Wednesday, October 10, 2007

Dari Baghdad Hingga Cordova

“...hari-hari untung malang Kami pergilirkan di antara manusia...”
----Qs. Ali Imran: 140


Islam bukan cuma sekedar masyarakat kerohanian, tetapi juga merupakan sebuah negara, sebuah imperium. Islam berkembang sebagai gerakan keagamaan dan politik yang didalamnya, agama menyatu terhadap negara dan masyarakat. Kepercayaan seorang muslim bahwa Islam mengemban keimanan dan politik berakar pada kitab yang dianggap wahyu Ilahi, yaitu al-Quran, beserta Sunnah dari pembangunnya dan nabinya, yakni Muhammad, sehingga kepercayaan itu tercermin dalam ajaran Islam dan sejarahnya dan perkembangan politiknya[1].

Pengungkapan itu jelas didasari pada fakta sejarah gemilang yang telah dilalui oleh ummat Islam semenjak kelahirannya pada abad ke-7 M hingga kejayaannya—secara sosial politis—pada pertengahan abad 12 M, karena pasca kehancuran Baghdad oleh Hulagu Khan, peradaban Islam dianggap mengalami kesurutan dalam dinamismenya.

Ketika Islam lahir, situasi dunia saat itu sangat mendukung bagi pertumbuhan Islam. Peradaban yang terkenal saat itu adalah Bizantium di Eropa Timur, Persia di Asia Barat, India di Asia Tengah dan Cina di Asia Timur. India sedang dalam dalam kemunduran dan Cina juga bukan dalam puncak kekuasaanya, disamping itu juga jauh dari Arabia. Eropa Barat, yang sekarang maju itu, pada zaman lahirnya Islam tak kedengaran namanya.

Eropa ketika Islam muncul, sebenarnya sedang berada dalam Zaman Kegelapan, sesudah mencapai zaman kemajuannya mulai dari masa filosof-filosof Yunani sampai jatuhnya Imperium Roma di abad keenam M. Zaman Kegelapan (the Dark Age) itu ditandai dengan kemunduran dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya. Orangnya masih buta huruf, percaya takhayul, tidak tahu kebersihan dan miskin. Eropa pada waktu itu sama dengan negara terbelakang dan miskin dewasa ini di Asia dan Afrika. Adapun Amerika masih belum dijumpai pada waktu itu[2].

Adikuasa yang ada saat itu adalah imperium Bizantium di Eropa Timur dan imperium Persia di Asia Barat. Namun diantara mereka terus bertempur, hingga akhirnya wilayah kedua imperium itu mulai masuk dalam dar al-Islam. Palestina jatuh pada tahun 634 M, Suriah tunduk pada 635 M, Mesir dikuasai pada 640 M, Irak jatuh pada 637 M, dan Persia hancur pada tahun itu juga. Itu terjadi pada kekhalifahan Umar bin Khaththab.

Adikuasa Politik Dunia: Umayyah dan Abbasiyyah

Sesudah Khilafah Rasyidah, dinasti Umayyah (661-750 M) berkuasa. Islam semakin meluaskan kekuasaannya mulai dari Mesir hingga seluruh Afrika Utara, bahkan sampai ke Andalusia atau Spanyol Islam. Itu yang ke arah barat. Di sebelah timur, daerah-daerah di seberang sungai Oxus dan Sungai Yaxartes yang mencakup Bukhara, Samarkhand dan Farghanah juga dikuasai. Ekspedisi juga dikirim ke India dan di sana Islam menguasai Balukhistan dan Sind, bahkan sampai perbatasan Cina.

Wilayah yang sedemikian luas diimbangi dengan sistem pemerintahan yang modern pula. Pada masa Umar bin Abdul ‘Aziz, seorang khalifah Umayyah yang dikategorikan sebagai penerus Khilafah Rasyidah, hadits-hadits Rasul mulai dikodifikasi dan dibukukan untuk menjaga keaslian dan otentisitasnya. Selain itu, Aswad al-Du’ali (w. 681 M), seorang ulama, menyusun gramatika Arab dengan memberi titik pada huruf-huruf hijaiyah yang tadinya gundul tak bertitik. Usaha ini merupakan revolusi linguistik yang luar biasa, karena dapat memudahkan pengguna ‘ajam (non-Arab) dalam membaca teks kitab suci.

