Wednesday, October 10, 2007

Backpacker’s Rules

Mendaki gunung bukanlah persoalan hukum, yang hitam putih, boleh atau tidak. Naik gunung juga tidak terlalu berkaitan dengan jenis kelamin sang pendaki. Mendaki gunung adalah masalah perasaan. Ketajaman mata hati, kejernihan pikiran dan inspirasi yang berlimpah. Gunung mengajarkan tentang kesejatian makna hidup dan perjuangan mencapai puncak kemenangan.

Gie meninggal di puncak Mahameru dalam usia 27 tahun. Masih sangat muda. Dan dalam kemudaannya dia telah mampu berbuat banyak untuk negerinya. Meskipun secara genetik, dia bermata sipit dan berkulit terang. Sebuah pertanda fisik dia adalah seorang Tionghoa. Gie bisa mengindonesia—salah satunya—karena gunung yang dijelajahinya.

Memiliki kecintaan terhadap alam: gunung, sungai, danau, lembah dan segala keelokan nusantara, akan membantu kita memahami Indonesia. Sesungguhnya, di sanalah terletak kesadaran seorang warga nusantara. Pendakian bukan hanya persoalan senang-senang, hobby, atau killing the time. Setiap posko yang dilalui mrupakan pertanda bagi sebuah pencapaian kesadaran.

Karena itu, janganlah melarang siapapun untuk menikmati negerinya. Bagi yang menelanjangi setiap lekuk gunung di nusantara ini, juga jangan hanya karena superioritas belaka. Atau bahkan hanya karena membunuh kebosanan. Jadikan gunung alat introspeksi permasalahn bangsa. Muhammad [shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wasallam] juga mendaki Hira untuk merefleksi persoalan ummatnya. Itu jika kita ingin meneladani manusia paripurna.

***

Ada peraturan tersendiri bagi para pendaki gunung. Ada semacam konsepsi tak tertulis bagi para petualang. Menjadi penjelajah berarti menyiapkan sisi fisik dan mental untuk menjadi kuat dan tahan goncangan. Bertemu dengan berbagai rintangan adalah biasa, menjumpai halangan adalah biasa. Karang terjal menjadi tempat pendakian yang indah.

Saya pikir, setiap orang yang meneguhkan dan memiliki pandangan bahwa kehidupan ini sejatinya perjalanan tanpa ujung, harus mengikuti aturan-aturan yang tertulis di bawah nanti. Ujung sejati dari perjalanan adalah ketika kematian datang. Akhirat pun hanyalah pantulan dari apa saja yang kita jalani dalam petualangan di muka bumi. Akhirat tidak akan ada jika tak ada dunia.

Persis sebagaimana pejalan di tubuh gunung. Setiap bertindak merusak, mengakibatkan mafsadat fi al-ardl (kerusakan di muka bumi), tentu berakibat pada dirinya. Bahkan berakibat pada seluruh manusia.

Baiklah. Berikut ini adalah backpacker’s rules. Refleksikan untuk kehidupan di muka bumi ini.

1. Dilarang keras mengeluh—apalagi cengeng, nanti jadi sayur.
2. Jangan merusak apa pun, apalagi kalo tidak bisa ikut memperbaiki.
3. No sentimentalromantic journey (optional).
4. Di mana pun dirimu singgah, jangan meninggalkan sampah—baik sampah fisik maupun mental.

5. Hanya satu jalan yang tak bisa kita tempuh; hanya tepian langit!

6. Tidak ada sejarahnya meninggalkan teman hanya karena dia tidak bisa mengikuti kekuatan langkahmu.

7. No final destination.

8. Semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru.

9. Take nothing but picture. Leave nothing but footprint. Kill nothing but time!

10. Biasakan berdoa, bahkan bagi kalian yang tak percaya Tuhan sekalipun.

11. Jangan pernah menyakiti siapa pun yang kau temui di perjalanan, karena dunia betul-betul selebar daun kelor. Suatu hari kau mungkin akan bertemu dengannya lagi di belahan bumi lain.

12. Kerendahan hati adalah mutlak, karena kita hanya sebutir debu di bumi-Nya ini. Kesombongan adalah kegagalan menjadi manusia

Terakhir: Selalu yakin, matahari tenggelam masih jauh.[]
Thanks to: Anak Hutan UGM [Lina, Umay, Danan, Bowo, Een], Pendaki KAMMI [Desah, Ade, Nilam, Salim-un, Indra]. Masih banyak gunung belum terdaki, kawan.

No comments:

Post a Comment