Wednesday, July 11, 2007

Conscientizacao: Antara Fanatis, Naif dan Kritis

“Wahai Ikhwan, sesungguhnya hari dimana di dalam dakwah kita diteriakkan yel-yel figuritas tidak boleh terjadi sama sekali” —Hassan Al-Banna [1]

Suatu hari, seorang teman bertanya, ”Jika saat ini aku mendakwakan diri kepadamu sebagai seorang Rasul utusan Tuhan, bagaimana pendapatmu ?” Secara spontan saya jawab, “Non sense, Muhammad adalah khataman nabiyyin (penutup para nabi).” “Lho, kok kamu menolak. Sedangkan Abu Bakar ketika mendengar dakwa Muhammad tentang dirinya sebagai Nabi, langsung mengiyakan. Bisa saja dirimu saat ini memposisikan diri sebagaimana Abu Bakar kala itu.”

Dialog singkat itu membuat saya berfikir cukup keras. Kesadaran apakah yang membingkai benak Sayyidina Abu Bakar kala mendengar kesaksian Muhammad sebagai Rasulullah, bahkan—tanpa reserve—langsung membenarkan, hingga gelar al-shiddiq melekati namanya. Tentunya proses pembenaran yang kemudian diikuti laku ketaatan, ketundukan dan anut lampah (mengikuti tradisi), memerlukan seperangkat paradigma pikir hingga sampai pada titik peneguhan komitmen terhadap “kebenaran”. Termasuk kasus Abu Bakar ini.

Kisah kedua. Suatu hari, Muhammad berdakwah di samping Ka’bah. Dia memaparkan kebenaran risalah yang dibawanya, juga tentang kenabian dirinya. Bersamaan itu, sang paman, Abu Jahal berada di sana. Dengan lantang, dia membantah dan mencoba mematahkan argumen dan seruan Muhammad dengan mengembalikan pada kepercayaan leluhur yang paganis. Tak berhenti di situ, caci maki dan penganiayaan juga dilontarkan kepada Muhammad, yang notabene masih keponakan.

Saat itu, ada seorang Baduy yang berjalan pulang setelah melihat insiden di dekat Ka’bah tersebut. Di tengah perjalanan, dia berjumpa dengan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Muhammad juga, yang kala itu belum muslim. Hamzah baru selesai berburu. Busur dan panah masih tergantung di pundaknya. Sang Baduy berseru, ”Wahai Hamzah, keponakanmu Muhammad dianiaya oleh Abu Jahal di dekat Ka’bah!” Seketika Hamzah memacu kudanya menuju Ka’bah. Dilihatnya Abu Jahal masih duduk berkerumun bersama beberapa petinggi Quraisy. Segera dia turun dan mencekal batang leher Abu Jahal seraya berkata, ”Kurang ajar engkau, berani menganiaya al-Amin. Saksikanlah, aku termasuk yang membenarkan risalahnya!”. Kemudian dibantingnya tubuh Abu Jahal yang terbengong-bengong melihat saudara seayahnya berkata demikian. Perkataan yang menggemparkan penduduk Makkah.

Dari kisah di atas, terdapat sebuah fenomena menarik. Siapapun tahu, saat itu Hamzah ra. belum menyatakan keislamannya. Namun, saat terjadi insiden penganiayaan seorang famili, maka sentimen keluarga tiba-tiba mencuat. Muncul, dan Hamzahpun masuk Islam. Artinya kesadaran yang dibangun—kita bahasakan sebagai komitmen—pertama kali adalah sentimen famili, dan bukan kesadaran kritis religius.

Dua kisah tersebut adalah sebuah pengantar wacana tentang kesadaran (consciousness). Atau dalam kamus Freirean disebut sebagai conscientizacao (bahasa Portugal) yang didefinisikan sebagai “proses perkembangan seorang individu yang berubah dari kesadaran magis menuju kesadaran naif dan akhirnya sampai pada kesadaran kritis.” [2] Sebuah tahapan dimana akhirnya seorang manusia mampu memandang seluruh fenomena—terutama sosial—secara kritis dan argumentatif. Abu Bakar dan Hamzah adalah sosok yang kritis dan rasional, namun keimanan mereka tak terkalahkan.

Genre awal Islam adalah komunitas ideal dalam pemikiran, kekritisan, pemberontakan terhadap hegemoni Quraisy dan bersihnya akidah. Mereka adalah kader-kader dakwah awal yang telah melalui proses peneguhan komitmen. Dua era yang mereka alami, Makkiyah dan Madaniyah, keduanya memiliki implikasi sosio-kultural yang berbeda. Termasuk ketika dakwah dilakukan sirriyah (rahasia) dan jahriyah (terang-terangan), masing-masing menuntut penampakan dan pencapaian kesadaran yang tersendiri. Bagaimana dengan kader dakwah sekarang?

