Monday, October 8, 2007

Bendera

Anak kecil itu. Berdiri di sela bebatuan—atau tepatnya reruntuhan sebuah bangunan tua. Celana jins kumal melekat di kaki, dipadu dengan sweater coklat tua. Tas ransel kecil menggantung di pungungnya. Mulutnya terbuka, meneriakkan sesuatu. Tangannya memegang erat sebatang kayu. Di ujung tongkatnya itu, bendera hitam-putih-hijau-segitiga merah di ujungnya berkibar-kibar. Bendera Palestina.

Saya menyaksikan sebuah fragmen yang belum pernah saya jumpai di negeri ini. Anak kecil yang memegang bendera sebuah negara—yang belum diakui secara internasional—dengan kecintaan besar. Wajahnya mengguratkan hal itu. Patriotisme dan nasionalisme memang tidak perlu didiskusikan di Palestina. Mereka sudah cukup kenyang dengan segala pengalaman.

Nasionalisme dan patriotisme adalah efek belaka dari wafatnya sang anak, kakak ibu atau ayah tercinta. Bom Israel meluluhlantakkan seluruh asa dan masa depan. Tapi, bukan putus asa dan keacuhan yang lahir. Justru cinta akan negara dan isinya meledak-ledak. Karena mengibarkan bendera adalah urusan kedaulatan, urusan kebebasan untuk hidup dan mereguk udara. Bendera adalah simbol kemerdekaan.

Pemuda Muhammad Toha yang meledakkan bangunan—bersama dirinya—gudang amunisi Belanda di Bandung. Seluruh pemuda yang meneriakkan “Allahu Akbar!” di Surabaya tempo doeloe bersama Bung Tomo untuk merobek warna biru dari bendera Belanda—dan meninggalkan cukup dua warna: merah putih Indonesia. Seluruhnya adalah potret perjuangan akan tanah air. Maka, siapa yang bilang kaum Muslim tidak nasionalis, saya yakin dia buta mata, hati dan telinga!

Lihat Palestina kembali. Fragmen itu tidak selesai hingga kini. Masih ada darah dan air mata tertumpah. Anak kecil di sekitar kita asyik bermain pasir atau playstation, di Palestina seusia mereka sudah berfikir tentang kedaulatan negeri. Mereka sudah faham konsekuensi lahir sebagai seorang Palestina dan seorang muslim. Identitas kebangsaan dan stempel keagamaan. Bukan hanya tempelan, tapi menjadi substansi, jiwa, darah dan kesejatian diri. Anak-anak itu, adalah simbol kesadaran dini akan kebenaran.[]

Untuk memperingati al-Quds Day, Ramadhan 1428 H

No comments:

Post a Comment