Beberapa kebijakan dinasti Umaiyyah yang patut dicatat adalah: (1) ditetapkannya bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara oleh khalifah Abdul Malik, yang kemudian menjadi bahasa ilmiah. (2) menetapkan dinar dan dirham sebagai mata uang resmi. (3) penyeberangan ke Andalusia oleh Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair melalui selat Gibraltar pada tahun 711 M, serta Muhammad bin Qasim membawa Islam sampai di lembah Indus pada tahun berikutnya[3].

Penguasa dunia Islam berikutnya adalah dinasti Abbasiyyah (750-1258 M). Kelahirannya merupakan sebuah revolusi, ketika Abdullah ibn Haritsah yang dijuluki al-Saffah merebut kekuasaan Umayyah dan membangun imperium baru. Jika Umayyah menggunakan sistem monarkhi, maka Abbasiyyah tak jauh berbeda hanya lebih menekankan pada egalitarianisme (kesetaraan antara Arab dan ‘Ajam) serta otonomi luas.

Beberapa hal yang dilakukan Abbasiyah: (1) menampilkan diri sebagi pelindung agama. Khalifah adalah bayang-bayang Tuhan di muka bumi, mereka menggunakan gelar agamis seperti: al-Hadi, al-Rasyid, al-Ma’mun, al-Amin, dsb. (2) Islam mengajarkan persamaan, tiada beda antara Arab dan non-Arab. Bahkan orang Persia yang menjadi tulang punggung negara dan wazir dari keluarga Barmaki. (3) Abbasiyyah menghentikan perluasan wilayah. Bahkan otonomi daerah semakin diperbesar, yang bisa dikatakan federasi “negara” muslim. Mulailah dikenal istilah Malik dan Sultan sebagai penguasa yang dilantik oleh Khalifah. (4) al-Ma’mun menjadikan pemikiran Mu’tazilah sebagai mazhab negara. Hal ini berimplikasi luas, yaitu proses masuknya pemikiran intelektual Yunani ke dalam dunia Islam. Disinilah mulai kebangkitan peradaban dan intelektual Islam, sehingga dunia Barat belajar banyak dari Islam.

Tahun-tahun 750 sampai 850 adalah masa penerjemahan karya-karya Yunani dan peradaban lain. Khalifah mengeluarkan biaya besar untuk menghimpun manuskrip dari penjuru dunia, membangun perpustakaan-perpustakaan, laboratorium, observatorium, dan melakukan berbagai eksperimen. Muncullah filosof Islam seperti al-Kindi, al-Farabi, ibn Sina, ibn Miskawaih dan ibn Rusyd, disamping ulama sains semacam al-Farghani dan al-Biruni dalam astronomi; al-Khawarizmi, ‘Umar Khayyam dan al-Thusi dalam matematika; al-Thabari, al-Razi, ibn Sina dalam kedokteran; Jabir bin Hayyan dan al-Razi dalam kimia; ibn Haitsam dalam optika; al-Ya’qubi dan al-Mas’udi dalam geografi; Ikhwan al-Shafa dalam ilmu hewan.

Dalam bidang sains timbul saintis atau ulama dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Karena pada zaman klasik itu filsafat belum dipisahkan dari sains, tetapi keduanya merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan, maka filosof-filosof, diantaranya Ibn Sina dan Ibn Rusyd adalah pula dokter-dokter yang meninggalkan ensiklopedia dalam ilmu kedokteran yang pada abad keduabelas diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan dengan demikian mempunyai pengaruh bagi perkembangan ilmu kedokteran di dunia Barat Zaman Pertengahan Eropa. Ensiklopedia-ensiklopedia dalam ilmu kedokteran yang dikarang dokter-dokter Islam itu sampai abad kedelapan belas M, masih dipakai di universitas-universitas Eropa.

Matematika, bersama ilmu kedokteran yang besar perannya dalam kehidupan modern sekarang, juga berkembang di tangan ulama-ulama Islam. Nama ulama Islam yang termasyhur dalam bidang matematika adalah al-Khawarizmi. Dialah yang pertama mengarang buku dalam ilmu hitung dan aljabar. Istilah algorisme atau algoritme berasal dari nama al-Khawarizmi. ‘Umar al-Khayyam dan al-Thusi adalah juga ulama yang terkenal dalam bidang matematika. Angka nol [0] adalah ciptaan ulama-ulama Islam. Pada tahun 873 M, angka itu telah dipakai di dunia Islam, sedang di India baru tiga tahun kemudian. Angka-angka yang dipakai ulama Islam dalam matematika dibawa orang Eropa pada tahun 1202 M. Oleh karena itu angka 0, 1, 2 hingga 9, yang dipakai sekarang dalam ilmu hitung di Eropa dikenal dengan nama angka Arab.