Kader Dakwah era Jamahiri

Kader dakwah dipahami sebagai sosok yang memiliki muwashafat atau karakteristik tertentu yang telah dipatokkan oleh sistem Islam. Proses terbentuknya sosok kader dakwah tentunya melalui alur yang cukup rumit dengan banyak marhalah dan mihwar. Wacana kesadaran kritis tentu lebih berpusar pada sisi pribadi personal seorang manusia. Consciousness menjelajah ruang psikis anak Adam, berbicara tentang ketertindasan yang dinikmati, pemberontakan terhadap hegemoni dan proses menuju peneguhan sebuah kesadaran. Untuk itu sejenak kita mengambil jarak dengan segala ikatan primordialisme jamaah, partai atau golongan. Karena itu adalah sebuah prasyarat menuju obyektivitas pemikiran atau analisis fenomenologis.

“Saya benar-benar merasa terjebak. Pertama diajak lotisan, makan-makan dan rekreasi, tiba-tiba besoknya diajak ngaji. Dan jadilah saya seperti ini,” demikian ungkap seorang kader. Dia memang tidak memberontak bahkan kemudian mengecap indahnya nuansa dakwah. Yang dipertanyakan kemudian adalah proses pencapaian kesadaran dia sebagai seorang kader. Sekedar ikut arus, karena memiliki kepentingan dan tendensi ataukah setelah melalui penjelajahan intelektual yang melelahkan. Ini mungkin yang harus di-rethinking oleh para “pemerangkap” (baca: da’i). Pada akhirnya memang akan sampai pada wacana metodologi dakwah yang rasional, argumentatif dan “membebaskan.”

Kasus lain yang mungkin bisa menjadi bahan renungan adalah ketika seorang kader dijatuhi sebuah qarar, untuk memobilisir massa sebanyak mungkin demi memenuhi kuota peserta aksi dengan isu tertentu. Satu hal yang naif adalah, tanpa sedikitpun pemahaman kader akan isu yang diangkat, dia berangkat menuju lokasi. Dalam kacamata qiyadah wal jundiyah (kepemimpinan dan keprajuritan) hal ini bukan merupakan dosa, bahkan keniscayaan. Namun, di satu sisi akan memandulkan intelektualitas kader, selain juga membuta-tulikan mereka secara perlahan. Pewacanaan isu pada kader dalam tataran grass root tidak pernah maksimal. Hingga diskusi, pembahasan dan strategi atau skenario pengopinian hanya di tangan beberapa elit jama’ah. Analisis dan sistematisasi isu tidak pernah sampai pada kader bawah.

Tapi, logikanya dapat dibalik. Kita, sebagai kader bawah, tak mampukah mencapai kesadaran tersendiri tentang sebuah isu atau posisi dan sikap yang harus diambil ketika terdapat sebuah fenomena sosial politik? Sebuah idealisme bersama, kader jamaah akan semakin kritis setelah berada di “atas tanah” seperti sekarang. Kita akan semakin sering bersentuhan dengan masyarakat yang plural. Kita akan menjumpai dualitas struktur dan praktik sosial. Dan masyarakat plural menuntut kita mengedepankan budaya toleran dan rasional.

Karena itu pemahaman akan kesadaran internal pelaku sosial (baca: kader dakwah) adalah suatu yang fundamental. Hingga tidak timbul sebuah gugatan, apakah kita sebagai pelaku sosial tahu dan sadar akan hal itu? Apakah kita seperti wayang yang di tangan dalang sebagaimana pelaku dalam fungsionalisme Talcott Parsons atau marxisme Louis Althusser.

Anthony Giddens memberikan sebuah jawaban, bahwa pelaku tahu, tapi belum tentu sadar. Terlebih ketika conscious dipahami sebagai penjelasan secara rinci, sistematis dan gamblang. Giddens membagi tiga dimensi internal pelaku [3]. Pertama, motivasi tak sadar (unconscious motives) yang menyangkut keinginan atau kebutuhan yang berpotensi mengarahkan tindakan tapi bukan tindakan itu sendiri. Misalnya, ketika seorang pegawai memakai seragam KORPRI, dia tidak digerakkan oleh motivasi memperkuat korporatisme rezim Orba.

