Wednesday, July 11, 2007

Ideologi Gerakan KAMMI

Tulisan ini sebetulnya sudah saya susun semenjak empat tahun yang lalu. Tiba-tiba, hari ini saya ingin mem-posting ke blog ini. Rasanya memang perlu untuk menguak khazanah lama. Pikiran ini sebetulnya ingin saya sempurnakan, setelah melihat realitas gerakan mahasiswa yang agak kabur, utamanya setelah demokratisasi mulai bertumbuhan di negeri ini. Tapi tak ada salah jika kita baca lagi.
========================================================================

“Al-Islâmu huwa tahrîr al-nâs min ‘ibâdat al-ibâd ilâ ‘ibâdat al-Rabb!,”
----Sahabat Rabi’

Apa yang disebut ideologi? Menurut Frans Magnis Suseno [1], ideologi dimaksud sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. Ideologi dapat dimengerti sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial, sejarahnya dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan suatu bentuk hubungan kekuasaaan.

Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianutlah yang pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah persoalan dan harus berbuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut.

Ian Adam [2] menjabarkan bahwa yang dimaksud sebagai ideologi adalah ideologi sebagai doktrin yang membimbing tindakan politik, identitas-identitas yang mesti diyakini sebagai “iman” politik, tujuan yang wajib dicapai, alasan yang harus diperjuangkan, dan visi tentang masyarakat terbaik yang niscaya diwujudkan.

Muhammad Ismail [3] menyatakan bahwa ideologi (mabda’) merupakan ‘aqidah ‘aqliyyah yanbatsiqu ‘anha an nidzam, yang berarti: seperangkat kaidah berfikir yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan (nizham). Menurut definisi ini, nampak bahwa sesuatu disebut ideologi bila memiliki dua syarat, yaitu memiliki ‘aqidah ‘aqliyyah sebagai fikrah (ide) dan memiliki sistem (aturan) sebagai thariqah (metode penerapan).

Dalam ilmu-ilmu sosial, dikenal dua pengertian mengenai ideologi, yaitu pengertian secara fungsional dan struktural. Ideologi secara fungsional diartikan sebagai seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama; atau tentang masyarakat dan negara yang dianggap paling baik. Sedangkan dalam pengertian ideologi secara struktural diartikan sebagai sistem pembenaran, seperti gagasan dan formula politik atas setiap kebijakan dan tindakan yang diambil oleh penguasa. Menurut pendekatan struktural konflik, kelas yang memiliki sarana produksi materiil dengan sendirinya memiliki sarana produksi mental seperti gagasan, budaya dan hukum. Gagasan kelas yang berkuasa dimanapun dan kapanpun merupakan hal yang dominan. Gagasan, budaya dan hukum, sadar atau tidak merupakan pembenaran atas kepentingan materiil pihak yang memiliki gagasan yang dominan. Sistem pembenaran ini, disebut ideologi.

Dalam arti fungsional, ideologi secara tipologi digolongkan menjadi dua tipe yaitu doktriner dan pragmatis. Suatu ideologi dapat digolongkan doktriner apabila ajaran-ajaran yang terkandung dalam ideologi itu dirumuskan secara sistematis dan terinci dengan jelas, diindoktrinasikan kepada warga masyarakat, dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh aparat pemerintah atau partai. Komunisme merupakan salah satu contohnya.

Ideologi dapat digolongkan sebagai ideologi pragmatis ketika ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya tidak dirumuskan secara sistematis dan terinci, melainkan dirumuskan secara umum (prinsip-prinsipnya saja). Dalam hal ini, ideologi itu tidak diindoktrinasikan, tetapi disosialisasikan secara fungsional melalui kehidupan keluarga, sistem pendidikan, sistem ekonomi, kehidupan beragama dan sistem politik. Individualisme (liberalisme) merupakan salah satu contoh ideologi pragmatis.

Suatu ideologi untuk dapat terus bertahan ditengah tuntutan aspirasi masyarakat dan perkembangan modernitas dunia, setidaknya harus memiliki tiga dimensi: realitas, idealisme dan fleksibilitas. Ditinjau dari dimensi realitas, ideologi itu mengandung makna bahwa nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya bersumber dari nilai-nilai yang riil hidup di dalam masyarakat, terutama waktu ideologi tersebut lahir, sehingga mereka betul-betul merasakan dan menghayati bahwa nilai-nilai dasar itu adalah milik mereka bersama.

Dilihat dari segi idealisme, suatu ideologi perlu mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam berbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan terakhir dimensi fleksibilitas, artinya perlu ada perkembangan dari ideologi itu untuk mengikuti perkembangan pemikiran baru tanpa kehilangan nilai dasar atau hakikat dari ideologi tersebut. Dimensi fleksibilitas ini hanya mungkin dimiliki secara wajar dan sehat oleh suatu ideologi yang terbuka dan demokratis. Misal di Indonesia, apakah Pancasila sudah memenuhinya ?