Dalam astronomi, buku-buku karangan ilmuwan Yunani seperti Ptolomeus dan Archimedes diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ulama astronomi Islam yang terkenal antara lain adalah al-Fazzari dan ‘Umar al-Khayyam. Mereka juga mengarang buku-buku astronomi yang—sebagaimana buku-buku dalam cabang sains lain—diterjemahkan dalam bahasa Latin untuk diajarkan di Eropa. Observatorium didirikan di berbagai kota seperti Baghdad, Damsyik, Kairo di dunia Islam bagian timur dan Sevilla serta kota-kota lain di Andalusia, dunia Islam bagian barat. Kalender yang dibuat ‘Umar al-Khayyam ternyata lebih akurat dari yang dibuat Paus Gregorius. Kalau yang disebut terakhir ini membuat perbedaan 1 hari dalam 350 tahun, maka ‘Umar al-Khayyam membuat perbedaan 1 hari dalam 5.000 tahun.

Dalam ilmu kimia, menurut orientalis Perancis, Lebon, apa yang diperoleh ulama Islam dari peninggalan Yunani tidak banyak. Ulama besar dalam ilmu kimia adalah Jabir bin Hayyan dan Zakariyya al-Razi, yang di Eropa masing-masing dikenal dengan nama Gaber dan Rhazes. Karena kesungguhan dan ketekunan dalam penelitian kimia, al-Razi menjadi rusak penglihatannya. Kalau pada zaman Yunani, kimia banyak berdasar pada spekulasi, di tangan ulama Islam, ilmu itu berkembang atas dasar eksperimen. Di kalangan ulama Islam terdapat teori bahwa timah, seng, besi dan lain-lain dapat diubah menjadi emas dengan perantaraan substansi tertentu. Eksperimen-eksperimen mereka lakukan untuk mencari subastansi yang misterius itu. Walau belum berhasil, percobaan itu membawa perkembangan dalam dunia kimia.

Kebudayaan dalam bidang arsitektur mengambil bentuk masjid-masjid yang indah dan megah dengan menaranya yang menjulang ke langit. Masjid-masjd demikian masih bisa dilihat di Istambul, Kairo, Delhi, Isfahan dan kota-kota Islam lainnya. Di Spanyol masih dapat dijumpai masjid-masjid yang indah dan megah demikian, tetapi tidak digunakan untuk beribadah. Disamping masjid-masjid, benteng-benteng pertahanan dan istana-istana indah masih dapat dilihat sekarang di berbagai ibu kota dunia Islam zaman lampau.

Peradaban dalam bidang seni mengambil bentuk kaligrafi dan seni lukis. Namun di dunia Sunni, seni lukis manusia agak dijauhi, demikian juga membuat patung manusia, karena kekhawatiran akan disembah orang yang tidak kuat tauhidnya. Di dunia Syi’ah, menggambar manusia dalam seni lukis tidak menjadi masalah.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa pada zaman klasik Islam, kebudayaan Islam mengambil bentuk yang tinggi, sebagaimana nyata dari perkembangan filsafat, sains, arsitektur dan seni lukis. Peradaban Islam pada zaman itu memiliki kemajuan yang tiada taranya di dunia. Eropa pada waktu itu masih berada dalam zaman kegelapan[4].

Penggambaran paling menarik diuangkapkan oleh sejarawan Islam, Sha’id al-Andalusi dalam kitabnya, Thabaqat al-Umam (Tingkat-tingkat Bangsa-bangsa). Sha’id menulis:

“...adapun selain kategori bangsa-bangsa ini yang tidak pernah mengembangkan ilmu pengetahuan, mereka itu lebih mirip binatang daripada manusia. Di antara mereka yang hidup jauh di Utara—yaitu antara ujung iklim ketujuh dan batas-batas dunia yang bisa dihuni manusia—begitu besar terpengaruh oleh jarak matahari yang amat jauh dari azimut di atas kepala mereka, yang menghasilkan iklim dingin dan udara yang pekat, sehingga watak mereka itu menjadi dingin dan jasmani mereka kasar. Akibatnya, badan mereka menjadi besar-besar, warna kulit mereka pucat dan rambut mereka panjang (berewok). Dikarenakan hal yang sama, mereka kurang tajam dalam kecerdasan dan daya paham, serta bercirikan kebodohan dan kedunguan. Ketololan dan kebutaan mental juga sangat umum terdapat pada bangsa-bangsa Slavia, Bulgaria dan bangsa-bangsa sekitarnya.”[5]

