Wednesday, July 11, 2007

Islam, KAMMI dan Perubahan Sosial

“…janganlah sekali-kali kau memetik buah sebelum matang…”[1]
----Michael ayah Iyasu

Allah SWT menurunkan wahyu kepada umat manusia melalui nabi-Nya guna menciptakan, merencanakan dan mengarahkan semua urusan alam dan manusia menurut kehendak-Nya. Secara teologis, ini berarti bahwa Allah SWT adalah sumber segala kekuatan, pengetahuan, kebijaksanaan, keadilan dan kasih sayang. Wahyu berarti suatu cara yang diajarkan kepada nabi-Nya untuk memahami dan mengubah realitas dalam sejarah keselamatan manusia.

Apabila nabi Adam berjuang menentang kebodohan dan kezaliman, Hud menentang orang-orang yang arogan (mustakbarîn), Saleh memperjuangkan kesetaraan, Ibrahim menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan dengan purifikasi tauhid, Syu’aib as melawan ketidakadilan ekonomi, Musa membebaskan kaum buruh, Isa memimpin kaum lemah, maka Muhammad as memperjuangkan berdirinya sebuah tatanan sosial masyarakat yang berdasarkan pada nilai-nilai luhur kebenaran, kesetaraan sosial dan persaudaraan (ukhuwah).

Dan Muhammad berhasil melebarkan sayap dakwahnya. Kesuksesan besar misi Muhammad menimbulkan permusuhan yang semakin hari semakin parah terhadap Nabi dan pengikutnya. Terjadi beberapa kali usaha pembunuhan terhadap Nabi hingga 622 M, setelah perjanjian dibuat dengan para utusan yang dikirim dari Kota Yastrib menuju ke wilayah utara, yaitu Makkah, dengan tuntunan perintah Allah. Nabi pindah ke kota tersebut bersama para pengikutnya.

Perpindahan ini, dinamakan al-hijrah dalam bahasa Arab, merupakan titik awal bagi sejarah Islam yang kemudian berkembang dari sekelompok kecil pengikut menjadi satu bentuk komunitas yang sempurna. Yastrib kemudian terkenal sebagai Madînah Al-Nabî, atau Kota Nabi, dan hingga sekarang kota ini dinamakan Madinah. Di sinilah, masyarakat (al-ummah) Islam yang pertama terbentuk, yang seterusnya menjadi model ideal bagi seluruh masyarakat Islam masa-masa selanjutnya. Sesungguhnya seluruh Rasul telah melakukan sebuah rekayasa perubahan sosial—bahkan dalam beberapa hal—secara revolusioner.

Rekayasa Perubahan Sosial

Adalah sebuah proses perencanaan, pemetaan dan pelaksanaan dalam konteks perubahan struktur dan kultur sebuah basis sosial masyarakat. Perubahan sosial adalah perbedaan antara kondisi sekarang dan kondisi sebelumnya terhadap aspek-aspek dari struktur sosial. Perubahan sosial setidaknya dapat terkait pada beberapa hal sebagai berikut:
• Perkembangan teknologi
• Konflik sosial (antar ras, agama dan kelas—sebagaimana tesis Marx)
• Kebutuhan adaptasi dengan sistem sosial (misal: birokrasi efektif sebagai respon terhadap lingkungan kompetitif.)
• Pengaruh dari idealisme dan ideologi pada aktivitas sosial (sebagaimana tesis Weber: etika Protestan dan kebangkitan kapitalisme).

Selain itu, dalam disiplin sosiologi, terdapat dua pandangan tentang perubahan (change), yaitu: pertama, pandangan materialistik, yang meyakini bahwa tatanan masyarakat sangat ditentukan oleh teknologi atau benda. Marx menyatakan bahwa kincir angin menimbulkan masyarakat feodal; mesin uap menciptakan masyarakat kapitalis-industri. Atau mungkin kita bisa mengatakan bahwa internet akan menimbulkan masyarakat informasi, dst.

Kedua, pandangan idealistik, yang menekankan peranan ide, ideologi [2] atau nilai sebagai faktor yang mempengaruhi perubahan. Dalam pandangan ini, misalnya, Islam sebagai sebuah ideologi dan struktur nilai akan mampu mencipta manusia dan masyarakat ideal.