Kedua, kesadaran diskursif (discursive consciousness) yang mengacu pada kapasitas manusia dalam merefleksikan dan memberi penjelasan eksplisit dan rinci atas tindakan yang kita lakukan. Misalnya, mengapa saya mengikuti liqo dan halaqah ini. Mungkin saya akan memberikan jawaban, ”karena saya membutuhkan siraman dan pencerahan spiritual” atau “karena saya ingin terus mendapat informasi jamaah”. Dan seterusnya.

Ketiga, kesadaran praktis (practical consciousness) menunjuk pada gugus pengetahuan praktis yang tidak selalu bisa diurai. Mengetahui aturan memakai seragam KORPRI setiap tanggal 17 atau sikap diam tatkala memasuki masjid adalah bentuk kesadaran praktis itu.dalam fenomenologis, inilah wilayah kepribadian yang berisi gugus pengetahuan yang sudah diandaikan (taken for granted knowledge).
Kesadaran praktis inilah yang kemudian sebagai kunci memahami fenomena piranti yang tersublim sebagai sistem yang mengikat. Kita tak perlu bertanya mengapa untuk mendapatkan sebuah petunjuk pilihan, maka shalat istikharah adalah jalannya. Sebagaimana kita tak akan bertanya mengapa menyalakan kompor dulu sebelum memasak. Dalam tahapan inilah kesadaran spiritual-religius telah tersistem dalam diri seorang kader dakwah. Kesadaran praktis ini tercipta melalui proses integralisasi keinginan (gharizah) dan ajaran agama. Tentu ada istimrariyah (kontinyuitas) dalam proses tersebut.

“Pemberontakan” Kultural Kader Dakwah


Jika kita menggunakan penggolongan Gramsci, dia membagi bentuk penguasaan menjadi dua. Pertama dominasi, yaitu proses penguasaan dan penaklukan seluruh segmen dengan pola represif dan ancaman. Pola penguasaan sangat brutal dan vulgar. Kedua, hegemoni, yang melalui cara amat halus, tak kelihatan, tiba-tiba kita sudah terperangkap di dalamnya. Bahkan kadang terjadi, meminjam istilah Amien Rais, powerlessness (menikmati ketertindasan). Gejala ini sangat mudah diamati pada hegemoni budaya dan ekonomi Barat terhadap dunia oriental (baca: Timur). Juga apa yang selama ini kita kenal sebagai ghazw al-fikr (perang pemikiran).

Dalam konteks pendidikan (tarbiyah), maka proses hegemoni inilah yang terjadi. Secara pelan, seorang pengendali komunitas kecil (baca: murabbi) menghegemoni sisi rasionalitas, psikis dan perilaku keseharian anggota komunitas tersebut (halaqah), hingga memenuhi apa yang distandarkan (muwashafat rijal al-da’wah). Secara umum, memang anggota jamaah ini homo-character. Satu karakter dan satu pemahaman terhadap—hampir—segala sesuatu. Sistem yang dibuat memang menuju ke sana. Inilah yang disebut kesatuan fikrah dan manhaj dalam sebuah harakah (pergerakan). Rasionalisasi yang digunakan adalah “keteraturan diletakkan di atas segalanya, karena itu, minimalisir perbedaan pendapat.”

Dalam kacamata pandang seorang kader dakwah, apakah pola pendidikan (tarbiyah) seperti itu adalah hegemonik yang menindas (dan menyakitkan) ? Ternyata tidak semuanya, bahkan persoalannya bukan di sana. Masalah ada pada individu kader dakwah dalam memaknai seluruh doktrin, stigma dan kultur yang ada dalam “komunitas” ini. Bagaimana dia mencapai kesadaran kritis sebagai sebuah capaian strategis seorang da’i—sebagaimana impian Abdul Halim Mahmud dalam buku Pendidikan Politik Ikhwanul Muslimin.

Jika menggunakan kacamata Paulo Freire, maka seluruh sistem pendidikan di dunia adalah alat penindasan. Karena itulah kemudian dia melakukan ijtihad dengan pembebasan buta huruf dan memberi pendidikan pada masyarakat kumuh di pedalaman Brazil. Smith—dalam kapasitas seorang Freirean—memberikan ilustrasi terhadap fenomena penemuan kesadaran kritis oleh Malcolm X [4] yang menolak terjebak dalam kesadaran magis. Malcolm adalah kulit hitam yang tertindas di Amerika. Dia berobsesi menjadi “kulit putih” yang selama ini menjadi penindas bagi kulit hitam.