Demikian Sha’id memberi pemaparan yang terkesan “menghina”. Namun, memang demikian keadaan bangsa Barat saat itu. Dan ini merupakan salah satu sebab mengapa penguasa Muslim Spanyol tidak pernah dengan sungguh-sungguh mencoba lagi menyeberangi pegunungan Pyrene untuk menaklukkan Perancis yaitu karena persepsi tadi, bahwa daerah-daerah di sebelah utara itu terlalu dingin dan tidak cocok untuk mengembangkan peradaban.

Adikuasa Sosial, Budaya dan Sains: Mengenang Andalusia

Peradaban Islam yang terdapat di Zaman Klasik Islam (650-1250 M) sangat menarik bagi umat non-Islam pada masa itu. Penulis-penulis sejarah menerangkan bahwa bangsa Eropa yang menjadi penduduk asli dari Andalusia (Spanyol Islam), dan yang pada umumnya tetap berpegang pada agama Kristen, banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam. Begitu besar pengaruhnya, sehingga dalam hidup sehari-hari mereka memakai bahasa Arab, pakaian Arab dan adat istiadat Arab. Mereka bersekolah di perguruan-perguruan Arab. Bahasa Arab dikenal dan dipakai di kalangan mereka, bukan hanya sebagai bahasa harian, tetapi juga sebagai bahasa ilmiah. Huruf yang mereka ketahui pun adalah huruf Arab yang mereka gunakan untuk menulis dalam bahasa Arab dan bahasa Latin.

Di antara raja-raja Spanyol sendiri terdapat raja yang tidak pandai menulis kecuali dengan huruf Arab, seperti raja Aragon, Peter I (wafat 1104 M). Orang-orang Spanyol Kristen, terpesona pada peradaban Islam yang gemilang serta sadar atas kerendahan mereka dalam seni, sastra, filsafat dan ilmu pengetahuan, dan mereka segera mencontoh Arab dalam cara hidup mereka. Kepada mereka diberi nama al-Musta’ribun yang dalam bahasa Eropanya berubah menjadi Morazeb.

Beberapa wilayah Andalusia yang lepas dari kekuasaan Islam, untuk beberapa abad masih tetap berada dalam pengaruh peradaban Islam. Toledo, sungguhpun sudah dapat dikuasai kembali oleh Alfonso VI pada tahun 1085 M, selama dua abad masih terus memakai bahasa Arab sebagai bahasa hukum dan bahasa dagang, dan uang dicetak oleh Alfonso dengan memakai tulisan Arab. Untuk keperluan keagamaan bagi golongan al-Musta’ribun, Al-Kitab telah mulai diterjemahkan pada tahun 724 M oleh uskup Johan dari Seville dan kemudian di tahun 946 M disempurnakan oleh Isaac Velasques dari Cordova.

Di pulau Sisilia keadaannya sama. Dahulu, pada abad ke-9 M, pulau ini menjadi daerah Islam di bawah pemerintahaan dinasti Aghlabi yang berpusat di Tunisia. Sewaktu kekuasaan dinasti Fatimi meningkat, Sisilia masuk ke dalam wilayahnya. Pada abad ke-11, pulau itu kembali menjadi daerah Kristen atas usaha raja Normandia, Roger I. Karena tertarik kepada peradaban Islam yang ia jumpai disana, raja Roger mencurahkan perhatian besar pada ilmu pengetahuan. Istananya menjadi tempat pertemuan para filsuf, dokter-dokter dan ahli-ahli Islam lainnya dalam sains. Untuk membantunya dalam soal pemerintahan, Roger I memakai pembesar-pembesar beragama Islam. Perlu disebutkan, pada saat yang sama, para pembesar muslim juga banyak “dipakai” oleh dinasti Yuan di China, karena mereka adalah kolonial Mongol yang tidak berperadaban.