Bentuk dan Teori Perubahan Sosial

Terdapat tiga bentuk perubahan yang disepakati kalangan ilmuwan sosial: evolusi, revolusi dan reformasi. Evolusi dipahami sebagai bentuk perubahan yang memakan waktu lama. Proses perubahan seperti ini cenderung hanya melingkar di tingkat elite saja dan sedikit sekali mengakomodasikan input dari grass root yang muncul ke permukaan sebagai reaksi atas berbagai kebijakan elit penguasa. Konsekuensi logis dari perubahan model ini akan menempatkan rezim penguasa pada keleluasaan menentukan agenda-agenda perubahan yang ada berdasar “aman atau tidak” bagi kekuasaannya.

Perubahan model ini, biasanya, kurang populer di Dunia Ketiga (the Third World), yang mayoritas adalah berpenduduk muslim, karena perubahan politiknya secara umum masih cukup eksplosif. Tidak perlu tokoh yang kharismatik atau terkenal untuk evolusi, karena semua ditentukan dalam kendali penguasa. Elite penguasa serta pihak-pihak tertentu saja yang bisa terlibat dalam perumusan persoalan yang ada, dan itu bias kepentingan. Figur-figur di luar lingkaran kekuasaan hanya memberikan respons minimal sebatas masukan atau paling maksimal, pressure (tekanan), itupun jika ada kebebasan.

Bentuk kedua adalah revolusi. Perubahan secara cepat ini cukup populer di kalangan gerakan sosial atau aktivis pembebasan. Dalam prosesnya, cara ini cukup beresiko. Bisa jadi dalam prosesnya yang singkat tersebut meminta banyak korban sebagai prasyarat dari proses yang memang cukup reaktif dan terkesan sporadis dari sisi waktu maupun agenda-agenda yang dilakukan. Hasil dari cara ini dapat dilihat dengan cepat, karena secara umum bertujuan pada perubahan politik, khususnya perubahan tampuk kekuasaan.

Revolusi Islam [3] sebagai metode perubahan adalah sebuah tawaran yang telah pernah diaplikasikan dalam lapangan kenegaraan di Iran di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomeini (1977), Mesir oleh Ikhwanul Muslimin bersama Nasser (1952) dan beberapa negara Arab lainnya, baik memenuhi standar teori Barat maupun tidak.

Sedangkan reformasi didefinisikan sebagai sebuah bentuk perubahan yang gradual dan parsial. Tidak terlalu cepat, namun juga tidak lambat. Reformasi merupakan bentuk kompromi antara evolusi dan revolusi. Reformasi atau pembaharuan (perubahan yang signifikan atas hal yang dianggap menyimpang), telah berlangsung di berbagai belahan dunia sejak zaman Renaissance abad ke-15 Masehi. Berawal di Jerman dengan pemikiran Martin Luther King, yang menggugat penyimpangan ajaran Kristiani, berlanjut pada pemikiran Thomas Hobbes tentang State of Nature-nya di Inggris, John Locke, Rousseau hingga pemikiran demokrasi modern-nya Robert A Dahl, berintikan pentingnya moralitas pemimpin untuk menjalankan demokrasi. Demokrasi tidak saja berarti kekuasaan di tangan rakyat, namun juga desakralisasi pemimpin yang dibatasi aturan konstitusi dan diawasi oleh lembaga lain dimana rakyat memiliki hak atas mandat pemimpinnya. [4]

Gerakan reformasi acapkali terjadi, manakala seorang pemimpin berlaku korup dan manipulatif, sehingga diperlukan langkah-langkah politik yang berarti dari rakyat untuk melakukan perbaikan. Atau, bila rakyat merasakan adanya kekurangan dalam sistem konstitusi yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Dengan kedua alasan inilah, apa yang terjadi di Korea Selatan dengan Up-rising in Kwangju tahun 1986, di Cina dengan tragedi Tiananmen 1989, dan penggulingan $oeharto di Indonesia tahun 1998, merupakan gerakan reformasi yang berdampak pada penyelenggaraan negara.

