Saturday, June 30, 2007

"Nanti Kekurangan Mahar Adik Tutupi"

Anda tahu seorang satpam atau penjaga malam sebuah kantor? Saya sering bertemu dengan berbagai tipe tukang jaga malam. Ada yang galak, suka menggertak, ada yang ramah tapi perlu recehan, ada juga yang sudah memahami cara melayani tamu dengan baik. Tapi, saya baru menemui seorang tukang jaga malam yang sholehnya minta ampun.

Tilawahnya selalu terdengar di belakang meja resepsionis, setiap jam sholat selalu bergegas mengambil air wudhu. Sholat sunnahnya tidak ketinggalan, dan mulutnya selalu berkomat-kamit melafal dzikir sembari matanya mengawasi pintu masuk kantor serta tamu yang lalu lalang.

Selain itu profesionalitasnya teruji saat menerima telefon. Salam hangat diikuti menyebut institusi kantornya, lalu bertanya lembut, ini dengan bapak siapa? Begitu juga saat ada tamu yang datang--baik mengajukan proposal penawaran, permohonan bantuan, atau sekedar pengemis yang mampir. Dipersilakan duduk, disuguhi minuman segar. Kawan saya itu bernama Riduan.

Panggilan sehari-hari adalah Riduan. Tapi saat saya lihat KTPnya, tertulis Abdul Qadir Jailani. Begitulah orang Banjar, ada nama KTP ada nama panggilan. Unik juga, batin saya. Usianya masih 22 tahun, sempat sekolah hingga 5 SD, namun tidak mendapat ijazah karena keburu harus keluar membantu orang tua. Sempat saya sarankan untuk ikut Kejar Paket, ternyata untuk mengurus itu juga susah sekali. Semoga saja masih bisa.

Satu minggu yang lalu, kawan saya itu bercerita, bahwa dia sudah sangat ingin menikah. Ada gadis yang menawan hatinya. "Bungas dan shalihah, pang," katanya pada saya dengan mata berbinar. Akhirnya sang gadispun diajak bicara. Keinginan akan segera melamarnya. Dan, ada cerita di balik itu.

Di Banjar, ada sebuah kebiasaan yang sering bikin lelaki mundur dari kancah lamaran. Yaitu yang bernama jujuran. Jujuran adalah sebutan mahar di Banjar. Sebetulnya lebih tepat ongkos nikah dan biaya awal hidup berumahtangga. Pihak mempelai perempuan biasa meminta jaminan. Ada juga istilah "serba salambar", alias serba satu lembar. Selembar kain sasirangan, selembar jilbab, selembar gaun, satu set alat dapur, satu petak tanah, satu set kamar tidur, ada juga satu rumah dan satu mobil. Wah!

Orang tua sang gadis meminta 2,5 juta untuk jujuran. Ini terhitung cukup murah dan kompromistis, karena untuk kalangan Banjar Pahuluan (yang berasal dari daerah Hulu Sungai -- di utara kota Banjarmasin), seringkali jujuran di atas 10 juta. Kawan saya itu berfikir, gajinya yang tidak terlalu besar, sudah dikumpulkan untuk modal menikah. "Dik, abang ada satu juta haja," ucapnya pada sang gadis. Ternyata sang gadis menjawab, "nanti kekurangan jujuran, adik yang tutupi."

Akhirnya, kemarin kawan saya menghadap calon mertua. Bernegosiasi tentang pernikahan dengan anak perempuannya. Sayang, belum ada ending cerita darinya. Saat pulang kemarin, nampak mukanya cerah. Doa saya, semoga jujuran tidak menjadi penghalang pernikahan.[]

3 comments:

  1. salah paham antara jujuran dengan mahar masih kerap terjadi di masyarakat ya..mustinya sosialisasi tentang bagaimana perkawinan yang islami gencar dilakukan oleh para muballigh-muballighoh, namun tidak sedikit mereka yang juga salah paham...

    ReplyDelete
  2. Sebetulnya beda antara mahar dan jujuran itu apa sih?

    ReplyDelete
  3. Saya teringat sama temen saya yg di makasar dan guru agama sewaktu SMA dulu. Klo yg teman saya yg di makasar, si ikhwan sampai dibela-belain tidak membatalkan khitbahnya. Meskipun pas waktu itu sang bapak si akhwat menolaknya. karena blm ada duit yg cukup. Lha bagaimana tidak, di sana ternyata budayanya, semakin banyak saudara perempuan yg dinikahkan, maka harga mahar semakin mahal euy...terang aja...Tapi dengan usaha yg memang keras dan doa juga, akhirnya dpt juga dan akhirnya nikah juga. Alhamdulillah. Trus klo guru agama saya, sampai dibela2in melarikan diri ke Jawa untuk cari jodohnya, gara-gara nggak cukup duit untk maharnya....

    ReplyDelete