Roger II, putra Roger I, ternyata lebih banyak dipengaruhi oleh peradaban Islam zaman klasik itu. Pakaian kebesaran yang dipilihnya adalah pakaian Arab. Gerejanya ia hiasi dengan ukiran dan tulisan-tulisan Arab. Wanita Kristen Sisilia, meniru saudaranya wanita Islam dalam soal mode pakaian[6]. Artinya, jilbab yang menutupi aurat adalah sebuah mode yang sangat umum dan nge-trend pada saat itu, sebagaimana bikini dan you can see adalah mode yang diikuti banyak wanita untuk jaman “modern” sekarang.

Peradaban Islam zaman klasik itu menarik, bukan hanya bagi bangsa Eropa yang berada di daerah atau bekas daerah Islam, tetapi juga bagi orang Eropa di luar daerah itu. Penuntut ilmu dari Inggris, Perancis, Jerman dan Italia datang belajar ke perguruan dan universitas yang ada di Andalusia dan Sisilia. Di antaranya terdapat pemuka-pemuka agama Kristen, seperti seperti Gerbert d’Aurillac yang pergi belajar di Andalusia dan yang kemudian menjadi Paus di Roma dari tahun 990 sampai 1003 M dengan nama Sylvester II. Juga Adelard dari Bath (1107 –1135 M) pergi belajar di Andalusia dan Sisilia. Setelah kembali ke Inggris ia diangkat menjadi guru bagi Pangeran Henry yang kemudian menjadi Raja Henry II. Ia menjadi salah satu penerjemah buku-buku Arab ke dalam bahasa Latin.

Akan kemanakah umat Islam sekarang?

Kekhalifahan memang sudah runtuh, secara politik, umat Islam sudah tidak memiliki institusi “negara dunia” seperti dahulu, tepatnya semenjak Mustafa Kamal menyabot Sultan Hamid II, khalifah terakhir Turki Utsmani, pada tahun 1924[7]. Maka, sebuah muhasabah hendaknya kita lakukan sekarang, saat dunia Islam terpuruk secara sosial-politik dan peradaban. Jika mungkin perang peradaban seperti yang diisyaratkan oleh Samuel Huntington itu benar, maka hal itu merupakan sebuah indikasi bahwa Islam sedang menjadi “ancaman” baru bagi peradaban Islam. Islam diindikasikan tengah bangkit untuk merebut kembali tongkat estafet kepemimpinan dunia. Apa saja langkah yang harus dilakukan?

Dalam lapangan paradigma ilmiah intelektual, Isma’il Raji al-Faruqi telah mengawali sebuah proyek besar, yaitu Islamization of Scince (Islamisasi Pengetahuan). Menyadari kondisi sains yang dikembangkan di dunia saat ini sangat bernuansa kapitalistik dan materialistis, akhirnya berimbas pada konklusi akhir, teori, konsepsi dan segala pendekatan ilmiah yang materialistis pula. Maka proyek Islamisasi pengetahuan adalah sebuah langkah awal untuk membentuk paradigma muslim kaffah, yaitu yang memandang segala fenomena di dunia sebagai fenomena tauhidulLah. Di wilayah ini pula Harun Yahya (atau Adnan Okhtar) melakukan jihad-nya, yaitu merintis pemahaman sains Islami yang membongkar segala kepalsuan dogma ilmiah Barat, salah satunya teori evolusi.

Ekonomi Islam juga sudah mulai bangkit. Hal ini ditengarai dengan maraknya Bait al-Mal wa al-Tamwil (BMT) berdiri di masyarakat. Banyak bank-bank konvensional yang mulai mengakui keunggulan sistem musyarakah dan mudharabah yang dipakai dalam bank Islam. Terbukti saat inflasi besar-besaran melanda Indonesia, bank-Islam tetap eksis dan tidak terkena likuidasi.

Dalam lapangan politik kenegaraan, kebangkitan tatanan Islam (al-nudzum al-Islami) sudah dirintis oleh FIS di Aljazair, Refah di Turki, Hasan al-Turabi di Sudan, Rasyid al-Ghanusi dan semua pejuang muslim yang bergerak di lapangan politik struktural. Penyatuan dunia di bawah kekhilafahan mungkin sebuah utopia, namun mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari.[]

Marâji’

al-Andalusi, Sha’id. Kitab Thabaqat al-Umam, ed. L. Cheiko (Beirut: al-Mathba’at al-Katsulikiyah, 1912)

al-‘Aqiqi, Najib, al-Mustasyriqun (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1965)

Esposito, John L. Islam dan Politik, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990)