Strategi Perubahan Sosial Islam

Jika bentuk dan teori perubahan sosial sudah kita ketahui, maka dalam konteks ini, konsep perubahan sosial menurut Islam seperti apa? Atau, perubahan sosial masyarakat yang islami seperti apa? Evolusi, revolusi ataukah reformasi? Sesungguhnya, hal yang paling utama dan harus dipikirkan adalah apakah proses perubahan itu berada dalam bingkai nilai-nilai Islam.

Ini berarti, cepat atau lambat bukan sebuah soal dalam cara pandang Islam. Dengan meletakkan ridha Allah sebagai tujuan hidup manusia (mardhâtillah), Islam telah dilengkapi dengan standar moral yang tertinggi. Ini membuka cakrawala yang tak terbatas bagi perkembangan moral dan etik manusia dalam komunitas kolektifnya. Secara garis besar, tahapan perubahan sosial masyarakat Islam adalah sebagai berikut:

1. mewujudkan pribadi muslim yang diridhai Allah (bina’ al-fardli al-muslim), yaitu pribadi muslim yang paripurna, yang penuh moralitas iman, Islam, taqwa dan ihsan. [al-Baqarah: 177]
2. mewujudkan rumah tangga dan keluarga Islami (bina’ al-usrah al-islamiyah) yang diridhai Allah, yaitu rumah tangga yang sakinah diliputi mawaddah serta rahmah anugerah ilahi. [ar-Ruum: 21]
3. mewujudkan masyarakat dan lingkungan islami (bina’ al-ijtima’i al-islamiyyah) yang marhamah, yaitu lingkungan yang kondusif dan layak menerima berkah Allah karena warganya yang beriman dan bertaqwa. [al-A’raf: 96]
4. mewujudkan negara (bina’ daulat al-islamiyyah) yang diridhai Allah yaitu baldat yang thayyibah dan diliputi maghfirah Allah. [Saba’: 15]
5. mewujudkan peradaban dunia yang diridhai Allah dengan kepemimpinan Islam atas alam (ustadziyat al-‘alam), yaitu dunia yang hasanah dan berkesinambungan dengan akhirat yang hasanah. [al-Baqarah: 201]

Anasir Perjuangan KAMMI

Sebagai sebuah organ gerakan mahasiswa, KAMMI menempatkan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari umat Islam—sebagai sebuah jama’ah besar di muka bumi dengan ikatan aqidah sebagai kunci. Karena itu, strategi perubahan sosial yang direncanakan KAMMI tidak akan berbeda jauh dengan strategi di atas sebagai kerangka besar. Selanjutnya, dalam tingkatan praksis, KAMMI telah melakukan pembacaan komprehensif berkaitan dengan anasir perjuangan KAMMI [5].

Agar dakwah dapat tumbuh secara berkelanjutan secara seimbang, tetap berada pada orientasi yang benar, mampu mengelola amanah dan masalah, dan terus memiliki kekuatan untuk mewujudkan tujuan-tujuannya, maka KAMMI menyusun dirinya atas unsur-unsur sebagai berikut:
1. qa’idah ijtima’iyah (basis sosial), yaitu lapisan masyarakat yang simpati dan mendukung perjuangan KAMMI yang meliputi masyarakat umum, mahasiswa, organisasi dan lembaga swadaya masyarakat, pers, tokoh, dan lain sebagainya.
2. qa’idah harakiyah (basis operasional), yaitu lapisan kader KAMMI yang bergerak di tengah-tengah masyarakat untuk merealisasikan dan mengeksekusi tugas-tugas dakwah yang telah digariskan KAMMI.
3. qa’idah fikriyah (basis konsep), yaitu kader pemimpin, yang mampu menjadi teladan masyarakat, memiliki kualifikasi keilmuan yang tinggi sesuai bidangnya, yang menjadi guru bagi gerakan, mengislamisasikan ilmu pengetahuan pada bidangnya, dan memelopori penerapan solusi Islam terhadap berbagai segi kehidupan manusia.
4. qa’idah siyasiyah (basis kebijakan), yaitu kader ideolog, pemimpin gerakan yang menentukan arah gerak dakwah KAMMI, berdasarkan situasi dan kondisi yang berkembang.
Keempat unsur tersebut merupakan piramida yang seimbang, harmonis dan kokoh, yang menjamin keberlangsungan gerakan KAMMI.