Terminologi “tertindas” dan “penindas” ini adalah produk pikir Freire, sebagaimana dia ungkapkan, “kaum tertindas hidup dalam dualitas di mana menjadi itu sama dengan menyerupai, dan menyerupai sama dengan menyerupai penindas” juga, “penghinaan diri adalah ciri lain dari kaum tertindas, yang berasal dari internalisasinya atas pandangan yang dijejalkan kepada mereka” (Freire, 1968, hal 33 & 49) [5]. Proses pendidikan penyadaran terhadap posisi yang sebenarnya dan memahami fenomena yang melingkupinya. Hal itu sebenarnya tujuan pendidikan model Freire.

Freire membagi tiga tahapan kesadaran. Pertama kesadaran magis (magical consciousness), yaitu sebuah posisi dimana sikap pelaku sosial sekedar menerima dan melarikan diri dari kenyataan yang brutal dan penindasan yang kejam. Bercirikan sikap bungkam; tanggapan yang singkat atas pertanyaan yang kompleks; hubungan sebab akibat yang sederhana; dan tidak ada kesalahannya. Kesadaran ini dimiliki oleh masyarakat primitif yang meyakini segalanya telah diatur, hingga takluk pada keadaan. Selain itu mereka lebih terkonsentrasi pada pemenuhan biologis. Model kaum paganis dan beberapa suku kuno di pedalaman adalah prototip manusia yang berhenti pada tataran kesadaran magis. Dalam tingkat ini, kader dakwah tak termasuk sedikitpun. Islam dengan segala ajarannya telah mengangkat manusia dari cengkeraman kejumudan magis kepada ketauhidan yang dinamis.

Tingkat lanjutnya adalah kesadaran naif (naival consciousness), yaitu ketika sang “tertindas” semakin menyadari posisinya. Ada keinginan untuk melawan, memberontak dan memperbaiki nasib. Namun, terlalu banyak rintangan. Hingga yang terjadi adalah lari dan menyalahkan diri sendiri. Dalam hal ini terjadi perlawanan yang tersumbat, baik oleh eksternal maupun internal pelaku. Dalam kasus ini, kader dakwah yang masih tahap awal, merasa pesimis ketika melihat kultur mendengar doktrin dan stigma yang dibentuk. Akhirnya lari dari kenyataan dan komunitasnya. Degradasi dan futurisasi, itulah yang terjadi. Secara psikis dia merasa tertindas dan sama sekali tidak at home terhadap apa yang di-tarbiyahkan.

Dalam teori Freire, jika tidak terjadi kenaikan dari kesadaran naif menuju kritis, maka dia terjatuh pada kesadaran fanatis. Hal ini menyebabkan semakin jauh dari realitas. “Dalam kesadaran semi-transitif, orang sangat tidak logis; dalam kesadaran fanatis distorsi nalar menjadikan irasional….Mereka mengikuti pandangan dan petunjuk umum seolah-olah merupakan pilihannya sendiri. Mereka diarahkan, bukannya mengarahkan dirinya…” [6] demikian tulis Freire ketika menganalisis posisi kesadaran fanatis. Seorang kader dakwah, pada saat tertentu akan mengalami fanatisasi, baik terhadap personal pimpinan (tokoh, ketua, amir, mas’ul) maupun jama’ah (kelompok, partai). Dalam analisa Freire, secara sosio-psikis akan sangat tidak sehat. Terjadi pembusukan intelektual, bahkan character assasination (pembunuhan karakter). Karena kesadaran kritis—sebagai basis kehidupan—telah dimandulkan. Namun, bagi kader-kader awal, fanatisme adalah sebuah keniscayaan. Asalkan diikuti dengan penyadaran kritis sebagai langkah lanjut.

Kesadaran kritis (critical consciousnes) adalah ketika seorang manusia mampu bersikap ilmiah dalam menatap realitas. Dalam teori Freire diungkap,” kesadaran transitif yang kritis ditandai dengan penafsiran mendalam atas berbagai masalah; digantikannya penjelasan magis dengan kausalitas; …dengan menolak sikap pasif; dengan mengemukakan pendapat; dengan mengedepankan dialog daripada polemik; dengan menerima pandangan baru tetapi bukan sekedar karena sifat kebaruannya dan dengan keinginan untuk tidak menolak pandangan kuno hanya karena sifat kekunoannya—yakni dengan menerima apa yang benar menurut pandangan kuno dan baru.” [7] Dalam tahap inilah seluruh kader dakwah diharapkan berposisi. Seorang dai yang mampu membaca tanda zaman, tidak terikat dengan primordialisme dan ekslusivitas kelompok atau jamaah. Dan mampu menelorkan gagasan-gagasan cerdas kontekstual dengan tetap mengedepankan toleransi dan kemaslahatan ummat.