Ideologi Besar Dunia

Liberalisme. Mempunyai ciri-ciri: pertama, demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang lebih baik. Kedua, anggota masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasuk kebebasan berbicara, kebebasan beragama dan kebebasan pers. Ketiga, pemerintah hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas. Keputusan yang dibuat hanya sedikit untuk rakyat sehingga rakyat dapat mandiri dalam mengambil keputusan. Keempat, kekuasaan dari seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang buruk. Oleh karena itu, pemerintah dijalankan sedemikian rupa sehingga penyelewengan dapat dicegah. Kelima, suatu masyarakat dikatakan bahagia, jika individunya bahagia. Paham ini dianut oleh Inggris dan koloninya termasuk Amerika.

Konservatisme. Ditandai dengan gejala-gejala: pertama, masyarakat yang terbaik adalah masyarakat yang tertata. Masyarakat harus memiliki struktur (tata) yang stabil hingga setiap orang mengetahui bagaimana cara dia berinteraksi dengan orang lain. Kedua, untuk menciptakan masyarakat yang stabil, perlu dibentuk pemerintahan yang memiliki kekuasaan yang mengikat tapi bertanggung jawab. Paham ini memandang pengaturan yang tepat atas pemerintahan akan menjamin perlakuan yang sma terhadap setiap orang. Ketiga, paham ini menekankan tanggung jawab pada pihak penguasa dalam masyarakat untuk membantu pihak yang lemah.

Sosialisme dan Komunisme. Sosialisme merupakan reaksi terhadap revolusi industri dan eksesnya. Awal sosialisme yang muncul pada bagian pertama abad ke sembilan belas dikenal sebagai sosialisme utopia. Sosialisme ini lebih didasari pada pandangan kemanusiaan (humanitarian) dan meyakini kesempurnaan watak manusia. Penganut paham ini berharap dapat menciptakan masyarakat sosialis dengan penuh argumentasi dan kejelasan, bukan dengan cara revolusi dan kekerasan sebagaimana komunisme. Perbedaan utama dua ideologi ini terletak pada sarana yang digunakan untuk mengubah kapitalisme menjadi sosialisme. Paham sosialis lebih luwes dalam berjuang dan pemberdayaan buruh secara bertahap dan bersedia berperan serta dalam pemerintahan yang belum sepenuhnya sosialis. Sedang komunisme menekankan cara revolusi dan pemerintahan mesti dalam bentuk diktator proletariat walau dalam masa transisi.

Fasisme. Ideologi ini merupakan tipe nasionalisme yang romantis dengan segala kemegahan upacara dan simbol-simbol yang mendukungnya untuk mencapai kebesaran negara. Hal itu, akan dapat dicapai apabila terdapat seorang pemimpin yang kharismatis sebagai simbol kebesaran negara yang didukung oleh massa rakyat. Dukungan massa yang fanatik ini berkat indoktrinasi, slogan-slogan dan simbol yang ditanamkan sang pemimpin besar dan aparatnya. Fasisme pernah diterapkan di Jerman (Hitler), Jepang (Kaisar), Italia (Mussolini) dan Spanyol. Dewasa ini, pemikiran fasisme cenderung muncul sebagai kekuatan reaksioner (right wing) di negara maju, seperti Skin Head dan Ku Kluk Klan di Amerika Serikat yang berusaha mempertahankan supremasi kulit putih [4].

Ideologi dunia demikian beragam. Manakah yang benar? Apakah semua ideologi menjamin terciptanya tatanan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera, seperti yang didambakan oleh setiap anak Adam? Apakah Islam dapat dijadikan ideologi? Sebuah pertanyaan untuk kita semua.

Islam Sebagai Ideologi

Konsep universalitas Islam (syumuliyah) membuatnya jauh lebih besar dari sekedar ‘lembaga agama’ ataupun sekedar semangat spiritual pemeluknya. Ia adalah cara hidup total yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Islam merupakan kesatuan organik dengan pemeluknya. Sebagai sebuah ideologi, Islam telah menjadi sumber inspirasi bagi para penganutnya, terutama saat menghadapi realitas. Ia tidak hanya sekedar sebagai alat untuk merubah atau mempertahankan tatanan sosial, tetapi juga sekaligus menjadi alat analisis terhadap berbagai fakta sosial.

Pada sisi lain, Islam senantiasa mendorong pemeluknya untuk secara terus menerus merealisasikan doktrin keagamaannya dan menganggap realisasi doktrin tersebut sebagai konsekuensi iman. Dalam Islam, iman adalah sebuah keyakinan yang mengandung konsekuensi tindakan (al-imanu huwa al-tashdiqu bi al-qalb, wa al-iqraru bi al-lisan wa al-‘amalu bi al-arkan – iman adalah pembenaran dalam hati, pengikraran secara lisan dan penunaian serta pembuktian dengan tindakan dan perbuatan).

