Saturday, September 29, 2007

Teknologi dan Efisiensi Beragama

Bagaimana pendapat anda misalnya, seorang khatib Jumat menggunakan multimedia dalam menyampaikan materi khutbahnya? Saya yakin ada yang setuju ada pula yang menolaknya. Saat mengikuti Jumatan kemarin, tiba-tiba terfikir oleh saya akan pertanyaan ini. Gagasan yang saya pikir cukup menarik untuk didiskusikan.

Ada yang mendasari hal ini. Fenomena banyaknya jamaah sholat yang memilih untuk tidur ketika khatib mulai naik mimbar. Saya belum pernah melakukan survei, namun saya yakin bahwa hanya sedikit dari jamaah sholat yang menangkap maksud dari khatib. Rasanya sia-sia jika sang khatib yang sudah mempersiapkan materi, menyampaikannya dengan suara yang menggelegar, dan hanya didengarkan sedikit orang.

Godaan syetan. Mungkin itu jawaban yang akan diberikan ketika ditanyakan, ”mengapa tidur saat khutbah?” Terlepas dari faktor itu, setidaknya perlu ada upaya agar kengantukan dapat diantisipasi. Salah satunya adalah dengan penggunaan multi media. Saya membayangkan di sebuah masjid disediakan perangkat berupa LCD, laptop ditunjang dengan sound system yang memadai. Seorang khatib bisa menampilkan slide berupa powerpoint yang memuat intisari khutbah. Sehingga jamaah tidak mengalami kebosanan yang mengantarkan pada ngantuk itu.

Selanjutnya, diadakan dialog selepas khutbah disampaikan. Bukankah dulu Rasulullah juga—dalam sebuah riwayat—diceritakan melakukan tanya jawab dengan para sahabat yang menjadi jamaahnya? Saya kira, langkah ini bukan merupakan sebuah bid’ah. Modifikasi penyampaian dakwah saja. Jadi, ini masalah metodologi, tidak menyentuh pada substansi khutbah sebagai bagian dari ibadah yang harus sesuai dengan sunnah Rasulullah.

***

Membenturkan modernitas dengan kesalehan religius adalah sesuatu yang konyol. Modernitas sangat mendukung proses menjadi religius. Sebuah kemajuan teknologi akan memiliki andil sangat bagus bagi kenaikan intensitas beragama. Misalnya ditemukannya alat penghitung dzikir seperti stopwatch itu.

Bagi mayoritas masyarakat di sekitar saya—yang secara keberagamaan mengikuti cara tradisional—tasbih merupakan sebuah alat yang sangat urgen dalam proses dzikrullah. Jumlah hitungan istighfar, hamdalah, takbir dan tahlil akan bisa dipastikan jumlahnya jika menggunakan alat bantu. Dan sekarang, tasbih sudah tergantikan dengan ceklekan model stopwatch yang sering ditenteng guru olahraga itu.

Saya cukup terusik ketika seorang sahabat dengan sangat mudahnya membid’ahkan sebuah teknologi. Adaptasi pola keberagamaan menjadi niscaya ketika sebuah alat digunakan dalam ritus keagamaan. Yang menjadi syarat utama asalkan, hal-hal yang fundamental atau katakanlah tsawabit (baku) dan merupakan bagian dari keabsahan beribadah, tidak dilanggar. []

3 comments:

  1. ide yg orisinal dan menarik, dan layak untuk didskusikan. jum'atan memang sering menjadi ritual yg sangat membosankan dan membuat mata mengantuk berat.

    meski saya tidak yakin bahwa ide ini bisa diterima di kalangan yg luas; namun mengapa tidak dicoba di mesjid yg mayoritas orangnya dari kalangan berpendidikan yg berpikiran luas, di LIPI misalnya?

    ReplyDelete
  2. terima kasih sharing info/ilmunya...
    saya membuat tulisan tentang "Tidur Ketika Khutbah Jum‘at, Mengapa?!"
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    ReplyDelete
  3. terima kasih sharing info/ilmunya...
    saya membuat tulisan tentang "Bagaimana Menjadi Khatib Efektif?"
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/bagaimana-menjadi-khatib-efektif-1-of-2.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    ReplyDelete