Thursday, July 5, 2007

Bertemu Kawan Lama

Saat itu saya melintasi Jalan Ahmad Yani, sedang menuju ke sebuah kantor partai. Saat berbelok di pertigaan arah Banjar Permai, tiba-tiba mata saya tertumbuk ke sebuah wajah yang sangat akrab di benak saya. Stang motor tetap ke depan, namun mata saya menatap wajahnya. Ternyata sang pemilik wajah berlaku yang sama. Sesaat setelah sama-sama yakin, kami berteriak, “Hey…”.

Bertemu kawan lama memang menyenangkan. Setelah sekian tahun tidak bertemu, tiba-tiba kami saling mendapati, bahkan tidak di Jogja, tapi di Banjarmasin. Kota yang sangat jauh. Saya sama sekali tidak mengira bahwa rumahnya juga di kota ini, tepatnya di Belitung Darat.

Dahulu, kami sama-sama aktif di KAMMI DIY. Saya memegang kendali Kastrat, sementara untuk Sosial Masyarakat, dia yang meng-hadlonah-i. Setiap Selasa sore, kami rapat membicarakan agenda kerja satu minggu, sekaligus evaluasi apa yang telah dilakukan. Walaupun sebetulnya saya dulu lebih banyak faktor for fun belaka. Maksud saya, organisasi adalah sebuah wahana untuk berkumpul dan diskusi secara bebas, dan saya sangat menikmati hal itu. Tapi, jujur saja, ketika ada lembar laporan evaluasi yang rumit dan penuh dengan kotak-kotak dan angka, saya tidak terlalu berminat.

Teman saya itu bernama Arbani, mahasiswa Teknologi Pertanian UGM. Mungkin di Banjarmasin ini ada banyak hal yang bisa kami lakukan bersama lagi. Yang saya masih bikin kadang tersenyum sendiri itu adalah, saya bertemu dengan dia di Banjarmasin. Dan saya tidak tahu bahwa dulu dia alumni SMA 6 Banjarmasin. Ternyata ukhuwah yang saya bangun sama sekali belum maksimal. Karena itu, kenalilah saudara kita sedalam mungkin. Itu akan berguna di masa depan.

Lalu cerita kedua. Ada seorang kawan kenalan di Banjarmasin. Bekerja di Nokia-Siemen Network, yang melakukan maintenance untuk jaringan Siemens dan Telkomsel di Kalimantan Selatan. Selain itu aktivitasnya adalah sebagai komandan Kepanduan sebuah partai. Setiap mukhayyam selalu saja dia menjadi trainer dan konseptor outbond.

Kami sangat sering berinteraksi. Memang tidak satu lingkaran pengajian, hanya saja dalam berbagai forum sering saya bersama dia. Beberapa kali mentraktir makan, dan mengajak saya jaulah. Namun, yang membuat saya cukup kaget adalah ketika malam itu, saya mengantarkan dia sepulang dari mukhayyam. Lalu berbincang di kamar kosnya di daerah Kayutangi. Tentang laptop, tentang Siemens, lalu tentang riwayat pribadi. Ternyata, dia dahulu pernah sekolah di SMA 2 Semarang dan tinggal di Pesantren Al-Munawir Pedurungan.

Dia adalah adik kelas saya, baik di SMA maupun pesantren. Luar biasa, dunia memang sempit. Kami dipertemukan di Kalimantan, dalam kondisi yang berbeda-beda. Siapa yang bisa menebak tentang sebuah pertemuan dan perpisahan? Namanya adalah Fathul Ma’arif, aktivis Pramuka di SMA 2.

Sebetulnya, yang ingin saya sampaikan adalah tentang TAKDIR. Bahwa sesungguhnya tidak ada yang tahu kita akan kemana, menjadi apa, bertemu siapa, bahkan mati dalam kondisi apa. Kita hanya bisa mengusahakan semuanya, semaksimal mungkin. Tuhanlah yang kasih garis demarkasi itu. Batas kebenaran.[]

1 comment:

  1. halo, salam kenal :) wah, alumni sma2 semarang ya? saya dulu jg pernah kerja di kalimantan timur dan selatan. pernah ke senakin, satui, balikpapan, muara badak, sangata, dll.
    salam kenal, semoga sukses.

    ReplyDelete