Tuesday, August 14, 2007

Merdeka Ketika Bertauhid

Setiap orang tentu memiliki definisi yang berbeda-beda tentang makna kemerdekaan. Ada yang mengatakan kemerdekaan identik dengan kemandirian, yaitu keterlepasan dari segala ketergantungan (dependent) terhadap sesuatu. Berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), kata Bung Karno. Sementara yang lain mengatakan merdeka adalah kebebasan (freedom) untuk melakukan segala sesuatu sesuai kehendak hati nurani. Bebas mengekspresikan diri, bebas mengurus keperluan diri sendiri.

Kata ‘merdeka’ merupakan serapan dari bahasa Sansekerta mahardhika, dalam bahasa Arab kita kenal kata daulat dan dalam bahasa Inggris adalah independent. Sementara itu, rujukan resmi segala definisi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, menjelaskan kata ‘merdeka’ yang artinya “bebas dari penghambaan, penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa.”

Dalam konteks kemerdekaan sekarang ini, perlu kita maknai kembali kemerdekaan hakiki. Karena pemaknaan yang salah akan mengantarkan kepada tindakan yang salah pula. Goenawan Mohamad (1999) dalam Catatan Pinggir-nya pernah mengatakan bahwa orang ingin merdeka karena ia tahu apa artinya tidak merdeka. Tidak merdeka berarti: tiap saat siap ditempeleng, dilucuti, dibentak-bentak, diusir, dihina, diserobot, didiskriminasi, dilempar ke dalam sel, dan/atau dibunuh. Anehnya, retorika Agustusan yang sekarang sering terdengar tidak banyak bicara soal kesakitan itu. Justru sering terdengar kata “mengisi kemerdekaan”, seakan kemerdekaan adalah “sebuah ruang kantor yang kosong, yang necis, gratis dan tinggal diberi perabotan.”

Kastorius Sinaga (2006) mengatakan bahwa ‘merdeka’ adalah sebuah kata sifat bernuansa imperatif yang menuntut proses kerja dan aksi yang tiada henti. Karenanya pula, kemerdekaan, sebagai kata benda yang merupakan hasil dari proses tersebut, dengan sendirinya akan bersifat relatif dan selalu terbuka untuk diukur sesuai dengan konteks sosial politik berikut nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Karena relativitasnya itulah, kadang kita tidak sadar bahwa ternyata belum merdeka. Lalu, merdeka yang hakiki itu seperti apa?

Cukup menarik kiranya, jika kita menelisik definisi ‘merdeka’ dalam kamus Islam. Sejatinya ada definisi yang khas yang berkaitan dengan Islam tentang kemerdekaan ini. Dalam Islam, disebut merdeka ketika dia menjadi tunduk. Sepertinya memang sebuah ambiguitas, di satu sisi Islam mengajarkan prinsip-prinsip penghambaan mutlak. Di sisi lain, ia membebaskan manusia dari segala belenggu penjajahan.

Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam (artinya, tunduk atau patuh) selain yaslamu salaam (yang berarti selamat, sejahtera atau damai). Menurut bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian: islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah—QS. 4: 125), istislama (tunduk secara total kepada Allah—QS. 3:83), salaamah atau saliim (suci dan bersih—QS. 26: 89), salaam (selamat sejahtera—QS. 6: 54), dan silm (tenang dan damai—QS. 47: 35).

Dalam Islam, kemerdekaan adalah ketundukan total kepada kuasa Ilahi. Ketika seorang muslim terbebas dari seluruh gangguan syetan dan hawa nafsu, lalu mengembalikan seluruhnya kepada aturan Allah, di sanalah muncul kemerdekaan. Mengembalikan pada prinsip tauhid sebagai hakikat kemerdekaan sejati. Bahkan seorang muwahhid (yang bertauhid), dia terbebas dari belenggu hawa nafsunya sendiri. Ini adalah power yang dahsyat. Dengan kekuatan ini dua imperium besar, Parsi dan Romawi, ditundukkan di awal sejarah Islam.

Ketika perang Qadisiyah, Sa’ad bin Abi Waqqash memerintahkan Rab’i bin Amir untuk menghadap Rustum, panglima perang Persia. Rustum bertanya kepada Rab’i tentang tujuan kedatangan pasukan Islam ke wilayahnya. Dengan lantang Rab’i menjawab dan jawabannya itu kemudian dicatat dengan tinta emas oleh sejarah.

“Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesamanya kepada penghambaan kepada Allah Yang Mahaesa dan Perkasa, dan dari dunia yang sempit menuju dunia yang luas, serta dari kesewenang-wenangan agama kepada keadilan Islam.”

Dari pemaparan di atas, tentu kita pun harus kembali memaknai apa sebenarnya kemerdekaan itu. Islam memiliki konsep kemerdekaan yang lebih baik. Manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi dan dengan dakwah tauhidnya yang akan menyadarkan, membebaskan, dan memerdekakan manusia dari penghambaan kepada manusia lain dan materi menuju penghambaan yang sejati yaitu kepada Allah yang Maha Pencipta, dengan mengajak kepada kebenaran, menegakkan keadilan, dan mencegah kebatilan dengan cara yang makruf.

Sehingga sejatinya, merdeka bermakna membebaskan diri dari penghambaan selain kepada Allah. Jika konsep ini berjalan dengan benar, maka kita tidak akan menjumpai lagi bentuk-bentuk penjajahan implisit yang kulitnya menawarkan kemakmuran padahal sejatinya menghancurkan sisi kemanusiaan seseorang.

Terakhir, yang harus diingat adalah kita disebut merdeka ketika sudah bisa melepaskan diri dari belenggu duniawi, kehausan akan kekuasaan, syahwat politik dan kursi basah. Meletakkan seluruh harta, tahta dan asmara di tangan saja dan bukan dalam hati. Cukup Allah yang bertahta dalam hati kita. Maka, kita menjadi merdeka.[]

No comments:

Post a Comment