitan Bernas diteliti lagi, dibaca mundur. Edisi Kamis hingga Senin tidak menampakkan berita atau pilihan kata yang menyerempet isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan)—akronim yang dipopulerkan Menkopolkam Soedomo masa Soeharto dulu.

Ternyata, ditemukan kata yang menjadi malapetaka itu. Dalam caption atau keterangan foto, terdapat kesalahan ketik. Disana tertulis ‘Pagelaran Busana Muslim Semi-Panas.’ Sementara tampilan di atasnya adalah aurat wanita—paha, pinggul, rambut tergerai—yang menjadi keharaman besar bagi umat Islam jika ditampakkan di muka umum.

Segera pihak Bernas melakukan pengecekan internal. Bagian foto memastikan foto dan caption yang diserahkan pada redaktur sudah sesuai. Di pihak redaksi meyakinkan bahwa tidak melakukan kesalahan. Ketika sampai di bagian produksi, barulah pengakuan datang.

Saat itu, koran hampir naik cetak. Ketika penataan foto dan berita, ternyata masih ada halaman yang bolong. Tata letak di bagian produksi memutuskan mengetik ulang caption foto pagelaran busana itu. Karena tergesa, akhirnya huruf ‘L’ terselip di antara ‘S’ dan ‘I’. Tulisan yang harusnya ‘musim’ menjadi ‘muslim’. Kesalahan tidak sengaja itu, hingga naik cetak. Parahnya, tidak ada yang menyadari hal itu.

Bagaimana antisipasinya? Sebuah posisi yang menguntungkan, saat itu banyak wartawan Bernas adalah alumni IAIN dan beberapa di antaranya mantan aktivis mahasiswa. Segera mereka bergerak dan berpencar, menghubungi para pemimpin gerakan mahasiswa dan ormas Islam di Jogjakarta. Meyakinkan mereka bahwa yang terjadi benar-benar tidak ada unsur kesengajaan. Semata-mata karena ketergesaan dan salah ketik.

Pada mulanya, para aktivis Islam itu tidak percaya dengan Bernas. Alasannya, karena selama pascaterbitnya edisi malapetaka itu, yaitu Senin hingga Kamis, sama sekali tidak ada ralat dari redaksi. Tidak ada penjelasan hingga muncul respon dari pembaca yang cermat. Tapi, para pelobby yang juga alumni IAIN serta sudah kenal sebelumnya terus meyakinkan.

Akhirnya, para pemimpin organisasi Islam itu bisa diyakinkan. Sebagai konsekuensinya, edisi Jumat pagi itu, Bernas memenuhi halamannya dengan permohonan maaf kepada seluruh elemen umat Islam. Memberi klarifikasi atas kesalahan yang sangat fatal itu.

Kasus yang mirip pernah terjadi pada Jawa Pos. Pada 1994, ada sebuah tulisan di rubrik opini yang salah meletakkan huruf ‘N’ menjadi ‘B’. Fatalnya, kata yang tercetak itu adalah sebutan untuk pemimpin dan tauladan tertinggi umat beragama. Jadilah kata ‘nabi’ menjadi ‘babi’. Fatal bukan?

Cerita ini saya peroleh dari Yusran Pare. Dia seorang jurnalis di kelompok Kompas-Persda, yang sekarang menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post. Yusran juga orang yang membesarkan satu grup Kompas-Persda, harian yang terbit di Bandung yaitu Tribun Jabar.

Demikianlah, sebuah kecerobohan menciptakan malapetaka. Pelajaran yang bisa diambil, kecermatan dan ketelitian adalah syarat mutlak dalam jurnalisme. Satu huruf menjadi malapetaka, jika salah menempatkannya.

Terakhir, saya berdoa, semoga tidak ada huruf yang terselip atau hilang dari tulisan ini. Sekira ada, itu semata ketidaksengajaan.[]

1 comment:

  1. itulah fungsi editor min, mengkoreksi konten!

    kekuatan kata itu dahsyat ya min?

    ReplyDelete