Kesadaran Kritis Kolektif

Mekanisme pengambilan keputusan dalam komunitas ini adalah sistem syura. Melalui jalur inilah, kesadaran kritis (critical consciousness) kolektif akan membudaya. Falsafah syura adalah keunggulan akal kolektif atas akal individu, dimungkinkan kesalahan pengambilan keputusan sangat sedikit. Dalam proses syura, terdapat fungsi fundamental. Pertama fungsi psikologis yang terlaksana dengan menjamin adanya kemerdekaan dan kebebasan penuh bagi seluruh peserta syura untuk mengekspresikan pikiran-pikirannya secara wajar dan apa adanya.
Fungsi ini mempunyai relevansi dengan proses penyadaran kritis dalam Freirean. Kata Anis Matta, “kemerdekaan dan kebebasan diperlukan sebagai landasan menciptakan keterbukaan dan transparansi. Setiap peserta syura terbebas dari rasa takut dan (mendapat) rasa nyaman karena merasa diterima secara wajar apa adanya, akan menjadi suasana yang kondusif bagi terciptanya kreativitas dan keragaman yang produktif.” [8] Dalam ruang inilah terjadi penyadaran kader dakwah akan eksistensinya dan bersikap proporsional-rasional dalam menatap realitas.

Fungsi yang kedua adalah instrumental yang merupakan substansi bagi setiap organisasi atau komunitas teratur. Ketika fungsi ini berjalan baik, maka organisasi tersebut akan resisten terhadap hantaman eksternal maupun penggerogotan internal. Proses syura dapat memenuhi fungsi ini ketika ada tiga syarat; pertama, tersedianya sumber-sumber informasi. Kedua, tingkat kedalamn pengetahuan peserta syura, selain juga terjadinya dominasi akal atas emosi (rajahat al-‘aql), di sini, fanatisme dan primordialisme menjadi penghambat besar. Syarat ketiga adalah adanya tradisi ilmiah dalam perbedaan pendapat. Terdapat pengelolaan perbedaan secara arif dan bijaksana.

Ketika seluruh perangkat dalam proses tarbiyah ini mampu “membebaskan” mad’u dari “ketertindasan” dan hegemoni intelektual, psikis dan perilaku, maka kader tarbiyah yang tercipta adalah pekerja-pekerja kritis yang tahu apa yang harus dilakukannya dan menyadari seluruh posisi yang harus diambilnya. Terlebih sebagai salah satu komponen dari kapal dakwah ini. Semoga. []
========================================================

[1] Ungkapan ini keluar ketika Hasan Al-Banna berada di dalam sebuah kongres mahasiswa yang diselenggarakan di kantor Syubban al-Muslimin. Ketika itu ada seorang peserta—yang saking cintanya—meneriakkan “Hidup Hasan Al-Banna”, dan Imam Syahidpun agak marah sambil berucap demikian. Lihat Hamid, Muhammad Abdul, 100 Pelajaran dari Para Pemimpin Ikhwanul Muslimin, (Jakarta: Robbani Press, 2001) hal 20.
[2] Smith, A. William, Conscientizacao Tujuan Pendidikan Paulo Fraire, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001) hal.xvii.
[3] Priyono, B. Herry, Anthony Giddens Suatu Pengantar, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2002) hal. 28-29.
[4] Seorang tokoh Black Muslim Amerika yang ditembak mati setelah menyatakan diri keluar dari The Nation of Islam-nya Elijah Muhammad. Malcolm X mendapat kebenaran Islam sejati sepulang dari naik haji di Makkah dan mencampakkan kepercayaan sinkretis Elijah.
[5] Smith, op cit, hal 49.
[6] Ibid, hal. 50.
[7] Ibid, hal. 51.
[8] Matta, Anis, Menikmati Demokrasi, Strategi Dakwah Meraih Kemenangan, (Jakarta: Pustaka Saksi, 2002) hal. 86.

1 comment:

  1. Wah, nice article.
    Setuju, bagaimana pun fanatis yang tidak dibarengi sikap kritis pada akhirnya akan menjadi permasalahan internal sendiri bagi sebuah harakah, terlebih lagi ini gerakan dakwah.
    *salut dengan analisisnya*

    btw, pertama kemari ini, salam kenal :)

    ReplyDelete