Thursday, July 5, 2007

Kajian di Minamas

Hari Rabu kemarin, saya membersamai para karyawan di PT Minamas melakukan kajian Islam. Minamas adalah sebuah perusahaan kelapa sawit yang sangat besar. Untuk kantor yang di Banjarmasin, mengkoordinir kebun-kebun yang ada di Kalimantan dan Sulawesi.

untuk kantor Banjarmasin (terletak di Km 22 menuju Landasan Ulin), sudah bisa diadakan kajian keislaman setiap hari Rabu siang. Di tengah padatnya aktivitas kerja, mereka menyempatkan waktu untuk ngaji juga. Jam yang harusnya dialokasi untuk istirahat digunakan separuhnya untuk mendengarkan para ustadz memaparkan Islam.

Saya tidak menjadi ustadz kemarin, hanya membersamai nonton film. Menurut pengelolanya, Pak Hilmi Hasan, agar tidak terjadi kejenuhan sekali-kali diselingi dengan nonton film bareng. Nah, film yang ditonton itu adalah "Hingga Batu Bicara" yang menggambarkan 40 tahun penjajahan Israel di Palestina. Tanggal 16 Juni kemarin, sudah sempat saya bedah bersama teman2, sekarang kita mengulas lagi tentang Palesina. Berbeda dengan kemarin, audiens kali ini adalah para karyawan Minamas yang beragam latar belakang pendidikannya.

Saya hanya berfikir, forum seperti ini cukup bagus untuk memberi masukan intelektual dan juga spiritual. Karyawan perusahaan sawit yang terbiasa dengan rutinitas kerja, sesekali harus berfikir tentang Palestina. Jelas, pesan yang ingin kami sampaikan bukanlah terorisme. Biasanya jika bicara "bom bunuh diri", di masyarakat masih dianggap bagian dari radikalisme dan teroris. Maka saya berusaha keras, memaparkan bahwa sesungguhnya Palestina adalah bentuk nyata korban terorisme negara (state terorism) yang dilakukan oleh Israel dan Amerika. Meledakkan diri di depan publik Israel, adalah perjuangan yang sama sekali tidak bisa disalahkan. Karena tak ada bahasa yang bisa dipahami Israel, kecuali kematian dan bom.

Milik Malaysia

Sepulang dari kajian itu, saya diantar oleh Pak Hilmi. Dalam perjalanan, akuntan Minamas itu bercerita cukup banyak. Ternyata, Minamas sekarang sahamnya dimiliki seluruhnya oleh pengusaha Malaysia. Sebelumnya milik Salim Group, setelah bangkrut, lalu dibeli seluruhnya oleh negeri jiran itu.

Trenyuh. Itu yang saya rasakan. Tanah milik kita, bibit milik kita, bahkan penanamnya adalah orang kita sendiri. Tapi, hasil seluruhnya dinikmati oleh ekspatriat negara lain. Apa makna kemerdekaan yang sesungguhnya. Setiap mendengar penguasaan aset oleh negeri asing seperti ini, selalu saya merasakan tidak ada artinya proklamasi itu. Lha, itu kekayaan diambil orang, gimana mau merdeka?

Pegawai dan karyawan di sana sebetulnya hanyalah kuli saja. Bekerja untuk orang lain. Mungkin sudah saatnya para pekerja itu keluar, membeli tanah sendiri dan menanaminya. Agar hasilnya bisa dinikmati oleh bangsa sendiri. Borneo yang menyesakkan dada. Setiap saya ke pedalaman menengok pegunungan Meratus yang kian gundul dibabat penjarah kayu. Setiap saya melihat pegunungan yang tergerus oleh alat berat, karena mengandung emas hitam, batu bara. Mereka tampak sangat rakus menghisap nikmat pemberian Tuhan itu.[]

No comments:

Post a Comment