Hitti, Phillip K., History of the Arabs (London: MacMillan, 1964)

Madjid, Nurcholish, Dr. Kaki Langit Paradaban Islam (Jakarta: Paramadina, 1997)

Nasution, Harun, Prof. Dr., Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran, (Bandung: Mizan, 1995)

Shiddiqi, Nourouzzaman, Drs. MA. Tamaddun Muslim, Bunga Rampai Kebudayaan Muslim (Jakarta: Bulan Bintang, 1986)

‘Uwais, Abdul Halim, Dr. Analisa Runtuhnya Daulah-daulah Islam (Solo: Pustaka Mantiq, 1990)

von Grunebaum, Gustave E. (ed.), Islam Kesatuan dalam Keragaman, terj. Effendi N. Yahya (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Lembaga Studia Islamika, 1983)

=========================================
Tulisan ini sudah saya buat sekitar dua tahun yang lalu. Jika tidak salah, ketika akan diskusi dengan kawan-kawan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dalam wadah Rausyan Fikr yang dikoordinir almarhumah Ratu Nuriyah. Pertama, saya ingin mengenang kawan dekat saya yang sudah mendahului kita itu. Kedua, sebentar lagi Idul Fitri datang. Jika itu hari kemenangan, maka mengetahui sejarah adalah mutlak untuk mencari peta jalan kemenangan secara peradaban itu
=========================================

[1] John L. Esposito, Islam dan Politik, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990) hlm. 3.

[2] Prof. Dr. Harun Nasution, Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran, (Bandung: Mizan, 1995) hlm. 101-102.

[3] Nourouzzaman Shiddiqi, Tamaddun Muslim, Bunga Rampai Kebudayaan Muslim (Jakarta: Bulan Bintang, 1986) hlm.133.

[4] Nasution, Islam, hlm 96-97.

[5] Sha’id al-Andalusi, Kitab Thabaqat al-Umam, ed. L. Cheiko (Beirut: al-Mathba’at al-Katsulikiyah, 1912), sebagaimana dikutip dari Dr. Nurcholish Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam (Jakarta: Paramadina, 1997) hlm. 10.

[6] Data-data ini banyak disebut dalam buku Phillip K. Hitti, History of the Arabs (London: MacMillan, 1964), juga Najib al-‘Aqiqi, al-Mustasyriqun (Kairo: Dar al-Ma’arif, 1965), sebagaimana dikutip dari Harun Nasution “Sekapur Sirih” dalam Gustave E. von Grunebaum (ed.), Islam Kesatuan dalam Keragaman, terj. Effendi N. Yahya (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Lembaga Studia Islamika, 1983) hlm xi-xiii

[7] Sebelum Utsmani, dalam dunia Islam terdapat banyak dinasti-dinasti kecil, yang di antaranya berposisi sebagai buffer-state (negara penyangga), yaitu semacam kerajaan otonom di bawah Abbasiyyah. Namun, dalam perjalanan sejarah, satu persatu terkalahkan oleh kolonialisasi Barat dan sebab internal. Mengenai keruntuhan daulah-daulah ini, lihat Dr. Abdul Halim ‘Uwais, Analisa Runtuhnya Daulah-daulah Islam (Solo: Pustaka Mantiq, 1990)

2 comments:

  1. salam,

    1. tulisanmu apologetik banget min.
    2. aku mulai bertanya-tanya: kapan sih sebenarnya islam mencapai zaman keemasan? apa parameternya? kekuasaan politik? kemajuan ilmiyah? kesejahteraan ekonomi?
    3. ikhwan al safa itu bukannya para filosof ya? kok di makalahmu ahli ilmu hewan?
    4. menurutku abbasiyah bukan menerapkan otonomi daerah, tapi memang kekuasaan raja keropos sehingga dia cuma simbol persatuan politik umat saja.
    5. soal bank syariah. menurutku kurang tepat menganggap bank syariah tangguh menghadapi krisis karena dia berdasarkan syariah. bertahannya dia tergantung kemampuan dia beradaptasi dengan pasar. adalah berisiko pandanganmu itu. coba kalau bank islam pada kolaps, apa kita mau menyalahkan syariah sebagai sandarannya?

    bowo s

    ReplyDelete
  2. dalam logika sejarah,,hanya ada dua bentuk kemajuan peradaban manusia: KEBUDAYAAN PEMIKIRAN dan PENINGGALANYA.

    ReplyDelete