Khatimah

Perubahan sosial adalah sebuah proses panjang. Penyiapan struktur dan rekonstruksi kultural masyarakat memerlukan waktu yang lama dan tenaga yang tidak sedikit. Posisi KAMMI dalam masyarakat sebagai garda depan perubahan menuntut adanya akselerasi kaderisasi. Ke depan, kader—yang dibesarkan oleh—KAMMI, akan menduduki posisi penting dalam struktur masyarakat. Mereka akan menjadi pioneer dalam proses perubahan masyarakat.

Di wilayah inilah, KAMMI menggebrak dengan Gerakan Intelektual Profetik yaitu gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik [6]. Intelektual profetik adalah proses membangun kesadaran, membentuk paradigma dan menggerakkan secara massif dan organik. Intelektual profetik lahir bukan hanya untuk berwacana atau meneggelamkan diri dalam lautan buku dan diskusi belaka, namun untuk membentuk smart muslim fighter. Siapkah antum? []
===============================================================

[1] Kalimat ini diucapkan oleh Michael, seorang tokoh dalam novel Najib Kailani—sastrawan Ikhwanul Muslimin Mesir yang telah merasakan pedihnya penjara Nasser—yang berjudul Azh-Zhill al-Aswad (Bayang-bayang Hitam). Michael adalah ayah dari Iyasu, kaisar Eithopia sejak tahun 1913. Novel itu berkisah tentang taqiyyah (penyembunyian identitas kemusliman) dari Michael—yang aslinya bernama Muhammad Ali—dan Iyasu, anaknya.
[2] Ideologi dimaksud sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaaan. Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. Lihat dalam Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Yogyakarta: Kanisius, 1992).
[3] Secara bahasa, terdapat dua kata dalam bahasa Arab untuk merujukkan dengan kata revolusi. Pertama, adalah al-tsaurah yang dimaknai sebagai “rangsangan, dorongan, provokasi dan gelora”. Kedua, al-inqilab yang berarti “terbalik, kembali dan jungkir balik”. Jika digabungkan maka, secara istilah, revolusi (al-tsaurah) dimaknai dengan “peristiwa sosial yang dahsyat, menggelorakan perasaan, menjungkirbalikkan tatanan nilai dan lembaga sosial.” Lihat dalam Jalaludin Rahmat, Rekayasa Sosial (Bandung: Rosda Karya).
[4] Yuddy Chrisnandi, Gerakan Mahasiswa: Mengembalikan Ruh Perjuangan Reformasi, makalah yang disampaikan pada “Rembug Mahasiswa & Pemuda se-Indonesia” di Bandung, 12 Februari 2001.
[5] Garis-garis Besar Haluan Organisasi [GBHO] KAMMI 2004-2006, Pasal 8.
[6] Garis-garis Besar Haluan Organisasi [GBHO] KAMMI 2004-2006, Bab VI Pasal 7 Ayat 2 Butir c.

1 comment:

  1. KAMMI menggebrak dengan Gerakan Intelektual Profetik yaitu gerakan yang mempertemukan "NALAR AKAL" dan "NALAR WAHYU" pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik

    Mana yang di dahulukan akhi??
    mungkin KAMMI dan KITA-nya merenung sejenak sejauh mana perjuangan itu tengah berjalan?


    dan misi yang di bawa apakah murni,landasanya tepat... atau hanya jargon kosong dalam wujud pencitraan diri, tepatnya label identitas

    atau jangan-jangan kita tengah berdiri di atas lapisan es dengan beban misi-misi personal mengatasnamakan perjuangan....

    khawatirnya saja kita jika landasan pijak kita tak kuat justru akan jeblos dan tenggelam.. alih-alih retak hingga tenggelam semuannya....

    .....Agar dakwah dapat tumbuh secara berkelanjutan secara seimbang, tetap berada pada "ORIENTASI YANG BENAR", mampu mengelola amanah dan masalah, dan terus memiliki kekuatan untuk mewujudkan tujuan-tujuannya....

    ReplyDelete