Islam bermakna menyerahkan diri (aslama) pada Allah swt secara penuh hingga membebaskannya dari berbagai macam belenggu kehidupan yang memasung dan merenggut kebebasannya. Ia adalah agama Allah yang terakhir yang dibawa oleh Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia. Islam merupakan agama sempurna yang diridhai Allah (Qs. Al-Maaidah: 3) yang mampu membebaskan manusia dari berbagai belenggu kehidupan, dan mengantarkan manusia untuk hidup penuh damai dan kebahagiaan.

Di wilayah inilah, Islam berposisi sebagai ideologi hidup seorang muslim. Arus ini memahami agama Islam bukan sekedar sebagai keyakinan agama (aqidah diniyyah), tetapi ia adalah aturan sosial (qanuun ijtima’iyyah), petunjuk spiritual (hidayah ruuhiyah) dan ikatan sosial politik (rabithah ijtima’iyah siyasiyah).

Ideologi Gerakan

Inti dari Islam adalah tauhid (laa ilaaha illalLah – Muhammadan rasuululLah), memurnikan penyembahan dan peribadatan hanya untuk Allah swt. Implikasi konkritnya bagi KAMMI merupakan gerakan tauhid dengan dua makna dasarnya: (1) pembebasan (liberation) manusia dari berbagai jenis penyembahan dan mengembalikannya pada tempatnya yang haq: Allah SWT. (2) deklarasi (declaration) tata sosial masyarakat Islami sebagai antitesis tata sosial materialisme jahiliyyah.

Dalam Paradigma Gerakan KAMMI [5], poin pertama disebutkan bahwa KAMMI adalah Gerakan Dakwah Tauhid, syarah yang diberikan adalah sebagai berikut:
a. Gerakan Dakwah Tauhid adalah gerakan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penghambaannya terhadap materi, nalar, dan sesama manusia, dan mengembalikannya pada tempatnya yang sesungguhnya: Allah swt.
b. Gerakan Dakwah Tauhid merupakan gerakan yang menyerukan deklarasi tata peradaban kemanusiaan yang berdasar pada nilai-nilai universal wahyu ketuhanan (illahiyyah) yang mewujudkan Islam sebagai rahmat semesta (rahmatan lil ‘alamin).
c. Gerakan Dakwah Tauhid adalah gerakan perjuangan berkelanjutan untuk menegakkan nilai kebaikan universal dan meruntuhkan tirani kemungkaran (amar ma’ruh nahi munkar)

Di titik ini, akan sangat berkesesuaian dengan Prinsip Gerakan KAMMI [6], yang terdiri dari enam point:
a. Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI
b. Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI
c. Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI
d. Perbaikan adalah tradisi perjungan KAMMI
e. Kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI
f. Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI

Khatimah

Ideologi adalah cara pandang, cara gerak dan aplikasi tindakan. Ideologi bukan hanya wacana atau bahan diskusi yg tersembunyi di puncak menara gading intelektual. Ideologi adalah perbuatan nyata. Karena itu, Kredo Gerakan KAMMI [7] mengikrarkan diri:

“Kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam. Kami bukanlah orang yang suka berleha-leha, minimalis dan loyo. Kami senantiasa bertebaran di dalam kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalah orang-orang progressif yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwa kehidupan ini adalah tempat untuk belajar agar kami dan para penerus kami menjadi perebut kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk Islam.”[]
====================================

[1] Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm 230.
[2] Ian Adams, Ideologi Politik Mutakhir: Konsep, Ragam, Kritik, dan Masa Depannya (Yogyakarta: Qalam, 2004), hlm.viii.
[3] Muhammad Ismail, Bunga Rampai Pemikiran Islam (Jakarta: Gema Insani Pers, 1998).
[4] Deden Faturohman dan Wawan Sobari, Pengantar Ilmu Politik (Malang: UMM Press, 2002), hlm 43-59.
[5] Garis-garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) KAMMI 2004-2006, Bab II Pasal 7 Ayat 1.
[6] Garis-garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) KAMMI 2004-2006, Bab II Pasal 5.
[7] Garis-garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) KAMMI 2004-2006, Bab II Pasal 4 Ayat e.

3 comments:

  1. assalamu'alaikum...
    saya g sengaja lihat blognya anda, dan sempat baca-baca panjang lebar..
    g pa pa kan?

    artikel yang anda tulis dulu pernah saya culik (tanpa izin) untuk menambah-nambah tugas SOLID sy. jadi skarang mumpung sempat sy izin dulu artikel ini sempat sy culik...hehe.. sekalian mo perkenalin diri sendiri.

    iya sekarang sy aktif di kammi jg. mungkin anda bisa membantu. dan iya salam kenal....

    wasalam

    ReplyDelete
  2. artikel yang menarik. oia, jangan lupa mampir ke sini ya...

    ReplyDelete